“Chindai dekat sama Kak Rio dari lama, Gas?”
Poin pokoknya, Bagas tak nyaman barang secuil berbesar hati menerima sentuhan Michelle. Melihat langsung Rio menggandeng ringan Chindai menumbuhkan rasa egois seraya terus mengumpat. Sangat menyiksa dan Bagas tidak memiliki kekuatan untuk melakukan sesuatu.
Gemerlap malam dihiasi lampu seluas pekarangan itu menyilaukan mata. Akan tetapi, keindahan sosok cantik nan jauh di sana merebut perhatian Bagas sejak tadi menginjakkan kaki di pesta hari kelahiran mantan Michelle—Rakey Hidayat. Jujur, ia terpaksa karena predikat teman yang disandang.
Bagas tak urung menyesalkan pakaian yang dikenakannya. Percaya atau tidak, para pencari berita sekolah pasti akan memojokkannya kembali dan menimpa buletin kemarin pagi. Selain itu, Bagas yakin ketika menjemput Michelle, gadis itu bergegas mengganti gaun. Hanya agar ....
Serasi?
Oh, sedikit pun tidak. Bagas beberapa kali melempar lirikan tajam pada siapa saja yang dengan berani menggodanya.
“Gas!”
“Enggak tahu.”
“Enggak lagi sama Alvin, ya?”
Bagas tidak menyahuti pertanyaan Michelle, terlampau sebal. Justru ia setengah yakin jika Chindai dan Rio belum menyadari keberadaannya di pojokan.
“Mereka cocok, Gas.”
“Lo banyak omong, Chell. Bisa diam enggak?”
Seharusnya, Bagas mendengar saran Adel untuk tak hadir. Selain malas melayani engkah-engkahannya Michelle, Chindai bergandengan dengan Rio adalah pemandangan mengerikan. Bagas kenyir menghabisi Rio lebih-lebih dari kejadian tempo hari.
“Bagas.”
“Lo ajak gue biar Rakey cemburu, kan?”
“Enggak, Gas, sumpah.” Michelle menggeleng cepat. Tidak berdusta sepenuhnya, ia menggarisbawahi bahwa memboyong Bagas merupakan kesempatan emas. “Tapi lo …, lo kenapa jadi cuek begini, sih?”
“Perasaan lo aja.”
Bagas gatal ingin mendekat, terlebih Rakey terlihat tertarik pada Inai-nya. Benar-benar. Bagas tidak habis pikir tentang apa rahasia Chindai hingga memiliki banyak pengagum, bahkan di pertemuan pertama yang sesimpleks itu. Posesif Bagas nyaris membuat dirinya sendiri menggila.
“Mantan gue suka sama Chindai kayaknya.”
“Semua cowok SMA Rajawali,” gumam Bagas, terkekeh bangsal. Tidak lama, ia melengos ketika Karel dan Randa yang baru tiba menyapanya di per sekian detik, tetapi langsung menjerit kala netra masing-masing menemukan Chindai.
“Di mana-mana ada Chindai, di mana-mana hatiku senang! Yes!” Randa berbelok arah dari rencana awal, mendadak tidak mengacuhkan keberadaan Bagas.
“Benaran si manis, Ran. Yuk, ah, ke sana!” pekik Karel sama ricuhnya dan segera mengambil ancang-ancang. “Bye, Gas. Rugi gue enggak ngobrol sama si Manis malam ini. Kesempatan emas!”
Michelle diabaikan. Bagas hanya bergeming, mengamati Chindai yang dikelilingi orang-orang terdekatnya, dalam hati menghitung berapa lama sanggup bertahan. Pada akhirnya, menyerah. Ah, akhirnya Chindai sadar akan keberadaan Bagas.
***
“Kenapa enggak Ify aja, sih, Kak?” keluh Chindai kentara tak nyaman, sementara tangannya setia menggandeng kakak angkatnya yang terkekeh sambil mengusap lembut punggungnya.
“Ify enggak cocok diajak ke sini, Dek.”
Visual Chindai begitu menawan kendati sangat sederhana. Jumpsuit di atas mata kaki berwarna seaweed melekat di tubuhnya. Adapun Rio memakai kemeja kotak-kotak biru tua yang dicocokkan kaus polos, celana jeans hitam, serta sneaker putih. Siapa pun sekejap menjadikan keduanya objek.
Chindai berpegangan pada Rio guna menunjang high heels-nya, tetapi tetap tidak nyaman. Kelemahan gadis itu terletak di keramaian. “Dan lo pikir gue cocok?”
“Setidaknya, lo enggak malu-maluin, Dek.”
Jadi, malam Minggu yang indah diakhiri Rio yang memaksa Chindai menghadiri pesta wakil ketua OSIS SMA Rajawali. Mengejutkan lagi bagi Chindai pribadi adalah kenyataan jika Rakey—pemilik acara—merangkap eks terakhir Michelle. Setidaknya, itu yang dikatakan Rio.
“Lo bunuh gue, Kak.”
Rio mengusap dahi berkeringat Chindai dan tersenyum tipis begitu melihat Rakey berjalan mendekat. “Hi, Bro, happy birthday.”
“Thanks, Bro.” Rakey membalas uluran tangan Rio. Dasarnya tak layak dihormati, memanggil kakak kelasnya itu dengan sapaan gaul pun sudah biasa. “By the way, lo bawa siapa?”
“Pacar.”
Lantas Chindai menginjak kaki Rio yang terkadang wajib diancam agar tidak sembrono. Kemudian, ia tersenyum tidak enak hati pada Rakey yang refleks terkekeh menghadapnya.
“Apa, sih, Dek?” protes Rio, balas menyentil kening Chindai. Beginilah keduanya, sering kali terlibat cekcok selayaknya Tom dan Jerry. “Lo sama gue kasar begini, gimana mau punya pacar?”
“Mulut lo!”
“Lo Chindai, kan?”
Chindai, yang namanya disebut, kembali memandang Rakey sebelum mengangguk kecil. “Iya, Kak. Kakak kenal gu—saya?”
“Sans, enggak usah kaku begitu,” ujar Rakey koersif. “Lagi pula, anak SMA Rajawali mana yang enggak kenal Gloria Pandananyu Chindai?”
“I-iya, Kak.”
“Gue Rakey. Tahu, kan?”
Lagi-lagi Chindai menganggut, agaknya berbohong. Ia adalah tipe orang yang tidak peduli sekitar, alih-alih mencari tahu orang-orang yang tidak mempunyai kepentingan di dalam hidupnya. “Iya, Kak.”
Adapun Rio mendengkus. Inilah kerugian mengajak Chindai, pasti ada saja yang memakan umpan kecantikan gadis itu, tanpa tahu seluk beluknya. Dari yang alim sampai playboy cap kakap terpincut, tetapi sayangnya Chindai telanjur cuek terhadap lawan jenis. Jadi, wajar Rio sedikit tidak menyangka jika Bagas-lah yang berhasil menjungkirbalikkan perasaan Chindai.
“Mending jangan suka Chindai kalau enggak mau percuma.”
“Kak!”
“Apa?” Rio berlanjut meledek Chindai yang kembali begitu tajam memandangnya. “Daripada anak orang suka benaran. Ujung-ujungnya lo tolak, kan?”
“Kak Rio!”
Rakey tergelak lagi. Dari sekian banyak tamu yang hadir, mengobrol bersama Rio dan Chindai cukup menghiburnya. Jadi, ia berujar lugas, “Gue maju juga belum, Yo.”
“Tapi … benar banget, sih, Kak. Chindai enggak tanggung jawab kalau Kakak jadi suka.” Chindai bergeser setengah langkah ke belakang, gamang sendiri. Lebih baik jujur di awal, sementara dirinya tahu jika Rakey termasuk tipe laki-laki yang akan maju jika sudah memiliki target.
“Astaga. Benar, nih, gue belum apa-apa sudah ditolak duluan?”
Rio mengangguk meyakinkan, lalu cekikikan ketika seruan partner Rakey mendekat, tak lain dan tidak bukan adalah ketua OSIS SMA Rajawali, yaitu Karel. Rio juga melihat keberadaan Randa yang bersiul sambil berkedip ke arah adiknya. “Nah, dua korban terdahulu muncul.”
“Apa, nih, Kak?” Karel melambai ke arah Chindai yang menyambutnya tak kalah hangat. “Halo, Manis. Senang banget gue ketemu lo di sini!”
Randa turut menunjukkan senyum bermodal lesung pipi, begitu cari perhatian. Rencana lain, ia sengaja agar memanaskan Bagas yang berada jauh di sana bersama Michelle. “Si Manis bikin pangling. Heran gue, perfect beut tonight.”
“Hai juga, Kak.” Chindai berdiri resah setelahnya balik menyapa. Bila Karel serta Randa di sini, tidak menutup kemungkinan Bagas … gosh, Chindai menemukannya!
Terlihat Bagas di ujung sana. Dengan netra gelapnya itu masih saja memancar di remangnya malam. Susah payah Chindai menelan salivanya, terlebih ketika tatapan mereka bersinggungan. Ia nyaris tidak bisa bernapas dan untunglah adanya Rio cukup menenangkannya.
“Rakey pengen merasakan ditolak Chindai.” Rio mengangkat bahu selagi menyerap ketegangan adiknya. Ia tahu betul apa yang akhirnya terlihat oleh mata Chindai, sehingga memilih mengalihkan obrolan.
“Jangan, Key, entar lo sakit hati. Serius,” kata Randa memperingati Rakey yang sekonyong-konyong tertawa.
“Memang semua cowok yang dekat sama Chindai, ditolak?”
Karel menggeleng dramatis. Otak kecilnya mengenang obrolan antara ia, Randa, Chindai, dan—oke, tidak salah lagi. “Kecuali bawahan Kak Rio.”
“Siapa?”
“Tuh, yang lagi sama mantan lo.”
Semua kaum Adam yang berada di jangkauan Chindai menengok ke satu objek. Siapa lagi kalau bukan Bagas yang menggunakan pakaian serba hitam, tetapi elegan dan mewah—senada dengan Michelle.
“Anaknya lihat kita juga.” Rakey mengernyit, bergantian menatap Chindai dan Bagas hingga sebuah kesimpulan menghantamnya. “Ah, gue ingat. Beberapa minggu lalu, berita di forum sekolah pada bahas kalian.”
Ya ... ya ... ya. Chindai sudah diberi tahu Bagas waktu itu.
Detik berikutnya, jeritan kaget Randa dan Karel mengiringi Bagas yang tergesa-gesa meninggalkan tempatnya. Randa pikir, sahabatnya tersebut akan merecoki, minimal menyeret Chindai karena dikuasai cemburu. Namun, Bagas justru mengarah keluar halaman belakang rumah Rakey.
Chindai meringis dalam diam, tiba-tiba kasihan pada Michelle yang kecewa ditinggalkan Bagas. Sebagai perempuan, peka diutamakan.
Sesekali—entah sengaja atau tidak—Bagas meliriknya dan Chindai sontak menunduk, padahal gerak-geriknya persis memindai melalui sudut mata. Kemudian, ia hendak kabur mendengar sorak godaan Karel, Randa, Rakey, serta Rio.