ANEYSHA
"Lo mau nggak jadi temen gue?"
Rasanya dejavu. Ah bukan juga, hanya situasi yang mirip dengan konteks yang berbeda.
"Nes, Lo mau nggak jadi temen gue?" ulang Ravel ketika kita berada di parkiran. Dia melihat gue sambil memainkan kunci mobilnya, mengharap-harap cemas, menunggu jawaban.
Gue masih terdiam mengamati parkiran yang sepi, hanya kita berdua di antara sekian mobil yang berjajar di sana. Gue bingung harus menjawab apa. Bukan karena gue nggak ingin berteman dengan Ravel, mengingat kita mulai banyak mengobrol akhir-akhir ini dan mungkin cukup nyambung, tapi ini pertama kali seseorang mengajak gue berteman secara lisan tanpa tersirat. Karena biasanya, ketika kita sudah dekat dengan seseorang, sudah mengobrol bersama, makan bersama, secara tidak langsung orang tersebut menyandang label teman secara otomatis. Tapi ini?
"Nggak mau ya Nes temenan sama gue?"
Gue jadi gelagapan. "Eh nggak gitu, Vel."
"Aneh ya?" Dia bertanya, gue diam lagi. Melihat wajah serius Ravel membuat gue merasa asing.
Ravel melanjutkan ucapannya, "Karena gue ingin lo jadi temen gue dalam artian yang sesungguhnya, Nes. Gue nggak bisa kasih harapan apa-apa, karena gue takut bakal ngecewain lo nanti."
Dalam sepersekian menit gue mencoba mencerna ucapan Ravel. Mungkin karena dia nggak pernah serius sama siapapun. Karena yang gue tahu, dia suka main-main sama cewek. Namun kali ini, dia ingin mencoba berteman sungguhan dengan gue, yang notabenenya seorang cewek, tanpa melibatkan hati.
Padahal gue pernah berharap, semoga nggak ada lain kali untuk Ravel.
"Nes." Suara berat Ravel membuyarkan lamunan gue.
Gue menatap dalam cowok dengan tinggi 183 cm di hadapan gue ini. Kenapa gue harus sebimbang ini hanya karena pertanyaannya? Padahal kalau dipikir-pikir, dia ngajak temenan bukan ngajak pacaran.
Dia mengulangi, "Mau nggak jadi temen gue?"
Gue masih belum menjawab.
RAVEL
Gue tahu Anes pasti bertanya-tanya atau mungkin dilema. Secara gue pernah bikin masalah dulu sama dia, lalu tiba-tiba gue masuk begitu saja ke dalam hidup dia tanpa permisi. Mengganggu dia setiap hari. Bikin dia sebel sampai ingin lempar gue pakai batu bata. Itu bentuk usaha gue sebenernya, tapi memang gue aja yang b**o. Cewek modelan Anes malah gue goda terus-terusan. Bukannya bikin dia jadi seneng sama gue, yang ada dia tambah illfeel sampai mampus.
Selain itu gue bukan cowok yang baik. Gue nggak pernah serius sama cewek. Dari cewek yang paling polos sampai yang paling bar-bar udah coba gue deketin. Berharap ketemu my right one tapi nggak ketemu-ketemu, so sad.
Gue cuma suka main-main sama cewek, just having fun, being flirty, touchy terus gue tinggalin. Nggak sampai jadian, karena menurut gue itu nyusahin.
Tapi Anes, gue ingin deket sama dia, tapi di sisi lain gue nggak ingin kasih dia harapan apapun, karena gue nggak pernah yakin sama perasaan gue sendiri. Yang jelas, gue nggak mau lepasin dia sekarang. Kalau gue dibilang egois, ya gue egois. Gue hanya ingin keep her by my side as close as possible. Satu hal yang bisa gue lakuin sekarang adalah membuat dia menjadi teman gue. Ya, teman Ravel.
"Kenapa harus gue? Lo nggak capek sama kelakuan gue?" Anes bertanya.
"I have no reason, Nes. Gue cuma pinginnya lo, Aneysha Chalondra. Udah gitu aja," jawab gue dan Anes masih diam.
"Sekarang gue tanya, lo capek nggak tiap hari gue recokin?" tanya balik gue pada Anes.
"Kalau capek sih, gimana ya? nggak deh kayaknya. Eh nggak tahu. Lo nyebelin banget sih, bacot mulu. Tapi gue pikir, gue sama lo cukup nyambung, kan? Iya nggak? Eh, I mean, aduh gue ngomong apaan sih." Anes lucu banget kalau lagi gugup sambil mikir. Nggak sadar kali ngomong sepanjang dan seruwet itu. Tapi gue paham kok Nes. Sepaham itu sampai gue nggak bisa berhenti buat senyum. Karena gue merasa setidaknya masih ada harapan.
"Jadi, nggak ada masalah kan kalau kita berteman?"
ANEYSHA
"Ya. Gue rasa, its okay." Gue menjawabnya setelah berhasil mempertimbangkan beberapa hal. Berteman bukan opsi yang buruk.
Ravel, dia sudah kasih gue aba-aba di awal. Seandainya kita memang bisa dekat nanti, semua perasaan yang akan tumbuh adalah tanggung jawab masing-masing.
Karena kita adalah teman.
Karena dia nggak pernah berniat memberi harapan.
Meskipun gue bahkan nggak yakin kita bisa sedekat itu nanti. Gue hanya perlu berjalan pada jarak yang aman. Gue percaya diri nggak akan berjalan melewati batas dan berakhir menyakiti diri sendiri.
"Beneran temenan kan? Lo jangan cuekin gue lagi," ucap Ravel memastikan.
Gue mengangguk sambil memperhatikan Ravel seksama. Dia tinggi, tampan, bentuk rahangnya tegas sempurna. Kulitnya putih bersih. Bahunya lebar, pelukable banget, apalagi ketika seperti sekarang, menggunakan denim dicombine dengan jeans putih dan bersandar pada mobilnya ala-ala model. He's actually damn hot.
"Nes, gue ngomong sama lo ya nggak sama mobil. Nes gue ngomong ini ngo-mong. Jawab dong cantik, temennya Ravel cuek banget, gue cium nih."
Tapi Ravel annoyed dan cerewet banget. Tipe cowok yang menurut gue nggak akan cocok dengan gue karena sifat kita yang sangat bertolak belakang.
"Iya, Ravel. Iya. Puas!"
Dia ketawa sambil nyengir-nyengir, khas Ravel banget.
Gue menatap dia datar. "Jadi balik nggak sih? Kalo lo ngajak gue ke parkiran cuma buat pamerin mobil lo yang mungkin harganya melebihi harga diri gue, besok-besok gue kempesin ban mobil lo."
Ravel ketawa lagi sambil membukakan pintu mobilnya untuk gue. "Iya-iya Princess abis ini jalan kok. Nih udah dibukain pintunya. Silahkan, My lady."
See! How annoying he is!
RAVEL
Gue seneng banget setelah upaya gue dalam mendekati Anes terbayarkan. Gue nggak nyangka aja dia mau jadi temen gue, padahal kemarin-kemarin ngomong sama gue aja dia ogah-ogahan, kayak lihat gue aja itu sudah najis banget. Emang najis sih lo, Rav. Cuma temen ya padahal, senengnya bisa kayak gini. Gimana kalau jadi pacar, gue syukuran di bunderan HI kayaknya. Bangun Rav, bangun, mimpi aja lo!
"Langsung pulang apa makan dulu?" tanya gue pada Anes yang daritadi sibuk memilih playlist di HP-nya. Kemudian memandang ke arah jendela tanpa berniat untuk melihat ke arah gue.
"Balik." Singkat, padat dan jelas. Padahal gue niat mau ngajak dia makan, itung-itung perayaan pertemanan gitu. Kandas sudah.
"Nggak ingin makan dulu? Kan belum makan siang. Cacing-cacing gue udah alih profesi jadi drummer ini." Nyoba dulu lah, kali aja diiyain.
"Ivanka udah masak tadi di kos." Anes melihat layar ponselnya, mungkin memastikan pesan dari Ivanka, karena yang gue tahu mereka berdua memang suka memasak daripada membeli.
"Gue ikut makan di kos lo ya, boleh?"
Dia mencibir gue, "Mana bisa, lo kan cowok. Kecuali lo pindah kelamin baru gue izinin masuk." Tuh kan pedes mulutnya, maknya dulu ngidam cabe apa gimana sih.
"Ditungguin di teras juga nggak apa-apa, kan biasanya juga gitu."
Gue jadi ingat usaha gue buat deketin Anes itu sedap-sedap nyelekit, gue sering ngikutin dia pulang dan dianggurin kayak dagangan nggak laku di depan teras kosnya. Untung ada terasnya, kalo nggak gue klesotan di aspal kayaknya. Padahal temen-temen kosnya kalau gue datang udah gaduh banget apalagi si Ivanka.
"Aneysha, itu Kak Ravel di depan kos oh my god. Astaga temuin dong, kasian tahu."
"Sha, Mas Ravelnya buat aku aja ya, kamu katarak soalnya."
"Sha, itu cowok kamu? Masyaallah ukhti, lempar ke aku aja ya, ikhlas aku di apa-apain."
Tapi, Anes? Jangankan bilang 'Hai' muncul aja nggak.
"Makan di mana?" Anes tanya ke gue, sementara gue jadi balik meliriknya, takut salah dengar.
"Mau makan di mana? Katanya belum makan siang," ulangnya lagi kali ini dengan nada yang lebih bersahabat. Sumpah najis, gue kayak gini doang udah panas dingin.
"Anes mau makan apa?" Karena jujur gue jadi bingung ngajak makan dia di mana, takut nggak suka, takut nggak nyaman sama pilihan gue padahal dia sudah bersedia gue ajak makan. Kenapa mendadak overthinking sih? Nggak Ravel banget.
"Kan tadi lo yang ngajakin, lo nya mau ngajak makan apaan? Kalau gue sih pingin makan siomay."
Oke. Gue suka. Sangat jelas. Tipe-tipe jawaban yang disukai Dosen karena tidak mengambang. "Gue pingin makan mie ayam sih sebenarnya. Tapi kalo lo pingin makan siomay, mie ayamnya besok aja."
"Apaan besok-besok, kayak gue mau aja diajak makan bareng lo lagi," ucap Anes sewot.
Gue nyengir.
"Di basement Ramayana dekat Alun-Alun aja, Vel. Ada siomay plus mie ayam juga di sana, atau lo ada rekomendasi lain?"
"Enak nggak di sana?"
"Siomaynya enak sih, serius deh, eh cobain dulu lah, nggak tahu selera lo gimana. Kalau mienya sih gue udah terlanjur cinta mati sama mie ayam kantin FMIPA."
Gue ketawa kecil denger Anes ngomong. Seneng lihat dia yang kayak gitu, matanya bersinar jelasin apa yang dia suka. Nggak judes. Nggak irit bicara, eh sebenarnya dia tuh nggak irit bicara cuma kayaknya males aja balesin kebacotan gue yang ngalahin panjangnya rel kereta api. "Okelah coba dulu ya, kali aja cocok, lumayan bisa buat langganan."
"Oh ya Vel, abis makan mampir minimart dulu ya. Baru keinget, ada yang mau gue beli."
"Siap, apa sih yang nggak buat Anes sayang."
"Najis."
Gue udah bilang belum, selain senyumannya Anes yang bikin gue mleyot, muka nyinyir dia itu juga ngangenin banget. Itu sebabnya gue suka banget godain dia. Sumpah pokoknya 'all about Anes' gue suka. Najis lah emang gue.