“Lo nge-post apa, Alvin?! Ya Tuhan, ini anak bikin naik darah!” Chindai histeris ketika mengeja notifikasi di lock screen ponselnya. Rambut hitam panjang dan poni pagarnya sudah berantakan, makin diacak-acaknya. “Gila lo, Vin!”
“Enggak apa-apa, Ndai. Kece begitu.” Alvin menyeringai tanpa rasa bersalah dan tangan yang bergerak mengusap puncak kepala Chindai. Sesekali ia tertawa kecil dalam merespons decakan kekesalan teman sekelasnya itu.
“Terserah, gue capek.”
“Serius, deh, Ndai. Enggak ada salahnya lo join putra-putri sekolah. Kak Michelle kayaknya perwakilan dari kelasnya atau jurnalis. Nah, lo sama Kak Bagas bawa nama ekstrakurikuler musik. Mantul,” bujuk Marsha, balik pada pembahasan awal tadi.
Bukan tanpa alasan, Chindai memilih diam. Ia betul-betul yakin jika Rio memang telah mengiming-imingi para sahabatnya, sehingga memutuskan tidak menanggapi. Tak ada rencana sedikit pun di pikiran Chindai untuk mengikuti organisasi di masa SMA.
“Cendol, lagi serius, nih.”
“Gue, kan, sudah bilang. Ogah,” sahut Chindai masih cuek bebek.
“Gaslah, Ndai, karena gue juga ikut. Kebetulan kemaren Kak Randa suruh gue daftar sebagai perwakilan ekstrakurikuler bahasa asing. Nah, bakal gue accept kalau lo yes.” Alvin kembali cengar-cengir, berharap Chindai luluh.
“Ya sudah lo aja.”
“Kalau Kak Bagas ikut, lo baru oke, nih?”
“Enggak juga,” jawab Chindai malas-malasan. Lagi-lagi nama Bagas yang disebut sukses membuat telinganya memanas karena kesal. “Dengar. Mau bagaimanapun, gue sama sekali enggak tertarik.”
“Tapi, kan, sayang. Modal lo di sini menjamin kemenangan. Yakin gue, semuanya bakal bangga sama lo.” Salma menambahkan opini. “Sebenarnya, Chelsea juga banyak tameng, wong ketua OSIS dan calon ketua MPK di tangannya. Tapi, kan, potensinya enggak sebesar lo.”
Chelsea tergelak lucu, menyetujui penuturan penuh singgungan Salma tanpa sakit hati. “Lagi pula, doi-doi gue larang, Ndai. Gue, sih, nurut aja.”
“Malas.”
“Ikut, Ndai. Kita dukung, kok.”
“Gue bi—”
“Ndai.”
Suasana sekejap lengang di per sekian detik suara bas milik seseorang menyeruak di penjuru ruangan kelas. Mulut Chindai terbuka saking terkejutnya, Alvin menuruni meja yang diduduki, Chelsea mengubah posisi, Marsha berhenti memakan gorengan, serta Salma tersendat setelah menandaskan air mineral.
Di depan sana …, satu pun tidak ada yang menduga akan kehadiran Bagas. Laki-laki dengan gaya rambut comb over itu berdiri gamang di ambang pintu dengan mimik muka tak terbaca. Keberanian semua orang seketika luruh, hanya berani saling berbisik di tempat masing-masing.
Tatapan Chindai bertemu dengan netra gelap milik Bagas. Ia mendadak menjadi patung dan kehilangan kemampuan berbicara. Sosok yang tadi tidak sengaja dilihatnya di gedung seberang, kita berada tak jauh dari jangkauannya. Ingin sekali Chindai marah ataupun hal lainnya, tetapi tidak bisa.
Biarlah sementara hanya mata yang berbicara satu sama lain.
“Eh, buset. Cemburu bisa bikin orang jadi Superman mendadak,” celoteh Alvin, yang nyaris memicu Chindai dan kawan-kawan cekikikan. “Bisa-bisanya juga ke sini pas sudah on the way be masuk. Orang berpengaruh di sekolah, sih, bebas.”
“Diam lo, Vin.” Chelsea tidak kalah berbicara pelan-pelan agar hanya terdengar di antara mereka. Sesekali ia melirik takut-takut Bagas yang masih saja di posisi semula. “Enggak ngerti gue, Kak Bagas bikin masalah baru. Yakin, besok nama mereka jadi satu kalimat di forum.”
“Buruan, Cendol.” Di pihak lain, Salma mendorong Chindai untuk cepat beranjak. Ia melotot saat Chindai menggeleng perlahan—pertanda menolak usulannya. “Enggak ada pilihan lain. Lo harus temui dia.
“Enggak mau, Sal.”
“Inai.”
“Mampus, Ndai. Sana!”
“Bisa ngomong berdua, Ndai?” Lagi-lagi deep voice Bagas terdengar.
Chindai menyampingkan helai rambutnya sebelum beranjak menuruti titah Bagas dengan degup jantung jauh dari kata normal. Ia berjalan hati-hati, sementara gerakan tenggorokannya bergelombang susah payah sebab mendapat senyuman manis Bagas di mana keduanya berhasil berhadapan langsung.
Sesudah menarik napas dalam, Chindai berkata, “Kak, kenapa?”
“Kangen.”
Hening kembali. Spontan Chindai berpaling meski dengan tidak disangka-sangka Bagas memegang kedua pundaknya, menghadirkan getaran tak biasanya seperti di saat tidak sengaja bersentuhan.
“Ndai.”
“Kak.”
“Lo duluan.”
“Kakak aja.” Chindai gelisah, jari-jarinya saling mencubit—ganar jika ini semata-mata mimpi. Ke sekian kali tingkah Bagas tak ayal membingungkan lahir dan batin hingga capai rasanya.
“Perpustakaan ramai, kelas gue juga. Gue bingung ngomong empat mata sama lo di mana.” Bagas menguraikan apa yang ada di otaknya Yang pasti, ia ingin satu per satu mulai menyelesaikan kesalahpahaman antaranya dan Chindai. “Gue tadi mau ajak lo ke rooftop gedung ekstrakurikuler, tapi entar keburu bel.”
“Di sini aja enggak apa-apa, Kak.”
“Gue minta maaf dan mau bilang … jangan percaya gosip, please.”
Chindai mencoba tenang, asing rasanya tak bergulat emosi—tidak juga terhalang Rio, Michelle, atau pengganggu lainnya. Ada kegelaan yang menyelimutinya, tetapi tak sepenuhnya. “Kak Bagas enggak salah apa-apa, kok. Kak Bagas punya pacar, ya?”
Netra Bagas menyipit dalihnya mengerang. Sama sekali ia tak menyukai segenap pertanyaan yang diajukan Chindai. Ia mencengkeram bahu gadis itu, tetapi tidak sampai menyakitinya. “Inai.”
“Selamat, Kak, Chindai—”
“Gue enggak jadian sama siapa pun,” gumam Bagas dingin nan menuntun. “Ubah cara lo ngomong.”
“Kak, Chin—”
“Gue-lo.”
Chindai geleng-geleng kepala, berupaya untuk keras kepala di hadapan seseorang yang beberapa bulan ini sukses mencuri atensinya. “Chindai senang Kakak sama—”
“Chindai!” Bagas membentak, padahal tidak beragan. Sikap Chindai memancing emosi, membuat jengkel. Niat Bagas cukup baik menurunkan ego, mendatangi gadis itu di kelasnya demi meredam kesalahpahaman.
“Maaf.”
“Gue minta maaf, lo abaikan. Sekarang lo yang minta maaf. Hidup kita enggak berputar di kata maaf, Ndai.”
“Maaf, Kak.”
Melihat Chindai merunduk ketakutan, Bagas menghela napas panjang dan balik mengusap lembut puncak kepala Inai-nya tersebut. Ia mengabaikan sejumlah teman-teman Chindai dan beberapa siswa-siswi yang sudah mulai memasuki tempatnya kini berdiri. “Kenapa lo sama Rio datang ke acara Rakey?”
“Diajak Kak Rio.”
“Lo mau?”
“Kenapa enggak? Kakak juga datang sama Kak Michelle, kan?” tanya Chindai tiba-tiba, tidak bisa menghilangkan nada menuntut.
“Gue sudah janji, Inai.”
“Gue dan Kak Rio juga, Kakak.”
Bagas mengerling tajam. Terkaan bodoh menyebabkannya tak sadar melayangkan pertanyaan, “Lo cemburu, Ndai?”
“Enggak!” Lebih daripada spontan, Chindai terperanjat dan sontak saja menarik langkah demi tidak terjangkau. Akan tetapi, ia kontan menahan napas bertepatan Bagas menyentaknya mendekat. “Kak!”
“Inai, lo mau tahu satu fakta?”
Chindai tidak bersuara, menunggu kelanjutan ketimbang merespons. Bila Bagas terus begini, ia ragu bisa bertahan lama. Penonton di sekitar lebih baik tak dipedulikan.
“Gue cemburu lihat lo sama cowok lain, makanya pulang duluan. Apa semalam lo enggak niat sedikit pun susul gue, Ndai?” Bagas tersenyum kecut, sedangkan netranya konstan menahan Chindai agar tetap fokus memandangnya. “Gue pengennya iya.”
“Kak ….”
“Ndai, apa yang gue bilang ini … masih enggak jelas?”