ANEYSHA
Gue memiliki keluarga yang lengkap, tapi gue pikir gue nggak bahagia.
Ketika gue masih sekolah dasar, mama dan papa sering sekali bertengkar. Rasanya nggak pernah sehari pun gue melihat mereka berdamai. Gue nggak tahu bagaimana isi kepala orang dewasa, yang gue tahu saat itu, gue takut dan gue benci dengan suara marah papa dan teriakan-teriakan histeris mama.
Saat gue SMP mama dan papa berpisah dan jika boleh berterus terang, gue lebih suka keadaan yang seperti itu, semua menjadi lebih tenang. Gue nggak perlu mendengar lagi kegaduhan tiap malamnya.
Menjelang SMA, mama memutuskan untuk menikah lagi begitu pun juga papa. Awalnya semua baik-baik saja, kedua keluarga menerima gue dengan baik. Gue rasa ini jauh lebih baik daripada saat mama dan papa masih bersama. Setidaknya mereka bisa bahagia dengan pasangan mereka masing-masing.
Tapi kenyataan yang terjadi tidak seindah ekspektasi. Gue merasa menjadi orang asing di tengah keluarga baru mama, sementara dengan keluarga papa dan istrinya gue nggak begitu suka. Mereka sering sekali meributkan hal-hal kecil dan gue masih trauma.
Mereka—mama dan papa—nggak mengizinkan gue untuk tinggal sendiri karena dianggap masih di bawah umur, akibatnya gue harus tinggal bergiliran di kedua keluarga tersebut. Dua minggu di tempat mama dan dua minggu di tempat papa.
Sesak. Sepi, tapi nggak bisa cerita. Gue memendam semuanya sendiri selama tiga tahun. Gue menjadi anak yang sensitif dan nggak mudah bergaul. Rasanya gue bahkan nggak butuh siapa-siapa lagi. Cukup dengan diri gue sendiri.
Kesempatan datang ketika gue lulus, gue berniat mau mencari kampus yang jauh dari Jakarta, tidak terlalu jauh juga, setidaknya bisa tinggal terpisah dari mereka, beruntungnya gue diterima kuliah di Malang.
RAVEL
Sudah dari sebelum subuh gue dan panitia lain siap-siap buat acara ospek pertama hari ini. Ospek Fakultas Ekonomi dan kebetulan gue jadi ketua panitianya. Sebenarnya kalau disuruh milih mending gue rebahan di kos sambil nonton film daripada ngurusi kepanitiaan yang akhirnya malah nambah emosi gara-gara maba—mahasiswa baru—yang nggak tahu diri.
Ya maba-maba baru kayak lo pada tuh, yang suka bikin gondok. Ngertiin kita lah ya bro, sis.
Bukannya gue gila apresiasi atau gila hormat, tapi seenggaknya mereka mematuhi aturan aja gue udah berterimakasih. Panitia itu kerjanya udah gila nonstop dari bulan-bulan yang lalu. Mulai dari ngurus jobdesk, timeline acara, ngurus perizinan tempat, dekorasi, makanan, belum lagi ada pemateri yang tiba-tiba mundur di detik-detik terakhir. Udah deh rasanya ingin nyekek pematerinya aja. Gue aja yang palingan cuma berat di mikir sama ngondisiin mereka aja capek banget, apalagi anggota gue yang kerja keras bagai kuda, udah kayak mau mati aja mereka.
Dari keseluruhan peserta ospek, 20% telat buat datang ke acara, 10% nggak bawa barang yang diminta dan tiga anak cowok ketahuan ngerokok di belakang gedung pas istirahat. Gue nggak habis pikir padahal waktu pemeriksaan awal, nggak ada barang-barang aneh semacam rokok. Tapi pas istirahat dengan nyamannya mereka nyebat, untung nggak bawa g***a, fix masuk berita gue.
“SEMUA CALON MAHASISWA BARU, BERBARIS SESUAI JURUSAN MASING-MASING!”
“PEMIMPIN BARISAN SEGERA ATUR BARISANNYA!”
Ketua Komisi Disiplin—Komdis—si Abraham udah mulai teriak-teriak. Anak-anak maba dikerahkan buat duduk di depan fakultas dan anggota komdis yang lain udah berjajar di depan mereka. Siap buat marah-marah. Nggak tahu aja tuh maba-maba kalo anak-anak komdis sudah latihan teriak-teriak semaleman penuh sampe telinga gue rasanya kayak kesumpel gajah. Katanya marah-marah juga butuh dilatih, apalagi anak-anak yang kalem dan kebetulan dapat job ini. Semoga aja suara mereka nggak habis. Nggak lucu sumpah kalau semisal pas di tengah-tengah teriak yang muncul suara kayak tikus kejepit. Fix lo bakal jadi bahan lawakan yang malunya sampe akhirat.
Sekitar 15 menit mereka teriak bersahutan untuk saling memberi petuah, saran, kritikan tapi tenang nggak sampai ada kekerasan kok. Kalau dipikir-pikir fakultas gue nggak pernah tuh sampai ada yang aneh-aneh, tergolong ringan banget malahan, kebanyakan dengerin ceramah doang. Beda sama fakultas sebelah, yang isinya cowok semua, canda cowok. Gue yakin selesai ospek, mabanya banyak yang antre masuk ruang ICU.
Tapi ya gitu, masih aja ada yang bandel. Gue mengamati anak-anak dan para maba. Kebetulan posisi gue di depan sebelah pojok paling kanan. Ada yang sampai nangis, ada yang diem aja sambil nunduk, ada yang merasa bersalah gitu. Tapi satu, yang bikin atensi gue fokus mendadak. Satu cewek di barisan jurusan akuntansi, paling depan, bukannya dia nunduk atau gimana dia justru menatap nyalang ke arah Abraham yang koar-koar. Demi apa gue yakin Abraham yang dipelototin kayak gitu pasti udah gemetaran, pengen ngakak sumpah. Tapi gue jadi penasaran, cewek itu memang lagi cari perhatian atau emang dasarnya cewek urakan atau jangan-jangan lagi kesurupan. Kan gue takut. Duh merinding nih.
“Interupsi kak!”
“IYA KAMU, MAJU KE DEPAN!”
“Maaf kak sebelumnya saya ingin menyampaikan argumen, apa nggak ada cara lain buat memberi nasehat ke kita selain dengan teriak-teriak? Seperti yang kalian katakan tadi, kita sudah mahasiswa bukan murid SMA. Jika seperti itu adanya, bukankah seharusnya ada cara yang lebih dewasa untuk memberitahu kami. Jika memang ada pelanggaran langsung saja memberi hukuman yang sepadan, pasti jera. Kalau semacam ini, saya percaya tidak semua anak mendengarkan dengan tulus dan pasti ada sebagian yang justru nyinyir. Sekian argumen dari saya, terimakasih.”
Cewek akuntansi yang daritadi gue lihatin tiba-tiba ngomong kayak gitu, formal sih sesuai kaedah KBBI—bahasa indonesianya pasti dapat A. Tapi ya gitu jadi kelihatan kurang ajar. Abraham yang berada di depannya cuma diam sesaat sebelum kembali kesadarannya.
“KAMU YAKIN DENGAN ARGUMEN KAMU ITU? SUDAH MERASA PALING BENAR?”
“KALIAN SEMUA! MAHASISWA-MAHASISWA BARU! KALIAN SETUJU SEMUA DENGAN PENDAPAT DIA?”
“JANGAN DIAM SAJA! BISU YA KALIAN? NGGAK PUNYA MULUT? APA MALAH NGGAK PUNYA TELINGA?”
“KALIAN ITU SUDAH MAHASISWA!”
Sumpah ya, kalau kayak gini yang ada telinga gue beneran bisa copot. Seandainya volume suara mereka bisa gue kecilin. Gue kembali mengamati cewek itu lagi. Dia diam di depan sana sambil menunduk—tangannya mengepal kuat. Gue nggak bisa lihat ekspresinya tapi cukup membuat gue bertanya-tanya, apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya?
“KAMU, ANEYSHA! KEMBALI KE BARISAN!”
Dia masih menunduk dan dalam hitungan detik, bukannya kembali ke barisan dia justru berlari meninggalkan kerumunan.
Gue melongo, melotot, tapi masih ganteng.
Kurang ajar banget ya nih cewek. Sejauh yang gue tahu dari riwayat ospek di jurusan, kayaknya baru nemu satu modelan cewek sekurang ajar dia. Maba lo ya dia maba. Gue lihat Abraham mau menyusul tuh cewek dan gue mengambil alih.
“Gue aja, Bro. Lo kondisiin yang di sini! Siapa namanya?” Meskipun gue tahu ini bukan job gue, tapi gue sepenasaran itu sehingga memutuskan untuk mengikuti dia.
“Aneysha Chalondra.”
ANEYSHA
Gue seneng bisa diterima di kampus ini. Ospek hari pertama, jadwal ospek fakultas dan gue benar-benar nggak sabar. Penasaran bagaimana sistematika ospek anak-anak mahasiswa. Apakah masih seperti ospek anak-anak SMA? Apa justru ketemu sama yang namanya perpeloncoan? Semoga saja nggak, jujur gue ngeri ngebayanginnya.
Dari pagi gue datang setengah jam sebelum acara dimulai. Semua perlengkapan yang diminta gue membawanya. Gue nggak berbuat aneh-aneh, gue menaati semua aturan dan menjaga tata krama, apalagi dengan kakak-kakak senior yang sepertinya sudah kerja siang malam untuk acara ini. Intinya, gue nggak ingin cari gara-gara.
Semua terlihat santai, pagi pengecekan barang setelah itu acara pembukaan dilanjut materi pengenalan sampai siang. Mendapat nasi kotak untuk makan siang dan menurut gue cocok aja sama selera makan gue atau karena memang lapar ya, tapi sepertinya sih nggak karena di dalam tadi juga sudah dikasih snack. Its easy thought.
Istirahat selesai makan, gue melihat ketua panitia ospek lari-lari menuju ke belakang gedung. Gue tahu dia—Ravel—cowok yang memberi sambutan ketika pembukaan, belum lagi anak-anak di sebelah gue yang daritadi membicarakan kegantengan dia yang nggak manusiawi dan mirip artis korea katanya. Gue jadi penasaran, kenapa kakak-kakak panitia jalan menuju ke arah belakang gedung.
“SEMUA CALON MAHASISWA BARU, BERBARIS SESUAI JURUSAN MASING-MASING!”
“PEMIMPIN BARISAN SEGERA ATUR BARISANNYA!”
Awalnya gue memilih tempat yang paling depan karena kalau di belakang bisa-bisa gue tertidur. Tapi sepertinya keputusan itu salah, gue nggak tahu kalau agenda kali ini adalah bentak-bentak para komdis. Dan gue juga baru tahu kalau ada anak yang ketahuan ngerokok sampai kumpul darurat ini dilakukan.
Jujur, gue sangat benci sama orang yang membentak, teriak, tendang-tendang barang, lempar-lempar barang. Meski nggak ada kekerasan tapi gue takut. Semua itu mengingatkan bagaimana mama dan papa yang selalu adu mulut tiap malam, atau jeritan histeris mama yang sampai sekarang kadang suka muncul kalau ada pemicunya. Sangat nggak mungkin gue menangis di sini, nggak mungkin juga tiba-tiba gemetaran dan jadi tontonan gratis, nanti disangka ayan kan nggak lucu.
Gue harus bertahan. Gue menatap nyalang, mungkin menantang, ketua komdis di depan gue berharap dia menghentikan ocehannya. Lebih baik nama gue dipanggil gara-gara kurang ajar terus dihukum disaksikan seangkatan daripada gue mendengar teriakan-teriakan mereka yang menurut gue lebih menyiksa. Benar-benar sangat menyiksa.
Gue sungguh nggak tahan lagi. Gue memberanikan diri untuk bersuara dan pergi jauh dari kerumunan itu untuk menenangkan diri. Hingga akhirnya gue menyembunyikan diri di toilet sambil nangis sesenggukan. Tubuh gue gemetaran hebat tapi gue berusaha keras untuk mengontrol diri. Apapun yang terjadi gue harus survive, gue nggak punya siapa-siapa di sini, gue nggak mau minta tolong dan gue nggak mau ngerepotin siapapun. Yang lebih penting, gue nggak mau ada orang yang melihat gue dalam kondisi seperti ini.
Setelah beberapa menit yang gue nggak tahu berapa pastinya, gue merasa lebih baik. Gue membasuh wajah dan segera ke luar.
“Earth doesnt rotate under your feet, Aneysha,” ucapan Kakak ketua panitia yang ditujukan kepada gue langsung setelah gue ke luar dari toilet.
Dia berdiri di sana, bersandar pada tembok dengan tangannya yang berada di saku. Gue yakin dia gondok karena kelakuan gue yang menyebalkan, tapi di saat seperti ini gue lebih benci ada orang yang sok tahu dengan apa yang gue alami.
“Kamu tidak ingin menjelaskan apa yang terjadi karena tiba-tiba pergi begitu saja, Aneysha? Sangat tidak sopan. Apa kamu sedang cari perhatian? Its not the right way to get attention, girl.”
Gue berhenti dan menatapnya penuh cibiran, “apa yang kakak lihat dan apa yang sedang terjadi terkadang tidak berkorelasi. And be carefull with your word, please! Sebagai seorang yang dihormati, make a judgment secara asal tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi saya rasa bukan perilaku yang sopan juga. Saya mau pamit, jika ingin memberi hukuman dan ceramah nanti saja, permisi.”
Dia masih mengamati diri gue dari atas ke bawah. Seakan-akan mau menguliti gue lewat sorot matanya kalau bisa. Ekspresinya sungguh tak terbaca, yang jelas tatapan matanya terlalu tajam sampai sebenarnya gue juga takut buat melihatnya.
RAVEL
Gue ikutin dia. Gue pikir dia langsung ngambil tas terus cabut. Tapi ternyata justru ke toilet. Gue nungguin dia depan toilet cewek sekitar dua puluh menitan. Nggak mungkin gue masuk, yang ada gue digebukin satu kampus lagi. Gue yakin anak-anak di lapangan udah masuk ke aula buat materi selanjutnya.
Lama. Banget. Jangan-jangan ini cewek daritadi marah gara-gara nahan boker, terus dia malu akhirnya nggak keluar-keluar atau justru pingsan lagi. Duh gue jadi serba salah, masuk ke toilet entar dikira aneh-aneh lagi tapi kalau nggak masuk, ternyata ada apa-apa gue juga yang kena.
Setelah beberapa waktu, akhirnya, dia keluar juga.
“Earth doesnt rotate under your feet, Aneysha.”
Gue nggak tahu kenapa, tiba-tiba kalimat itu meluncur lancar banget dari mulut gue. Mungkin karena sebel sama ini cewek, sebel nunggu juga, jadi seakan-akan semua kesalahan gue limpahin ke dia semua. Tapi setelah gue mengamati dia dari kaki sampai ujung kepala belum lagi mendengarkan jawabannya yang menurut gue menusuk juga. Gue merasa bersalah, karena melihat raut wajahnya yang amat pucat dan matanya yang memerah meskipun masih terkesan dingin dan tidak bersahabat.
Dia benar-benar terlihat nggak baik-baik saja.
Dia pergi begitu saja dan gue lihat punggungnya menjauh. Karena melihat bagaimana kondisinya—gue takut dia pingsan di jalan, akhirnya gue ikutin dia karena bentuk tanggung jawab gue. Ketika gue mikir dia langsung pulang tapi ternyata dia balik lagi ke aula, presensi di buku kehadiran yang otomatis dia bakal kena poin pelanggaran karena kelewat jam masuk, terus ikut materi lagi seakan-akan dia baru balik dari toilet 5 menit yang lalu.
Lagi-lagi gue bengong.
Pasti ada yang salah, tapi di mana?
“Heh, Bro! Gimana itu cewek tadi? Udah lo marahin? Resek banget, harga diri gue ini.” Abraham menghadang gue di pintu masuk aula.
“Entar aja.” Mata gue masih setia mengekori Anes yang mulai menghilang di antara lautan peserta ospek. Dari jarak sejauh ini gue masih bisa melihat dia dengan jelas—membiarkan Abraham menatap gue penuh tanda tanya.
“Ha?”
Nanti. Dia bilang nanti gue boleh negur atau marahin dia. Jadi sekarang, biar semua seperti ini dulu.