ANEYSHA
Gue sebenarnya nggak nyangka. Kadang masih bertanya-tanya juga. Kok bisa gue sama Ravel temenan sedekat ini. Gue yang susah membuka diri dan berbaur sama orang, awalnya gue pikir gue nggak akan pernah bisa menjalin pertemanan dengan seseorang.
Hidup sendiri, kesepian.
Tapi sekarang, dua tahun ini, dari semester awal gue kuliah hingga mau masuk semester lima, gue merasa gue nggak sendirian lagi.
Ada seseorang yang selalu menemani gue.
Ada seseorang yang tanpa sungkan kasih perhatiannya ke gue.
Ada seseorang yang bisa membuat gue dengan mudahnya melupakan kesedihan gue.
Dia, Ravello Faresta.
Seseorang yang tanpa sadar selalu gue cari keberadaannya.
Sosok annoying yang berubah menjadi penting.
"Akhirnya nyampe juga, lo bawa minum nggak tadi, Nes? Gue lupa," ucap Ravel memarkirkan mobilnya di barat Alun-Alun Malang, depan Masjid Agung. Ia melepaskan seat belt dan sibuk mencari air mineral di dashboardnya.
"Bawa kok. Lagian lo olahraga aja belum, udah nyari-nyari minum."
"Yeee, si cantik mah, ini namanya antisipasi. Yaudah lah kuy turun dulu."
Gue dan Ravel turun dari mobil, berjalan berdampingan memasuki alun-alun.
Matahari masih cukup terik padahal sudah jam 15.00 WIB. Suasana juga sangat sepi. Hanya ada beberapa anak kecil bermain di playground bersama orang tua mereka yang mendampingi mereka, dua pasang muda-mudi yang sepertinya sedang berkencan, dan seorang perempuan paruh baya yang sedang mengajak jalan-jalan anjingnya.
Gue melirik Ravel sebentar. "Joggingnya di sini aja ya, nggak usah ke mana-mana."
Ravel yang sedang pemanasan menghentikan aktivitasnya, melihat gue bertanya-tanya. "Tumben, biasanya lo yang paling semangat ngajak jalan-jalan."
Benar. Jogging sore setiap Sabtu adalah agenda rutin bagi gue dan Ravel. Jogging di beragam lokasi tergantung mood, di kampus, di jalanan sekitar kompleks perumahan Ravel, di taman dekat kos gue, di stadion Gajayana atau seperti sekarang di Alun-Alun Malang.
Terkadang kita hanya akan jalan-jalan cantik bila kelelahan dari Alun-Alun Malang ke Stasiun Kota Baru yang jaraknya sekitar 2.5 Km hanya buat beli jajanan di depan Trunojoyo lalu balik lagi ke alun-alun. Biasanya kita beristirahat sebentar di alun-alun tugu sambil mengomentari apapun yang lewat atau berakhir naik angkot ke alun-alun bila gue sudah nggak kuat jalan lagi. Mungkin terdengar absurd atau kurang kerjaan tapi gue menikmatinya dan gue rasa Ravel juga merasakan hal yang sama.
"Nes, kok bengong? Kenapa?"
"Nggak apa-apa. Lo lari-lari aja, gue tungguin di kursi dekat air mancur ya." Gue jalan mendahului Ravel yang semakin mengerutkan keningnya.
Gue langsung duduk di kursi taman sambil mengeluarkan air mineral dari totebag, meletakkannya di kursi. Ravel berdiri di depan gue, mengamati gue dengan seksama, minta penjelasan, sementara gue sibuk menghindari tatapannya.
"Udah sana lari cepetan!" Gue mendorong dia menjauh. Meski awalnya nggak mau, akhirnya dia lari mengitari alun-alun juga.
Gue mengamati dia dari bangku taman sambil celingak-celinguk mengamati sekitar. Setidaknya berdiam diri di sini saja cukup menyenangkan, melihat rumput hijau yang menyegarkan mata.
Setelah dua putaran, Ravel menghampiri gue sambil mengatur nafasnya.
"Capek, Nes. Nggak asik nggak ada temennya." Peluh Ravel bercucuran dan terlihat lelah, nafasnya masih tersengal-sengal. Gue menyerahkan handuk kecil dan sebotol air mineral, dia langsung meminumnya. Mungkin jika ada fans-fans Ravel yang melihat dia seperti ini, pasti akan banyak yang akan mengaku-ngaku jadi ceweknya, benar-benar objek halu cewek.
"Lo nggak apa-apa, kan?" tanya Ravel lagi memastikan karena sepertinya dia belum puas dengan jawaban gue sebelumnya.
"Gue baik-baik aja, Ravel."
"Jangan kayak cewek deh, Nes. Sok bilang baik-baik aja. Biasanya juga langsung protes."
"Gue cewek, Bambang!"
Jujur ya, sekarang perut gue sedang sakit-sakitnya, nyeri bulanan. Gue malu mau ngomong sama Ravel. Secara dia itu cowok dan gue itu cewek, tapi tatapan dia seakan mendesak gue buat cerita. Gue nggak bisa, Vel. Malu tahu, maluuuu! Pingin rasanya teriak kayak gitu.
"Lo nggak apa-apa kan?" tanya Ravel lembut sambil jongkok di depan gue. Tangannya menggengam tangan gue sambil menatap khawatir. Gue berusaha keras supaya nggak kontak mata sama dia.
"Sakit," jawab gue lirih, lirih banget sampai gue nggak yakin Ravel akan dengar.
"Ha? Ulangi-ulangi yok bisa yok!"
"SAKIT TAHU!" Gue setengah meninggikan suara.
Ravel justru ketawa keras banget. Saking kencengnya pingin gue menyumbat mulutnya dengan sepatu. Annoying banget sumpah, nggak tahu apa ya gue lagi sensi-sensi malu gini.
"Ngomong dong." Ravel mengacak-mengacak rambut gue sambil ketawa lalu lari menjauh begitu aja.
RAVEL
Kayaknya hidup gue kalau nggak godain Anes sehari aja rasanya pahit deh. Suara sok ketusnya dia itu ngangenin banget, kadang gue ngerasa dia mengumpat aja itu bisa kedengaran manis lo. Sudah kecanduan pokok. Dangdut kan gue.
Kayak sekarang, ketika gue baru tahu dia ternyata lagi nahan nyeri bulanannya. Gue malah ngetawain dia kayak orang sakau.
Maaf banget ya Anes sayang, habisnya lo itu gemesin banget.
Pantesan aja dia itu pas di dalam mobil nggak ngeluarin sepatah kata pun. Belum lagi tiba-tiba ngomong mau nungguin gue olahraga padahal biasanya dia yang semangat 45. Untung ya kadar kepekaan gue itu lumayan juga. Duh Nes-nes, kenapa sih nggak ngomong aja? Bikin gue khawatir.
"Nih minum dulu, biar nggak sakit."
Gue memberikan satu tablet obat analgesik, obat yang biasa dia konsumsi hanya di hari pertama bulanan saat sedang nyeri-nyerinya, yang gue ambil dari mobil. Gue sudah siap sedia, siaga 24 jam lo, kurang apalagi coba gue. Cosplay jadi satpam ya lo, Rav? Gini banget nasib gue.
"Minum air putih juga yang banyak."
Dia nggak banyak protes dan menelan obatnya cepat. "Thanks."
"Gitu doang?" Gue duduk menyandarkan diri di kursi taman—sebelah Anes. Menatap ke arah langit lepas yang mulai berubah jingga.
"Terus?"
"Hadiahnya mana?"
Anes bersungut-sungut, "Perhitungan banget sih, gue muntahin nih."
Gue tertawa kecil, menatap Anes yang tengah berselancar di HP-nya. Gue memainkan rambutnya pelan supaya dia nggak keganggu. "Nes."
"Hem."
"Nes?"
"Mulutnya, Mas." Gue ketawa lagi.
"Semester depan gue udah mulai magang. Kayaknya gue bakal sibuk deh bagi waktu. Tapi lo tenang aja, gue tetep bakal nyempetin waktu kok buat Lo."
Dia menoleh menatap gue. "Lo pikir situ doang yang sibuk. Gue juga kali."
"Iya-iya yang anak HMJ. Kalah sibuk deh gue." Asli deh ya ngomong sama Anes itu nggak ada sweet-sweetnya. Tapi ya gitu, ibaratnya gue tuh udah buta, yang ada dalam pikiran dan perasaan gue cuma seneng kalau udah deketan sama dia. Mau dijudesin, dimaki-maki atau dijejelin nasi basi juga rasanya manis.
"Magang di mana? Di Jakarta?"
"Nggak lah di Malang aja, entar nggak bisa ketemu lo dong, kalau jauh-jauh."
"Seriusan dikit deh, Nyet!" Anes menepis tangan gue yang masih memainkan rambutnya, tapi buru-buru gue genggam tangannya.
"Serius, Nes. Gue udah semester tua. Tinggal satu tahun lagi di Malang. Gue nggak mau nyia-nyiain waktu berharga gue sama Lo."
Karena kalau gue sudah lulus, sudah pasti gue harus balik ke Jakarta. Jadi Intern di perusahaan properti milik keluarga besar mami dan mungkin bakal lanjut ngantor di sana. Belum lagi, Anes pasti bakal sibuk-sibuknya ngerjain tugas akhir. Jadi, sebisa mungkin, gue mau keep waktu kita sebaik-baiknya.
"Jangan jauh-jauh ya, Nes. Entar gue kangen."
"Bawel deh, emang gue mau ngejauh ke mana, sih? Lulus aja masih lama. Mana lo tiap hari ngekorin gue. Cepet lulus sana, biar nggak gangguin gue."
"Yeee, titisan iblis. Awas lo ya nyariin gue."
"Mana ada."
Yah karena pasti gue yang nyariin dia. Bukan dia tapi gue. Karena nggak tahu semenjak kapan, gue bisa seyakin ini mendeklarasikan diri, kalau gue sayang sama Anes or literally have been falling for her. Secretly.