Bab 16: Teh Khusus

1016 Kata
*** Sakit perut membuat Raihan tidur lebih lama. Matanya terbuka saat sholat subuh di mesjid telah usai. Padahal Raihan sangat ingin sholat berjamaah di mesjid. Kepalanya masih agak pening akibat pengaruh obat sakit perut yang diberikan oleh istrinya. Raihan memijitnya sebentar sampai perasaan nyeri itu hilang. "Sudah bangun? Aku buatkan kamu teh. Minum dulu." Adriana menunjuk gelas berisi teh di atas nakas. Raihan mengernyit. Dia tidak percaya Adriana sudi membuatkannya teh di pagi hari. Raihan mengambil teh itu kemudian mencobanya. Raihan hampir tersendat karena teh itu sangat hambar. Tidak ada rasa manis sama sekali. Benar-benar murni hanya teh hambar. Raihan baru kali ini menyesap teh seperti itu. "Awak dah coba teh ni ke?" Raihan memaksakan tenggorokannya menelan minuman buatan istrinya. Paling tidak menghargai wanita itu membuatkannya teh. "Aku udah coba. Tapi, aku jarang minum teh. Kupikir rasa teh memang aneh. Apakah teh rasanya tidak begitu?" Adriana pernah minum teh. Bukan teh alami melainkan teh diet khusus, memang tidak ada rasanya. Jadi, ia merasa kalau semua teh rasanya akan hambar seperti teh diet khusus yang pernah ia konsumsi. "Hambar sangat rasanya. Sangat beda pabila bibik kat rumah atuk yang buatkan. Awak tak tambah gula ke? Saya pikir bibik tambahkan gula bila nak buatkan saya teh." Ketika dua orang kaya dipertemukan dalam satu rumah maka keduanya tidak bisa membedakan seperti apa caranya membuat teh yang rasanya menggugah selera. Secara pribadi Raihan suka memasak. Namun, jarang membuat teh. Biasanya ia akan minum kopi. Orang Amerika lebih senang kopi dari apapun. "Hambar. Maybe pahit sangat kot." Raihan menambahkan. Adriana mendesah. Raihan merasa tak enak hati telah menghardik minuman buatan istrinya. "Ei. Sori, saya tak nak niatkan bikin hati awak terluka. Saya senang pabila awak buatkan saya minuman ni. Thanks dah buatkan saya teh ni." Raihan semringah. Seketika Adriana tampak bersemangat. Wajahnya yang murung beringsut lebih ceria. Dia mendekati suaminya dengan wajah berseri-seri. "Iya. Sama-sama. Maafkan kalau teh buatanku tidak sebaik buatan bibi di rumah kakek kamu." Raihan mengangguk-angggukkan kepalanya. Pria itu menghabiskan minuman buatan istrinya. Setelah itu ia menaruh gelas di sampingnya. "Awak dah sholat subuh?" "Belum. Tadi aku sibuk membuatkan kamu teh. Lima puluh menit lagi jam enam pagi. Masih ada waktu." Memang butuh perjuangan Adriana bangun subuh. Biasanya Raihan yang akan membangunkan dirinya. Namun, karena pria itu tampaknya kelelahan, ia lupa bangun. Adriana pun tiba-tiba saja bangun tanpa ada yang menggoyangkan tubuhnya. Dia sadar saat ia sempat membuka mata dan dirinya tengah berpelukan dengan Raihan. Beruntung Raihan sedang sakit. Jika tidak, Adriana pasti sudah mendorong pria itu jatuh ke lantai. "Oh. Kalau begitu, jom kita sholat berjamaah. Saya nak imamkan awak. Jom ambil wudhu," perintah Raihan. Pria itu menyadari bahwa istrinya selalu lama apabila berada di dalam kamar mandi. Jika Raihan yang lebih dulu mengambil wudhu, maka ia akan lama menunggu istrinya. Jika Adriana yang lebih dulu maka waktu akan lebih efisien. Dalam beberapa hal, biasanya perempuan lebih rumit melakukan sesuatu ketimbang laki-laki. "Oke." Adriana masuk ke kamar mandi lebih dulu. Lalu, Raihan menunggu di luar. Pikiran pria itu teringat kembali momen semalam. Betapa perhatian Adriana kepadanya. Ada yang berbeda saat mengetahui bahwa Adriana tidak segarang yang dia pikirkan. Adriana memiliki hati yang lembut. Sesuatu yang jarang ia tunjukkan kepada orang-orang. Semalam Raihan menemukan sisi lain istrinya yang tidak pernah ia ketahui. Sisi baik itu membuat Raihan terkesan, dan tidak akan pernah melupakan kejadian itu. "Ape benda yang dah buat hati saya nih bergetar tak tentu arah. Ape ni, saya tak paham semua ni." Raihan termenung sendiri. Kenapa hati Raihan terasa begitu plin plan. Seakan-akan ada dua pilihan di depan matanya. Kadang ia memikirkan kebaikan Ariza Zulkarnain, lalu kadang ia memikirkan Adriana. Ada dua wanita yang mampir di kepalanya secara bergiliran. Raihan tidak bisa memilih sebab keduanya tidak bisa ia gapai. Ariza memiliki pacar sementara Adriana tak akan pernah menerima cinta Raihan. Setidaknya itulah yang selalu Adriana ucapkan, dan Raihan selalu mengingat hal itu. "Aku sudah selesai. Silakan Mas Raihan masuk ke kamar mandi berwudhu." Adriana berseru dengan keras. Membuyarkan lamunan Raihan. "Oh ya." Raihan terperanjat. Dia jelas sedang melamun. Adriana sampai menertawai cara pria itu keluar dari lamunannya. Dia seperti pria linglung yang baru saja bangun tidur. "Lagi khayalkan apa sih, Mas? Ya ampun! Ini masih pagi, Mas Raihan. Bisa-bisanya mengkhayal subuh begini." Adriana mengambil mukenah kemudian memakainya di hadapan sang suami. Saat Raihan melihat istrinya memakai mukena, Raihan terpukau. Adriana terlihat sangat cantik saat menutup auratnya. Mendadak Raihan berharap istrinya bisa menutup aurat suatu hari. Meskipun Raihan tak memilikinya, paling tidak Adriana bisa mendapatkan lelaki sholeh lainnya di luar sana. Lelaki yang mampu membimbing Adriana di dunia maupun di akhirat. "Pikir kerja je. Wait. Saya ambil wudhu dulu. Promise! Sekejap je!" "Iya... Iya. Enggak usah buru-buru nanti perutnya sakit lagi!" tegur Adriana. "Takpe lah. Kan ada awak yang rawat saya pabila sakit." Adriana tidak membalas. Dia membiarkan suaminya berlari masuk ke dalam kamar mandi. Gelengan kepala terlihat diberikan Adriana. Ketika keadaan telah berubah maka hati pun akan belajar menyesuaikan dengan keadaan yang ada. Adriana tidak memahami situasi yang tengah menimpa dirinya dan Raihan. Apakah persahabatan ini akan berujung pada sesuatu yang lebih intim? Lebih dekat dari sebelumnya? Belakangan ini, Adriana banyak menanyakan keadaan antara dia dan Raihan. Enam menit lewat tiga puluh detik, Raihan keluar dari kamar mandi. Pria itu mengambil baju kokoh kemudian memakainya. Tak lupa kopiah ia pakai di kepalanya. Pria itu melirik Adriana yang sudah memasang sajadah di atas lantai. Adriana telah siap sejak tadi diimami oleh suaminya. "Silakan, Mas. Kita mulai sholatnya," ajak Adriana. "Oke. Tunggu. Saya nak perbaiki sarung dulu." Raihan memperbaiki bentuk sarung yang tengah terlilit di bagian bawah tubuhnya. Dia mengucapkan kalimat bismillah kemudian melangkahkan kaki ke arah istrinya. Raihan mengambil napas. Lalu, memulai sholatnya. Dua hati yang selalu berseteru kini mencoba berdamai. Mencoba memulai keakraban dengan shalat berjamaah di rumah. Biasanya Raihan akan sholat di masjid. Akan tetapi kali ini ia meluangkan waktu di rumah. Ternyata sensasinya berbeda saat menjadi imam dari pasangan. Raihan harus mengakui bahwa ia nyaman dengan keadaan ini. Dia tidak mengharapkan banyak hal. Akan tetapi yang ia inginkan adalah tidak ada lagi pertengkaran di antara mereka. Pertengkaran yang menimbulkan perasaan benci di antara keduanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN