ANEYSHA
Gue baru menyelesaikan jam kuliah ketika dia—suami mama—tiba-tiba menunggu gue di depan gedung fakultas dan mengajak gue untuk berbicara serius. Gue yang masih kaget dengan kehadirannya, hanya menurut dan mengajaknya ke pujasera yang beruntungnya lumayan cukup sepi.
"Saya hanya ingin memberi nasihat kepada kamu, karena kamu sekarang sudah dewasa, Neysha. Kamu bukan lagi anak-anak yang setiap hari merengek dan bergantung terus kepada orang tua kamu, jadi tolong jangan membuat mamamu khawatir. Tolong berhenti menghubunginya!"
Dia, laki-laki yang mama nikahi tiga tahun yang lalu.
Laki-laki yang nggak pernah gue panggil papa.
Laki-laki yang nggak pernah suka sama gue.
Laki-laki yang selalu menganggap gue adalah seorang pengganggu hubungan dia dengan mama.
Hingga pada akhirnya, mama lebih nyaman dengan kehadirannya daripada gue, anaknya sendiri.
"Neysha, saya bicara sama kamu. Tolong hargai saya!"
Dia datang jauh-jauh dari Jakarta ke Malang hanya buat bilang untuk berhenti menghubungi mama, berhenti merepotkan mama, atau lebih tepatnya berhenti mengganggu kehidupan mereka. Padahal jelas-jelas gue bahkan sudah terlalu menghindar dari mereka hingga rasanya gue dan mama sudah seperti orang asing. Apa itu masih belum cukup? Haruskah gue benar-benar nggak perlu muncul lagi di hadapan mereka?
"Kamu tahu apa maksud saya?"
Gue tahu, sangat tahu. Meski sebenarnya dia nggak punya hak untuk berbicara seperti itu karena mama adalah mama gue. Tapi di sisi lain, dia adalah suami mama yang berarti pemimpin keluarga bagi mama. Jika mama bahagia dengan dia dan keputusannya, gue nggak mau egois meski sebenarnya gue bisa. Mama sudah banyak menderita karena papa, dan gue hanyalah salah satu dari bagian masa lalu mama yang menyakitkan. Jadi, sudah saatnya mama bahagia dengan pilihannya. Meski pada akhirnya, gue yang nggak baik-baik saja.
"Saya mengerti, Om. Tolong jaga mama. Saya tidak akan menghubungi kalian lagi. Sudah saatnya saya hidup mandiri."
"Bagus akhirnya kamu mengerti. Kamu tidak perlu khawatir, masalah finansial kamu selama masih belum bisa berpenghasilan sendiri, saya dan mama kamu akan tetap memenuhinya seperti kesepakatan kita dengan pihak papa kamu."
Gue hanya bisa mengangguk.
Kesepakatan ya? Miris banget.
Siapa sih yang ingin menjadi beban seseorang?
Siapa sih yang punya cita-cita merepotkan orang lain? Nggak ada.
Seandainya gue boleh memilih, gue nggak ingin terlahir di tengah-tengah mama dan papa. Bukan karena lelah dengan mereka atau marah sama mereka, tapi karena gue nggak ingin mama dan papa saling menyakiti hanya karena mereka memaksakan diri untuk bertahan. Demi gue. Karena saat itu, gue masih terlalu kecil, mereka menganggap gue masih butuh mereka. Seandainya gue nggak terlahir, mungkin mereka nggak perlu menanggung luka hanya karena tanggung jawab yang tidak mereka harapkan. Namun sayangnya, gue nggak berada di posisi di mana gue bisa memilih dengan kehidupan gue sendiri.
My life is just a piece of trash.
RAVEL
Gue dari awal nggak ada niatan buat nguping pembicaraan orang. Bukan hobi gue, juga gue males ngurusin urusan orang lain. Tapi pembicaraan dia dan seseorang di hadapannya itu, dari tadi tanpa permisi masuk begitu saja di telinga gue. Padahal nih ya, gue lagi fokus main UNO sama dua bocah tengil di hadapan gue. Gue baru sadar, selain ganteng gue juga multitasking.
"Saya mengerti, Om. Tolong jaga mama. Saya tidak akan menghubungi kalian lagi. Sudah saatnya saya hidup mandiri."
Gue sudah usaha biar gue nggak denger lagi.
"Nyet, Nyet, Lo tuh kalo main jangan sambil merem woy. Daritadi kalah mulu perasaan," goda gue ke Aryo yang daritadi kalah main UNO.
"Hust diem, lha wong aku tuh emang nggak bisa main beginian. Salah sendiri ngajak-ngajak." Aryo menjawab dengan logat jawanya yang khas.
"Udah yo diem aja Lo, biar gue main berdua sama Ravel. Kalah terus Lo. Untung nggak pake oles bedak, kalo iya sudah rata muka Lo putih semua kek tuyul." Jauzan sudah kesal setengah mampus buat ngajarin Aryo main UNO, tapi nggak bisa-bisa.
"Lumayan tuh melihara Aryo. Tinggal kasih makan nasi sama cabe, tiap hari bisa dapet duit gedhe gue. Mumpung deket kos gue ada rumah anggota DPR, banyak tuh duitnya. Mau nggak lo, yo? Freepass nih, nggak pake interview."
"Mas Ravel mulutnya tak staples ya biar nggak kayak Guk-guk."
"Wah gila lo, Zan. Ngajarin Aryo ngomong nggak bener."
Jauzan hanya balas ketawa.
"Kalau begitu saya mau pulang. Tolong diingat pesan saya."
"Iya, om. Titip salam, eh nggak jadi."
Lagi-lagi gue dengar dan suara dia sejelas itu. Padahal dia duduk di belakang gue yang terpisah dengan dua meja kosong. Apa karena pujasera sesepi itu? Apa karena level menguping gue sudah diupgrade? Apa karena tanpa gue sadari dia sudah jadi pusat perhatian bagi gue?
Anes, cewek yang sudah satu bulan ini selalu mengacuhkan gue, menganggap gue nggak ada, padahal jelas-jelas gue ada dan masih oke banget.
Dia di sana, berbicara dengan seseorang yang gue yakin adalah bokap tirinya. Hanya dengan mendengar suara dia, tanpa gue tahu bagaimana ekspresinya, gue yakin seyakin-yakinnya, she is not okay. She's hurt, like she has a lot of burden but she's trying to endure it.
"Yok satu ronde lagi lah biar seru," ajak Jauzan.
Anes jalan melewati gue dan teman-teman gue yang masih duduk.
"Sorry, Bro. Gue nggak ikut. Ada urusan, cabut dulu ya!"
"Woylah, kemana lo, Rav?"
Karena tanpa ngerti apa alasannya, gue mengikuti dia. Sama seperti pertama kali gue ngikuti dia saat ospek, sekarang gue juga melakukan hal yang sama. Bedanya, kalau dulu gue nggak tahu apa yang dia lakukan di toilet dan bikin gue panik. Sekarang, gue bisa melihat dengan jelas kalau dia sedang menangis di gang kecil belakang pujasera sambil memeluk lututnya dan hal itu sukses membuat gue khawatir.
ANEYSHA
Sampah.
Satu kata yang cocok mendeskripsikan siapa diri gue di mata mereka.
Gue pernah bicara dengan diri sendiri, gue nggak boleh nangis lagi ketika sudah kuliah. Masa di mana ketika gue berpikir, mungkin gue bisa istirahat sejenak dari drama keluarga, tapi kenyataanya di awal episode ini gue sudah nangis sejadi-jadinya.
Meski sebelumnya gue dan mama beserta keluarga barunya memang tidak sedekat itu, juga gue yang sebenarnya sudah cukup memberi jarak karena takut mengganggu, tapi apa yang terjadi hari ini cukup membuat gue untuk sadar dan mengerti.
Gue sudah dibuang.
Gue sudah ditinggalkan.
Dengan cara yang halus.
Sesak. Panas. Rasanya sesuatu yang berat mengganjal di kerongkongan. Air mata gue terus berlomba-lomba ke luar dan sudah nggak kekontrol lagi bagaimana arusnya. Deras, tapi gue bungkam, karena gue nggak terbiasa untuk bercerita. Gue terbiasa menelan kembali semua pahit yang gue rasa. Hingga menangis pun gue lebih memilih untuk nggak berbagi suara. Cukup gue yang tahu, cukup gue yang merasakan.
RAVEL
Pertama kalinya gue melihat cewek nangis secara langsung. Tanpa suara—cuma ngeluarin air mata—tapi hebatnya bikin gue pingin nangis bareng sama dia.
Gue yang punya background keluarga baik-baik aja, nggak relate sama yang dia mungkin rasain sekarang, rasanya nggak pantas buat gue ngomong,
Gue ngerti kok apa yang lo rasain.
Pasti sedih banget, kan?
Jangan nangis, ya.
Lo pasti bisa. Semangat!
Semua itu hanyalah kata-kata bullshit.
Karena gue nggak pernah berada di posisi dia. Meskipun seandainya gue pernah ngalamin hal yang sama, perasaan gue dan dia jelas berbeda. Gue nggak bisa comparing kesedihan dia sama apapun juga dan gue nggak bisa nyuruh dia berhenti menangis, karena mungkin itu satu-satunya cara bagi dia untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Lelah pasti, tapi gue yakin, tanpa diminta buat bisa atau semangat pun, dia jelas udah tahu kapan dia harus berhenti ataupun jalan lagi.
Meowwwww
"Eh kucing sialan lo!!"
Sial banget nasib gue. Padahal lagi hikmat-hikmatnya, kucing oren tiba-tiba loncat ke arah gue. Ya tahu gue itu ganteng, sampai kucing aja langsung nemplok. Pasti cewek nih. Tapi ya ngga gitu juga kali, kan bisa kasih aba-aba 'Rav, gue loncat nih' kan enak. Kaget banget, Cing-cing. Untung nggak jantungan ini gue. Mana gue pasti ketahuan kalau ngintip lagi. Taruh mana muka gue ini, gue simpan di pegadaian boleh nggak.
"Ngapain lo?" Kan ketahuan.
"Lagi ngalus nih sama kucing. Masak dari tadi gue dicuekkin. PMS kayaknya." Nggak tahu mulut gue tiba-tiba ngomong kayak gitu. Sementara Anes cuma ngelihat gue dengan tatapan aneh, sebal, marah, malu yang jelas gue di sini bagaikan hama yang ingin dia semprot pakai pestisida saat itu juga.
"Lucu nih, Nes kucingnya. Oren lagi warnanya, kayak pelangi. Pelangi-pelangi alangkah indahmu, merah, kuning, hijau. Eh kok nggak ada warna orennya, ya? Salah lagu ya gue?" Ngomong apaan sih lo, Cing. Gue kelihatan bloonnya sumpah.
ANEYSHA
Dia mabok? Apa sudah nggak waras?
Ravel berdiri di hadapan gue, cengar-cengir nggak jelas sambil menggendong kucing.
Gue bingung. Karena awalnya gue ingin marah karena kehadirannya, tapi sekarang gue justru ingin tertawa.
Wajah gue pasti masih merah, mata gue juga pasti masih sembab, yang jelas masih acak-acakan. Sebenarnya gue nggak suka ada yang melihat gue seperti ini.
Benci.
Karena kebanyakan orang akan datang dan bertanya, berlagak sok khawatir dan mengerti, padahal mereka hanya penasaran atau sekedar memenuhi kaidah sopan santun. Beberapa justru berakhir mencibir, bilang jika sebenarnya hanya kurang bersyukur.
Padahal, nggak ada seorang pun yang tahu bagaimana setiap orang menjalani kehidupannya.
Nggak ada yang tahu seberat apa masalah apa yang udah dilalui.
Nggak ada yang tahu juga sekuat apa mental masing-masing orang.
Tapi seolah-olah mereka tahu dan punya wewenang untuk menghakimi. Sedangkan mereka lupa setiap manusia juga punya hak untuk bersedih, menangis, dan mengeluh. Karena semua nggak melulu tentang suka cita dan bahagia. Semua punya porsinya masing-masing dalam hidup.
Sementara Ravel, dia justru bersikap seolah nggak terjadi apa-apa, nggak melihat apa-apa. Dia nggak tanya apa-apa. Dia nggak mau sok empati dan sok mengerti. Dia justru sibuk masuk ke karakternya sebagai cowok penyuka kucing. Its funny though. Karena gue merasa kehadiran dia bukanlah suatu ancaman. Its like he know about me even he doesnt say anything.
RAVEL
"Nes, lo mau main sama kucing, nggak?"
Lagi-lagi gue random. Mulut gue kayaknya biar distaples aja sama si Aryo atau paling nggak dilakban muter dulu lah. Malu-maluin mami aja lo, Rav, Rav. Balik gih balik.
"Sini biar gue bawa kucingnya."
Eh dia ngomong, lho. Anes ngomong sama gue. Nggak marah-marah, ketusin gue. Malah pake ketawa lagi, ketawa kecil gitu tapi imut banget sumpah, ngetawain gue pasti, bloon soalnya. Tapi beneran ngomong, woy. Nggak perlu gue colokin dulu. Malah si Oren sekarang sudah di pelukan dia. Duh jadi sayang deh gue sama si Oren. Besok-besok nemplok lagi, Ren.
"Gue bawa ya, Vel. Kucingnya. Kayaknya lapar deh."
"Kucingnya nih yang di bawa? Gue nggak sekalian?" Masih sempat-sempatnya gue godain dia.
"Nes! Kalau gue nemu kucing lapar lagi, gue panggil lo ya." Tuh kan nggak jelas lagi. Bilang aja mau modus, emang najis gue.
"Iya sekalian gue bikin penampungan kalau perlu. Gue cabut dulu."
Gue mengangguk. Its so funny. Everything feel so easy and warm just because of her light smile. Gue berharap masih ada lain kali buat lihat lo senyum, Nes.