30. | Penampilan di Ekstrakurikuler Musik

1430 Kata
“Wah, parah damage-nya Kak Bagas!” Marsha berdecak kagum meratapi sebuah foto aesthetic teranyar yang terunggah di media sosial sang objek pembicaraan. Telah berulang kali jemarinya menggulir dan masih tetap tidak percaya. “Emotikon love-nya meresahkan, ya, Bun.” Chelsea geleng-geleng kepala saking gemasnya, tak kalah antusias membahas sesuatu yang dipastikan kini ramai dibicarakan di satu sekolah. “Siapa, sih, Bella? Spesial banget kayaknya.” “Enggak penting bahasnya sekarang,” seloroh Salma serius dan bijak. “Yang jadi pertanyaan, apa maksud Kak Bagas kemaren ngamuk gara-gara Chindai dekat sama Kak Rio kalau enggak cemburu namanya? Tapi Kak Bagas ... kalian lihat sendiri dia di luar sana gimana?” Marsha mengangguk setuju sambil meletakkan kembali ponselnya di atas paha. “Gue pikir cuma Kak Michelle, ternyata—” “Bahkan gue rasa Kak Michelle enggak ada apa-apanya sama ini cewek.” Chelsea menerobos ujaran Marsha begitu saja tanpa rasa bersalah. “Cringe banget enggak, sih, kalau alasan Kak Bagas cuma biar Chindai jealous?” “Banget,” komentar Salma lugas. Kemudian, mengikuti jejak sahabatnya, ia juga menghadap Chindai yang terpantau lesu. “Tanggapan lo, Ndai?” Chindai tersimpul tipis, tak menampakkan kemarahan seperti harapan semuanya. Ia sudah terlampau lelah menyesapi berbagai permainan Bagas yang meyakitkan bagi hati dan pikirannya. “Nothing. Tunggu aja bentar lagi forum sekolah angkat snapgram Kak Bagas ke permukaan, auto trending topic number one.” “Ah, Cendol. Harusnya lo chat Kak Bagas, bilang ke dia kalau lo cemburu atau apa, kek. Gereget, nih. Gue enggak ikhlas doi sama cewek lain.” “Apa hak gue, Agatha Chelsea?” tanya Chindai balik, merespons ocehan Chelsea yang lantas terdiam beberapa saat. “Intinya, besok d-day pembekalan, pikirin apa yang kalian tampilkan.” “Lo begini malah ketahuan beut cemburunya, Ndai,” Marsha terkekeh pelan sebab Chindai menanggapi ucapannya dengan dengkusan dan sama sekali tidak menyanggah. “By the way, kemungkinan besok Kak Bagas termasuk juri yang menilai kita.” Dan mau tak mau, Chindai harus siap. *** Tentu penampilan sempurna. Seluruh pasang mata menghayati permainan violin Chindai dengan membawakan lagu Fur Elise. Para penilai yang terdiri atas Cakka, Debo, serta Rio nyaris terlelap di kursi masing-masing. Di akhir penampilan, Chindai menunduk sopan dengan alat musik masih terpegang erat oleh tangannya. Hal itu sukses memicu Bagas mendengkus gondok. Menurutnya, Chindai paham betul mengambil perhatian khalayak ramai. Bukan pertama kali, sehingga mudah akrab menyapa alumni ekstrakurikuler musik. Di awal-awal dulu, Chindai juga dengan natural menebar pesona. Belum apa-apa, saingan bertambah banyak setiap harinya. “That’s good, Girl.” Cakka bertepuk tangan, begitu juga Debo yang bersandar di bangku miliknya. “Di saat peserta lain kentara gugup, gue cukup bangga karena lo sama sekali enggak menunjukkan perasaan itu.” Chindai menunduk sopan, mensyukuri setitik sifat profesionalnya walau perhatian yang ditunjukkan Bagas seratus persen terarah padanya. “Terima kasih banyak, Kak. Chindai masih perlu belajar.” “Lo anggota favorit gue,” putus Debo selagi netranya berseri-seri. “Keren, kan, Kak?” “Pertahankan, Yo. Kalau begini, gue bisa aja kumpul tiap minggu.” Rio tergelak mendengar pujian berlebihan Debo. Mengabaikan kegeraman Bagas, ia hanya membuktikan Chindai patut disukai segala kalangan karena pembawaannya, bukan sekadar cari perhatian. “Modus lo bisa banget, Kak Debo.” “Terima kasih, Kak.” Diam-diam Chindai sungguh berniat pergi, tetapi pasti memperburuk image-nya. Ia tahu Rio pasti akan mempersulitnya. Meskipun berhasil menghindari Bagas selama tampil tadi, tetapi tidak begitu selesai. Tilikan menusuk Bagas mengacaukan titik fokus, padahal Chindai berusaha menutup pandangannya di sisi kiri. “Dek, pacaran, yuk!” Bagas termenung, masih dalam pemikiran perihal orang-orang yang masuk dalam kategori pengagum Chindai. Sesudah Alvin, Karel, Randa, Rio, bertambah Debo serta Cakka. Disebut apa rintangannya ini? “Gue juga mau. Lo pilih aja, ya, Dek ..., gue atau Debo?” tanya Cakka tidak kalah antusias. Tidak hanya dirinya, Rio dan Debo pun menunggu dengan sabar. “Apa ada pertanyaan lain, Kak?” “Gue barusan tanya.” “Kakak-kakak adalah alumni ekstrakurikuler musik,” jawab Chindai tak gentar. Rio terbahak-bahak memegang perut keramnya. Sepatutnya, Bagas yang sedang menahan amarah di sampingnya pun mengerti maksud tersirat adiknya itu. Dasar saja tidak peka. “Mundur alon-alon kalian, Kak. Ditolak bini kedua gue, tuh.” “Nikah muda, yuk, Dek!” Debo mengeluarkan jurus terakhir, serta-merta bibirnya mengulas senyum manis yang mampu membuat siapa pun tak berkutik. “Gimana, Dek? Gue siap lahir batin, nih.” “Banyak yang suka Kakak, tapi Chindai enggak.” “An—” “Kak, Michelle langsung panggil satu anggota lagi karena tersisa Ify.” Chindai menoleh ke ambang pintu, di mana baru saja Michelle muncul tiba-tiba dan meminta persetujuan. Cukup disyukuri, apalagi kini hadir pula Ify yang tersenyum hangat serta menyapa para juri yang terdiri dari Bagas, Rio, Debo, dan Cakka. “Mana?” “Selamat pagi, Kakak-kakak.” Rio berselebrasi seadanya walau mendapat toyoran Debo. Jiwa jailnya berkoar-koar, apalagi ekspresi Bagas seakan tinggal menunggu waktu yang tepat untuk meledak. “Nah, Kak, ini bini pertama gue sebelum Chindai.” Cakka manggut-manggut melihat Ify memegang alat musik yang tidak asing di depan papan tulis. “Memang tipe cewek lo pintar main gitar, ya, Yo?” “Sama violin, Kak.” Bagas berdeham, keras sekali. Kesabarannya di ujung tanduk dan dalam hati terus mengutuk Rio yang terlalu lancang. Kalau boleh, Bagas ingin melempar Rio ke sungai Musi agar dimakan hantu banyu. “Cukup, Ndai. Silakan balik ke ruangan sebelah.” “Belum selesai, Gas.” “Enggak ada yang perlu dibahas lagi, Kak.” Bagas menyanggah ucapan Cakka. “Inai, sana. Gue bilang balik!” Chindai bergeming, seketika kepalanya ingin pecah rasanya. Teguran Bagas tidak ayal merunyamkan suasana. “Bini kedua lo dibentak Bagas, Yo,” seru Debo saklek yang kontan menyebabkan Rio dan Cakka tertawa begitu keras. “Kita berdua berbagi, Kak.” “Gue enggak mau berbagi Chindai sama lo!” Bagas berujar seraya memandang tajam Rio, tidak peduli jika dehaman Cakka maupun Debo sebagai bentuk respons atas apa yang baru saja diucapkannya. “Ndai, lo nurut atau gue tarik?” Sekali lagi Chindai keblangsakan. Melihat Bagas melotot, ia bergegas memutar tubuh—bersiap meninggalkan Ify yang ganar menghadapi empat laki-laki bak boy band dan tengah bersitegang itu. “I love you, Chindai-ku Sayang.” Rio melangsungkan kiss bye, memicu erangan kekesalan Bagas yang nyaris saja menerjangnya. “I love you juga, Ify. Akur-akur, bini pertama dan bini kedua.” “Mati aja lo, Rio!” “Marah, Gas?” Kali ini, spontan Bagas menendang kursi yang diduduki Rio hingga terjatuh dan mengejutkan semua orang. Debo segera melerai, sementara Cakka menarik Rio kembali berdiri. Alih-alih membalas, sang korban justru tertawa menggelegar. “Santai, dong, Gas. Mending kalian bersaing sehat,” gumam Cakka memperingati, begitu pun tangannya menahan pergelangan Bagas yang terangkat ke udara karena amat emosi akibat penuturan Rio sebelumnya. “Gue enggak saingan sama siapa pun, Kak!” “Apa hak lo?” Kemudian, Bagas tergagap sebab interogasi Debo yang beberapa saat menatapnya tenang. Sisi egois Bagas tentu saja memberontak. “Lo boleh mengecap cewek sebagai kepemilikan, tapi enggak semena-mena juga. Lo enggak tahu kalau misal Chindai butuh kepastian.” “Jangan sok tahu, Kak.” “Apa wajar lo anggap Rio musuh?” “Kalian pikir sendiri. Rio dekat sama Ify dan Chindai pun diembat!” ujar Bagas menggebu-gebu. “Sebenarnya, gue juga suka Ify dan Chindai.” Cakka sempat-sempatnya bergurau, tentu sukses mendapatkan respons tilikan tajam Bagas. “Lagi pula, mereka cewek yang baik, pintar, berbakat, easy going—” “Setop puji-puji Chindai!” “Di kacamata gue, Rio memang cinta Ify dan sayang banget sama Chindai.” Debo bergerak menepuk pundak tegang Bagas. “But you have to know. Asal lo tahu, konsep cinta dan sayang berbeda.” “Bagas mana paham, Kak. Gue capek kasih kode. Enggak berpengalaman, ya, begitu,” tutur Rio meremehkan. Bagas menyerana sendiri, sedangkan Cakka mengajak Rio serta Debo nostalgia ke kantin. Pening yang mendera Bagas berkesinambungan kala notifikasi pesan seseorang menghiasi layar ponselnya. Bella Cendana | Sumpah, mending hapus snap lo. | Anjir, Bagas! | Lo tahu enggak, sih, nama dan muka gue terkenal seantero SMA lo?! Ceroboh, Bagas mengakui sikap jeleknya itu. Ia sejak dulu terlalu bodoh amat gosip bertebaran mengatasnamakannya. Namun, kini ia terpikir sesuatu. Astaga, jangan sampai Chindai—. “Kak, gue nebeng, ya? Please!” Dari tempat awalnya, Bagas masih mendengar jelas percakapan Rio dan Chindai yang terdengar di luar ruangan. Andai ia ada keberanian, mengiakan ajakan tersebut dan menggantikan keberuntungan kakak kelasnya itu. Nyatanya, Rio hanya diam mengamati siluet Chindai beraksi memelas pada Rio.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN