14. | Tawaran atau Ajakan?

1387 Kata
Kata pepatah, menghadapi seseorang yang disayang sering serba salah, apalagi bila perasaan tak kunjung mendapat balas. Hidung dicium, pipi digigit; kasih sayang yang semu dan tidak nyata. *** Tak terelakkan, Bagas dan Chindai menjadi pusat perhatian. Kantin kian sesak kala baru saja muncul berita di forum sekolah menyebarkan tentang kedekatan keduanya akhir-akhir ini. Sungguh seperti Dispatch versi lokal, tinggal menunggu saja waktunya anak Jurnalis merilis di portal sekolah. Meresahkan. Syukurlah, baik Bagas maupun Chindai tidak peduli. Toh, mengobrol seperti ini saja amat membahagiakan. “Kak Bagas.” Chindai menyudahi sesi mengamati visual Bagas yang tersuguhkan sedang menandaskan bakso. Astaga, ia harus ekstra fokus kalau tidak ingin berujung malu. “Kira-kira Kak Rio ada perlu apa sampai suruh Kakak cari gue?” “Pengen pendekatan kali.” Bagas mendongak, penasaran dengan reaksi Chindai. Namun, ia terdiam melihat kekehan ringan itu, hingga dirinya percaya bahwa Chindai tidak mudah diterobos hanya bermodal gombalan abal-abal ala playboy. “Impossible.” “Lo pernah pacaran, Ndai?” “Enggak,” ujar Chindai sekenanya. “Kalau Kakak?” Bagas mengangkat bahunya. Sebenarnya, dari pertanyaan yang diajukannya beberapa saat lalu pun, ia hanya menuruti kemauan hatinya ... dan entah mengapa Bagas begitu lega mendengar jawaban gadis itu. “Menurut lo?” “Pernah. Mungkin sekarang juga masih.” “Masa?” Chindai memberengut. Tak ayal ia menjawab, “Ya, gue enggak tahu, Kak. Kenal Kakak aja baru, jauh banget kalau gue mikir sampai situ.” “By the way, gue mau tanya.” Rupanya, Bagas kenyir mengalihkan pertanyaan yang menurutnya tak berfaedah. Lagi pula, sekarang sudah jelas jika baik dirinya maupun Chindai sama-sama belum pernah menjalani sebuah hubungan dengan lawan jenis. “Apa?” “Karel dan Randa sering hubungi lo, ya?” Lama Bagas menunggu jawaban, tetapi Chindai tidak juga mengeluarkan sepatah kata. Bagas dibuat penasaran, sedangkan di otaknya terangkai rencana untuk mengamuki kedua sahabatnya itu. “Ndai?” “Iya, hampir setiap malam.” Dalam hati, seketika Bagas mengutuk Karel serta Randa. Namun, kali ini ia mesti terpusat pada Chindai. Paling utama. “Ngapain?” “Enggak ngapa-ngapain. Chatting, semacam bercanda doang. Intinya, Kak Randa sama Kak Karel seru diajak ngobrol,” jelas Chindai, alih-alih menyadari u*****n Bagas tertuju ke arah segerombolan teman-teman mereka. Dari sudut mata masing-masing, mereka bisa meratapi bagaimana ramainya satu meja yang diisi Chelsea, Marsha, Salma, Karel, Randa, serta satu member baru--Difa. Chindai cukp bersyukur Bagas mengajaknya kemari karena berkumpul dengan segerombolan seperti itu hanya akan membuatnya pusing. “Jangan lagi,” ucap Bagas lebih mirip bisikan menuntut. “Jangan apa, Kak?” “Chat sama Karel dan Randa. Berhenti.” “Lho, kenapa?” Chindai tentu tak sembarang terima. Ia menaikkan sebelah alisnya, lalu berujar eksplisit, “Kak Karel, tuh, tanya-tanya Chelsea. Kalau Kak Randa ..., ya, ngobrol biasa doang, Kak.” “Jangan ladeni.” Bagas kembali berkata penuh penekanan, pun kilatan matanya yang menajam. “Ih, Kak Bagas, jelas-jelas. Kenapa memangnya, hem?” “Gue enggak suka.” “Kenapa?” tanya Chindai tak kalah meminta keterangan akurat. Bagas menghela napas panjang sambil menatap dalam di netra bulat gadis cantik di hadapannya. “Selain Randa sama Karel, siapa lagi yang sering chat lo?” “Kebanyakan enggak kenal, makanya kadang enggak gue balas, Kak.” “Benaran sebanyak itu?” tanya Bagas keki. Demi Tuhan, ia tidak menyangka jika Chindai mempunyai berlimpah pengagum di luar prediksi. “Enggak tahu, bingung juga kenapa nomor gue tersebar. Main handphone aja gue jarang banget, Kak,” tutur Chindai apa adanya. Sudah dikatakan, ia bukanlah b***k teknologi yang tiap detik memegang alat komunikasi, bahkan sering media sosialnya saja kerap dipegang oleh Chelsea. Bagas kembali mengumpat tanpa suara walau penuturan Chindai seharusnya bisa mengendalikan kejengkelennya. Terlebih lagi, bisakah Chindai tidak terlalu lugu untuk memahami tujuan laki-laki mendekatinya? “Kan, bisa ganti nomor.” “Malas.” “Terus lo mau cowok-cowok itu ganggu tiap saat?” “Untungnya yang tersebar nomor w******p cloning, hampir enggak pernah gue buka.” Melihat Bagas cengo, Chindai terkekeh bangsal. “Pas minta tanda tangan anak OSIS dan MPK kemaren, disuruh tulis nomor w******p di biodata. Eh, banyak yang salin tanpa izin. Beruntungnya enggak asli.” “Nomor lo yang di gue?” “Asli, kok, Kak.” Chindai memalingkan wajahnya dalam usaha menghalau malu biarpun sia-sia. “Gue heran kenapa Kakak tahu nomor gue itu?” Giliran Bagas menggaruk pelipis gatalnya. Demi Tuhan, ini pertama kalinya ia salah tingkah, terlebih oleh perempuan. “Itu …, kan, gue yang bikin grup angkatan ekstrakurikuler musik lo. Terus Rio kasih nomor lo, ya sudah gue masukin.” Ulah Rio lagi ternyata. Walakin ada setitik rasa kecewa di hati, tetapi Chindai tak menunjukkannya dan justru tersenyum. Pun ketika Bagas memandang khusyuk hingga dirinya tak berkutik. “Kakak benaran enggak ada pacar?” “Enggak ada.” “Iya, kah?” “Gue kelihatan bohong?” Terlihat Chindai menggeleng polos di sisinya, memicu Bagas tersimpul elusif. Ia mulai sadar alasan kaum Adam tak sungkan mengagumi gadis itu. “Gue entar aja pacaran, tuh. Cari dulu yang cocok, baru seumur hidup.” “Sampai sekarang belum dapat, Kak?” “Dapat.” Chindai meremas rok yang dipakainya, sedangkan degup jantungnya kini lebih kencang. Ingin bertanya, tetapi bayangan sakit hati menghantui. Memilih diam, tak akan menemui akhir. “Lo enggak mau tanya siapa yang gue maksud?” pancing Bagas tanpa diminta dan sukses menghadirkan kilatan penuh makna di binar mata Chindai.. “Si-siapa, Kak?” “Nah, giliran gue tanya dulu.” Bagas tergelak geli, lalu menyejajarkan wajahnya dan Chindai yang langsung menahan hirup oksigen. “Lo mau atau enggak?” *** Chindai gelisah bak dihadapkan persoalan besar nan berat. Suhu tubuhnya tinggi, sementara deru AC maksimal menyelimuti mobil yang ditumpangi. Bagas tidak main-main membawa Chindai menuju gramedia terdekat. Tolong garisbawahi, turut serta adik Bagas yang baru beranjak remaja. Dipikir sekadar angin lalu, ternyata benar-benar dibumbui pembuktian. Namanya, Chindai dibuat mati kutu oleh perlakuan Bagas yang seperti gula—manis. Mario Aditya | Lo benaran suka Bagas, Dek? | Doi kepincut juga enggak, tuh. | Cie, enggak bertepuk sebelah tangan. Apa-apaan? Sangat mustahil! Tak mungkin! Khayalan tinggi! Pesan Rio sengaja tidak Chindai balas ketimbang percaya dirinya makin meledak-ledak. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang. Seharusnya, tak perlu sejauh imajinasi, Chindai sudah kelewat bahagia tatkala Bagas mesem manis menatapnya. Cukup memendam untuk tak diketahui banyak orang, lebih-lebih sang empu. Setidaknya, Chindai termasuk beruntung sesuai opini Chelsea yang ada benarnya. Akan tetapi, Bagas sedang apik-apiknya menghancurkan perisai yang dibangun Chindai sebelum bertemu. Ia gugup tak berkesudahan, senyampang Bagas dengan raut datar. Chindai telanjur gamang terbang tinggi memeluk angan, lalu dijatuhkan—misal Bagas memiliki tambatan hati. “Kak Ndai!” “Ah, iya. Kenapa, Del?” Chindai berseru setengah kaget. Keinginannya duduk di belakang pengemudi digagalkan Adel yang lebih dahulu menempati, ditambah Bagas memasangkannya sabuk pengaman secara paksa. Adel Kirana, adik kandung Bagas berperan penengah antaranya dan Chindai. First impression antara Adel serta Chindai pun tidaklah flop, justru tinggal menunggu Bagas tersingkir karena diabaikan begitu saja. Pembawaan ceria dan cepat tanggap dua gadis itu adalah penggabungan sempurna. “Kak Ndai kenal Kak Bagas sejak kapan? Kakak punya pacar enggak?” Pertanyaan beruntun Adel menggelikan Chindai yang kepalanya terayun ke kiri dan kanan. Mustahil ia mengaku suka Bagas di pertemuan pertama mereka. “Pas gabung di ekstrakurikuler yang sama kayak Kak Bagas,” ujar Chindai mengawali. “Belum ada pacar.” “Dilarang tanya aneh-aneh, Del,” tegur Bagas pada Adel yang lantas cemberut. “Enggak usah diladeni, Ndai,” sambungnya berbalik menyarankan Chindai. “Asal enggak suka Kak Bagas, Kak Ndai. Lihat sendiri, kan ..., galak banget.” Chindai tertawa begitu ekspresi Bagas kenyir menelan Adel bulat-bulat. Ia menepis saran yang lebih pada kata terlambat. Faktanya, Chindai sudah jatuh ke pesona Nathaniel Bagas Saputra, dan tidak menyesal sedikit pun. Mobil yang dikendarai Bagas berhenti, barangkali sampai tujuan. Omong-omong, Chindai tadi dijemput Bagas di rumah Chelsea, serta jarak ke gramedia tidaklah jauh. Itu juga sempat terjebak macet. Baguslah, Chindai dan Adel akan memanfaatkan surga dunia sebaik mungkin. “Harusnya kamu terima kasih sama Kakak, Del.” Adel tak acuh pada Bagas yang mengomel, melainkan bertenggang menggandeng Chindai memasuki gedung dua lantai tersebut. Tahu-tahu aroma buku yang disukai menggelitik hidung. “Hello, gramedia, we are here!” Bagas menguntit santai, tersimpul lembut sebab perkiraannya tidak meleset.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN