Chapter 2—Make a Joke

1131 Kata
RAVEL "Mau nggak lo jadi cewek gue?" Dua minggu setelah ospek, di sekretariat BEM FE, gue nembak bocah songong yang kelakuannya ajaib ini, Aneysha. Kenapa gue sebut songong, kata temen-temen gue dia acuh banget waktu diajak kenalan. Tipe-tipe cewek yang 'play hard to get' gitu. Kemakan gosip kayaknya gue. Dia menatap gue lama. Nggak bengong sih tapi gue nggak bisa membaca ekspresinya. Mungkin kaget juga karena gue tiba-tiba nembak dia saat dia lagi ke sekret yang tujuan awalnya hanya buat ngambil kartu mahasiswa dia yang kemarin kita sita. "Boleh. Nama lo Ravel, kan?" Gue justru merasa heran. Semudah itu? Apa prediksi gue sebenarnya benar? Maksud gue dia itu sok resek sok nyebelin dan sok misterius itu karena memang lagi nyari perhatian. Biasalah kayak cewek-cewek yang lain. Buktinya, dia langsung nerima gue tanpa babibu. Padahal nih secara logika, kita benar-benar nggak kenal. Cuma tahu nama doang, atau dia ada alasan lain? Kenapa ya? Gue nggak bisa mikir! "Mantep banget bosku!" "Asiklah langsung dapat dedek gemes." "Sumpah beneran lo, Rav!" "Patah hati gue." "Tuh cewek langsung mau-mau aja. Murahan banget." "Jangan lupa traktiran, Bro!" Temen-temen gue di sekret bikin gaduh, sementara gue yakin ekspresi gue priceless banget. Sebenarnya gue tadi kalah main sama Abraham dan hukumannya tuh ngerjain dia. Eh, kok diterima. Gue jadi yang bingung. Pingin ngumpat rasanya. Gue lihat Anes lagi. Ekspresinya datar banget. Sebenarnya yang dikerjain itu gue atau dia sih? "Sudah sana balik ke kelas dulu, lo bilang ada kelas kan? Nanti gue telepon." Gue mengacak-acak rambutnya pelan dan tersenyum sebaik mungkin. Ini gue akting ya jangan dikira beneran. "Oke, gue tunggu. Permisi ya, Kakak-kakak." Dia menyapa Anak-anak sekret dan beranjak pergi. "Woy, Bro! Kok lo malah jadian beneran,? Kan harusnya lo usilin dia, ngerjain dia kek sampai nangis. Belagu banget soalnya, perlu dikasih pelajaran tuh cewek." Abraham menghampiri gue nggak terima. Gue nggak tahu mungkin Abraham dendam sama Anes karena cewek itu nggak respon chat dia dan hanya diem aja waktu dia nyoba buat deketin atau emang dia lagi pingin main-main. "Rav, malah bengong lagi. Kenapa lo nggak usilin sih? Ngerti gitu gue aja yang ngerjain." Gue lebih bersyukur, gue yang kalah main game. Gue juga bersyukur karena tadi sempat lola dan blank sesaat setelah dia nerima gue. Jadi, gue nggak bisa mikir aneh-aneh buat ngejailin dia lebih lanjut. Misal itu si Abraham, gue bayanginya abis dia nembak dan diterima, dia bakal ketawa puas sambil bilang, "Gue nggak beneran nembak kali, lo main terima aja." "Suka banget ya sama gue? Pingin banget pacaran sama gue?" "Nyadar diri dong, siapa lo?" Karena pada dasarnya, niat awal dia emang kayak gitu. Jika itu terjadi, gue nggak bisa bayangin gimana perasaan Anes setelahnya. Dipermalukan itu nggak enak, Man. Dan sekarang gue nyesel kenapa gue iyain aja permintaan Abraham tadi. ANEYSHA "Mau nggak lo jadi cewek gue?" Kaget. Sumpah. My heart is beating so fast bukan karena jatuh cinta, tapi karena his confession make me shock. Tapi setidaknya, gue cukup handal untuk mengontrol ekspresi. Cowok selevel Ravello, yang ngedip sekali saja bisa membuat cewek-cewek di sekitarnya mleyot, tiba-tiba mengajak gue berkencan. Hell no! Secara, first impression gue ke dia sangat nggak baik, gue sadar betapa annoying-nya diri gue waktu itu. Jadi, kejadian ini sangat tidak masuk akal. Ditarik logika dari garis manapun nggak akan pernah bertemu kecuali dia memang sedang main-main, balas dendam atau mungkin dia berada di kondisi yang mengharuskan untuk confess. Jadi, lebih simplenya gue terima. Di sini gue menunggu dia. Di lobby fakultas ekonomi. Karena dia bilang ingin membicarakan hal penting setelah acara confess dua hari yang lalu dan tidak ada kabar. Alasannya, BEM Fakultas sedang sibuk-sibuknya mengurus persiapan acara yang gue nggak tahu itu apa dan sebenarnya gue nggak peduli. "Sorry, nunggu lama ya," ucap dia sambil memperhatikan jam tangan yang gue yakin harganya bisa membayar biaya UKT dan kos gue selama kuliah di Malang. "Lewat sepuluh menit." "Ha?" "Mau ngobrol di sini atau di mana?" Gue nggak ingin berbasa-basi, selain itu gue malas lama-lama berada di lobby dan menerima segala atensi dari setiap orang yang lewat. Siapa sih yang nggak mendengar gosip bila gue sama Ravel berkencan. Sepertinya satu fakultas sudah tahu atau malah gosipnya sudah mampir ke fakultas tetangga. "Di taman deket parkiran aja, gue sekalian cabut." Gue menurutinya. Gue ingin berjalan di belakangnya tapi dia justru menyamakan langkah. Ini pertama kalinya gue berjalan barengan sama Ravel dan gue berharap nggak ada lain kali. "Mengenai yang kemarin." Ravel mulai berbicara tapi dia terkesan ragu. "Gue tahu," potong gue. Dia melihat gue bertanya-tanya. "That's just a joke, right? Im not that stupid tho," lanjut gue. "Terus, kenapa lo?" Ravel bingung. Dia nggak mengalihkan pandangannya dari gue, minta penjelasan. "Terima?" gue masih memperhatikan raut Ravel, terlihat khawatir karena ketahuan, jika gue nggak salah mengartikan. "Karena nggak mungkin gue nolak lo ketika teman-teman lo ada di sana, bukannya cowok itu menjunjung harga dirinya banget ya? Terus misal gue tolak lo? Malu nggak lo? Dipermaluin itu nggak enak tahu, Vel." Dia bergeming, ekspresinya priceless sekali. Sama seperti ketika gue menerima ajakan kencannya dua hari yang lalu. RAVELLO That's girl must be something. Kalimat itu tiba-tiba terngiang di kepala gue, entah karena efek rasa bersalah, terkejut, atau nggak nyangka sama jawabannya atau mungkin malah ketiganya. "Nes, gue minta maaf." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut gue. Dia tersenyum. Cantik banget. Sumpah nggak bohong, atau mungkin karena dia memang jarang senyum. Kebanyakan sok judes nih cewek soalnya. "Nggak apa-apa kok. Karena setidaknya gue masih bisa gunain otak gue buat bedain mana yang bener dan mana yang cuma tipu daya. Dan nggak mengurangi rasa hormat gue sebagai adik tingkat lo, kalo boleh saran mending lo mikir lagi deh kalo mau lakuin kayak gitu. Nggak ada orang yang suka dibercandain. Tapi jika emang lo terbiasa hidup buat bercandain cewek, that's your decision. Gue cuma ngingetin aja." Sumpah ini cewek kalo ngomong langsung ngena ke hati. Tapi dia tahu bagaimana caranya ngomong tanpa harus menghakimi. "Nes?" "Ha?" "Gue beneran minta maaf sama lo. Lo mau maafin gue kan?" Gue butuh kepastian. Karena kalo dia sampai nggak maafin gue, rasa bersalah ini kayaknya bakal menghantui gue sampai wisuda. Padahal biasanya ini gue nggak peduli lo. Mau ada yang jauhin gue, mau jelek-jelekin gue, mau benci juga bodo amat. Tapi yang satu ini, nggak tahu, gue aja nggak paham. "Iya." Sudah gitu doang jawabannya. Mana gue nggak bisa baca ekspresi dia sama sekali. Tulus nggak sih, beneran bakal kepikiran ini, Woy. "Oh ya, Vel. Karena kemarin lo nembak gue dan gue terima. Even that's just a s**t confession. Gue juga mau mengakhirinya dengan s**t ending. Gue ingin kita putus. Karena gue nggak ingin berhubungan sama lo lagi." Ha? Oke. Fix otak gue turun kasta ini. "Ravel?" "Oh ya, Oke." Gue nggak tahu jawaban apa yang sebenarnya harus gue berikan, karena gue merasa jika ini nggak bener.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN