29. | Kita Ini Apa?

1985 Kata
“Waktu itu Marsha lagi ulang tahun, Kak Bagas. Sesuai kesepakatan persahabatan kami, intinya Chindai wajib menuruti permintaan. Jadi, tantangan Chindai ..., ya, bilang suka ke Kakak.” Bagas melongo di tempat sebelum dengan cepat berubah datar akibat fakta yang baru saja diungkap Chelsea. Gadis yang disukai Karel itu terlihat amat gugup diapit oleh dua sahabatnya yang lain. Leher Bagas refleks menggeleng tidak percaya. Sekejap apa yang dilakukannya beberapa hari ini terbayang kembali. Bagas nyaris mengumpat jika tak ditahannya sekuat tenaga, sehingga susah payah hanya erangan kejengkelan yang ditunjukkannya. “Kenapa enggak bilang dari awal?!” “M-maaf, Kak. Di sini Marsha yang salah.” Giliran Marsha menunjuk tangan dan menggigit bibirnya di bawah tilikan netra tajam Bagas. Memutuskan angkat suara tidak segampang pikiran, melainkan menyiksa batin. Namun, baik Chelsea, Marsha, serta Salma memutuskan membantu menuntaskan dramatisnya hubungan Bagas dan Chindai saat ini. Jika tidak ada inisiatif antara mereka, bisa dipastikan ego sepasang tersebut akan makin meruncing. “Sudah tahu enggak baik, masih dilakukan!” “Iya, Kak, maaf.” Bagas mengembuskan napasnya kuat, ingin marah pun sia-sia. Jemarinya kontan terkepal dalam usaha menahan diri. Sungguh, penyesalan memang selalu terjadi di akhir sebuah cerita. “Jadi, Chindai enggak punya rasa sama gue?” Dalam hati, Bagas lanjut mengutuk dirinya sendiri. Pertanyaan yang diajukannya bahkan lebih daripada refleks. d**a Bagas berdetak tak karuan—seakan ingin meledak saking gugupnya mendengar tanggapan para teman dekat Chindai tersebut. Ada harapan terselubung yang tidak ditunjukkan secara gamblang. Salma berdeham singkat, serta-merta menggaruk pelipisnya yang tak gagal. “Hem … kalau itu, sih, mesti ditanyakan ke orangnya, kan?” “Kenapa enggak kalian aja yang jawab?” “Kita enggak bisa, Kak,” gumam Chelsea pelan. “Kenapa?” “Bukan hak kita, Kak.” Seolah memang sudah direncanakan, ketiganya bergiliran meladeni Bagas yang secara pribadi tak mampu berbuat apa-apa. Ketimbang kian rumit, berlalu mungkin lebih baik. “Ka-kami … kami permisi, Kak.” Mau tak mau, Bagas mengangguk seiring kepergian Chelsea, Marsha, dan Salma yang meninggalkan banyak. Mengarah ke kekecewaan belaka, itulah yang mendominasi perasaan Bagas kini. Seharusnya, ia senang …, bukan malah egonya berkata sebaliknya. Menyukai si blue addict memang keren, tetapi … Bagas sadar jika terlalu berjibun pengagum lain yang terang-terangan. Ia sampai tidak tahu siapa saja yang ambil bagian berusaha merebut perhatian Chindai. Melihat dari kedatangannya di SMA Rajawali, tak tanggung-tanggung semua orang membicarakannya. Alvin, Karel, Randa, bahkan Rio berada di peringkat teratas. Bagas berpikir lesu selagi tubuhnya yang lunglai kembali duduk. Jika dirinya tidak ke kafe di malam panas itu, tak mengherankan Chindai dan Rio sudah berpacaran. Membayangkannya saja, Bagas sukses menggeram putus asa. Selanjutnya, ia tak tahun demi meninju dinding terdekat. “Cuma lo yang buat gue begini, Gloria Pandanayu Chindai! Sebenarnya, lo siapa?!” Kemudian, sekarang … di depan sana Bagas menangkap sesuatu yang tidak kalah memuakkan. Ia sengaja tak kumpul ekstrakurikuler musik, tetapi ternyata tetap disuguhi pemandangan tidak mengenakkan. Kegeraman Bagas menjadi-jadi, sementara kakinya sama sekali tidak tergerak untuk bangkit. Bagas merasakan sekujur tubuhnya terbakar. Dari ruangan OSIS yang langsung menghadap ke parkiran dalam SMA Rajawali, terpampang jelas bagaimana Chindai yang dituntun oleh Rio. Tak salah lagi jika keduanya berujung pulang bersama. Terlebih Rio dengan tenang menggandeng Chindai sedemikian rupa. Sialan sekali memang Rio! *** Jam istirahat kedua dimanfaatkan Chindai berkumpul dengan Rio, begitu pun Ify. Belum satu pun makanan dipesan karena niat awal hanyalah berbincang-bincang. Lebih tepatnya menggosipkan salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang sedang denial—siapa lagi jika bukan Nathaniel Bagas Saputra. Sebetulnya, Chindai sudah malas membahas sang kakak kelas yang beberapa hari terakhir seolah-olah tidak mengenalnya. Ia ingin sekali menjadi tidak peduli. Tarik ulur yang terus dilakukan Bagas juga membuatnya muak sekali. “Gue bingung, Ndai. Lo dan Bagas rumit banget, astaga!” Rio memijat keningnya, tak kalah pening. Tersangka utama yang disalahkan Bagas betul-betul bukan permainan menyenangkan. Lebam di wajah Rio yang belum hilang adalah bukti. “Bocah banget. Giliran dibikin cemburu, ngajak berantem. Apa salahnya ngomong suka?” “Pengennya Chindai mengaku duluan,” tebak Ify spontan, lalu menyeringai ketika jemari Rio terulur mengacak-acak rambutnya.. “Bagas se-cemen itu ternyata, Fy. Enggak nyangka aja aku.” Chindai masih diam. Menyinggung tak gentle-nya Bagas yang nahasnya terkenal bijaksana di penjuru SMA Rajawali sungguh berbanding terbalik. Di sisi lain, Ify melirik Chindai yang tetap tenang bergeming. Rupanya, ide Rio tak berbuah hasil. Hanya tarikan napas teratur Chindai yang terdengar alami, selebihnya tidak seperti gadis cerewet kesayangan Rio. Ify sendiri tak tahu ingin berbuat apa sebab di sini sekadar menemani laki-laki di sampingnya. “Begini ternyata kalau lo galau, Dek.” Chindai mendesah saat Rio kembali terdengar mengajaknya berbicara. Ia melirik sekeliling, jarang-jarang ke kantin dan tak memesan bakso terenak versinya. Menyadari delik tajam para penggemar Bagas sepanjang hari, mood Chindai benar-benar anjlok, bahkan mengacaukan fokusnya ketika ujian. “Gue salah banget, ya, Kak, Fy?” “Kan, cuma tantangan. Kak Bagas aja baper tanpa cari tahu fact-nya.” Mengiringi anggukan demi menyetujui pendapat Ify, Rio memaksa menyuapi nasi goreng yang dipesannya ke mulut Chindai sebelum gadis itu kembali berkeluh-kesah. Ia yang memegang tanggung jawab besar terhadap Chindai tentu tidak akan membiarkan sesuatu terjadi lebih parah. “Malas ngunyah, Kak,” “Makan. Galau butuh energi.” Chindai menggeleng sekaligus merengek. Ia malah mengaitkan jemarinya dan Rio dalam usaha mencari ketenangan. Senyum tipis dihadiahkannya yang lantas dibalas oleh kakak angkatnya itu. “Kenyang, Kak.” “Tetap harus makan, Adekku Sayang. Gue suap, ya, dikit-dikit aja. Jangan begini, enggak baik buat kesehatan,” bujuk Rio sekali lagi Biar Chindai jelaskan. Ia jenuh dengan sikap kekanak-kanakan Bagas yang terus menjauh. Jangankan secara langsung dan tatap muka, di dunia maya Bagas terpantau menghindari interaksi. Entah disyukuri atau tidak sebab tak sekalian Chindai di-block. Sejenak Chindai hanya diam, menerima usapan lembut Rio, sementara kepalanya dibiarkan tenggelam di lipatan tangan. Ternyata begitu melelahkan ketika menghadapi yang namanya sakit hati. Jika tahu seperti ini, mungkin sejak awal Chindai memutuskan untuk tak mengacuhkan. Sayangnya, perasaan Chindai telanjur dalam. “Life must go on, Dek. Lo masih punya gue, kan?” Rio konstan mengusap penuh kasih sayang di sepanjang rambut Chindai yang terurai. “Kalau lo begini, gue sedih, lho. Entar gue tambah berantem sama Bagas … gimana?” “Jangan,” lirih Chindai terdengar serak. “Makanya senyum, dong, Cantik.” “Woi, penganut poligami!” “Kakak salah banget ngomong begitu. Kedengaran, kan, kayaknya!” Ify segera mendorong kursi yang didudukinya, diiringi sosok di penglihatannya mulai mendekat dengan tatapan yang menajam. “Kita pergi aja, deh. Yuk, ah!” Adapun Chindai yang refleks mengacak rambutnya hingga berantakan. Ia di tahap frustrasi jika terus seperti ini. Lagi pula, kapan Bagas sadar semua yang dipikirkannya tidaklah benar? “Gue urus Kak Bagas, kalian pulang duluan aja, Kak.” “Dek, gue enggak mau lo sendirian melawan gobloknya Bagas yang sudah tingkat dewa begitu.” Rio menggenggam Chindai dan Ify, lalu mengambil posisi berdiri—siap menghadapi seseorang yang menganggapnya musuh tanpa sebab. “Ikuti alur mainnya.” Tampak Bagas kian mendekat, tak lupa pandangan menyorot tajam. Syukurlah di sekitar tak terlalu ramai, bahkan terpampang hanya ada para penjual yang membereskan bekas pelanggan. Sebuah kesempatan besar untuk beradu mulut tanpa memancing atensi banyak orang. “Woi!” “Kenapa, Gas?” sahut Rio santai begitu Bagas sampai di hadapannya. Ia berupaya tidak terprovokasi dan mengikuti jejak laki-laki itu bersedekap di depan d**a. “Tumben ke kantin. Lo enggak pulang?” “Enggak usah banyak bacot! Lo benaran b******n, ya!” Rio terkekeh, alih-alih sakit hati. Nyatanya, mudah membuat Bagas salah paham. Sampai sekarang pun Rio tak tahu asal mula sang adik kelas menganggapnya memiliki perasaan lebih selayaknya laki-laki pada Chindai. Dipikir-pikir, untuk apa pula Bagas harus tahu, kan? Cengiran lebar khas Rio muncul seakan sapaan yang sengaja diperlihatkan. “Nih, perkenalkan. Bini pertama dan bini kedua gue akur banget.” Ungkapan menyebalkan Rio yang berbalut nada mengejek itu berhasil membuat Bagas makin meradang. Ia kenyir meladeni, tetapi memilih menahan. Kemudian, Bagas beralih menghadap Chindai yang sama sekali tak melihatnya, melainkan terkesan tegak berlindung di belakang tubuh Rio. “Inai.” “Iya, Kak?” Bagas susah payah mengontrol diri. Ia sadar tingkahnya membingungkan, tetapi di sisi lain menganggap apa yang dilakukannya sedikit pun tidak salah. “Jauh-jauh dari Rio, Inai. Demi kebaikan lo.” “Apa masalahnya sama lo, Gas?” tanya Rio tidak berjeda, dengan berani dirinya mengangkat leher tinggi-tinggi. “Lo enggak punya hak atur-atur hidup Chindai. Mau dia dekat gue, Mang Ghani, siapa pun … up to her, right?” “Inai,” panggil Bagas pelan nan mematikan, tidak peduli ocehan Rio yang betul adanya. Sikap buruknya lebih mendominasi, yang justru menampakkan cap buruk pada dirinya. Akan tetapi, Bagas tak lagi peduli. “Ikut gue mau?” “Enggak mau, Kak.” Bagas hendak menjangkau Chindai sebelum dengan cekatan Rio menghalanginya. Ia menggeram kesal, lalu berkata, “Dia sama gue, Yo!” “No way!” “Lo egois!” “Lo!” jawab Rio tak mau kalah. “Kak Bagas, jangan memancing keributan di sini.” Chindai menarik Rio yang ikut terbawa situasi dan kenyir meladeni Bagas. “Please, gue enggak mau diberitakan lagi yang macam-macam. Jadi, setop.” “Ndai, lo bela gue!” Tiba-tiba Bagas agak menjerit, melayangkan tuntutan. “Gue enggak bela siapa-siapa, Kak Bagas. Ini sesuai keinginan lo dan sekarang sudah gue kabulkan. Kenapa malah lo yang nahan lagi?” Chindai berpaling lagi seiring unek-unek yang diutarakannya. “Lo yang minta biar kita enggak kenal untuk beberapa waktu ke depan, kan?” “Ndai—” “Kita sebatas junior dan senior. Lo pikir lebih?” Napas Chindai seakan berhenti mengisi paru-parunya. Begitu sesak. Chindai juga menggigit sudut bibirnya. Ternyata berucap lebih menyesakkan daripada Bagas dahulu yang mengatakan. “Gue turuti mau Kakak. Kenapa sekarang lo marah?” “Jadi?” “Gue yang salah, Kak, bikin kita begini. Gue yang cari masalah dengan menuruti tantangan Marsha. Gue—” Bagas mencengkeram dagu Chindai dan mendekatkan wajah keduanya. Tak lupa ia mengeraskan geraham bertepatan gadis yang sekarang berada di bawah kuasanya ini berupaya menghindar. “Lo butuh kepastian, ha?” “A-apa?” “Kalau itu mau lo …, kapan-kapan aja.” “Kak, dilihat orang-orang. Nanti salah paham” Chindai berusaha keras menjaga jarak aman selagi Bagas kian menyentaknya melalui tatapan dan sentuhan kasar. Takut sekaligus ingin marah menjadi satu. “No problem. Me likey. Kalau bisa semua cowok yang suka sama lo, mundur. Gue egois? Iya, memang. I don’t like you around other guys.” “Lo kekang gue, Kak!” “Harus dengan apa lagi gue tunjukkan?” Bagas mengatur tarikan napas ketimbang akal sehatnya yang entah melayang ke mana. Ia sedikit pun tak mengindahkan Rio dan Ify yang masih di posisi. “Rio enggak baik. Lo pilih dia sama aja dimadu.” Gelak Chindai menyembur tanpa dihalau, terlebih ketika tidak sengaja menangkap gelengan kepala serta raut cengo kakak angkatnya yang ada di belakang Bagas. “Jadi, lo merasa lebih, Kak?” “Jelas,” titah Bagas kukuh. “Di berbagai bidang juga gue menang. Rio sekalipun enggak pernah dekat sama cewek, kecuali lo. Tambah si Ify juga, sih. Be carefully, gue enggak pengen lo kenapa-napa, Chindai.” Rio dan Ify perlahan meninggalkan. Hal tersebut nyaris membuat Chindai tambah putus asa. Kenyir mengungkap kejujuran, tetapi rasa tak etis membayang-bayangi. Toh, Ify anteng meladeni segala tuduhan yang mendera. Bagas cemburu atau semacamnya sudah pasti sekadar khayalan. Chindai yakin betul perasaannya bertepuk sebelah tangan. Di pihak lain, Bagas yakin seratus persen bahwa Rio menyukai Chindai, juga ada kemungkinan terbalaskan. Namun, ia tahu jika Ify yang mengagumi Rio merupakan tak lain halangan sendiri. Opini Bagas ini sempat disanggah Karel dan Randa, tetapi insting mengutarakan begitu. Ia tidak keliru, kan? “Inai, gue—” “Kak, kita ini apa?” Lantas Bagas mundur dua langkah, memandang Chindai yang tak berkedip setelah pengajuan pertanyaan yang tidak disangka-sangka. “Kita … ber-inai-an.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN