Bab 15: Sakit Perut

1036 Kata
*** "Awak pakai baju tu buat ape? Nak kembarkan baju dengan saya kan?" Selesai makan martabak, Raihan menyadari bahwa istrinya memakai pasangan dari baju tidurnya. Kini, keduanya terlihat seperti pasangan suami istri saling mencintai. Mereka memakai baju tidur yang mirip. Pakaian tidur couple. "No. Aku ambil baju ini karena kebetulan baju ini yang bisa aku raih. Jujur ya, aku tuh capek punya suami yang narsis-nya tingkat dewa seperti kamu, Mas. Tolong geer-nya dikurang-kurangi." Raihan hanya membalas perkataan istrinya lewat satu senyum kering. "Terserahlah." Raihan bersiul. Dia dan Adriana sudah berada di ranjang yang sama. Namun, keduanya tak ada yang memejamkan mata. Walaupun lampu kamar sudah dimatikan. Hanya menyisakan sinar lampu tidur di atas nakas. Tetap saja, tak ada yang mengarungi alam mimpi dengan tenang. Keduanya sibuk dengan urusan masing-masing. Adriana yang sedang bermain sosial media. Lalu, Raihan menatap kosong ke arah langit-langit kamar mereka. Sesekali ia melirik apa yang sedang dilakukan istrinya diam-diam. Sambil bersiul, Raihan teringat akan momen bersama Ariza. Saat Ariza mengoleskan saleb di tangannya. Momen itu seakan menempel di kepalanya, dan akan terus terputar selagi Raihan tidak melakukan aktivitas. Tak sadar, Raihan semringah sendiri. Persis seperti anak remaja yang jatuh cinta. Dia mengecek tangan yang diolesi oleh Ariza. Tangan itu sudah menunjukkan adanya perubahan. Raihan bersyukur karena Ariza begitu baik memperlakukannya. Tangan itu akan segera sembuh setelah seseorang berhasil menyentuh dan mengobatinya. "Tangan kamu masih sakit, Mas?" Raihan memutar kepalanya setelah mendengar pertanyaan istrinya. Ternyata Adriana memperhatikannya sejak tadi. Mereka berdua sama-sama tidur menyamping sehingga bisa saling melihat. "Tak. Luka ni dah sembuh. Kenapa awak risaukan luka ni sekarang? Baru merasa bersalah ke?" Raihan kembali bergurau. Namun, gurauannya tidak lucu. Terbukti Adriana tidak tertawa. "Aku juga khawatir dengan luka itu tahu. Aku yang menyebabkan luka itu. Meskipun aku terlihat garang, hatiku tetap lembut karena aku adalah seorang wanita." Adriana menyelipkan rambutnya di telinga. Rambut itu terlihat begitu cantik. Memang, Adriana selalu merawatnya untuk seseorang. Dia belum menemukan orang itu untuk saat ini. Akan tetapi suatu hari nanti pasti akan ketemu. "Macam tu ke? Saya kira awak tuh dah takde hati. Macam mana nak lembut. Awak always tunjukkan amarah mana kala tengok wajah tampan saya nih." "Bukan tampan. Lebih tepatnya wajahmu itu ngeselin. Mirip Mr. Bean." "Hahahaha. Awak ni memang pandai menghina orang." "Itu bukan hinaan melainkan kenyataan!" "Terserahlah. Percuma bercakap dengan awak." Raihan menutup luka tangannya dengan menarik lengan pakaian tidurnya ke bawah. Dia mulai merasakan kantuk sehingga menarik selimutnya menutupi tubuhnya. Raihan memejamkan mata lalu perlahan-lahan terlelap. *** Raihan bangun tengah malam. Perutnya terasa melilit. Dia bangun kalang kabut masuk ke dalam kamar mandi. Dia mengeluarkan isi perutnya. Setelah dirasa cukup, Raihan keluar kamar mandi. Namun, tak lama ia masuk lagi ke dalam sana. Perut Raihan sungguh menyiksanya. Pria itu sering mengalami sakit perut. Namun, yang satu ini berbeda. "Perut kamu masih sakit, Mas?" Adriana bertanya karena ia ikut terbangun. Dia mendengar pintu toilet berbunyi berkali-kali. Wanita itu cukup kasihan melihat betapa menderita suaminya. "Ya. Perut ni masih sakit. Sori, saya bangunkan awak. Jujur, saya takde niat bangunkan awak." Raihan menampakkan mimik bersalah. Ekspresi yang jarang ditunjukkan kepada Adriana. Melihat mimik itu, Adriana merasa kasihan pada lelaki itu. Bukan apa-apa wajah itu terlihat sangat memelas seakan meminta pertolongan. "Tunggu sebentar. Kayaknya aku punya obat pereda sakit perut." Adriana memberikan solusi. "Nak ke mane?" Raihan bertanya karena Adriana berlari keluar dari kamar. Pria itu bingung mengenai apa yang akan dilakukan istrinya. Raihan tidak menunggu istrinya karena sekali lagi perutnya kembali sakit, memaksanya masuk ke dalam toilet. "Ini obatnya, Mas. Kamu minum dulu. Biasanya kalau aku minum obat ini, sakit perut langsung berhenti," ujar Adriana setelah kembali. Adriana menyodorkan obat yang berlabel perusahaan farmasi milik pemerintah serta minuman dalam gelas kaca bening. Raihan menyambut pemberian istrinya. Pria itu meneguk obat pemberian istrinya. "Tidur dulu, Mas." Adriana menuntun suaminya berbaring. Adriana mulai bersikap manis kepadanya. Raihan tidak pernah tahu kalau istrinya akan menunjukkan respon seperti sekarang apabila ia sakit. Ini hanya sakit perut. Raihan pikir, Adriana akan menggerutu dan mencaci maki dirinya. Nyatanya, tidak. Wanita itu justru menunjukkan kalau dirinya bisa berbuat baik pada suaminya. "Lain kali, Mas Raihan tidak perlu paksakan makan makanan kalau memang tidak mampu. Menghargai makanan memang penting. Tapi kalau sudah membahayakan kesehatan juga tidak baik, Mas. Lihat, sekarang perut kamu jadi korbannya." Raihan memaksakan senyuman. Sangat aneh melihat Adriana mengomelinya seakan mereka berdua pasangan saling mencintai. Sebenarnya mungkin tidak aneh, Raihan hanya tidak terbiasa melihat pemandangan seperti sekarang. "Ya. Terima kasih ya, Ana." Raihan mengusap rambut istrinya. Tak ada perlawanan. Mungkin karena Adriana menyadari Raihan sedang tidak memiliki tenaga untuk berdebat dengannya. Adriana memilih pasrah. Untuk kali ini, ia akan membiarkan Raihan melakukan apapun kepadanya. "Perut saya dah lebih baik. Bila takde awak, saya tak tahu ape yang nak menimpakan saya ni." Mungkin Raihan masih bolak-balik masuk ke toilet. Kali ini, Raihan sangat bersyukur atas bantuan istrinya. Pria itu terus mengusap lembut rambut istrinya, sampai mata Raihan perlahan-lahan terbenam. Obat pemberian dari istrinya merupakan obat keras yang direkomendasikan dokter. Obat itu memiliki efek samping berupa rasa kantuk. "Gimana nih?" Adriana bingung karena tangan Raihan menariknya masuk ke dalam pelukannya. Jika Adriana memberontak sekarang maka Raihan otomatis bangun. Kasihan pria itu. Apalagi besok Raihan akan masuk kerja. Adriana mengambil napas kemudian mengeluarkan napas perlahan-lahan. Adriana mengikuti gerakan tangan suaminya. Wanita itu berbaring tepat di samping Raihan. Mereka tidur di bantal yang sama. Mereka sangat dekat, lebih dekat dari biasanya. Ada sedikit perasaan tenang di dalam hati Adriana. Beginikah rasanya memiliki suami? Pertanyaan itu selalu terlintas di pikirannya. Selama ini, ia memiliki suami. Namun, itu hanyalah sebuah status, Adriana tidak benar-benar memiliki suaminya secara utuh. Adriana mulai membayangkan hari-hari jika seandainya dirinya dan Raihan bisa bersama sebagai pasangan bahagia suatu hari. Apakah itu mungkin? Dia selalu menanamkan dalam dirinya bahwa pernikahan mereka hanyalah sebuah kesepakatan yang saling menguntungkan. "Jika pada akhirnya kita tidak bersama, siapa yang akan dilukai? Aku atau dirimu?" Adriana bertanya pada Raihan yang terlelap. Jalan hidup mereka masih panjang. Masih banyak sekali kemungkinan yang akan terjadi kepada mereka. Apakah keduanya bersama? Apakah keduanya bisa menemukan pasangan masing-masing? Ada beberapa pria yang mulai mendekati Adriana. Namun, wanita itu masih menikmati masa-masa bebasnya. Di ia tidak mau terlalu fokus mencari pasangan meskipun Raihan sudah membolehkannya melakukan itu melalui surat perjanjian kontrak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN