“Gas, lihat, Gas!”
Di perjalanan menuju kantin, Bagas mengedarkan mata sesuai saran Randa. Satu detik kemudian, ia membelalak dengan tangan mengepal siap memukul siapa pun yang dilihatnya. Sesuatu yang dianggap kesalahan besar sama sekali tidak dimaafkan. Bagas tak akan memberi ampun.
Bagaimana tidak kesal. Mengamati jelas secara langsung, Bagas tak paham alasan Rio dan Ify memadu tawa seakan dunia milik berdua. “Kurang ajar!”
“Tahan emosi, Gas. Ini sekolah, bukan area bebas merokok. Eh, area tinju maksud gue.” Karel menggaruk kulit kepalanya, gagal total melawak. Ia tahu berujung sia-sia meredam Bagas yang kapan saja bisa meledak, apalagi pemicunya jelas. “Ran, telunjuk lo enggak tepat waktu.”
“Sori, Rel, gue juga kaget.” Randa mawas diri, lalu mengangkat tangannya ke udara. “Well, mungkin mereka ada kerjaan bareng. Santai, dong, gue takut.”
“Kerjaan apa?” Napas Bagas memburu tak karuan. Ia berdecak karena pertanyaan yang diajukannya tidak mendapat jawaban akurat dari para sahabatnya. “Ify anak kelas sepuluh, Rio kelas dua belas. Apa lagi namanya kalau enggak pendekatan? Gue enggak masalah, tapi Chindai … gimana kalau dia lihat?”
“Chindai?” tanya Randa, diam-diam merutuki Bagas.
“Kan, gue sudah bilang. Rio dan Chindai saling suka!”
Karel berdeham singkat, bingung menyahut dengan hati yang kenyir menyadarkan diri Bagas. Laki-laki itu tidak mudah peka, sehingga memicu kekesalan. Namun, ia pun dibuat keblangsakan saat Bagas berlari … jangan ditanya ke arah mana.
“Rel, gimana?”
Mendengar permintaan pendapat Randa, Karel menggeleng. “Gue angkat tangan. Kita cuma harus susul sekarang juga.”
Randa mengangguk. Di setiap langkahnya, ia tahu jika beberapa siswa-siswi yang sadar akan segera terjadi pertengkaran, bergegas memenuhi satu titik. Adapun di depan sana Bagas tidak lagi mampu dikontrol. “Gas, astaga ... jangan gila!”
Di tengah lapangan basket. Tempat terbaik menyalurkan beban.
Satu pukulan, kena sasaran.
Dua pukulan, melukis merah kebiru-biruan.
Tak terelakkan, Ify berteriak kencang nan dramatis—terperanjat mengamati Rio terkapar tanpa perlawanan. Mungkin karena syok tiba-tiba diserang dari belakang. Sang pelaku juga tampak tidak memberi ampunan, terlampau bernafsu mematikan lawan.
“Kak Rio! Kak Bagas, setop!” jerit Ify sekali lagi dengan gemetar. Ia tak tahu apa-apa sekaligus bingung berbuat. Syukurlah ia menangkap kehadiran Randa yang segera membelit sekuat tenaga lengan Bagas, sedangkan Karel membantu Rio tegak biarpun sedikit sempoyongan.
“Gas, sudah!”
Namun, sekali lagi Bagas menghadiahi Rio kepalan ketiga, disusul isak tangis Ify.
“Gas, kasihan Ify! Berhenti!” Karel memekik dongkol sambil menendang tumit Bagas yang balas menoyornya. Netra marah sahabatnya itu tidak membuatnya takut, ia justru mengatai Bagas sangat bodoh hingga terdengar di sejumlah pasang telinga yang menyaksikan adegan siang hari ini.
Sekeliling dipenuhi siswa-siswi SMA Rajawali. Tontonan gratis tidak dibiarkan begitu saja. Anggota OSIS yang terkenal amat disiplin serta ketua umum ekstrakurikuler musik terlibat perkelahian sungguhlah momentum langka. Tidak sedikit bertaruh ketika Rio membalas tonjokan Bagas.
“Astagfirullah, ya Allah!” Randa meninju udara, hilang kesabaran. “Sumpah, ini bukan sekolah bokap nyokap kalian!”
Bertambah geram sebab pikiran negatif yang menyeruak di kepalanya beberapa hari belakangan, Bagas mencomot kerah kakak kelasnya tersebut dan lanjut memukul membabi buta. Kali ini, ia mendapatkan perlawanan. Rio tidak sekadar diam, melainkan turut menonjok Bagas tak kalah bertubi-tubi.
“b******n banget lo, Yo!”
“Lo enggak jelas, b*****t!”
Karel bergerak memisahkan paksa Bagas dan Rio. Memang tak ada cara lain yang lebih manusiawi. “Gue ketua OSIS. Berhenti gue bilang, ini sekolah!”
Bagas menendang Karel dan Randa agar membebaskannya. Dengan napas yang luar bisa berat, ia berucap, “Dengar, ya, Ify. Cowok kayak Rio enggak pantas lo suka!”
Ify kontan memandang Bagas takut-takut. Selain tidak mengerti, tatapan penuh amarah tersebut benar-benar menyeramkan. “Ma-maksud Kakak?”
Randa tergabas beralih ke sisi kanan Ify, sementara Rio yang berdesis kesakitan sembari memegang pelipis menyusul di samping kiri. Mereka berupaya menenangkan Ify yang tentu saja sedikit trauma.
“Ify ke kelas aja sekarang.”
“Enggak mau, Kak.” Ify menggeleng sedih, lalu mengulurkan tangan menyentuh pelipis merah Rio. “Kakak enggak apa-apa?” tanyanya khawatir.
“Ify masuk kelas diantar Karel, ya. Kakak enggak apa-apa, Bagas urusan Kakak.”
“Lo kurang ajar, Rio!” titah Bagas masih memenangkan ego tatkala Rio memilih tidak menanggapinya, alih-alih memperhatikan Ify sedemikian rupa. “Lo dekat sama Chindai sekaligus Ify. Begini mainan lo?”
“Chindai?” Ify menaikkan sebelah alis, mengartikan makna di balik seruan Bagas sampai sebuah terkaan berhasil ditelaahnya. “Kak Rio, kan—”
“Salah paham.” Rio merangkul Ify, membagi berat badannya sebelum menghala Bagas dengan tenang. “Pikiran lo pendek, Gas.”
“Ify, lo dimainin!”
“Kakak jangan asal tuduh,” ujar Ify, tentu saja membela Rio. Ia melihat sekali lagi Bagas yang berdecak sebal. “Kakak enggak tahu apa-apa.”
“Lo—”
“Cemburu?” Rio mengamati sekeliling yang sesak oleh umat manusia. “Ini sedikit pun masuk forum sekolah, berhadapan sama gue!” sambung Rio memperingati. “Jangan ada gosip-gosip!”
“Bubar!” sambung Karel sebagai ketua OSIS. Ia mengkoordinasi dibantu Randa. “Anak OSIS gesit, woi, jangan lengah!”
“Lo berengsek, Yo!” teriak Bagas tak tertahankan.
“Lo cemen!”
“Gimana nasib—”
“Kalau lo benar suka, kenapa enggak direbut aja?” potong Rio cepat, tidak gagal membuat Bagas menyorot tajam ke arahnya. “Lo enggak mungkin nyerah gara-gara gue, kan, Nathaniel Bagas Saputra?”
“Gue enggak suka siapa pun!”
Rio geleng-geleng kepala, mendadak pening oleh seruan Bagas yang dipastikan seratus persen adalah kebohongan besar. Dasar saja tidak pernah ingin mengaku. “Kalau sekarang gue bilang … gue cinta Ify dan sayang Chindai. Enggak masalah buat lo, kan, Gas? Iya, kan?”
“Lo gila. Chindai dan Ify ... pilih satu, woi, jangan rakus!”
“Berengsek gue atau lo?”
“Maksud lo?”
“Lo suka Chindai?”
“Iy—enggak!” Bagas mengumpat, lebih tepatnya memaki-maki kebodohannya. Ia tersadar perihal apa yang baru saja dilakukannya barusan teramat tak bisa diterima oleh akal sehat, apalagi di sekitar kini terdapat berbagai macam tatapan terfokus padanya. Bagas mengerang jengkel. “Lo … argh!”
“b**o!” cecar Rio meskipun pelipisnya berdenyut hingga membikin pening.
“Bagas, Rio, ke ruang BK sekarang juga!”
***
“Kak Bagas!” Chindai memanggil, sementara langkahnya menghampiri Bagas yang terduduk di kursinya. “Kakak enggak apa-apa, kan?”
Sejak mendengar bahwa Bagas dan Rio bertengkar hebat, di kelas Chindai tidak tenang, terlebih sedang menjalankan ujian. Simpang siur berita telah mengisi telinganya dan tidak satu pun tanggapan yang mampu diucapkan Chindai. Ketika selesai, ia segera mendatangi Bagas ke kelasnya sesuai arahan Randa.
Di sini Chindai sekarang berada. Setelah menutup pintu guna privasi, ia meringis memperhatikan lebam yang terlukis di muka tampan itu. Chelsea dan lainnya memilih menunggu di koridor ditemani Karel serta Randa yang tadi menghubunginya.
“Kenapa?”
“Are you okay?”
“Seperti yang lo lihat.” Bagas berujar jutek, mengalihkan pandangan agar tidak ketahuan Chindai. Entah kenapa, ia menjadi malu.
Sebelum melangkah kemari, Chindai lebih dahulu menemui Rio serta Ify di UKS untuk memastikan kejadian sebenarnya ketimbang mendengar gosip-gosip murahan walaupun benar katanya. Berita beredar menyebutkan Chindai merupakan titik awal apa yang pagi tadi terjadi.
Rio serta Ify menyerahkan Bagas pada Chindai. Perihal kesalahpahaman yang tidak juga dipahami Bagas sejak lama; menganggap Rio suka Chindai, begitu pun sebaliknya. Menyebalkan dan menggelikan.
“Gue bantu obati, ya, Kak.”
“Enggak perlu,” ucap Bagas masa bodoh.
“Kak, lo—”
“Gue sudah baikan sama Rio, tapi lo jangan dekat-dekat dia.”
Benar. Di ruang BK, Bagas dipaksa saling memaafkan dengan Rio walaupun di dalam hati belum ikhlas. Itu sekadar formalitas.
Chindai menghela napas. Ia memang diharuskan sabar dnegan sikap denial Bagas yang dalam kondisi parah ini. “Kak, gue—”
“Dengar kata gue, Inai.”
“Kak, lo enggak beri gue kesempatan ngomong!” Chindai mengurungkan niat duduk di sebelah Bagas, malah menatap tajam laki-laki di depannya itu—masih dalam posisi berdiri. “Terserah, gue capek!”
Seketika juga Bagas melunak. Ia refleks menarik pergelangan Chindai agar tidak betul-betul meninggalkannya. Sisi lain di jiwanya memberontak, tetapi Bagas tak peduli sementara, melainkan berharap Chindai kembali lemah lembut. “Gue kelepasan, maaf. Rio kelewat kurang ajar.”
“Gue cemas, pengen marah juga. Gue tadi enggak fokus ujian. Terus Ify kasihan sampai nangis ketakutan karena ulah lo, Kak.”
“Salah Rio, Ndai.”
“Lo, Kak.”
“Bela Rio terus!” Emosi Bagas sungguh tidak stabil sampai-sampai menggebrak meja dijadikannya pilihan. Namun, melihat Chindai tampak kembali berencana untuk menyisakannya seorang diri, ia kalang kabut menahan. “Ndai, please ….”
“Apa? Lo enggak butuh gue di sini, kan, Kak? Gue—”
“Don’t leave me. Maaf, gu-gue … gue—”
“Lo yang mau, Kak.” Chindai melepaskan genggaman Bagas, lalu memberi jarak sedikit. Ia benar-benar tidak suka dipermainkan dan laki-laki itu terus melakukannya. Menyuruh mendekat dan juga mengusirnya seenak jidat. Siapa pun akan kesal. Namun, rupanya Bagas terpantau tenang.
“Maaf.”
“Bodoh!”
Sebenarnya, Chindai meratapi hubungannya dan Bagas yang ada di fase saling melepaskan, tetapi takdir memastikan keduanya tetap di satu zona. Takdir memang tak ada yang tahu.
“Iya, gue bodoh.” Bagas mengalah, bahkan tersenyum ganar.
Arkian, Chindai telaten mengobati maha karya Rio. Sang empu pun tidak lebay, padahal dipikirnya akan merengek kesakitan. Kemulusan muka Bagas sirna kendati tak menghilangkan kadar ketampanan. Di setiap letak biru-biru yang ada disentuh Chindai dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Bagas sendiri asyik mengamati Chindai lekat-lekat sambil mengutuk diri sendiri yang tidak konsisten. Ia sadar tidak memiliki pendirian. Sering kali Bagas merasa ingin memiliki Chindai, tetapi tidak jarang juga memikirkan Rio yang juga memendam rasa sama pada gadis di depannya ini.
“Selesai,” gumam Chindai puas. Anak PMR waktu sekolah menengah pertama berguna menyembuhkan luka Bagas.
“Terima kasih, Inai,” gumam Bagas, nyaris dikatakan berbisik.
“Sama-sama, Kak.”
“Gimana kabar forum sekolah? Sepi banget, ya, Ndai?”
Oleh pertanyaan yang kentara meledek tersebut, Chindai memutar bola matanya, apalagi tawa Bagas kian kuat. “Ramai banget!”
“Cie, terkenal!”
“I’m shy now,” ungkap Chindai. Ia sama sekali belum kebal ditatap oleh semua orang layaknya kucing menemukan ikan segar, seperti di perjalanannya guna mencari Bagas tadi. Cukup memalukan. “Jangan ulangi lagi. Awas aja lo.”
“Gue pengen diberitakan lagi.” Bagas menyelimuti jari-jari Chindai di atas meja, meresapi rasa kulit mereka bersentuhan. “Berita terbaru, gue dan lo ber-inai-an.”
Baik. Sepandai-pandai Chindai mengolah diksi sebagai novelis terkenal di masa depan, tetap saja pilihan kata Bagas sulit diterka. Ia berdeham, berupaya tidak terlena meski sulit. “Sudah sakit, masih aja macam-macam!”
Dan Bagas terkekeh dibuatnya.