38. | Hilangnya Forum Sekolah

1791 Kata
Rumor di forum sekolah bersih total. Server down. Chindai terkejut mendengar kabar website paling terkenal di SMA Rajawali tidak berfungsi sama sekali. Sebuah kejadian langka yang amat menarik untuk dipertanyakan. Katanya, akan dibuka kembali besok pagi. Desas-desus di koridor pun memusingkan Chindai selama langkahnya ke kelas. Kali ini, Chindai terus menajamkan pendengarannya. “Kak Lintar bikin pengumuman darurat di media sosial jurnalis tahu. Semalam dia minta maaf, alasannya karena forum sekolah ada perbaikan.” “Tapi enggak se-easy itu. Jurnalis pasti ada alasan.” “Jadi, siapa yang membuat jurnalis jatuh?” “Jurnalis diancam, khususnya Kak Lintar dan Kak Dayat. Gue anggota sana, kan, makanya tahu. semua berita yang bakal di-posting minggu ini terpaksa ditarik.” “Gimana ceritanya?” “Kak Bagas kemaren ribut di stan, lho.” “Kok kebetulan?” “Bukan lagi kebetulan, astaga. Kak Bagas yang memaksa jurnalis bertekuk lutut sama OSIS karena dia sudah terlalu sering digosipkan. Katanya, sih, begitu.” Chelsea, Marsha, dan Salma saling berpandangan sebelum melirik Chindai, lalu sama-sama tersenyum ambigu. Tak hanya Rio yang menyerah terhadap persoalan rumit yang sering kali dibuat Bagas, mereka pula memutuskan mundur. Kesabaran Chindai patut diacungi jempol. “Sudahlah, Ndai. Jangan lo pikirin,” ujar Salma sambil mengusap lembut pundak Chindai yang tegang. “Mungkin bukan Kak Bagas penyebabnya. Kayak lo enggak tahu aja mulut anak-anak Rajawali yang kurang dididik.” “Tapi Kak Bagas bermasalah sama Kak Lintar dan Kak Dayat. Jelas di i********:, Kak Bagas disinggung mereka.” “Positive thinking, mungkin Kak Bagas mau melindungi kalian.” Giliran Marsha berpendapat. “Harusnya lo bersyukur.” “Gue sudah larang dia, Sha. Gue enggak paham sama sekali, deh, jalan pikiran Kak Bagas.” Chindai kewalahan, menempatkan diri di kursinya dan ikuti yang lain. Tak hanya itu, ia betul-betul tidak tahu ingin berbuat apa. “Kak Bagas, Ndai.” Chelsea yang pertama kali melihat alat komunikasi Chindai di meja berdering, segera mengopernya ke pemilik. “Cepat angkat. Siapa tahu doi berniat kasih tahu lo sesuatu." Akan tetapi, Chindai memutuskan mengabaikan. Dengan gerakan kontan, ia lantas menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan. Ingin terlelap saja rasanya. Namun, suara yang berasal dari ponselnya tak bisa diam, melainkan Bagas masih berusaha keras untuk menghubunginya. Entah apa yang diinginkan laki-laki itu. “Angkat, oi!” ujar Salma keki. Chindai tidak mengacuhkannya, lagi. “Auah!” Kemudian, nomor yang sama mengirim pesan. Marsha pun mengambil alih, serta-merta geleng-geleng kepala ketika membacanya. Nathaniel Bagas S | Kenapa enggak diangkat? | Sengaja? “Kasihan, lho, Ndai. Lo kenapa, sih, kayak anak kecil begini?” Marsha berdecak, ikut kesal. “Kalau begini, Kak Bagas tambah enggak akan berhenti. Jangan begini, ah. Minimal lo angkat dulu, nih.” Kemudian, barulah Chindai kembali mendongak. Ia menarik napas dalam-dalam dan akhirnya menerima benda persegi panjang yang diserahkan Chelsea. Mengabaikan ejekan yang diterima dari para sahabatnya, Chindai fokus pada telepon yang didapatnya lagi dari kontak Bagas. “Gue suka gaya doi. Pantang menyerah sebelum berhasil. Begini, kan, suka lihat cara dia. Berasa Chindai diperjuangkan Bagas,” komentar Salma yang diangguki yang lainnya. “Gila juga, ya, kita aja sudah jarang banget sebut Kak Bagas sebagai doi.” Di awalnya, ketiga sekawan itu merasa mustahilnya hubungan Bagas dan Chindai akan berlangsung dalam waktu dekat. Sekarang semua opini itu sirna. Ternyata baik Bagas maupun Chindai dilihat di berbagai sisi tetaplah sepadan. “Apa gue bilang, nasib Chindai bagus banget gara-gara tantangan gue.” Marsha berucap bangga. “Iya, Ndai, sama-sama. Gue senang bantu lo dekat sama doi.” “Berisik,” gumam Chindai judes. Selanjutnya, ia berdeham bertepatan dehaman lega di ujung sana terdengar. Nyaris gemetar Chindai memegang ponselnya menempel di telinga. “I-iya, Kak Bagas.” “Kenapa baru diangkat? Sengaja, hem?” “Enggak, Kak. Hem …, ada apa?” “Lagi di mana?” Nyaris saja Chindai tidak bisa bernapas. Ia mengepal kuat, sementara bibirnya tak tidak untuk tidak tersenyum. “Di kelas, Kak Bagas. Kenapa?” “Ke perpustakaan, gih. Gue tunggu.” “Buat apa, Kak?” “Ketemu gue.” Jeda sejenak diambil Bagas yang nyatanya tengah tertawa kecil. “Atau mau gue jemput, nih?” “Kak Bagas jangan macam-macam. Mau ngapain?” tanya Chindai memastikan. Ia sungguh tidak ingin terjebak apa pun. “Ke sini dulu makanya, biar gue jelasin apa pun yang mau lo tanyain. Buruan, Inai Sayang. Gue enggak main-main, nih.” Jelas, bukan hanya Chindai yang bereaksi. Chelsea, Marsha, dan Salma tak kalah syok. Nyaris saja mereka sama-sama menggebrak meja saking terkejutnya. Chindai menggigit bibir bawahnya dengan tangan yang telah keringat dingin. Jika saja Bagas tak lagi menyahutinya, ia pasti akan mematikan sambungan telepon tersebut dan tidak ingin membalasnya. “Kak, serius? “Iya, Chindai. Tinggal pilih, nih. Gue yang ke sana atau lo yang ke sini?” “Gu-gue aja.” “Bagus. Gue tunggu, ya.” “Iya.” Ketika akhirnya obrolan selesai dengan pamit Bagas yang manis, tubuh Chindai langsung melemas dan tergabas bersadar. Ia menatap ketiga sahabatnya yang masih dak tahu juga ingin mengatakan apa. d**a yang berdebar dan netra yang nyalang ke sekitar, Chindai bingung sekaligus terpacu adrenalin. “Lo ke perpustakaan sekarang, nih?” “Menurut kalian?” Ditanya balik oleh Chindai, Salma langsung mendengkus. “Gue rasa Kak Bagas buta suka sama Chindai. Jangan plinplan begini. Gih, ke sana kalau memang mau.” “Iya-iya, ini gu—” Ucapan Chindai mendadak dihentikan oleh notifikasi yang kembali mampir di alat komunikasi. Ketika dilihat, ternyata pesan berupa voice note yang dikirim oleh Bagas. “Inai, di mana? Hebat banget lo buat Nathaniel Bagas Saputra nunggu.” “Mampus, Ndai! Buruan!” Chindai terbirit-b***t membawa buku Sejarah Peminatan yang dipinjamnya dari perpustakaan minggu lalu, berpikir singkat untuk mengelabui Bagas dengan berbohong sedikit demi keselamatan diri. Chindai tersenyum tipis menyusun rencananya terhindar amukan yang pasti sedang dipikirkan Bagas juga di sana. Kemudian, sempat-sempatnya gadis itu marah balik. *** Dua puluh satu menit sebelum bel masuk. Perpustakaan dari ramai, tiba-tiba sepi, rusuh kembali, lalu melenggang lagi. Bagas terdiam sekian lama di pojokan ruangan sejuk yang jarang tampak dikunjungi, apalagi bagi anak-anak hedon. Bagas hanya yakin, tempat berbau buku seperti inilah merupakan rumah bagi Inai-nya. Puas mengamati sekeliling, dering ponsel yang berbunyi menarik perhatian Bagas. Ia segera menoleh ke benda tersebut di atas meja dan terkekeh geli. Selanjutnya, Bagas membuka balasan voice note Chindai. “Lo pikir SMA Rajawali sejengkal? Sabar, Nathaniel Bagas Saputra!” Gadis itu … benar-benar …. Bagas sangat tidak menyukai kegiatan tunggu-menunggu, siapa pun tahu. Karel, Randa, dan Rio sering diamuknya jika membuang waktu. Namun, mereka teman-teman Bagas, sedangkan Chindai sama sekali tak termasuk ke kategori tersebut. Inai-nya yang lugu pandai sekali mempermainkannya. Detik berikutnya, tiba-tiba Rio menelepon. Bagas yang akhir-akhir ini menghindar pun terpaksa mengangkat. Entah kenapa, ia jadi segan sendiri setelah mengetahui betul apa yang terjadi antara laki-laki itu dan Chindai. Bagas tidak tahu jika sifat kekanak-kanakannya kemarin begitu memalukan. “Lomba individu piano di SMA Garuda, Gas?” Begitulah kalimat pertama yang dilayangkan Rio di detik pertama Bagas dengan ikhlas menerima telepon Rio. “Cancel.” “Sumpah, Gas, gue sudah bilang ke Pak Adi lo bakal siap.” Seperti dugaan, Rio di ujung sana bersiap mengomel. “Kemaren aja lo ngotot pengen lomba.” “Kecuali bareng Chindai.” “Chindai enggak bisa main piano.” “Bagus, berarti gue juga enggak,” seru Bagas bodo amat dengan senyum tertahan. Ia tidak boleh senang terlebih dahulu. “Sumpah, gue jadi gedek banget sama lo, Gas!” “Sama. Gue juga malas dengar suara lo begini. Sudah, ya, bye!” Percayalah, Bagas memakai topeng. Pesan Rio menyebabkannya gugup sebab malu. Entah butuh beberapa waktu bagi Bagas untuk memecah teka-teki Rio, Ify, Karel, Randa, dan rombongan Chindai yang sarat makna. “Gue lagi suka sama cewek, junior kita.” “Si cantik ekstrakurikuler musik.” “Kalau lo memperhatikan gue pas kumpul, pasti tahu.” “Gas, Chindai cantik, kan?” Betapa bodohnya saat itu. Bagas sama sekali tak mengarahkan instingnya bahwa yang dimaksud Rio adalah Ify. Bodohnya, ia memaki-maki Rio penganut poligami sebab sampai menyatakan cinta pada Chindai. Tak lain salah paham besar. Rio pasti ingin menjadikan Ify pacarnya. Astaga, pipi Bagas memanas memikirkan kebodohan kala Chelsea, Marsha, serta Salma menemuinya. “Jadi, Chindai enggak punya rasa ke gue?” “Hem … kalau itu, sih, mesti ditanyakan ke orangnya, kan?” Ditambah ini …. “Teman-teman si Manis menargetkan lo ada alasannya. Enggak mungkin main tunjuk. Lo aja yang salah paham.” “Singkatnya, mereka suruh Chindai tembak lo karena dia mungkin juga suka sama lo. Nathaniel Bagas Saputra, otak lo enggak pernah berisi cinta, sekalinya ketemu … jadi stres begini!” Perkataan Karel dan Randa kemarin saat mereka kumpul benar-benar sebuah titik terang yang tidak disadarinya selama ini. Bagas akan sangat besar hati jika memang benar. Chindai menyukainya, kan? “Di kacamata gue, Rio memang cinta Ify dan sayang banget sama Chindai.” “But you have to know. Konsep cinta dan sayang berbeda.” “Bagas mana paham, Kak. Gue capek kasih kode terus sama dia, tapi enggak peka terus. Enggak berpengalaman begitu.” Tentu Rio mencintai Ify selayaknya laki-laki normal. Chindai … seorang kakak jelas menyayangi adiknya. Bagas bodoh! “Lo dan Chindai sambut Pak Adi di depan.” “Rio sudah mengabari Tante kalau Chindai diantar calon pacarnya.” Sebagian bukti Rio membantunya walaupun terselubung dan tak terang-terangan. Seharusnya, Bagas menyadari positif, bukan menuduh yang tidak-tidak. Ia benar-benar bodoh selama ini. “Kalau lo tanya gue dan Kak Rio … bercanda, Kak.” “Seriusnya itu ... gue enggak punya hubungan apa-apa sama Kak Rio.” Adapun Chindai yang tampaknya mencoba meyakinkan di banyak kesempatan, pun sabar meladeni ketidakpekaannya. Namun, tetap saja Bagas tidak pernah mengerti dan terus berpikir yang tidak-tidak. “Kita sebatas junior dan senior. Lo pikir lebih?” Demi Tuhan, Bagas menyesal. Chindai sekali mengenyahkannya dengan kalimat sama. Ia terlalu naif sampai akhirnya Chelsea dan Marsha menemuinya. “Suruh Rio tidur di rumah kita aja, papanya lagi keluar kota selama seminggu. Kalau bisa, hari Minggu Rio harus bawa Ify.” Di akhir kebingungannya, mama Chindai mengungkap kebenaran, tanpa sadar menarik Bagas ke realitas yang hari-hari sebelumnya telanjur emosi melihat keakraban Rio dan Chindai setiap kumpul ekstrakurikuler musik. Pantas saja. Kecemburuan Bagas pun dimanfaatkan. “Nih, perkenalkan. Bini pertama dan bini kedua gue akur banget.” Kesintingan Rio tak gagal memorak-porandakan akal sehat Bagas. Memukul sang senior di luar kendali, lebih daripada refleks. Ia sudah berusaha mengikhlaskan Chindai, tetapi Rio menganggap enteng kemundurannya. Rio dan Chindai tetangga! Rio menganggap Chindai adik! Setelah seluruhnya jelas, Bagas lega luar biasa. Ia memang tidak berpengalaman dalam percintaan. Love at first sight … entahlah, yang pasti Chindai memiliki segenap perasaannya sekarang. “Halo, Kak Nathaniel Bagas Saputra yang sok ganteng!” Iya, dia. Inai-nya yang lugu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN