41. | Izin?

1503 Kata
“Pwit!” Sore hari, Bagas dan Chindai iseng ke ruang musik, di mana kumpul baru saja selesai. Namun, didapat justru kejailan Rio bersama Ify yang makin menjadi-jadi. Chindai masa bodoh meskipun tersipu, sedangkan Bagas melengos tak acuh. “Aduh, pasangan muda dimabuk cinta,” tutur Ify blak-blakan, dilanjut tawa puas Rio yang menjadi pihak hore. “Nempel terus kayak perangko kantor pos.” “Rio enggak pernah memperlakukan lo kayak orang pacaran, Fy?” Skakmat! Rio langsung menonjok rahang Bagas yang sontak membalas tanpa pikir panjang. “Sembarangan! Gue romantis, ya!” “Romantis ke semua cewek.” “Bacot, Gas!” “Hati-hati lo, Fy,” ujar Bagas pada Ify. “Hati-hati lo, Dek. Bagas ke cewek lain ... beh, gombal terus,” kata Rio balas menakut-nakuti Chindai. “Gugus dia, kan, cantik-cantik dulu. Digebet Bagas semua.” Begitu saja perbincangan mereka. Amburadul. “Enak aja lo, fitnah banget, sumpah! Kapan gue begitu, Yo?!” Bagas membalas tonjokan Rio cukup keras. “Jangan percaya, Ndai. Rio raja bohong.” “Gue Kakak lo, kan, Dek? Masa lo percaya orang baru daripada gue?” Chindai ogah-ogahan mengangguk jenuh. Ia memutuskan tak membela siapa pun daripada berakhir pusing sendiri. “Ribut lagi, gue musuhi kalian seminggu penuh.” Bagas menyengir lebar. “Sudah baikan, kok, Inai. Suer!” “Bohong!” Rio mengubah rautnya menjadi sedih. “Bagas ancam gue semalam, Dek. Kurang jahat apa lagi gebetan lo? Gue disiksa.” “Lebay banget lo, Yo. Gue jatuhnya kayak kekerasan dalam rumah tangga. Entar Chindai takut sama gue, lo tanggung jawab?” “Gue bersyukur Chindai marah sama lo.” “Fy, mending kita jalan. Enggak usah ketemu Mama, batalkan aja pulang bareng Kak Rio,” ujar Chindai sewot, membujuk Ify yang mengangguk saja. “Gue juga pusing, Ndai. Pulang aja pakai berantem. A—” “Jangan begitu.” Rio mencekal ringan pergelangan Ify. “Jahat banget, sih, Dek, merusak rencana gue. Lo juga, Gas, sama aja kayak gue pernah ganggu kalian.” “Sering kali!” “Dih. Lo seringnya cemburu.” “Bacod pakai d!” ujar Bagas geram. “Kak Rio, Ify, buruan. Keburu malam, entar Mama balik ke butik.” “Ayo, Fy!” Chindai urung melangkah kala Bagas menariknya. Rio dan Ify pula bertatapan sebelum mengangkat bahu masing-masing—menunggu drama selanjutnya. “Kenapa, Kak?” “Gue antar aja, enggak usah bareng mereka. Enggak baik bergaul sama Rio.” Masih aja cemburu! “Gue kenal Chindai dari orok, jauh sebelum lo datang ke kehidupan dia. Mana ada gue berpengaruh buruk. Yang ada lo, baru berapa bulan ke—” “Kak Rio, bacod pakai d!” Bagas terperanjat, begitu pun Rio serta Ify. Ucapan yang merupakan hak paten Bagas sejak lama mengejutkan bila keluar dari mulut Chindai. Mendadak lima menit berlalu tanpa kata. “Terbukti, Gas, pengaruh lo buruk buat adek gue,” titah Rio konservatif. “Dek, dengar gue. Lo anak baik-baik selama ini, Bagas enggak patut dicontoh.” “Inai.” Bagas menyipitkan matanya, terganggu akan mimik muka Chindai. “Lo enggak boleh contoh yang buruk. Gue jadi bersalah.” “Apa yang salah?” Inai-nya kembali lugu. “Ngomong yang baik-baik aja, dan pulang bareng gue. Please.” Chindai mendengkus, tetapi senyum di bibirnya berbanding terbalik. Bagas tak pernah gagal memberikan kebahagian meskipun dengan hal-hal kecil seperti ini. “Dasar, tukang paksa!” “Daripada sama Rio, lo bakal jadi kacang sekilo, Ndai.” Bagas masih berupaya membujuk. “Sana, Yo, lo kawin lari aja sama Ify. Jangan bawa Chindai di ajaran sesat lo yang mudah terbaca itu.” “Dikasih hati, minta jantung. Ayo, Ndai. Gue enggak ikhlas lo bareng Bagas.” “Kak Rio.” Ify mengerkah ujung jarinya karena mengingat sesuatu, serta-merta melirik Rio yang mengerutkan keningnya sengaja. “Bukannya Kakak tadi pagi bawa motor? Memangnya kita bonceng tiga?” Selanjutnya, Bagas tertawa penuh kemenangan seraya menjawat jemari Chindai. Ia puas mengejek Rio yang segera melayangkan pandangan geregetnya. Percaya diri Bagas subur melihat raut jengkel Rio. “Terbukti, kan, siapa yang kalah?” “Belum tentu Chindai mau pulang sama lo.” Chindai mendongak bertepatan Bagas menunduk. Diam-diam ide di kepalanya pun mencuat ingin dikabulkan. “Traktir ketoprak, ya. Lapar.” “Lo barusan makan dua mangkok bakso, lho.” “Oh. Ya sudah, gue pulang pakai ojek daring aja.” Bagas menghela napas panjang, lalu menutup telinga akan tawa menggelegar Rio dan Ify. “Iya, Inai yang kurus. Ayo, kita cari ketoprak!” *** Sehabis merampungkan satu porsi ketoprak di pinggir jalan, pertama kali Bagas akhirnya berkesempatan mengantar Chindai selamat sampai ke rumah. Motor Rio terparkir di bagasi, tampaknya Ify asyik mengobrol dengan Ayu. “Inai,” panggil Bagas sebelum Chindai mengetuk pintu. “Iya, Kak?” “Mau juga kayak Ify.” Chindai mengerjap, lagi dan lagi ekspetasinya tinggi meratapi kalimat Bagas. “Mau dikenalkan sebagai apa?” tanya Chindai, menyampingkan malu bila terkaan kepalanya salah. “Apa aja, asal jangan sebatas junior dan senior.” “Ba—” “Lho, ada Nak Bagas juga. Masuk, yuk, masuk!” Chindai mengerutkan kening melongok Ayu muncul dari belakangnya, terlihat memegang kantong di tangan kanan. Seketika ia melupakan percakapannya dan Bagas dan menegur wanita yang telah melahirkannya. “Mama dari mana?” “Seberang. Gara-gara Rio sering tidur di sini, semua bahan makanan di kulkas busuk. Ini Mama bawa yang masih bagus.” “Oh, macam, tuh.” “Ayo, masuk. Ngapain ngobrol di sini!” Ayu menghela Bagas ke ruang tamu yang telah diisi Rio serta Ify, sementara Chindai berdengkus dan menyusul. “Mama senang, rumah jadi ramai. Sayangnya, Papa dan Ayah kalian sibuk kerja.” “Lusa Papa dan Ayah pulang, Ma,” ujar Rio menenangkan. “Sabar, dong. Masa ditinggal seminggu oleh Papa sudah kangen.” “Mama lebay,” sambung Chindai seenak jidat. “Gimana Mama enggak kesal. Ini, lho, anaknya Mama sudah pada besar. Sama-sama bawa pacar ke rumah.” Chindai bungkam, Bagas melempar tatapan keki pada Rio, dan Ify salah tingkah. Kenyataannya, tak satu pun hubungan jelas yang mengikat dua pasang itu—setidaknya untuk sekarang. Bagas dan Rio sama-sama masih menggantung. “Ma, Adek berani memalak orang, lho,” kata Rio mencairkan tegangnya suasana. “Adek minta traktir Bagas. Marah, Ma, wajib!” “Enggak, Ma. Ih, Kak Rio!” “Rio benar, Ma.” Chindai yang pindah duduk di samping Rio membuat Bagas berdecak jengkel—tak terima. Namun, berhubung ada Ayu, ia berusaha kalem. Bayangan akan masa depan mengisi pikiran Bagas. Ia tahu, dirinya bukanlah orang yang hobi berbasa-basi. “Chindai merepotkan, Nak?” Ayu menepuk pundak Bagas yang spontan terpantau salah tingkah. “Maafkan anak Tante, ya.” “Enggak apa-apa, Tan. Yang penting Chindai senang.” “Pepet terus sampai dapat!” seru Rio gaduh. “Gimana, Ndai, kenyang?” “Kenyang, ditraktir Kak Bagas.” Padahal kenyang yang dimaksud Rio bukanlah itu. “Chindai, jangan dibiasakan.” Mendengar teguran sang mama, Chindai cemberut. “Iya, maaf. Lagian Kak Bagas yang paksa bayar.” “Gengsi atuh, Dek. Enggak mungkin jalan sama cowok, yang bayar cewek.” “Diam, Kak!” “Beginilah, Bagas, Ify, anak-anak Tante. Chindai itu cengeng banget. Pas kecil, manja sama Rio walaupun kayak kucing dan tikus. Dikit-dikit berantem, tapi pas salah satunya ada masalah, pasti langsung menguatkan satu sama lain. Mereka sudah kayak saudara kandung.” “Iya, Tante, Bagas paham.” Bagas tersenyum malu dihadapkan wajah berseri-seri Ayu yang tidak pernah pudar. Rasanya, ia sudah disambut secara baik di keluarga gadis itu meskipun baru mama Chindai. “Padahal pernah salah paham,” cibir Rio yang ditanggapi Ayu dengan lirikan mata. “Eh, enggak, Ma. Angin lewat doang. Rio mau antar Ify pulang, sudah malam. Giliran calon menantu laki-laki yang temani Mama.” Rio g****k kebangetan, maki Bagas dalam hati. “Gue larang lo tidur di sini malam ini, Mario Aditya!” Chindai melempar taplak meja ke arah Rio yang balas menjulurkan lidahnya. “Sembarangan aja kalau ngomong! Fitnah lo tanggung jawabkan di dunia!” “Permisi, Tante.” Ify menunduk sopan setelah menyalami mama angkat Rio itu. “Maaf enggak bisa lama-lama. Ify ada kerjaan soalnya.” “Iya, enggak apa-apa. Kapan-kapan jangan sungkan ajak Rio ke sini.” “Baik, Tante,” ujar Ify lembut. “Kak Bagas, Chindai, gue duluan.” Benar. Seharusnya, Bagas cukup mengatakan. Sudah sepatutnya Bagas jangan membuang waktu. Semestinya Bagas mengungkapkan atau memang dirinya b******n yang menambah kebodohan. “Tante, saya boleh jujur?” Hening di sekian detik. Semua pasang mata menunggu sesaat Ayu mengangguk antusias. Rio yang telah mengajak Ify pulang menundanya, penasaran kelanjutan ujaran Bagas. Di sisi lain, Chindai meringis dengan jantung berdetak tak tenang. “Kak Rio, lo enggak pulang?” tanya Chindai hati-hati, bermaksud menghalau rasa gugup diperhatikan saksama oleh Bagas. “Enggak. Sebentar lagi,” seru Rio, diam-diam menahan tawa. “Nak Bagas mau jujur apa?” Ayu kembali ke fokusnya, meladeni Bagas yang berubah buncah di posisi. “Bagas suka Chindai, sekalian minta izin, ya, Tante.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN