Di sinilah Anastasha berada, di salah satu mall di Jakarta, lebih tepatnya di depan mesin boneka capit.
“Kak, yang bener dong. Masa dari tadi enggak dapet-dapet, sih!” Anastasha menghentakkan kakinya, kesal pada Ardian.
“Ya, kan, susah Sayang. Sabar, dong.”
Ardian mencoba sabar. Sebenarnya ia juga kesal, dari tadi boneka-boneka itu terus mempermainkannya. Saat sudah akan jatuh ke dalam lubang, tetapi kenapa capit itu bisa terlepas begitu saja?
Ardian mencoba untuk berkonsentrasi, mengerahkan semua kemampuan dan kegeniusan yang ia punya. Ini adalah kesempatan terakhirnya, bagaimanapun caranya, boneka karakter dari Korea yang dipopulerkan oleh salah satu member boygroup BTS, alias boneka Tata itu harus berpindah ke tangannya karena Anastasha sangat menginginkannya.
Sedikit lagi, sedikit lagi Ardian. Sedikit lagii! Ardian membatin.
Gotcha!
“Yey, dapat Tata! Makasih Kakakku sayang!” seru Anastasha lalu memeluk kakaknya.
Senangnya hati Ardian melihat adik satu-satunya itu melompat-lompat kegirangan.
“Cium dulu, dong!” pinta Ardian menunjuk pipi kanannya.
Anastasha lantas mengecup pipi kanan kakaknya dengan sayang.
“Senang?” tanya Ardian.
“Iya, senang. Senang banget malah,” jawab Anastasha memperlihatkan deretan giginya.
Puas dengan segala permainan yang ada di timezone, Anastasha pun mengajak Ardian pulang setelah tiga jam lamanya mereka bermain.
“Kak, pulang, yuk!”
“Makan dulu baru pulang, atau langsung pulang aja?” tanya Ardian menawarkan.
“Langsung pulang aja deh, Kak, lagi pula Anastasha masih kenyang.”
“Ya udah, yuk pulang!”
Ardian pun merangkul bahu adiknya, keluar menuju parkiran mobil.
“Dek, coba jawab pertanyaan Kakak, ya!”
“Iya, apa?”
“Apa bedanya manusia sama semut?”
“Manusia itu orang, kalau semut hewan. Bener, kan?”
“Salah, yang lebih spesifik lagi, dong, jawabnya.”
“Semut makan gula, kalau manusia makan temen?”
Sontak jawaban Anastasha membuat Ardian mengeluarkan suara tawanya.
“Bisa aja kamu, Dek. Tapi salah, bukan itu jawabannya!”
“He he, terus apa dong? Anastasha nyerah, deh!”
“Udah nggak bisa jawab?”
“Iya, jawabannya apa emang?”
“Manusia bisa kesemutan, kalau semut enggak bisa kemanusiaan. Ha ha!” Suara tawa Ardian menggelegar, puas akan lelucon yang ia lontarkan. Bahkan Anastasha tertawa dibuatnya.
Saking gemasnya, ia mencubit kedua pipi Ardian.
Tiba-tiba, seorang datang menghampiri mereka dan langsung melayangkan bogem mentah pada wajah Andrian.
“s****n! Jangan coba peluk-peluk Anastasha!”
***
Empat orang remaja terlihat berjalan dari arah mall menuju parkiran. Dialah Darryl, Mike, Marcel, dan Joshua. Mereka baru saja keluar dari tempat karaoke.
“Gue duluan!” pamit Darryl terus melangkah menuju mobilnya, sambil melambai pada para sahabatnya yang masih ada di belakangnya.
Saat akan memasuki mobil, Darryl melihat sebuah pemandangan yang sontak saja membuat emosinya naik sampai ubun-ubun. Lagi-lagi dia melihat Anastashanya bersama lelaki lain. Dilihatnya, Anastasha sedang menikmati guyonan lelaki itu, dan saat Anastasha menyentuh pipi lelaki itu dengan gemas. Hancur sudah, emosi Darryl meledak.
Dia mempercepat langkahnya menuju dua anak manusia itu dan langsung melayangkan genggaman tangannya ke wajah lelaki yang tak ia tahu siapa itu.
“s****n! Jangan coba peluk-peluk Anastasha!” tegas Darryl penuh penekanan.
Darryl terus menonjok wajah Ardian, Ardian yang tak terima diserang tiba-tiba mencoba melawan. Ia pun melakukan serangan balik pada Darryl.
“Kak, berhenti! Kak Ardian! Kak Darryl berhentii!” lerai Anastasha berteriak.
Namun, keduanya tidak menghiraukan teguran Anastasha, bahkan orang sekitar yang berniat memisahkan mereka mundur perlahan. Darryl dan Ardian benar-benar adu otot di sini.
Anastasha yang sudah kehabisan napas karena berteriak dari tadi mengambil jalan pintas, dengan nekat ia berlari ke tengah-tengah dua lelaki jangkung yang sedang baku hantam itu.
Buk!
“Ahh,” ringis Anastasha, pipinya terkena tonjokan mentah dari tangan Darryl.
“APA YANG LO LAKUIN, HAH? KALAU ANASTASHA KENAPA-NAPA MATI LO!” geram Ardian bagai kesetanan, Anastasha sudah pingsan di dekapannya.
“Kita terlambat, Bro!” ujar Marcel pada Mike dan Joshua, pasalnya mereka baru saja tiba, berniat melerai sahabatnya Darryl.
“Jangan sentuh Anastasha!” tegas Ardian memperingati cowok yang menghajarnya tadi. Padahal Darryl sangat ingin melihat keadaan Anastasha.
Ardian lalu membawa Anastasha menuju mobilnya dengan bantuan orang-orang sekitar. Sedangkan Darryl mencerna apa yang baru saja terjadi. Ia menatap tangan kirinya yang dengan gamblang memukul pipi Anastasha.
“Kenapa lo mukul Anastasha? b**o, lo Ryl!” rutuk Darryl pada dirinya sendiri.
“Udah Ryl, ini udah terjadi. Mending kita ke rumah sakit lihat keadaan Anastasha, sekalian periksa luka lo. Ketampanan lo berkurang, Bro!” nasihat Joshua pada Darryl, lalu menekan lebam di pipi Darryl.
“Anj*ng, sakit b**o!”
***
Darryl berlari menuju ruang di mana Anastasha dirawat, setelah bertanya pada resepsionis. Saat berada di depan pintu, dia tertegun, lelaki tadi sedang mengelus rambut gadisnya.
“Jangan sentuh Anastasha!” ujar Darryl penuh penekanan sambil menyingkirkan tangan Ardian dari kepala Anastasha.
“Lo? Kenapa lo di sini?!” tanya Ardian yang masih sarat akan amarah dan berdiri dari duduknya.
“Gue mau lihat keadaan Anastasha!” jawab Darryl acuh.
“Jangan pernah ganggu Anastasha!”
“Lo siapa larang-larang gue?!” Darryl tak terima.
“Gue? Gue siapanya Anastasha? Asal lo tahu, Anastasha itu pacar gue!”
Deg!
Jantung Darryl berdetak cepat, rasa takut dan panik langsung menyelimuti dirinya. Tidak, tidak mungkin Anastasha memiliki pacar. Anastasha hanya akan menjadi miliknya, bukan pria lain, ataupun pria di hadapannya ini.
“Enggak mungkin!” Darryl menatap kosong pada Anastasha yang masih tak sadarkan diri.
“Apanya yang enggak mungkin? Lo nggak lihat cincin yang dipake Anastasha couple-an sama gue? Gue sama Anastasha udah tunangan, jadi lo nggak usah berharap apa pun dari Anastasha. Anastasha milik gue!” jelas Ardian sungguh-sungguh, bak seorang aktor yang sedang mendalami perannya.
Akting Ardian sangat patut diberi penghargaan. Lihat Darryl, lelaki jangkung itu kini menatap nanar jari Anastasha. Benar, di situ ada sebuah cincin yang terpasang indah, dan lebih menyedihkannya lagi, cincin itu sama dengan yang dipakai pria yang sedang menyunggingkan senyum kemenangannya.
“Gimana? Masih enggak percaya?”
“Anastasha bukan milik lo!”
“Keras kepala!” celetuk Ardian sambil terkekeh meremehkan, sungguh aktor yang sangat andal.
Sejujurnya ia hanya ingin melihat kesungguhan pemuda di hadapannya itu pada Anastasha. Apakah cowok itu benar-benar mencintai adiknya atau hanya ingin mempermainkannya saja. Namun, sepertinya Ardian sudah salah besar pada Darryl karena nyatanya anak dengan luka membiru sama seperti dirinya itu terlihat benar-benar menginginkan sang adik.