Mangkuk Dua Puluh

1642 Kata

Aku tidak tahu pasti kapan tepatnya aku tertidur, yang pasti hari ini adalah hari paling melelahkan pertengkaran dengan Simi, membantu Naila dan Nanda. Dan terakhir menyaksikan Mas Dinan potong salmon untuk shasimi. Benar apa kata Mas Retno, kepiawaian Mas Dinan memotong salmon luar biasa. Sementara itu, Mas Dinan berkilah, pisaunya yang bagus, karena dengan pisau sekeren itu semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam memotong salmon. Kurenggangkan badan, lumayan pegal tidur dengan posisi duduk dengan kepala tertelungkup di meja. Kusapukan pandangan pada dinding-dinding kantor yang selalu menjadi saksi atas kegelisahanku. Terkadang dinding dinding inilah yang membodoh bodohiku kala aku berbuat salah, dinding ini pula yang pertama mengucapkan selamat kala aku mendapat kebahagiaan. I

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN