“Tari, tunggu sayang, denger dulu penjelasan Mas.” Tidak pernah kuduga Mas Bima mengejarku. Aku terus berlari ke arah stasiun kota Garut. Sol flat shoesku beradu dengan trotoar menimbulkan bunyi seperti sebuah tamparan. Rasa-rasanya aku ingin menampar Mas Bima tapi nyaliku ciut. Orang dia badannya tinggi besar begitu, manalah berani aku melakukan hal itu. Trus itu, yaampun berani-beraninya dia manggil aku sayang-sayang. Tepat di depan kantor polisi militer, langkahku terkejar oleh Mas Bima. Para provost PM menatap kami dan itu membuatku enggan untuk berontak ketika Mas Bima meraih lenganku. Aku tidak suka keributan karenanya aku diam saja, lagipula Mas Bima gak akan berani macam-macam karena lokasi kami persis di depan KODIM dan markas PM. “Sudah malam, kamu mau ke mana?” suara Mas Bi

