Senyum yang diharapkan tak lagi bersinar indah. Sirna sebab enggan membalas cumbuan rasa. Turut bersenandika pada hati yang menginginkan. Se-magsyul harap yang menemukan kecewa. Perihal rindu yang membuncah tak tahu arah.
Nyatanya, benar. Hal terburuk dari mencintai adalah tidak berbalas dengan cinta pula.
***
TODAY’S NEWS HEADLINES
Nathaniel Bagas Saputra Dikabarkan Sudah Lama Berpacaran dengan Michelle Anastasya. Percaya?
Yuk, Intip Momen Bagas dan Michelle saat Menghadiri Pesta Ulang Tahun Rakey, Wakil Ketua OSIS Kita!
Setelah Putus dari Rakey Hidayat, Michelle Anatasya Menggandeng Nathaniel Bagas Saputra di Acara Sang Mantan.
Ke Sekian Kali Bagas Tak Malu-malu Mengumbar Kemesraan Bersama Seorang Gadis. Malam Tadi Giliran Ikon Kecantikan SMA Rajawali!
Bella Cendana atau Michelle Anastasya yang Cocok Bersanding dengan Nathaniel Bagas Saputra? Sama-sama Cantik dan Modis, lho!
“Pecah ... pecah ... pecah! Patah hati Adek, Bang!” Chelsea melepaskan ponsel Marsha ke meja, tidak henti berdecak kagum atas apa yang baru saja dibacanya. “Gue panas karena upacara tadi, malah makin hareudang gara-gara forum!”
“Gila, sih. Bisa-bisanya trending topic berita Kak Bagas semua,” sambung Marsha berapi-api. Ia tidak kalah berkoar-koar sampai mengibaskan tangannya seakan kepanasan. Sungguh, informasi serta berjibunnya informasi yang menyebar di SMA Rajawali hari ini benar-benar menghebohkan.
Adapun Salma yang hanya berdeham. Seperti biasa, gadis itu sekadar mengamati dan paling tenang menghadapi apa pun. Meskipun sesekali senyumnya mereka karena melihat ekspresi jenuh di wajah salah satu sahabat tercintanya. “Ndai, semalam lo ikut Kak Rio ke pesta ulang tahun Kak Rakey, kan?”
“Iya.” Chindai kembali tidak bernyawa, apalagi sedang datang bulan. Alih-alih menikmati bakso Mang Ghani di kantin, kali ini ia benci jam istirahat. Tidak ada yang mengusik, tetapi telinga tidak kuat terus mendengar berbagai gosip yang tengah diperbincangkan khalayak. Chindai kesal, tetapi tidak mampu berbuat apa-apa.
Desas–desus hangat menyangkut wajah-wajah terkemuka. Bagas ialah anggota OSIS terdisiplin, Michelle didaulat ikon kecantikan, Rakey tak bukan wakil ketua OSIS, serta gadis bernama Bella—yang menurut selidik Chelsea—putri SMA Garuda sekaligus teman Bagas dari kecil.
Chindai mah apa atuh. Ia lebih cepat sadar diri.
“Rugi banget enggak ikut Kak Karel kemaren malam, padahal gue kepo gimana Kak Bagas dan Kak Michelle yang katanya romantis abis.” Chelsea kembali menyahut dengan hebohnya. Ia baru terdiam kembali sesaat Marsha melayangkan kode agar dirinya mengamati Chindai yang diam-diam tersenyum samar.
“Mulut lo memang enggak bisa ditahan, ya, Chels.”
“I’m serious. Kak Michelle ajak Kak Bagas pasti ada niat terselubung. Dia tahu Chindai lawan terberat yang dekat banget sama doi.” Salma berkata atraktif sambil memainkan alat komunikasinya. Kemudian, ia melempar benda itu yang langsung ditangkap Chelsea.
“Santai, dong, Sal.”
Kemudian, sesuai dugaan, pekikan histeris Chelsea dan Marsha terdengar begitu membaca langsung berbagai komentar yang terdapat pada salah satu forum terbuka di portal sekolah. Lewat akun yang semuanya disamarkan pemilik, terlalu berjibun opini bertebaran. Baik kaum Adam maupun Hawa berlomba-lomba mengutarakan pendapat. Berulang kali juga nama Chindai disebut.
LATEST NEWS
Public forum : Berikut Sosok-sosok yang Dikabarkan Dekat dengan Si Cantik Gloria Pandanayu Chindai. Bagaimana Menurut Kalian?
Chindai mendadak menggeser berita antara Bagas dan Michelle. Kepopuleran gadis itu ternyata lebih daripada yang teman-temannya kira.
“Apa ini, Miskah?” Marsha melotot horor, serta-merta mengoper alat komunikasi yang dipegangnya pada Chelsea. Ia lanjut berseru kian tak terkendali, “Di bawah-bawah komentar lebih parah. Demi apa lo di-bully, Ndai?!”
“Apa?” sahut Chindai ogah-ogahan. Ia sudah menebak betul apa yang terjadi. Dipastikan sebab kedekatannya hingga semalam menggandeng Rio, apalagi kebersamaannya bersama beberapa laki-laki berhasil tertangkap kamera. Mau marah ataupun kesal pun tidak ada gunanya. Diam lebih baik.
“Di acara Kak Rakey ... lo benaran datang” Melihat anggukan lesu Chindai, Chelsea balas geleng-geleng kepala. “Gila memang teman gue satu ini. Terus lo ngobrol sama Kak Rakey, Kak Randa, Kak Karel, dan Kak Rio?”
Lagi-lagi Chindai memanfaatkan dagunya sebagai bentuk jawaban. “Hem.”
“Astaga, Ndai, cari mati! Lo dibikinin gosip abal-abal, forum diskusi pula. Selain ada orang-orang yang percaya lo dekat sama Kak Bagas … juga pada bilang lo enggak-enggak!”
“I don’t care.” Chindai tetap masa bodoh, bahkan setelah tepukan ringan mampir di pundaknya. Ia bisa melihat kehadiran Alvin yang lantas menyeringai ke arahnya. “Lo apa-apaan, sih, Vin?”
“Cie, artis forum.”
“Dih. Gue baru tahu lo pemerhati forum, Vin,” ujar Chelsea saklek, lalu menyerobot di sebelah kanan Alvin untuk menduduki meja di hadapan Chindai meskipun laki-laki itu berusaha mengusirnya.. “Jangan-jangan lo ikut komen, ya?”
“Jangan salah. Chindai, tuh, digelari cekiber—yang artinya cewek kita bersama—oleh cowok-cowok SMA Rajawali. Baca aja, enggak sedikit yang bela Chindai di situ.”
Karena sudah mengamati dengan mata kepala sendiri dan membuktikan, akhirnya Chelsea mengangguk saja.
“Memang di mata cowok-cowok di sini, Chindai idaman banget, Vin?” tanya Salma penasaran.
“Jangankan yang biasa-biasa kayak gue, rombongan most wanted aja juga incar Chindai, Sayang, enggak ada yang berani terang-terangan karena ..., ya, you know, kemaren aja Kak Rio sampai diajak berantem,” ucap Alvin penuh makna, tetapi tampaknya tidak akan membuat seseorang peka maksudnya. “Dikata Chindai ikut putra-putri sekolah, yakin banyak yang dukung.”
“Nah, iya, Ndai. Lo wajib ikut putra-putri sekolah biar Kak Michelle makin takut tersaingi. Rugi, lho, padahal fan lo di sini berjibun banget.”
“Enggak mau!” tolak Chindai mentah-mentah atas apa yang disarankan Salma barusan. “Kalian pikir aja saingannya. Kak Michelle, Grizella, dan masih banyak lagi.”
“You’re wrong, Cendol. Gue enggak tahu, ya, permainan politik SMA Rajawali, tapi lo itu di urutan cewek paling diinginkan.” Alvin berujar terus terang dan tersenyum sesaat Chindai menatapnya. “Orang-orang, tuh, takut pas Chindai digosipkan dekat sama Kak Bagas ketimbang berita terbaru ini. Sebagian orang percayanya Kak Bagas benaran dekat sama Chindai.”
“Lah, memang benar!” Marsha manggut-manggut dengan antusias.
“Jadi, kemungkinan berita yang beredar ... benar, dong?”
“Ya, begitulah. Terus gimana?” Giliran Salma yang mengajukan interogasi, disambung anggukan Chelsea.
Adapun Chindai menulikan telinganya. Toh, segala macam bentuk isu tak pernah menggugah selera. Chindai menoleh ke jendela yang langsung mengarah ke gedung ekstrakurikuler. Di saat bersamaan, ia menegang menangkap perawakan yang juga ... sial, menatapnya terang-terangan.
Seketika Chindai menenggelamkan wajah di lipatan tangan dengan d**a yang berdebar-debar, belum siap lahir batin bersinggungan tatap Bagas di waktu dekat. Jarak terlampau jauh, tetapi terasa membunuh.
Klik.
***
Masa-masa inilah yang membuat Bagas meratapi jabatannya, padahal sekadar anggota organisasi bergengsi yang mirip babu sekolah. Tak masalah sebenarnya, kecuali kehidupan aman dan tenteramnya yang ternodai gosip murahan benar-benar menyebalkan. Apes sekali.
Dipastikan sudah merambah ke mana-mana sampai para pengajar dan staf melirik Bagas dengan binar berbeda, rentetan opini sejak pagi tadi berhasil mencoreng takhta ideal student yang dielu-elukan padanya. Jurnalis sungguh mencari mati!
Bukankah jauh-jauh hari telah Bagas terangkan, gosip perihal apa yang akan dimakluminya?
Di sinilah Bagas menenangkan diri; ruang musik yang sepenuhnya belum beres direnovasi, dan perintah Pak Adi untuk mengecek keadaan begitu disyukuri. Bagas mengeluarkan ponselnya di saku celana karena baru saja bergetar.
“Sumpah, Gas, ini gawat!”
Suara berbalut keresahan yang didengar dari Karel memicu kening Bagas berkerut sengaja. Ia ingin mendengarkan saja tanpa berkomentar, tetapi mulutnya telanjur tidak tahan hingga bertanya, “Ada apa?”
“Lo di mana?”
Meski kesal karena apa yang ingin diketahuinya justru dibalas dengan pertanyaan juga, Bagas tetap menyabarkan dirinya sendiri. “Enggak perlu tahu. Tinggal bilang aja. Ini kenapa lo tiba-tiba telepon gue?”
“Si Manis banyak yang bully, tapi beberapa juga bela. Iyalah, dia, kan, cekiber di SMA kita. Yang bully pasti iri dengki.” Di seberang sana, Karel mengoceh tanpa paham jika Bagas nyaris frustrasi dan muak bersamaan. Kebiasaan yang sungguh membuang-buang waktunya.
“Jelas-jelas. Bacot banget lo kalau begini.”
“Lo dikasih tahu, malah begini. Buruan cek forum kalau mau tahu.”
Sambungan terputus sepihak.
Enggan mengumpat, Bagas menuruti perintah Karel. Namun, sontak saja dirinya melotot membaca satu kalimat yang bisa dibilang merusak nama baik Chindai. Reaksi Bagas ternyata lebih menguras emosi daripada rumornya sendiri. Betul kata Karel. Tak hanya kalimat mengejek, tetapi ada juga pembelaan yang terpampang.
Demi menurunkan emosinya, Bagas berdiri menghadap jendela. Pucuk dicinta, ulam tiba. Netra Bagas menemukan Chindai ... Inai-nya yang manis kebetulan sedang menjadikannya objek di seberang sana. Bagai magnet tarik-menarik, Bagas tidak tahu kenapa sejauh ini dirinya masih bisa menyelami bola mata hitam legam itu.
Tak berlangsung lama sebab Chindai tampak memilih menunduk bersamaan harap yang meredup. Mimik kecewa itu amat jelas, memicu rasa bersalah. Dipikir-pikir, kapan terakhir mereka bercengkerama, ya?
Awalnya, Bagas memutuskan tidak peduli. Akan tetapi, ia tiba-tiba gelisah sesaat Randa mengirim sebuah foto yang sangat memicu emosinya.
Gambar Chindai yang tampaknya sengaja diunggah akun milik Alvin Sinaga.
Nyatanya, bukan hanya Chindai, melainkan semua mimpi Bagas pun melebur tak tersisa. Apa kata Alvin di caption ... cekiber?
Bang—tas. Dia milik gu—sadar, Bagas!