ANEYSHA
Selesai mata kuliah ekonomi mikro, atau ekonomi syariah kata anak-anak, karena dosennya suka membahas hal diluar topik juga memberi tambahan ceramah yang bikin gue harus menguap berkali-kali sepanjang pelajaran. Gue sebenarnya ingin segera pulang, lalu tidur siang. Sayangnya itu hanya harapan. Ketika gue tiba di parkiran, gue mendapati ban motor gue kempes, depan belakang.
Gue nggak tahu kenapa bisa kempes, karena dalam sebulan ini, ini pertama kalinya gue mau mengendarai sendiri. Karena biasanya, Ivanka yang akan nyetir dan gue duduk di belakang. Kalau dipikir-pikir gue jarang banget mengendarai motor. Justru Ivanka yang sering mengajak motor gue berkeliling Malang, tanpa atau dengan gue. Ivanka bilang tadi dia mau kencan, jadi gue harus pulang sendiri. Sialnya, motor gue nggak bersahabat sama yang punya.
"Anything happen?" tanya seseorang dengan suara beratnya.
Gue mendongak mendapati sosok cowok dengan tinggi 178 cm berdiri, menatap gue dengan wajah datarnya.
"Ban gue kempes deh. Nggak tahu kenapa," jawab gue pada cowok dihadapan gue itu.
Dillon Al Kayvan, cowok satu angkatan dengan gue—jurusan akuntansi—yang cukup dikenal karena ketampanan wajah dan otaknya. Sering menjuarai olimpiade akuntansi nasional sejak SMA sampai sekarang. Banyak yang mengidolakan dia sebagai mahasiswa teladan, tapi sayangnya dia terkenal pendiam, nggak banyak bicara, nggak banyak tingkah, dingin.
Gue diam mengamati Dillon yang nggak merespon ucapan gue. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku dan mengetikkan sesuatu.
"Sha, tunggu di gazebo saja. Aku baru menghubungi orang bengkel yang bisa datang mereparasi ban motor kamu," jelas Dillon lalu melangkah menuju gazebo. Gue mengikuti dia dari belakang.
Ya. Dillon. Seperti yang gue kenal.
Dia akan melakukan sesuatu yang bisa membuat gue berpikir, nggak semua orang di dunia ini jahat.
Gue yang terbiasa kena bullying sejak SMP karena keluarga gue bermasalah. Sedikit banyak memiliki pola pikir yang terkadang negatif, gue menjadi cewek yang skeptis dan selalu memiliki pemikiran buruk terhadap seseorang.
Tapi, dia, membuat gue berpikir, Tuhan akhirnya mempertemukan gue dengan orang yang baik karena gue sudah berhasil melalui banyak hal.
”Pertemuan kemarin, setelah kontrak perkuliahan saya sudah meminta kalian untuk mempelajari bab-bab apa saja yang akan kita pelajari ke depannya. Saya ingin mendengar dari anda mahasiswa sekalian mengenai apa saja yang masuk dalam ruang lingkup mata kuliah kita semester ini. Coba saudari Aneysha, menyampaikan hasil belajarnya."
Gue masih ingat dengan jelas. Saat itu, masih semester dua, ketika mata kuliah hukum bisnis, Pak Burhan menodong gue dengan pertanyaan. Seharusnya ini pertanyaan yang mudah tapi gue sedang panik. Gue salah membawa modul, karena gue pikir hari itu jadwal mata kuliah ekonomika pengantar II. Akhirnya, gue hanya bisa terdiam, membiarkan Pak Burhan mulai murka karena tidak kunjung mendapat jawaban yang dia mau. Aneysha, how stupid you are!
"Mohon maaf, Pak. Apakah saya diperkenankan untuk menjawab pertanyaan nya?"
"Oh iya saudara Dillon, silahkan-silahkan."
Gue nggak berani menoleh, hanya melirik Dillon yang tiba-tiba mengangkat tangan dan mengajukan diri. Dia melirik gue, mengisyaratkan gue untuk tenang, setelah menjawab pertanyaannya. Gue bisa melihat raut wajah Pak Burhan puas dengan jawaban Dillon. Gue menghela nafas lega.
Semenjak saat itu, gue tahu jika dibalik sikap dinginnya, dia adalah laki-laki yang baik.
"Dillon, lo tinggal aja nggak apa-apa kok, gue tungguin sendiri. Palingan nggak lama," ucap gue setelah seseorang dari bengkel langganan Dillon datang. Merasa nggak enak karena harus membuat dia menunggu.
"Nggak apa-apa. Aku lagi nggak ada kerjaan," jawab Dillon yang duduk di samping gue, di gazebo sambil memainkan ponselnya.
Gue hanya mengangguk. Memperhatikan Dillon diam-diam. Bola matanya bulat hitam bersinar, wajahnya memancarkan ketenangan meski terkadang terkesan dingin. Dillon dengan jaket kulit coklat dan backpack hitamnya adalah yang terbaik.
Gue jadi ingat kejadian beberapa bulan yang lalu, ketika gue diklat masuk organisasi dan Dillon sudah jadi pengurus di sana. Hal yang mendadak bisa membuat gue menarik ujung bibir gue untuk tersenyum.
Keadaan lagi chaos banget. Hujan angin tiba-tiba mengguyur perkemahan kita yang berada di lapangan. Barang-barang di dalam tenda basah, beberapa tenda roboh. Panitia dan peserta panik. Akhirnya semua dipindahkan ke SMP dekat lapangan yang awalnya digunakan untuk basecamp panitia.
Hingga malam tiba, kita hanya berdiam diri di dalam ruangan kelas, banyak yang kedinginan dan beberapa tumbang, menanti hujan reda.
"Pakai aja dulu. Panitia mulai menyalakan api unggun. Keluar aja," ucap Dillon menyerahkan jaketnya lalu pergi begitu aja.
Gue mengamati punggungnya menjauh lalu beralih ke jaket coklat milik Dillon. Gue tersenyum simpul. Gue segera beranjak dari tempat duduk, berjalan ke arah halaman sekolah, tempat panitia menyalakan api unggun.
"Sha, Aneysha sini!" teriak Vanilla mengajak gue bergabung duduk di sekitar api unggun.
"Minum apa tuh?" tanya gue setelah duduk di dekat Vanila.
"Kopi. Mau, Sha?" tawar Vanila dan gue menggeleng. Gue nggak toleran sama kafein.
"Minum dulu nih. Besok acara jelajah, jangan sampai tumbang," ucap Dillon tiba-tiba duduk di dekat gue sambil menyerahkan tumbler yang berisi teh hangat.
"Makasih."
"Hm." Dillon menatap lurus ke perapian.
Gue tersenyum hangat dan mengikuti apa yang Dillon lakukan—menatap ke arah api yang menyala-nyala. Yang ada dalam pikiran gue saat itu, Dillon is an absolutely nice guy dan gue, gue nggak berani untuk berpikiran lebih.
"Sha, udah makan siang?" Suara Dillon memecah lamunan gue. Gue menggeleng karena gue memang belum makan siang.
"Makan dulu aja, gue tungguin motornya."
"Nggak deh nanti aja, kok gue jadi ngerepotin lo banget ya."
"Nggak kok. Glad to help you, by the way. Anytime, Sha. Kalau kamu butuh bantuan, bilang aja," ucap dia sambil tersenyum tipis. Damn! Bagaimana bisa ada orang sebaik dia?
Jujur, kadang perilaku dia membuat gue merasa nggak nyaman. Karena sebelumnya, gue nggak pernah bertemu orang yang sebaik dia, dalam hidup gue.
DILLON
"Mas Dillon, motornya di mana?" tanya Mas Rudi, orang bengkel yang tadi aku panggil.
"Di parkiran, Mas. Saya tunjukkan arahnya," jawab Aneysha sambil mengantarkan Mas Rudi ke parkiran.
Aku tidak beranjak. Menatap punggung Aneysha yang mulai menjauh. Kebiasaanku setelah beberapa semester—mengaguminya dari jauh—meski jarak kita sedekat ini.
Dalam kamus besar tata cara kehidupanku, aku tidak pernah berfikir untuk menjadi seorang pengagum rahasia. Aku bukan orang yang terlalu buruk dalam masalah percintaan. I mean, banyak gadis, baik secara langsung atau tidak, datang menunjukkan ketertarikan mereka terhadapku. Actually, I just need to choose the best one for my sake. Tapi yang ada, aku justru tertarik pada seseorang Aneysha, gadis yang menurutku sulit untuk dijangkau.
Aku banyak mendengar dari teman-temanku tentang dia—dated a famous boy—saat semester awal. Menjadi topik hangat diantara para laki-laki, tapi karena aku bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain, aku mengabaikannya.
"Dillon! Kuncinya tadi jatuh di parkiran."
Itu pertama kali aku dan Neysha berinteraksi. Karena kita masih mahasiswa baru, hanya sebatas tahu nama dan belum berkenalan. Juga aku yang enggan bersosialisasi jika tidak perlu.
"Oh ya benar itu kunci saya. Terimakasih."
Biasanya aku tidak seceroboh itu untuk meninggalkan atau menjatuhkan suatu barang, nyaris tidak pernah. Tapi saat itu, aku tidak tahu bagaimana ceritanya, kunci motorku dengan gantungan nama Al Kayvan D, berada di tangan Neysha.
"Oke, lain kali hati-hati ya," ucap Neysha diiringi senyuman tipis lalu beranjak pergi.
Jika orang lain membicarakan betapa arogan dan ketusnya dia, apalagi beberapa kakak tingkat tidak menyukai sifatnya, karena ulahnya saat ospek, kesan pertamaku terhadap Neysha justru berbanding terbalik.
She is friendly and nice. She simply make me so warm for no reason. Really, for no reason.
Kunci motor, hanya karena benda tersebut. I follow her so many times. Just to see her from this away, not too close not too far. Aku bahkan mendaftar di kelas yang sama dengan dia, hanya agar aku bisa menjangkaunya dengan kedua mataku. Awalnya aku pikir aku sekedar tertarik karena penasaran. Namun semakin lama aku memperhatikan, hal tersebut sukses menjadi suatu kebiasaan yang berubah menjadi candu.
Seperti kebiasaan Neysha yang suka pergi ke perpustakaan sendiri. Aku mengetahuinya. She loves fiction novels. Beberapa kali aku melihat dia menuntaskan series novel milik Cassandra Clare bahkan melakukan reread. Terkadang Neysha hanya akan duduk sambil memainkan laptop dan tertidur di sana.
"Pak, mau tanya buku akuntansi biaya karya Bastian Bustami & Nurlela sebenarnya tersedia nggak ya? Saya cari di database ada tapi kok di raknya nggak ada."
"Wah seharusnya ada, Mbak. Mungkin sedang dibaca atau mungkin setelah diambil tidak diletakkan di tempat seharusnya."
Ketika mendengar hal tersebut, aku berinisiatif mencarinya. Hal yang dulu sangat enggan aku lakukan, mencari sesuatu dengan probabilitas kecil apalagi tidak berhubungan dengan kebutuhanku. Dan saat itu, aku repot-repot mau mencarinya.
"Ini. Kamu lagi nyari ini, kan? Tadi aku nggak sengaja dengar kamu bicara sama librarian dan kebetulan lihat buku ini."
Kebetulan? Big No! I tried so hard just to found that dumb book. Tapi aku lega sekaligus senang hanya dengan membantu dia sekecil ini. I got happiness for my self.
"Nes, malam Minggu kita ke Kota Batu ya. Jogging sorenya kita cancel dulu. Gue mau naik bianglala. Ya ya ya, muter-muter di atas sambil makan jagung bakar."
"Apaan sih nggak jelas banget. Gue mau semedi ya, Vel. Tugas gue banyak. Jangan kayak anak kecil deh."
"Ih sok-sokan ngatain, padahal suka kan kalau diajak naik bianglala? Katanya lagi stres. Minggu deh janji bantuin ngerjain tugas."
Gue juga tahu kebiasaan Anes yang lain. Kebiasaan dia makan mie ayam di kantin FMIPA. Kebiasaan dia diikuti Ravel kemanapun dia pergi. Kebiasaan dia yang akan marah-marah dengan cepat lalu tiba-tiba ketawa terbahak-bahak hanya karena satu orang, Ravel.
Ya. Their Relationship. That is my reason why I have to decided this path. Bukan karena aku tidak berani untuk maju, tapi aku tidak ingin menjadi seorang pengganggu. I just have to wait. Make everything sure that I can step forward, to her.
"Mas Dillon, Mbak Neysha motornya sudah ini," ucap Mas Rudi menghampiri kami di gazebo.
"Wah cepet juga ya, Mas. Makasih banyak," jawab Neysha sambil melompat turun dari gazebo untuk mengambil kunci motor dari Mas Rudi.
"Makasih lo Mas udah mau datang," ucapku.
"Mbak, nanti kalau ada masalah lagi telepon aja. Saya siap datang servis di tempat." Mas Rudi memberi kartu nama bengkelnya. Neysha menerimanya dengan sopan dan berterima kasih.
"Yaudah saya pamit dulu." Mas Rudi melangkah pergi lalu tiba-tiba berkata, "Weh Mas Dillon emang top, pacarnya uayu temenan, Rek."
Aku membalas dengan tersenyum kikuk. Aku memperhatikan Aneysha sekilas. Apakah dia tahu artinya? And why did I have to act weird? Seharusnya aku tidak menunjukkan ekspresi konyol apapun.
"Dillon?"
"Ya?"
"Makasih, makasih banyak ya."
Aku tersenyum. Sekali lagi, setidaknya aku bisa melakukan hal yang berguna untuk dia. Im pleased.