37. | Perlawanan

1061 Kata
Tekad Bagas benar-benar kuat. Pagi-pagi buta, tepat lima belas menit sebelum bel jam pertama berbunyi, ia ke ruangan jurnalis didampingi Randa. Tanpa sepengetahuan Chindai, Bagas mendadak kehabisan interes karena merajalelanya gosip menyangkut mereka di forum sekolah. Sudah terlalu berlebih-lebihan, menyenggol kenyamanan. Randa yang mengikuti jejak Bagas diam-diam menghubungi Karel—selaku ketua OSIS. Namun, si sok sibuk itu tidak bisa karena sedang mengurus proposal. Sekali lagi Randa mendengkus. “Gas, jangan sembrono. Reputasi lo dipertaruhkan. Kan bisa nanti kita ngomong baik-baik.” “Bodoh amat reputasi, Ran. Mereka sudah kelewatan.” “Mending lo telepon Michelle aja.” “Dia enggak peduli.” “Terserah lo, Gas,” ucap Randa pada akhirnya. Bagas mengetuk pintu tempat para anggota jurnalis bernaung, sedangkan Randa pasrah di belakangnya. Tidak lama, sosok yang diketahui Bagas menjabat wakil, yaitu Dayat mempersilakannya masuk. Di sana, tanpa sengaja ia juga melihat Michelle yang tercekat dan segera menghampiri. “Bagas!” Ciri khas yang malas berbasa-basi, Bagas lantas menampilkan raut datar penuh intimidasi. Menurut penyelidikan Randa, Dayat dan Lintar—pemimpin jurnalis—pun mengincar Chindai. Iya, Inai-nya. Bertambahlah alasan Bagas mengamuk di sini, tentu yang terburuk adalah berkelahi kembali. “Di mana ketua kalian?!” “Dispensasi debat Bahasa Indonesia.” “Gue mau tanya lagi, siapa yang tulis semua berita tentang gue?” tanya Bagas to the point. “Bawa-bawa nama gue, memangnya sudah izin?” “Anggota. Ada masalah?” Mendengar jawaban santai bak di pantai yang dilayangkan Dayat, Bagas tentu saja kian meradang. “Jelas banget, woi, masalah! Nama gue bukan mainan yang bisa kalian pakai seenak jidat, dibikin gosip enggak mutu!” “Gas, jangan emosi.” Oleh seruan Michelle tersebut, Randa menyatukan kedua alisnya. Ia tidak paham maksud gadis itu tiba-tiba menyabarkan Bagas. Sama sekali tidak akan berpengaruh. Bagas memandang Michelle sejenak. Sekali lagi ia bertanya, “Siapa, Chell?” Di ekstrakurikuler musik, Michelle merupakan sekretaris kepercayaan Rio. Selain itu, di jurnalis, tak lain adalah bendahara dan salah satu penulis berita di forum sekolah. Tersangka terkuat, tetapi Bagas enggan menuduh sembarang. “Lupa, Gas. Berita siswa-siswi SMA Rajawali minggu ini bejibun. Setiap anggota kerja sama bikin beritanya.” “Lo tahu sendiri gue juga mantan jurnalis pas SMP, Chell. Jangan pikir gue tabu jalan main kalian ini. Gue cuma mau tau. Siapa?!” “Kak Lintar.” Dayat melirik tidak percaya kebohongan Michelle, seperti itulah yang ditangkap Bagas hingga sebuah pertanyaan menohok dilantarkannya, “Lintar? Lo yakin, Chell?” “Iya ... eng-enggak, Gas. Gue lupa.” “Kok lo gugup begitu? Santai, dong.” Randa sangat menyukai Michelle dua hari lalu. Namun, tampaknya kini ia akan jatuh muak. Mengikuti Bagas sampai sini tidak buruk guna melihat bagaimana sifat asli gadis paling diincar di SMA Rajawali tersebut. tidak baik memang jika melihat dari luar saja tanpa tahu dalamnya. Chindai tetap terbaik. “Gue butuh nomor ketua kalian. Tolong kasih. Kata lo Lintar yang bertanggung jawab atas semua ini, kan?” “Enggak, Gas. Jangan, gue mohon. Please.” “Atau jurnalis siap hancur beberapa hari ke depan?” Bagas melayangkan ancaman yang tentu saja akan dilakukannya. “Gue enggak main-main. Kalian terlalu banyak buat masalah dan sok tahu urusan siswa-siswi SMA Rajawali, bahkan berita buruk tentang OSIS kelewat batas. Licik!” “Bagas, lo berlebihan,” seru Dayat sesudah lama bergeming, tidak lupa senyum di bibir tebalnya. Laki-laki itu cukup keras kepala juga ternyata. “DI sini kita punya bagian tersendiri. Saling dukung, bukan menjatuhkan.” “Jurnalis atau OSIS yang menjatuhkan?” “Lo mempermasalahkan berita pribadi atau organisasi?” Bagas meludah ke sebelah kiri, mengotori ruangan pastel yang indah dipandang. Sebal bukan kepalang. “Enggak serakah, kan, gue bilang dua-duanya?” “Fungsi jurnalis begini dari zaman dahulu kala. Lazim. Kalau enggak terima, lo kenapa masuk SMA Rajawali?” Randa terkekeh pelan, sama sekali tidak menunjukkan ketakutan yang berarti. “Gue enggak masalah selagi beritanya benar!” “Gosip lebih menarik, bukan?” “Dayat, lo berdedikasi banget,” tutur Randa mengelabui. “Salut gue. Ternyata ada juga orang modal kayak lo” “Gimana pilihan yang gue kasih?” Bagas dengan tak kalah angkuh bersedekap di depan d**a. Menghadapi orang macam Dayat memang harus santai, jangan ikut terbawa emosi. Ini lebih mengesalkan ketimbang Rio. “Ketua enggak ada, wakil bertindak, kan. Jangan-jangan Lintar sengaja kalian sembunyikan?” “Jurnalis enggak seburuk itu!” Satu per satu personel jurnalis memilih keluar begitu Dayat menggeberak meja cukup kuat. Hingga akhirnya, tertinggal, ketua jurnalis beserta Michelle yang saat ini juga tengah meladeni Bagas dan Randa. “Pembelaan yang mudah diucapkan lewat mulut busuk lo.” Setelah berujar pada Dayat yang konstan mesem miring, Bagas menunjuk garang Michelle yang termenung di posisi. “Lo bagian jurnalis. Mengizinkan berita menyangkut lo menyebar ke sana-sini tanpa adanya kebenaran. Bagus buat lo, Chell?” “Gue enggak tahu apa-apa, Gas.” Randa menyimpulkan, urat malu Michelle terputus. “Di mata lo, gue bodoh?” “Enggak, Gas, tapinya ....” “Satu pun nama gue dan Chindai tertera lagi di forum sekolah, siap-siap jurnalis tinggal nama!” kata Bagas sungguh-sungguh. Kemudian, ia berbisik di telinga Dayat. “Jangan coba-coba mendekati Chindai. Sampaikan ke ketua lo. Sekali kalian bertindak jauh, berhadapan langsung sama gue.” “Gue enggak jamin.” “Boleh juga keberanian lo.” “Kenapa juga gue harus takut sama lo?” tanya Dayat berani. Kali ini, tidak ada lagi nada hangat abal-abal yang tadi ditunjukkannya. Bagas memang tidak mudah dilewati begitu saja, Dayat sadar betul. Laki-laki itu terlalu pandai untuk dihadapi. “Kalau lo mau bermasalah sama gue, cukup gue. Jangan bawa-bawa Chindai.” “Why not?” “Masalah, g****k! Chindai pacar gue!” seru Bagas menjadi-jadi. Urusan ucapannya benar atau tidak, biarlah nanti. Bagas telanjur emosi atas Dayat yang kini malah terkekeh pelan meresponsnya. Meskipun sadar omong kosongnya barusan, Bagas mengamininya di dalam hati. Setidaknya, hubungannya dan Chindai sudah membaik. Gadis itu berada di jangkauan Bagas saja rasanya lebih daripada cukup. “Terus gue harus bilang selamat, begitu?” Dayat kembali tertawa, bahkan menepuk pundak Bagas yang lantas menepisnya. “Gue enggak peduli. Kalau gue bilang suka sama Chindai—” “Dia enggak akan suka sama lo!” Randa yang sadar suasana makin memanas, memaksa Bagas berlalu. Ia tidak ingin sang sahabat makin jelek di mata orang lain. Prestasi Bagas bagus, jangan sampai rusak hanya karena memperebutkan seorang gadis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN