40. | I love you?

1137 Kata
“Lo ngapain suruh Chindai minggat, ha?! Jangan samain Chindai sama lo, deh, Gas! Lo tahu … dia, tuh, aset ekstrakurikuler musik!” “Chindai … cewek gue, Yo. Jadi, enggak ada embel-embel aset ekstrakurikuler musik atau apa pun itu,” jawab Bagas lugas, tak acuh jika Rio—orang yang menelepon dirinya itu—mengamuk di ujung sana. “Jangan mimpi lo. Pendekatan aja terus, kagak jadian!” “On the way kali. Tunggu aja.” “Ogah gue, Gas, punya adik ipar kayak lo. Belum apa-apa cemburunya sudah akut. Nanya enggak berani. Lemah lo!” Rupanya Rio benar-benar ingin membuat lawan bicaranya menjadi kesal. Tidak gagal memang. Terbukti, omongan laki-laki itu lantas menyinggung ego Bagas yang tak ubah seperti hendak meledak-ledak, tetapi sepatah kata pun tidak keluar dari mulutnya yang gatal memaki-maki Rio. “Chindai hari ini gue kasih izin sama lo, tapi jangan keseringan. Gue enggak mau anggota lain berpikiran macam-macam sampai anggap lo pilih kasih. Bagaimanapun lo bilangnya, jangan lupa kalau Chindai adalah anggota ekstrakurikuler musik juga.” “Hem.” “Ya sudah, gue tutup. Jagain adek gue!” Lagi-lagi Bagas berdeham sesaat Rio akhirnya memutuskan sambungan telepon. Tanpa diberitahu pun, ia tentu akan melindungi Chindai, apalagi sekarang makin jelas jalan yang sedang direncanakannya. Setelah pikir panjang tentang kebodohannya sejauh ini, Bagas lega dan merasa kian bebas bertindak. Menanti Chindai, Bagas mesti terbiasa dengan keterlambatan gadis itu kendati menyebalkan. Lagi pula, ia telanjur berharap banyak tetang hubungan mereka dan juga …, tampaknya Chindai menginginkan sama. Baiklah, ia sangat percaya diri. Bagas kini hanya mengharapkan yang terbaik. “Tuan putri dari pluto mendarat selamat di kantin SMA Rajawali!” “Hai, Tuan putri.” Bagas tersenyum sumringah kala Chindai menempati kursi berhadapan dengan dirinya. Kantin masih buka sebab jam ekstrakurikuler di siang hari selepas salat Jumat dan atensi Bagas dan Chindai tentu menarik bagi sejumlah pasang mata. Namun, kedua insan tersebut konstan cuek diamati semua orang yang berlalu lalang. “Sapaan basi,” pungkas Chindai satiris, lalu berteriak lantang sesudahnya, “Mang Ghani, bakso double-nya satu, ya!” “Oke, Chindai!” Bagas terperangah membayangkan nafsu makan Inai-nya itu. Tidak feminim sama sekali seperti dugaannya dan di mata Bagas begitu menggemaskan. Chindai betul-betul terkadang tidak tahu malu. “Kenapa harus di sini, sih, Kak?” Kening Bagas berkerut, menunggu Chindai melanjutkan pembicaraannya meski di dalam hati dirinya mengerti. Gadis itu pasti kesal diajak hal yang tidak benar, yaitu tak kumpul ekstrakurikuler musik. “Kan bisa ngobrolnya di ruang musik.” “Memangnya berani dilihat anggota lain?” Tahu pertanyaannya tidak mendapat jawaban karena Chindai terdiam, Bagas mendesah pelan. “Kalau lo mau—” “Iya-iya, di sini aja.” Senyum Bagas kian terbit. Saking gemasnya, tangannya terulur sendiri mencapai puncak kepala Chindai dan mengusapnya lembut. “Enggak apa-apa, ya. Di sana malah kalau mau ngobrol bakal bikin pusing.” “Memangnya mau ngomong apa?” “Ngomong apa aja. Kita bahas.” Chindai menyipitkan matanya, yang dibalas Bagas tidak kalah intens. Sontak saja pipinya bereaksi, lalu memilih berpaling agar aman. Mau selama apa pun, rasa gugup saat bersinggungan tatap seperti tadi selalu menghadirkan panas yang menjalar di saban aliran darahnya. Bagas tidak pernah gagal melakukan itu. “Untuk masalah jurnalis … jangan lo pikirkan.” “Tapi—” “Mereka pantas dapat itu, Ndai. Malah bersyukur aja benaran enggak dibubarkan sesuai aturan lama sekolah. Mereka, tuh, sudah terlalu parah mengusik privasi orang lain, termasuk gue dan lo,” jelas Bagas panjang kali lebar. “Meski gue enggak masalah asal itu menyangkut kita, tapi lama-lama bikin malas. Chindai termenung, bingung sendiri. “Lo … marah?” Kali ini, Chindai kontan menggeleng. “Gue enggak tahu harus gimana, Kak. Sejak awal, kadang gue pribadi enggak ngeh kalau enggak dikasi tahu Marsha dan lain-lain. Tiba-tiba aja gue ditunjukin bukti lagi trending topic di forum. Ini jurnalis akhirnya iya-iya aja sama omongan lo …, kenapa?” “Karena Karel turun tangan.” “Nah, kan, pasti Kak Karel. Gue paham kalau dia teman Kakak, pasti dibela mati-matian. Kan apa gue bi—” “OSIS aja bilang terima kasih ke gue, Karel apalagi. Organisasi dan persahabatan beda, Ndai,” ujar Bagas berupaya sabar. “Awalnya, gue memang enggak terima gosip menyangkut gue, Michelle, dan paling utama lo. Karel juga sempat melarang, tapi gue kekeh. Selagi gue enggak salah, kenapa mesti diam aja?” “Lo—” “Dengar dulu, Inai.” Chindai melipat tangan di depan d**a. “Iya, maaf. Silakan lanjut.” “Pas ke stan jurnalis, kebetulan ramai banget, ada Dayat—wakil—dan Michelle. Gue tanya siapa penulis berita menyangkut kita, enggak ada yang jujur. Mereka bahkan kayak saling tuduh, bukannya melindungi.” Bagas tersenyum lembut pada Chindai saja. “Mau tanya dulu enggak?” “Enggak, lanjut.” “Dari zaman baheula, jurnalis beberapa kali punya masalah sama OSIS. Rumor. Bodoh amatnya Karel hilang pas jurnalis enggak mau tanggung jawab masalah gue. Iya, dia juga bela gue sebagai teman dan tentu sebab dia suka lo. Karel mengungkit masalah lama-lama OSIS dan jurnalis. Begitulah. Jadi, gue enggak salah, Ndai.” “Kenapa forum sekolah sampai enggak berfungsi?” “Melalui wakilnya, gue kasih ketua mereka pilihan. Jurnalis bubar atau restart ulang forum sekolah. Hasilnya, mereka pilih yang kedua, padahal pilihan pertama lebih melegakan. Gue baik, kan?” Chindai langsung menggeleng dramatis. Tenggorokannya yang mendadak kering segera dibasahinya menggunakan jus jeruk yang baru saja sampai—dibelikan Bagas tadi sebelum kehadirannya. “Parah banget. Namanya lo pemerasan.” “Sudah baik Karel enggak laporan ke kepala sekolah,” kata Bagas puas yang saat ini terlihat sangat atas pencapaiannya. “Gue suka, tuh, pas Lintar dan Dayat mohon-mohon. Michelle sampai cari gue ke rumah, Ndai, biar menyelamatkan jurnalis.” “Awas lagi kalau aneh-aneh.” “Iya, Inai, enggak lagi kalau mereka enggak macam-macam.” Selanjutnya, Bagas tutup mulut begitu bakso Chindai sampai di depan mata gadis itu. Senyum manis yang selalu terpatri di bibir tipis itu memanjakan penglihatan. “Terima kasih, mamang terbaik! Love you, Mang!” Kemudian, sesaat Bagas tersentak serta merta memukul pelan d**a sendiri, tangan yang satu lagi tergerak menjitak dahi Chindai dan setengah menggeram sebal. Dadanya tidak kalah bertalu-talu atas pendengarannya beberapa saat lalu. “Kak Bagas, apa-apaan?!” Chindai tentu memprotes di detik pertama Mang Ghani pamit dari hadapannya setelah menanggapi ungkapan terima kasihnya.. “Hati-hati kalau ngomong. Jangan sembarangan.” “Kenapa, sih? Ada yang salah?” “Apa maksudnya bilang begitu ke Mang Ghani?” Chindai mencelupkan satu sendok cabe ke bakso, balik mengamati serius Bagas yang menunggunya berbicara. “Kenapa?” “Ngomong I love you, i—” “I love you too, Kak.” Jadi …, mulai sat ini … pikirkan bagaimana satu jam berjalan seperti satu detik. Kemudian, berdoa dimulai. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN