"Lo yakin bisa bawa mobilnya?" tanya Simi untuk yang ketiga kalinya. Aku tahu aku sedang marah, sedang kesal sedang sedih, tapi aku masih ingin hidup lebih lama lagi. Simi seharusnya tidak pernah bertanya seperti itu. Makin bikin kesel aja. "Lo tenang aja, gue nangis bukan karena sedih atau galau. Gue lega. Lo bisa pulang dengan selamat gue anter sampe depan rumah lo." "Tari, sabar, ya." Aku tertawa, lalu membersihkan seluruh wajah dengan tisu basah. "Harusnya gue denger apa kata Raka. Apa kata lo juga. Mas Bima terlalu baik untuk itu gue percaya kalau dia gak akan pernah khianatin gue." Rentetan kejadian itu bagai kepingan puzzle tercecer yang akhirnya kini terkumpul. Mas Bima yang tidak bisa ditemui di rumahnya, pengaman dan pelumas yang ada dalam kantong belanjaannya serta peremp

