Chapter 4—Funny Things

1950 Kata
RAVEL Jika gue pikir setelah adegan ‘kucing-kucingan’ Anes akan lebih ramah sama gue. Ternyata salah besar. Dia masih sama. Dingin dan nggak tersentuh, mungkin hanya sama gue, karena gue ngerasa dia memang sengaja menghindar dari gue. Mungkin ucapannya tempo hari, "Karena gue nggak ingin berhubungan sama lo lagi, Vel." Memang benar adanya. Gue tahu gue pernah salah dan menjauhi sumber masalah seperti gue adalah opsi yang terbaik. Gadis itu benar-benar konsisten. Justru karena itu, tanpa gue sadari, akhir-akhir ini gue sering ngikutin dia, mencari tahu kebiasaannya, bahkan berani nanyain dia ke temen-temennya. Gue kadang heran bagaimana gue bisa menjadi sekepo ini sama seseorang. Jam lima sore, setelah ketiduran di sekret BEMFA, hujan deras dan gue nggak bawa payung. Padahal sudah jelas-jelas di ramalan cuaca bilang kalau hari ini bakal hujan. Kalau nerobos hujan ke parkiran yang ada gue basah duluan. Mana jam segini gedung fakultas udah sepi banget, kalo misal tadi siang sih gue yakin lihat gue kayak gini pasti banyak yang bakal alih profesi jadi ojek payung. "Kak Ravel ini payungnya." "Mas Ravel bareng sama aku aja." "Duh Rav! jangan sampai kehujanan dong, entar gantengnya nambah kan jadi repot." Kan lumayan kalau ada yang kayak gitu. Sekarang? Hopeless. Gua nggak salah lihat kan? Anes. Dia baru keluar dari gedung, berjalan menuju teras fakultas. Iya, menuju ke arah gue, tapi dia nggak sadar akan keberadaan gue karena lagi sibuk mencari-cari payung di tasnya. "Hai, Cantik!" Dia melirik gue sesaat dan mengacuhkan gue. Gue beneran mirip om-om hidung belang. "Boleh bareng pake payungnya nggak?" "Nggak." Dia nolak gue dong, secepat itu? Secepat itu, Guys. Gue nggak sempat menyahuti dia atau paling nggak ngomong satu kali lagi, Anes sudah membuka payungnya dan melangkah menjauhi gue. ANEYSHA "Boleh bareng pake payungnya nggak?" "Nggak." Bukan apa-apa, tapi hujan sedang deras-derasnya. Rasional saja. Menggunakan satu payung kecil berdua bukan opsi yang benar, kita hanya akan sama-sama basah, apalagi arah kita berlawan. Gue yakin Ravel ingin menuju ke parkiran sementara gue ingin ke perpus pusat. Gue membuka payung dan segera melangkah menjauhi Ravel karena dia akhir-akhir ini semakin berisik, suka mengganggu dan berbicara tidak perlu di setiap pertemuan, membuat gue jengkel setengah mati. Tepat sepuluh langkah menjauhi gedung fakultas, guyuran hujan bertambah deras diikuti dengan angin kencang yang tiba-tiba datang begitu saja. Sontak gue memegangi payung dengan erat. Sialnya payung gue terbalik ke atas dalam hitungan detik dan gue basah kuyup. Bagaimana bisa karma menolak Ravel datang seinstan ini? Gue nggak beranjak dari tempat gue berdiri, mematung, mendongak menatap payung, sambil mengumpat dalam hati. "Nes, sakit entar lo. Malah hujan-hujanan." Ravel tiba-tiba lari dan menarik gue untuk kembali ke teras fakultas. Malu. Sumpah malu banget. Rasanya gue ingin menghilang saja. Siapapun tolong buat gue transparan atau jika ada tempat sampah yang terbuka tenggelamkan saja gue di sana. Ravel dengan mulut lemasnya pasti akan menertawai gue dan mengolok-olok gue sampe kiamat. Ingin nangis, Tuhan tolongin! RAVEL Jika kejadian itu menimpa temen gue, sudah gue pastikan akan gue ketawain dia sampe mampus atau paling nggak sampai gue ditonjok dulu baru bisa berhenti ketawa. Tapi ini Anes, gadis itu justru menatap payungnya dalam banget kayak ingin nangis, seakan-akan payungnya itu lebih berharga dari dirinya sendiri yang sudah kebasahan hujan. Greget banget, ingin gue masukkan ke dalam karung itu cewek. "Gue beliin deh yang baru, yang warna pink, biru, merah terserah deh. Pabriknya sekalian kalau perlu." Gue gemes banget lihat Anes yang daritadi nunduk sambil muter-muter payungnya. Dengki gue sama si payung, bisa-bisanya dapat atensi segede itu. "Nggak usah pamer, lo pikir gue nggak bisa beli sendiri." Tuh kan sewot. Emang Anes itu kalo lihat gue bawaannya sensi. "Mau kemana sih sore-sore gini? Kok nggak balik?" tanya gue sambil memperhatikan Anes, sebagian bajunya basah, dia kedinginan tapi sialnya gue lagi nggak bawa jaket atau apapun yang bisa membuat dia hangat. "Perpus," jawab dia lirih banget. "Terus darimana tadi?" "Perpus." Nggak tahu ya apa memang suara Anes kecil banget atau karena suara hujan bisa mengalahkan suara dia makanya suaranya mirip tikus kejepit. Eh nggak jadi, masak suara mahal Anes disamain sama tikus. "Maksud lo, lo dari perpus fakultas dan belum ketemu apa yang lo cari makanya mau pindah ke perpus pusat gitu?" Dia cuma manggut-manggut tapi masih melihat ke bawah. Memangnya di bawah ada apaan sih? Muka ganteng gue daritadi dianggurin lo sama dia. "Gue mau cabut!" ucap Anes tiba-tiba. Gue refleks pegang pergelangan tangan dia. "Mau kemana? Masih hujan. Entar lo sakit." "Udah terlanjur basah, sekalian." Dalam hitungan detik dia sudah lari begitu saja dan membiarkan gue di sini diam nggak bisa berbuat apa-apa. Tuh cewek emang keras kepala dan seenaknya sendiri ya. *** ANEYSHA Kebiasaan gue kalau malam, setelah magrib dan kebetulan tidak ada hal yang perlu dilakukan adalah jalan-jalan sendirian dengan alibi mencari makan atau jajan untuk makan malam. Sebetulnya gue pernah mengajak Ivanka tapi dia menolak mentah-mentah karena dia tipikal orang yang akan menggunakan motornya hanya untuk pergi ke depan rumah. Jelas dia nggak akan mau gue ajak jalan-jalan nggak jelas dan memilih untuk menyelesaikan list dramanya. Kebetulan kos gue berada di kawasan pusat Kota Malang—Kawasan Soekarno Hatta—yang mana hanya membutuhkan beberapa langkah saja gue sudah bisa merasakan kebisingan kota. Jalan utama yang nggak pernah sepi kendaraan, apalagi jika weekend atau hari libur bisa macet berjam-jam, juga banyaknya toko, rumah makan atau sekedar tongkrongan yang sesak pengunjung membuat gue merasa nggak kesepian meski gue sendirian. Kebiasaan gue kalau jalan itu nggak pernah ada tujuan yang pasti karena niat gue dari awal memang sekedar menikmati kelap-kelip dan kebisingan malam. Terkadang gue mampir membeli makanan kalau lagi minat entah itu geprek, terang bulan, bebek, makanan oriental atau western. Beberapa kali juga gue ngafe sendirian karena memang di sini banyak cafe menarik dari yang paling murah sampai yang high class. Kadang juga muter-muter di dalam indomaret sambil pura-pura beli ice cream atau justru nggak melakukan apa-apa dan hanya jalan sampai gue lelah dan kembali lagi ke kos. Mungkin beberapa orang berpikiran kebiasaan gue aneh. Tapi bagi gue, hal ini sukses membuat gue nggak perlu memikirkan hal-hal buruk, melepas penat, dan yang terpenting gue nyaman dengan apa yang gue lakuin. Thats enough for me. Malam ini, malam minggu yang ramai. Gue jalan-jalan sendirian seperti biasa. Ivanka mengirim pesan ke gue jika dia kelaparan dan nggak bisa keluar kos karena sedang fokus dengan tugas mata kuliah pengantar akuntansi yang sebenarnya sudah diberikan sejak seminggu yang lalu. Memang sepertinya mengerjakan tugas di jam-jam krusial mendekati deadline adalah ritual wajib bagi mahasiswa. Hingga akhirnya gue di sini, di depan Yoshiyoshiya sambil menenteng tas kresek, berisi dua beef bowl dan dua ocha karena kebetulan gue juga belum makan. "Duh buang-buang duit gue." Gue mendengar suara yang familier dan menengok ke arah sumber suara. Dari jarak sekitar 500 meter gue bisa melihat Ravel dan dua temannya yang nggak tahu siapa namanya berdiri di depan Vinalace bar & karaoke. Tanpa gue sadari, gue berdiam diri sekitar lima belas menit hanya untuk memperhatikan interaksi mereka. "Sialan apaan nih uhuk uhuk kok bisa sih lo tiap hari ngisep asap knalpot kayak gini uhuk uhuk" "Rav-rav, gitu lo akal-akalan beli vape. Orang baru make aja udah bengek kayak orang kena asma. Dasar anak mami, emut permen aja deh lo." "Diem Lo pada!" Tanpa gue sadari juga, gue tertawa kecil melihat tingkah Ravel dan segala jenis kata-kata nggak jelas yang ke luar dari mulutnya. Sometimes, he seems so funny. RAVEL Seumur hidup gue nggak pernah suka sama yang namanya rokok. Pertama kali nyoba pas SMA gara-gara dipaksa sama sepupu laknat gue. Bukannya kecanduan, gue malah muntah-muntah gara-gara rasanya pahit-pahit aneh belum lagi asapnya kayak aroma knalpot, nggak ada manis-manisnya pokok. Belum lagi ketika ketahuan sama mami kalau gue belajar ngerokok. Gue diomelin habis-habisan sampai telinga gue trauma, auto nging-nging kalau lihat rokok, keinget suara mami. Benar-benar definisi anak mami banget kan gue? Sekarang gue lagi nyoba-nyoba beli rokok elektrik vape. Kata Jauzan aromanya enak nggak kayak rokok yang biasa. Habis 600 ribu gue buat beli rokok elektrik dan setelah gue coba gue masih aja bengek. Sumpah ya, rasanya nggak enak banget nggak ada nikmat-nikmatnya. Kayaknya gue kelainan deh. Ganteng-ganteng cupu ya gue ini. "Sudah lah, simpen aja dulu rokok lo. Masuk dulu lah haus," ajak Jauzan segera masuk ke Vinalace. Kebiasaan dia nggak di Jakarta nggak di Malang kalau nongkrong ya ngebir. Gue yang awalnya mau ngikut Jauzan tiba-tiba melihat cewek yang mirip banget sama Anes sedang berjalan ke arah yang berlawan dengan posisi gue. Beneran nggak ya? Masak gue halu? Memang gue sering halu sih. Gue mengamati cewek itu lagi dari belakang. Ya dia, Anes, nggak salah lagi. Dari belakang aja dia kelihatan cantik banget. Rambutnya sepundak warna hitam kecoklatan sedikit bergelombang di bagian bawahnya. Tubuhya ramping, dia pake sweater coklat terang dipadukan jeans hitam dan pake sneaker putih. Perfect. "Anes!" Gue berlari dan menghampiri dia. Dia berhenti, berbalik menatap gue. Tidak terkejut, menatap datar, seperti biasa. "Iya?" "Lo darimana?" Basi banget gue, padahal sudah jelas dia membawa kantong yang bertuliskan 'yoshiyoshiya'. Anggap saja gue rabun. "Beli makanan. Ada perlu apa?" "Nggak ada sih, kan pingin manggil lo aja. Masak ada cewek cantik gue biarin lewat begitu saja." Anes melengos dia melanjutkan langkahnya. Mungkin terlalu illfeel sama gue. Sayangnya gue sudah kebal. "Kok sendirian sih, Nes? Ivanka kemana?" Gue mensejajarkan langkah dengan dia. Gue sebenarnya tahu dia suka jalan sendirian karena beberapa kali gue ngikutin dia pake mobil tapi dia nggak sadar. Iyalah gue kan stalker handal, calon-calon FBI yang ditolak karena kurang ajar hehehe. Nggak-nggak canda, gue khawatir aja sama dia. Khawatir yang nggak tahu awal mulanya darimana. "Dia lagi ngerjain tugas." Dia masih terus berjalan dengan pandangan yang lurus ke depan. "Lain kali gue temenin ya. Jangan jalan sendirian." Anes menghentikan langkahnya. Dia menghadap ke arah gue, wajahnya bermandikan cahaya lampu kendaraan yang memang lagi rame berlalu-lalang. "Vel, we've had enough. Jangan buang-buang waktu lo buat lakuin hal yang nggak penting." Gue balik menatapnya mungkin lebih intens dari biasanya. Gue juga bisa kali diajak serius-seriusan. "Kalau menurut lo, approach you is something useless. Bagi gue itu adalah hal yang penting, Nes." Anes memotong ucapan gue, "Karena lo masih merasa bersalah sama gue? Gue udah maafin lo, Vel. Sudah dari dulu. Gue bukan pendendam. So let's walk on our own path, Ravel!" "Nggak," karena gue nggak bisa, "Gue nggak peduli lo mau ngomong kayak gimana. Gue bakal tetep lakuin apa yang menurut gue bener. Penyesalan? Ya, gue masih nyesel. Meskipun bukan itu alasan gue, tapi jika lo tanya kenapa, gue juga nggak tahu, Nes. Gue nggak tahu apa jawabannya." "Ravel." Kini giliran gue yang memotong ucapan dia, "Yang jelas dan yang gue mau secara pasti. Datang ke gue, Nes. Cari gue. Berbagi sama gue. Jangan sendirian! Gue nggak mau lo nggak baik-baik aja." ANEYSHA Gue nggak tahu apa yang harus gue lakuin selain kembali berjalan membiarkan Ravel berdiam diri di sana. Membiarkan suara panggilannya melebur dengan suara kendaraan. Gue nggak bisa sepaham dengan keinginannya. Karena gue terbiasa sendiri dan gue terbiasa nggak berbagi. Gue nyaman dengan gue sendiri. Gue nggak suka mengandalkan orang lain, karena keluarga yang seharusnya menjadi tempat yang bisa gue andalkan, justru meminta gue menghilang. Mungkin nanti, Vel. Seandainya lo serius dengan ucapan lo dan seandainya gue sudah bisa membuka diri. Gue akan datang. Tapi gue nggak janji. "Temenin gue beli kopi bentar." Ravel menarik tangan gue tiba-tiba. Meski pelan tapi tetap kurang ajar. "Beli aja sendiri." "Bentar Anes bentar doang, Beli kopi buat nemenin gue ngemper di teras kos lo. Lumayan bisa gangguin adik-adik gemes." "Apaan sih nggak jelas banget deh lo." Ravel tersenyum miring—mengejek gue, "Salah sendiri tiap gue datang, dianggurin. Nanti gue ditemenin ya di teras." "Males." Ravel seakan nggak peduli dengan jawaban gue justru ketawa-tawa menyebalkan sambil memesan kopi dan bloonnya gue masih ngikutin dia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN