“Kak ...,” lirih Anastasha, dia sudah sadar dari pingsannya.
Saat terbangun, Anastasha melihat Darryl sedang tertidur dengan posisi duduk tetapi kepalanya berada di brankar. Pasti ia merasa amat tidak nyaman. Ia lantas mengedarkan matanya ke sekeliling, tidak ada siapa-siapa kecuali mereka berdua. Ia tidak tahu apakah kakak dan juga kedua orang tuanya juga menungguinya di situ atau tidak. Kedua manik Anastasha lalu berpindah kembali pada Darryl. Tangan gadis itu terulur ke depan, mengelus surai pemuda yang tengah tertidur itu.
Darryl menggeliat, lalu matanya terbuka, tatapannya masih sayu. Dia mengangkat kepalanya menatap ke arah Anastasha.
“Tasya udah sadar? Ada yang sakit?” Darryl terlihat senang.
“Enggak ada, Kak. Kenapa wajah Kakak biru banget? Udah diobatin?!” Anastasha kaget akan wajah Darryl yang lebam dan sedikir ada darah yang sudah mengering.
“Belum.”
“Kenapa belum?”
“Males!”
Anastasha berdecak, biarkan saja pria itu.
“Cowok yang ke mall sama Anastasha, itu tunangan Anastasha?”
Anastasha keselek ludahnya sendiri, mendengar pertanyaan Darryl, hampir saja membuat bola matanya keluar. “Yang bilang gitu siapa? Itu Kak Ardian, kakak kandung Anastasha!” pekik Anastasha tanpa sadar yang sontak membuat tubuh Darryl kaku.
Jadi ia ditipu?
***
Pagi sekali Darryl sudah siap dengan seragam yang dikeluarkan serta kancing atas yang terbuka, dasi yang sengaja dilonggarkan, dan rambut yang acak-acakan. Deskripsi yang pas untuk penampilan khas Darryl setiap akan ke sekolah. Sangat jelas jika ia adalah seorang berandalan sekolah yang tidak peduli akan aturan.
Darryl berniat ke rumah Anastasha dulu baru ke sekolah, ia ingin berangkat bersama Anastasha pagi ini.
Pria dengan iris mata abu-abu itu menuruni tangga untuk sarapan pagi, tetapi saat ia melihat ke bawah, mood-nya langsung berubah. Wajahnya tertekuk begitu mendapati sepasang suami-istri yang sangat workaholic, lebih mementingkan pekerjaan dibanding anak mereka sendiri. Mereka adalah Mr. Neal Abraham dan Mrs. Megan Neal, orang tua Darryl.
Niat Darryl yang awalnya ingin sarapan hilang sudah, sekarang amarah seakan menguasai dirinya. Darryl berjalan lurus menuju pintu keluar melewati kedua orang tuanya yang ternyata sedang menunggunya untuk sarapan bersama.
“Darryl, mau ke mana kamu?! Sarapan dulu!” tegas Megan, tetapi yang namanya Darryl, ya, tetap Darryl, keras kepala dan tidak mau diatur.
Sebenarnya Darryl bahagia melihat orang tuanya setelah hampir satu tahun lamanya tak pernah ada kabar. Namun, egonya masih lebih besar.
“Dasar anak kurang ajar! Darryl, sini!” teriak Abraham, saat melihat anaknya tidak melirik ke arahnya dan istrinya sedikit pun.
***
Darryl tidak jadi ke rumah Anastasha, untung saja tadi dia tidak memberitahu gadis itu jika ia akan ke rumah gadis itu. Ia membelah jalanan kota Jakarta, menikmati suasana pagi yang sudah sangat ramai oleh orang yang akan memulai paginya.
Pikiran pria itu kacau sekarang, dia sangat ingin memeluk mama dan papanya, tetapi amarah lebih mendominasi sehingga menatap orang tuanya saja ia enggan. Perasaannya seperti nasi rames, campur aduk.
Tidak dirasa Darryl tiba di sebuah taman yang ada di Jakarta, Taman Situ Lembang. Dia duduk di sebuah kursi yang disediakan di sana, dengan pandangan mengarah ke danau.
“Argh, s****n!”
“Kenapa hidup gue gini banget, Tuhan?!” Darryl berteriak frustrasi, dia tidak mengerti akan jalan cerita hidupnya yang jujur saja tidak dia inginkan.
“Sialann!” umpat Darryl dengan keras.
Untung saja taman itu sepi. Sehingga Darryl tak perlu khawatir dikatakan sebagai orang gila yang kabur dari RSJ. Darryl sudah tidak peduli, sepertinya hari ini dia tidak akan sekolah. Tentang absen kelas, nanti menjadi urusan belakang, biarlah Bu Pudjiastuti uring-uringan mencarinya.
***
Darryl melihat pergelangan tangannya, tepatnya melihat jam tangan bermerek yang melingkar di sana. Sudah jam 03.47, sebentar lagi Anastasha akan pulang. Darryl berencana menjemput Anastasha dan membawanya ke sebuah tempat. Ia kemudian menuju sekolah dengan mengendarai motor sport kesayangannya.
Sekitar lima belas menit perjalanan, sampailah Darryl di sekolahnya. Ia sengaja membuka seragamnya, agar Pak Jun dan Pak Aswir tidak mengenalinya.
Walaupun Pak Jun dan Pak Aswir bisa dikelabui, jangan remehkan tingkat kepekaan para siswi kurang belaian SMA Taruna Bangsa. Dengan melihat motornya saja, mereka sudah tahu jika seorang lelaki yang sedang duduk di atas motor sport berwarna hijau itu adalah idolanya kaum hawa Taruna Bangsa, Darryl Neal.
Darryl melihat Anastasha dan dua orang temannya yang Darryl tidak tahu siapa. Ia lantas berjalan menuju Anastasha.
“Tasya!”
“Iya?”
Anastasha menoleh ke samping, Darryl sudah berdiri menjulang tinggi di sebelahnya. Darryl benar-benar seperti tiang, Anastasha bahkan hanya sebatas dagunya saja.
“Kak Darryl?”
Darryl mengangguk, ternyata Anastasha mengenalinya meskipun wajahnya tertutup karena helm fullface yang ia pakai.
“Pulang sama Darryl, ya,” tawar Darryl.
“Tapi Tasya udah janjian sama Melisa sama Sasha, mau beli skincare di mall, biar Tasya tambah cantik!”
“Tasya udah cantik, jadi nggak perlu beli kayak gituan.”
Dalam hati, Melisa dan Sasha bersorak, betapa beruntungnya Anastasha dipuji cantik oleh sang most wanted.
“Gue pinjem Anastashanya, ya, kalian berdua aja perginya.”
Melissa dan Sasha mengangguk bak orang yang sedang terhipnotis, tidak menyangka seorang Darryl berbicara pada mereka.
Tanpa banyak kata lagi, pria itu menarik lengan Anastasha pelan menuju motornya.
***
Darryl berhenti di warteg sederhana, sepertinya Darryl bukanlah pria yang menginginkan hal yang serba mewah.
“Pesan apa?” tanya Darryl, mereka sudah duduk lesehan.
“Terserah!”
Darryl berdecak, ternyata benar apa yang pernah dikatakan oleh Joshua. Jangan pernah bertanya pada perempuan tentang apa yang mereka inginkan karena kata 'terserah!' akan langsung terucap dari bibir mereka.
Darryl kemudian memesan dua porsi nasi ayam, satu gelas cokelat hangat dan satu es soda.
Anastasha melihat sekelilingnya, warteg itu lumayan ramai pengunjung. “Kakak sering ke sini?”
“Sering.”
Tak lama, pesanan mereka pun datang dan keduanya segera menyantap makanan itu.
“Kenapa Tasya dipesenin cokelat hangat bukan es teh?”
“Nggak baik kebanyakan minum es, nanti sakit.”
Anastasha melirik pada es soda di depannya. “Tapi kak Darryl pesannya es soda.”
“Suka-suka Darryl, dong!”
Sialan emang!