Perihal kebersamaan yang tersirat tanpa makna, begitu pula menikmati tawa dari dekat sebagaimana candu. Di mana serangkai kata tak dapat menggambarkan pasti perasaan.
***
“Gue heran banget, sumpah. Ini kenapa guru-guru enggak meliburkan, padahal belajar enggak?” omel Chindai seraya mendaratkan kepalanya yang sedikit nyeri di atas pergelangannya yang terlipat. Ucapannya yang disetujui para sahabat kian menyebabkan dirinya mendengkus kesal.
“Tahu begini gue enggak bakal sekolah. Ikut Mama arisan bini-bini tentara. Lebih berfaedah, banyak cogans calon perwira,” ucap Marsha dramatis, lalu menyusul Salma memutar kursi demi berhadapan dengan Chindai dan Chelsea.
“Lo kudu ingat Rafli, Sha,” ujar Chelsea setengah bercanda. Sudah biasa seperti ini. “Cukup gue playgirl sejati di antara kita, kalian jangan.”
“Gue, sih, senang sekolah. Kan jadi bisa ketemu doi terus.” Cengar-cengir Salma mendapat dengkus ejekan mematikan teman-temannya. “Lagi pula, ini acara angkatan Kak Rio. Mereka senang, kita menderita.”
Yang dimaksud Salma tak lain adalah persembahan sekolah dan OSIS bagi kelas dua belas yang akan mengakhiri masa putih abu-abu. Salah satu bagian demi mengisi album kenangan yang juga sudah dipersiapkan. Alhasil, banyak guru yang memilih tak mengajar dan menyebabkan siswa-siswi bebas berkeliaran.
“Gue yakin, guru menjerumuskan siswa-siswinya bergosip.”
“Otak lo enggak lepas dari gosip.”
Chelsea tak membalas tanggapan Chindai, justru bertos ria dengan Marsha, dan Salma yang memang telah menunggu saat-saat ini tiba.
“Iya, kita mau menggosipkan lo.”
“Gue aja terus.”
“Sejauh apa hubungan lo dan Kak Bagas sampai tiba-tiba pagi tadi bikin geger satu sekolah karena kalian pergi sekolah bareng, ha?” Marsha menyipitkan mata curiga ke arah Chindai yang melengos sangsi. “Setelah sukses minggat kumpul ekstrakurikuler musik dan bikin heboh semua, besok kalian mau apa lagi, heh?”
“Heboh banget, ya?”
“Bukan lagi, Kak Rio sama Fattah kewalahan gara-gara rumor lo dan Kak Bagas makin menjadi-jadi. Orang-orang tambah yakin kalian bakal jadi putra-putri sekolah. Ini mah jelas ketenaran Kak Michelle enggak ada apa-apanya.”
“Malah gue ketemu akun media sosial atas nama lo dan doi,” sambung Chelsea sembari menampakkan layar ponselnya.
Salma tercengang setengah mati. “BaDai, Bagas Chindai. Sebab badai tidak selalu menakutkan. Bagas dan Chindai membuktikan sisi lain bahwa cinta di antara badai amat memukau untuk diikuti kisahnya.”
“Enggak nyambung!” tutur Chindai, geli membaca rentetan kata-kata puitis yang terpajang di bio. “Siapa admin-nya, sih?”
“Gue lihat akun ini baru seminggu dan sudah seribu followers aja. Tinggal tunggu aja, tuh, akun minta diresmikan. Gila, the power of Bagas and Chindai!”
“Belum ada unggahan apa-apa, kan?”
“Belum, Ndai, tapi mulai sekarang lo harus banget buat hati-hati karena pasti akan banyak paparazi membuntuti lo. Hati-hati.”
“Guys, gue salah enggak … berharap sama Kak Bagas?” tanya Chindai tiba-tiba tanpa menanggapi peringatan Salma. Ia mengernyih sesudahnya menghela napas sekali. Lagi pula, Chindai tidak pernah terbayang akan seperti ini.
“Bagas suka Chindai, Tante.”
Cindai selalu gemetar terbayang satu kalimat bermakna itu.
“Marah karena lo bela angkatan kita, diajak mabal nyaris setiap kumpul, perhatian yang mengalir begitu aja. Rasanya tabu kalau cuma iseng. Jadi, gue setuju Kak Bagas menaruh perasaan sama lo,” tutur Chelsea berkomentar.
Marsha dan Salma mengangguk setuju.
“Silakan kalau Chindai juga suka Nak Bagas.”
Jawabannya, tentu saja Chindai suka Bagas, jauh sebelum hari ini.
“Semua orang sadar kedekatan kalian lebih sekadar junior-senior beberapa waktu belakangan, bahkan Kak Bagas sampai pernah ajak lo jalan bareng, kan. Enggak lazim, Ndai, kalau enggak ada apa-apa. Setidaknya, sekarang lo boleh percaya diri karena … iya …, dia suka sama lo. Kayaknya,” lanjut Marsha diiringi anggukan lainnya.
Chindai belum bersuara. Pada akhirnya, kedatangan Alvin dan teriakan hebohnya berhasil membuat Salma meradang, hampir menampar wajah yang tersuguh tampan itu. Laki-laki itu memang selalu tidak gagal berulah, apalagi cengiran jail yang membuat siapa pun bisa berdecak.
“Heyyo, my best friend rich check!”
“Maksud lo apaan?!”
Alvin menggeleng, lalu berdeham begitu menatap sebentar Marsha yang barusan mengajukan pertanyaan. Kemudian, ia beralih ke sosok perempuan lain yang sejak tadi melihatnya tanpa menyapa balik. Iya, ada tekad kuat andai saja Chindai sadar. “Ndai, kantin bareng, yuk.”
“Ngapain?”
“Ada yang mau gue bicarakan.”
“Di sini, kan, bisa.” Marsha kembali menyahut. Jika pun bisa, dirinya ingin sekali menghilangkan Alvin dari muka bumi. “Lo jangan macam-macam, ya. Kita lagi diskusi ala cewek, penting.”
“Gue mau ajak Chindai doang.”
“Enggak. Lo pasti punya niat jahat, kan?” tuduh Chelsea.
“Ayo, Ndai. Mau enggak?” Alvin tak mengacuhkan protes yang lain, tetap tenang menunggu sampai Chindai mengangguk tanpa pemaksaan.
“Ya sudah, ayo.”
***
Langkah Bagas terhenti sedetik pandangannya jatuh sosok Chindai yang duduk di salah satu kursi di pojok kantin. Bila gadis itu menoleh ke kiri sebentar saja, keberadaan Bagas bisa dijangkau dengan muda. Sayangnya, Chindai tampak santai walau diselimuti hening bersama ...
Alvin?
Tentu Bagas tidak salah lihat. Kedua insan yang diketahuinya sebagai teman satu kelas itu berhadapan. Selain itu, mendadak Bagas teringat fakta bahwa … kemungkinan besar Alvin menyukai Inai-nya. Ya, benar. Ia tidak pernah lupa jika pernah lebih dahulu memperingati Chindai tempo hari.
Sekarang, Bagas berharap ketakutannya tidak terjadi.
“Lo kenapa diam di sini, Gas?”
Netra Bagas tersirat kecurigaan begitu mendalam. Ia menggeleng saat pundaknya ditepuk Karel yang sejak tadi di sampingnya. “Inai gue sama Alvin, makanya pengen tonjok orang. Apa cuma gue yang merasa something?”
“Mungkin penting, urusan satu kelas. Jangan negative thinking,” kata Karel bijak. Saat-saat seperti ini, jiwanya sebagai pemimpin terasa.
Keramaian kantin tampaknya sama sekali tak berpengaruh bagi dua insan tersebut, terlebih Chindai yang dari sananya memang sudah cuek bebek. Sebenarnya, ia heran sebab helaan napas panjang Alvin mengusiknya. “Lo kenapa, Vin?”
“Sebelumnya, lo mau pesan apa?”
“Enggak usah.”
“Apa boleh gue ngomong sesuatu?” Alvin menghirup napas ke sekian kali dan dehamannya terdengar gugup bukan main. “Tapi gue takut lo marah, Ndai.”
“Ngomong aja.”
Chindai yang aman sentosa menciutkan niat Alvin. Akan tetapi, ia menguatkan diri dengan bayangan tidak ada kesempatan jika melewati hari ini. Kedekatan Bagas dan Chindai mendorongnya. Setidaknya, gadis itu harus tahu.
“Enggak jadi?”
Alvin mengerjap hingga tersenyum sumbang. “Lo jangan marah, apalagi menjauh karena enggak enak sama gue, ya?”
Chindai mengangguk ragu. “Ada apa?”
“Ndai, gue suka sama lo.”
Sunyi.
Kalimat yang lolos nan berani diutarakan Alvin di depan sana menimbulkan ketegangan Bagas di tempat. Ia mematung, lehernya bergelombang sebab susah payah menelan saliva. Rio pernah meski sekadar menjadikan Chindai bahan percobaan, itu pun Bagas sudah kesal minta ampun.
Kini terpatri nyata seseorang lain menembak Inai-nya.
Tebakan Bagas seratus persen tak salah jika Alvin benar-benar menyukai Chindai melebihi teman. Cobaan macam apa lagi ini?!
Karel tak kalah terperanjat. Seingatnya, ia dan Randa ikhlas si manis untuk Bagas, bukan orang lain. “Gas, lo ingat surat perjanjian enggak berantem di sekolah.”
“Gue enggak janji.”
Alvin sangat peka sekitar. Tatkala menengok, ia berusaha tak terkejut mengetahui kehadiran Bagas. Mengerang sebentar, Alvin mengutuk nafsi, di mana saingan terberat yang sesungguhnya disukai Chindai tidak boleh dilupakan.
“Oi, duo patung! Kalian belum pesan makanan?”
Sahutan tak berdosa Randa yang baru menyusul setelah pergi ke toilet menambah dramatis situasi. Untung saja banyak yang tidak peduli hingga Karel tidak perlu meminta bantuan OSIS membubarkan massa akibat ulah Randa.
Chindai spontan memutar badan dan pikirannya mendadak kosong. Lidahnya juga kelu berada di bawah tatapan menusuk Bagas beberapa langkah darinya. “Kak!”
Randa meneliti atensi Chindai dan Bagas bergilir—seakan manusia paling polos sealam semesta, sementara Karel menahan tawa di sebelah sahabat mereka satunya “Oi, ayo, makan nasi goreng!” kata Randa lagi, tanpa rasa bersalah.
“Pak Yusuf tutup.”
Alasan asal Bagas disyukuri karena memang benar, lalu dirinya berbalik tergesa-gesa menuju kelas. Ia memilih pengecut mengenyahkan Chindai di ambang fokus, serta Alvin yang risau ditangkap basah.
Randa dan Karel menyusul Bagas. Sebelum itu, keduanya mengedipkan sebelah mata pada Chindai. Namun, mantan gebetan mereka tetap saja bergeming.
“Tolong beri tahu gue, apa tema drama tadi?” Karel menyejajarkan langkah lebar tak bernyawa Bagas. “Kita harus cari judul paling pas, Ran.”
Randa bertepuk tangan. Aktingnya di kantin wajib diberi jempol karena berhasil menciptakan sebuah drama melankolis abal-abal. “Broken heart seorang senior,” lanjut Randa tertawa mengejek.
“Juniorku menyayat hatiku,” ucap Karel tak kalah sompral.
“Bacod pakai d!”
Teriakan Bagas mengakhiri terdengarnya perdebatan Bagas, Karel, dan Randa. Chindai sekali lagi mendesah, kejadian barusan di luar pemikirannya. Hanya satu yang diuntungkan, yakni kondisi kantin sepi sebab bel masuk sudah berbunyi.
“Maaf, Ndai.”
Chindai mesem kecil nan tipis, berusaha untuk menyiratkan baik-baik saja pada Alvin yang memandangnya khidmat. “Gu—”
“I know. Sejujurnya, gue juga siap ditolak.”
“Lo teman gue, Vin, orang yang gue kenal baik. Maaf, gue enggak bisa kalau lo pengin lebih,” gumam Chindai pelan
“Soalnya, lo suka Kak Bagas,” ucap Alvin tersimpul hambar.
“Enggak ada hubungannya sama dia.”
“Maaf, egois. Beri gue waktu untuk move on, Ndai.”
“Gue yang minta maaf.” Chindai menaruh telapak tangannya di atas jemari Alvin yang terasa dingin sama sepertinya. Kemudian, ia beranjak untuk meninggalkan laki-laki itu meskipun enggan. “Tetap jadi diri sendiri. Kita teman, selalu.”
Peringatan Bagas terjadi. Chindai tak menduga, satu-satunya harapan adalah rebah di kasur kesayangannya.