15. | Gramedia

1455 Kata
Tak tanggung-tanggung, Chindai memisahkan apa yang masuk ke list bulanannya ke keranjang belanjaan. Ia telah mengumpulkan tiga buah novel, sementara Adel berniat memborong. Gadis yang beranjak dewasa itu sempat berbisik pada Chindai bahwa akan memoroti Bagas hari ini. Chindai sedang menjaga image-nya. Ia yang terkenal boros jika sudah berada di tempat yang disebutnya surga dunia, kali ini memilih kalem dan menahan keinginannya untuk mencomot apa pun yang menarik. Untuk pertama kalinya Chindai bertenggang seolah gadis hemat yang tidak suka membuang uang. “Minggu lalu, Adel selesai nonton film dan dramanya untuk ke sekian kali. Keren banget, Kak. Novelnya juga is the best,” kata Adel mengomentari Love O20 karya Gu Man di pegangan Chindai. “Oke, deh. Kakak ambil ini.” “Novel terjemahan, khususnya penulis China memang bagus-bagus banget, Kak. Adel punya beberapa koleksi di rumah.” “Kapan-kapan kita saling pinjam, ya, Del.” “Ide bagus, Kak!” Adel menyahut girang. “Kita atur jadwal. Wajib.” “Kamu masih mau nambah, Del?” Chindai mencabau pipinya tatkala melongok tumpukan novel yang kembali dicomot Adel dari rak, padahal keranjangnya saja sudah penuh. Dalam hati, ia membayangkan bertapa kayanya keluarga Bagas. “Kak Ndai merekomendasikan apa?” Chindai berjalan dan mengeja judul-judul yang terpajang, lalu menunjuk kurang lebih lima novel. Kemudian, ia sejenak melongo begitu Adel mengambilnya tanpa pikir. Chindai meringis lagi, berharap Bagas tidak menyalahkannya. “Sudah banyak, Kak Ndai. Bisa-bisa Kak Bagas ngamuk.” Adel berjinjit untuk berbisik, serta Chindai balas cekikikan. Gadis itu baru sadar rupanya. “Ekhem.” Sesaat menoleh, Chindai betul-betul melihat sosok Bagas yang tampaknya tak disadari sejak awal, padahal mengikuti ke mana pun gadis itu berkeliling layaknya di rumah sendiri. “Kak …, Kak Bagas?” “Apa?” Cengar-cengir polos Chindai membuat Bagas meloloskan dengusan kesal. Ia geleng-geleng kepala meratapi keakraban sang adik dan Chindai yang sampai tidak mengacuhkannya sedikit pun. “Selesai, kan? Ayo, bayar. Keburu antrenya ramai.” Awalnya, Chindai anteng biarpun canggung dihimpit Bagas dan Adel yang asyik memainkan ponsel. Ia mengedarkan pandangan, dan sekejap melengos pada seseorang yang sepertinya akan mendekat. Chindai yakin, ke depannya sulit dihadapi. Oh, ayolah, ini di luar keinginannya pribadi. “Bagas!” Layaknya dugaan awal Chindai yang lebih dahulu mewanti-wanti hatinya, Bagas mendongak dan mengernyit sebelum menyungging senyum tipis. “Oh, Michelle. Ke sini juga, Chell?” Michelle, sosok yang menjabat sekretaris ekstrakurikuler musik, serta tergolong teman Bagas sedari sekolah menengah pertama. Gadis itu tak menduga menemukan Bagas di luar lingkup SMA Rajawali. “Lagi apa, Gas?” “Nemani Adel dan Chindai cari novel.” Michelle yang menyelip di antara Adel dan Chindai, mengedepankan keterkejutan yang tidak alami. Kemudian, ia juga menyapa akrab Adel yang seakan baru dilihatnya sekali. “Lho, sama Adel juga?” Berbeda dengan sang tanggapan kakak, Adel hanya mesem ketimbang menjawab. Ia lebih fokus mengusap lengannya yang nyeri akibat senggolan Michelle. Lagi pula, Adel tidak mau mencari keributan selagi bersenang-senang. “Iya, Chell.” Bagas-lah yang akhirnya berperan aktif menanggapi Michelle selagi Adel sekonyong-konyong mengajak Chindai mengobrol walaupun pembahasannya tidak jauh-jauh dari novel. Tanpa Adek beri tahu, Bagas paham jika adiknya tersebut tak suka “Kak Ndai, tim novel terjemahan atau lokal, nih?” Adel lagi-lagi mengandalkan kemampuannya dalam mencari topik pembahasan. Terbukti, keadaan yang canggung, mulai menghangat karena pertanyaannya dibalas antusias oleh Chindai. “Semua, deh, Del, kayaknya. Novel-novel Asia, khususnya Thailand dan Filipina berjibun di lemari Kakak, yang dari Jepang juga banyak banget. Sekarang pun booming novel Perancis, Kakak baru beli beberapa, termasuk karyanya Guillaume Musso.” “Ya ampun, aku jadi makin enggak sabar ke rumah Kak Ndai. Kalau Kak Bagas enggak sibuk besok, wajib ke sana!” Chindai tergelak geli, lalu mengangguk tak kalah semangat. “Iya, Del. Yuk, ah!” “Adel kenal Chindai?” Selanjutnya, Chindai paham betul jika diksi yang dipakai Michelle sama sekali tak mengandung keakraban, justru terselip kekesalan yang tak mampu ditutup-tutupi. Nyata bahwa Michelle takut tersaingi. “Iya, Kak,” gumam Chindai pada akhirnya. Di sisi lain, Bagas menahan gemas menelaah Chindai yang terlihat sekali sekadar mensyukuri kehadiran Adel di pihaknya dan tidak henti keduanya berbincang. Kali ini jelas …, Bagas bahkan tak bersalah mengabaikan Michelle yang terus berusaha mencari sela untuk mengambil perhatian. “Kapan-kapan ke sini bareng, ya, Del.” “Hem …, iya, Kak.” Bilaa boleh jujur, Adel ogah. Pernah sekali menemani Bagas ke gramedia—bukan di sini—dan bertemu Michelle, Adel sudah dapat menilainya. Situasi dramatis, Michelle dengan egonya menyeret Adel ke bagian komik tanpa merespons kemauan Adel yang ingin ke area novel. Arkian, bagaimana Adel respect kembali? “Ditunggu mbaknya, Ndai, Del. Kalian, tuh, kalau ngobrol ingat tempat.” Bagas merebut keranjang dorong dari kuasa Chindai. Membiarkan Adel menyusul, tidak lupa Bagas mengikutsertakan Chindai dalam genggamannya tatkala mengarah ke meja kasir yang tidak lagi terdapat antrean. “Kak Bagas modusnya kebangetan!” “Diam kamu. Del!” Michelle membeku di tempat, serta-merta merasa dicampakkan ke dasar jurang terdalam. Ia telah mengenal Bagas bertahun-tahun, tetapi satu pun perhatian lebih tidak diterimanya seperti yang dilihatnya terjadi pada Chindai. Gadis yang digadang-gadang menjadi cekiber baru SMA Rajawali itu mendapatkan segalanya. Michelle cemburu, tentu saja. “Hitung terpisah, Mbak.” “Berapa semuanya, Mbak?” Bagas mencegah uang yang akan diserahkan Chindai dan melotot sebagai kode bahwa dirinya melarang. “Gue bayar. Anggap aja terima kasih karena lo bantu proposal tempo hari.” “Jangan, Kak, enggak enak.” “Lo kebanyakan enggak enak, Inai,” ucap Bagas, terkesan impulsif sebab sebuah panggilan terbarunya yang terbiasa. Ia benar-benar memanjakan lidahnya sendiri. “Tapi—” “Gue enggak suka dibantah.” Chindai menggembungkan pipi, lalu mengangguk pasrah. “Iya, terserah.” “Kenapa enggak langsung iya, harus banget debat dulu?” “Sedikit jual mahal.” Terhibur, Bagas tergerak mengacak poni Chindai yang baru saja terang-terangan mengutarakan niatnya. “Lucu banget, sih.” Adel berdeham dalih berkacak pinggang. Ia masih di bawah umur, amat tak sehat disuguhkan keromantisan abal-abal yang diperbuat Bagas pada Chindai. Akan tetapi, otak cemerlang Adel memproses perkara yang dipastikan memeriahkan situasi. Jadi, ia mesem penuh maksa. “Kenapa kamu, Del?” Bagas sekejap menyadari gerak-gerik Adel yang dipercaya sedang merencanakan sesuatu. “Adel enggak setuju, ya, Kak Bagas sama Kak Ndai.” “Apa urusannya sama kamu?” Adel mengangkat dagunya dalam usaha melawan Bagas yang tampak perlahan tersulut emosi, sementara dilihatnya juga Chindai tertawa meski tak menyahut ataupun protes. “Kak Ndai cewek baik-baik. Kak Bagas, kan, jahat.” “Kamu yang jahat, ya!” “Kak Ndai enggak boleh sama Kak Bagas.” “Memang kamu enggak mau punya kakak ipar kayak Chindai?” Well, it’s over. Lantas geraham Chindai terdengar bersahutan nyaring. Ia sungguh terperanjat dengan apa yang diutarakan Bagas dalam bentuk pertanyaan. Dipikir-pikir pendengarannya yang bermasalah. Namun, ketika Chindai menatap Bagas, laki-laki itu tak ayal meminta pembelaannya. “Mau, tapi kayaknya Kak Ndai cocok sama Kak Viktor, sepupu kita.” “Jahat banget kamu, Del, jadi adek. Enggak dukung Kakak.” Bagas tetap saja kesal dan memberengut walaupun tahu Adel sekadar memainkannya. Demi apa pun, ia betul-betul tak suka bila ada yang menyebut nama laki-laki lain di hadapan Chindai. “Sogok Adel sama novel minggu depan. Janji, Adel kasih restu.” Bagas beralih mencerling Chindai yang berupaya tahan banting dari segala bentuk godaan yang menyelimutinya sekarang. Perdebatan antara adik kakak di depannya tidak baik bagi kesehatan jantung. “Ndai, lo dengar siapa?” “Ka—Adel, lah, Kak!” jawab Chindai deduktif, lalu menyeringai karena berhasil mengerjai Bagas yang terlihat kian cemberut. “Inai, lo—” “Permisi, Mas, Mbak, Dek. Total belanjaannya delapan ratus empat puluh ribu.” Pegawai yang tak tahan menunggu akhirnya tersimpul gabis seiring tangan wanita itu saling menempel di depan d**a. “Maaf, Mbak.” Bagas menggeser tubuh tegang Chindai sedikit ke belakangnya, senyampang menyerahkan kartu kredit dan berpusat melakukan transaksi. Selanjutnya, Chindai tersenyum kikuk kala Adel menuntunnya, sedangkan Bagas kebagian memapah kantong plastik berisi novel-novel. Tidak takut kurang sopan, Adel mengegah tak berpamitan pada Michelle yang bergeming di tempat semula. Sudah dibilang, Adel tipe orang yang tidak peduli. “Permisi, Kak Michelle,” pamit Chindai mewakilkan, berlanjut kaget oleh tarikan tak sabaran Adel. “Pelan-pelan, Del!” Bagas memekik dan tergabas menyentuh punggung Chindai sebelum terjungkal. Ia mengerang geram karena Adel justru menyengir lebar dan lanjut berjalan tanpa menengok kemarahannya. Andai tidak di tempat umat, Bagas sudah pasti mengomeli Adel habis-habisan. “Kita harus cepat keluar, Kak Ndai!” “Hati-hati, Chell,” sambung Bagas layaknya formalitas belaka karena mengenal baik Michelle sebagai teman. Kemudian, ia berlari cepat menyusul Adel yang terlihat lebih menginginkan Chindai daripada kakaknya. “Adel, Kak Ndai-nya jangan ditarik begitu, ya ampun! Tunggu sebentar!!” “Kak Bagas pulang sendiri juga enggak apa-apa!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN