“Gue gak tahu harus berapa kali lagi bilang sama lo kalo si Bima Lucas itu bukan cowok baik-baik.” Itulah yang diucapkan Raka ketika kami berpapasan, aku hendak masuk rumah sedangkan Raka meninggalkan rumahku. “Terserah, kalo terjadi apa-apa, lo jangan nangis!” Kurasakan telapak tangan Raka dingin. Dari penampilannya saja aku sudah bisa menerka jika Raka keluar rumah dengan keadaan buru-buru. Mengenakan celana pendek, hoodie merah dan sendal jepit sebelah-sebelah. Aku melepaskan genggaman tangannya tetapi Raka malah menggenggamnya erat, kemudian kata selanjutnya yang dia lontarkan terus aku ingat-ingat. Bahkan ketika Mama dan Papa menyidangku karena pulang malam dan tidak bisa dihubungi. Rasanya, aku tidak bisa berkonsentrasi mendengarkan apa yang mama katakan. Esok harinya sama, peker

