26. | Special Part for RaSha

1266 Kata
Rafli Rifandy sangat tahu dan mengerti, guru baru di SMA Rajawali yang baru datang tadi pagi dan kebetulan mengajar kelas sepuluh merupakan satu dari sekian ranjau yang sengaja ditaruh agar dapat memisahkannya dengan Marsha Suciara, sang kekasih sejak satu tahun terakhir. Kejadian tadi pagi, contohnya. Pandangan itu terkesan sinis ketika Rafli kepergok membantu Marsha sehabis terjauh tepat di koridor gedung kelas sepuluh sebab mencari keberadaan Chindai dan lainnya. Di situ ia harus menghadapi salah satu gurunya yang lebih dari seorang pengajar. “Saya tidak menyangka di sekolah ini anak-anaknya pacaran sampai pegang-pegangan tangan begini.” “Pak, teman saya jatuh. Masa mesti saya diamkan begitu aja?” jawab Rafli tanpa gentar meski tebakannya di dalam hati makin kuat. Lagi pula, tolong-menolong adalah hal wajib antar sesama manusia. Kemudian, Rafli tetap menarik Marsha hingga berdiri pelan-pelan. “Sakit, Sha?” “Enggak, kok, Raf. Terima kasih, ya.” “Marsha, ikut saya ke ruangan. Kamu bagikan modul pembelajaran ke depan ke teman-teman sekelasmu.” Andre Finley, bule keturunan Skotlandia yang sudah dipastikan kaya raya dan berada di puncak rantai makanan. Rasanya aneh jika Andre benar-benar berdedikasi di perkejaan sebagai guru honor SMA. Hal tersebut juga yang memotivasi Rafli mencari sesuatu sehingga bisa dijadikan persiapan. “Saya bukan perangkat kelas, Pak. Bukan tanggung jawab saya juga. Kalau Bapak mau, saya panggilkan ketua kelas atau sekretaris.” Bukan hanya Rafli yang kaget atas penolakan Marsha, melainkan Andre tidak menutupi raut jengkelnya. “Saya, kan, suruh kamu, Marsha.” “Maaf, saya benar-benar tidak bisa, Pak.” “Tapi, Marsha—” Tidak terduga Marsha justru menjawat Rafli erat-erat seolah tak mau ditinggalkan ataupun enggan meninggalkan. Sebenarnya, ia berusaha tidak mendengkus agar masih terkesan sopan. “Yuk, Raf, kita ke kantin aja. Aku mau gorengan, khususnya molen.” Mau tidak mau, senyum di bibir tipis Rafli merekah. Ia balas menyelimuti jemari dingin Marsha dan balas menatap Andre yang memandangnya dengan penuh cemoohan. “Permisi, Pak, teman saya ingin kami pergi dari sini.” “Cih. Teman?” “Iya. Karena bagi saya, teman memiliki banyak arti.” Fakta selanjutnya yang mencengangkan bagi Rafli adalah peran yang dimainkan sosok anyar di kehidupannya serta Marsha. Iya, guru baru di depan mereka sekarang ... bagaimana mungkin Marsha sudah dibayang-bayangi ke tahap serius bersama laki-laki yang umurnya terpaut jauh? Rafli mengetahui semuanya setelah menjadi detektif secara pribadi beberapa hari terakhir. Tak salah memanfaat hobi, apalagi ia sadar Marsha telah menebak benar bahwa dirinya dimata-matai sedemikian rupa. “Rafli!” Jeritan nyaring yang selalu sukses membuat tuli sejenak itu menyeruak di penjuru ruangan. Rafli berdecak sebal karena lamunannya dihentikan di tengah-tengah oleh sang pelaku. Namun, sayang sekali ia tak bisa marah. “Kamu keseringan main sama Chelsea, makanya teriak melulu.” Tuturan Rafli menghadirkan kekehan Marsha sebelum akhirnya menduduki kursi kosong di samping laki-laki itu dan tidak lupa mempertahankan senyumannya. “Kamu enggak ke kantin jam istirahat kedua ini, Raf?” “Malas,” jawab Rafli sekenanya. “Kamu ... kamu enggak apa-apa?” “Maksudnya?” “Ke sini. Nyamperin aku.” Marsha terdiam beberapa saat sebab bingung. Saat akhirnya paham, ia menelaah raut Rafli dengan sendu dan perasaan bersalah menyerbu dadanya. “Aku tadi lihat kamu dihukum Pak Andre. Dia cari-cari kesalahan kamu, ya?” Rafli menggeleng kendati kentara berdusta. “Salah aku tadi nyontek di Joshua.” “Mustahil.” “Kenapa kamu bilang begitu, Sha?” Tentu saja. Entah sudah hukum alam atau memang kenyataan;laki-laki yang dekat dengan Chelsea, Chindai, Marsha, dan Salma memiliki kelebihan di bidang akademik, membuat keempatnya insecure. Walau Rafli tidak seperti Bagas yang langganan juara umum, Fattah berada di tiga besar di kelas, begitu juga Difa. “Orang kayak kamu nyontek? Mustahil, Raf.” Rafli ... nilai plusnya di bidang informasi teknologi. Memiliki cita-cita hacker dan bekerja di perusahaan pusat Google. Jelas apa yang dilakukan sesuai dengan keinginan serta kemampuannya. “Sekali-kali nakal, Sha.” “Kenapa enggak jujur aja, sih?” Marsha mengerucutkan bibirnya, lalu mulai menunduk. Ia hanya merasa terlalu merepotkan Rafli selama ini, sering kali tidak enak hati menyerang walau laki-laki itu konstan sabar. “Ma-maaf, Raf.” “Sha?” “Maaf, aku bikin kamu selalu diancam oleh orang karena aku—yang bahkan aku sendiri enggak kenal.” Rafli mesem menenangkan. “It’s okay, Sa, kamu enggak salah sama sekali. Toh, aku enggak terganggu. Aku yang mesti minta maaf sama kamu ... karena aku, kamu sering berantem sama papimu.” “Aku bebas dekat sama siapa aja,” sanggah Marsha cepat. “Kecuali sama aku, Sha. Kamu dilarang.” “Rafli—” Rafli menggeleng dalih tersenyum lagi. Mungkin inilah saatnya memperjelas apa yang menjadi benang dari takdir keduanya sekarang. “Kalau memang seharusnya kita menjauh, kenapa enggak?” “Raf, kok, bilang begitu?” tanya Marsha tercekat, begitu pun netranya yang mulai tidak tahan mengeluarkan cairan bening. “Bahaya di kamu, Sha.” Dan aku, sambung Rafli di dalam hati. “Kamu pengen menyerah ... iya?” Tak seperti itu, Rafli segera menggeleng. Saat ini, ia butuh waktu mengembalikan seluruh yang terjadi—penyebab hubungannya dan Marsha turut terkena imbas. “Sha, listen to me. Yes, you and me are in relationship. But without us knowing it, there are people who must be involved.” Rafli berdeham singkat sebelum menguatkan diri untuk melanjutkan. “Ibarat timbangan, aku kanan dan kamu kirinya. Kalau beberapa pihak enggak kasih something sama rata, artinya enggak sinkron. Kamu ngerti, kan?” “You want break up, right?” Marsha kembali melayangkan pertanyaan yang tidak gagal memicunya mengepalkan tangan kuat-kuat. “No, tapi ... tapi apa kamu bisa menunggu, Sha? Nunggu aku, entah berapa pun lamanya yang aku sendiri enggak tahu?” Menurunkan ragu, Marsha mengangguk lemah. Ia nyaris menangis jika sejak tadi tidak ditahannya sekuat tenaga. “Iya, aku bakal nunggu kamu, kok.” Keputusan mendadak tanpa pikir panjang saat Marsha kini hadir di hadapannya, langsung disetujui Rafli secara pribadi juga. Ia harus berani mengambil risiko meski pengorbanannya sangat sulit. “Marsha.” “I-iya, Raf?” “Happy birthday, my first and last love.” *** Marsha Suciara Raf, kamu di mana? | Kenapa enggak sekolah? | Raf, kok ceklis terus? | P. | P. | Enggak dibalas beneran :). | Raf. | Is this what you meant yesterday? | Raf, please. | You leave me :). | Aku tunggu kamu. Titik. | “Masih enggak ada kabar, Sha?” Seiring bertanya, Salma lanjut meringis melihat rentetan kalimat yang dikirim Marsha pada Rafli tak kunjung terbalas. Ia memandang sendu sang sahabat dan mengusap lembut punggungnya. “Yang sabar, Ya.” “Dia ... hem, gue tanya ke anak yang bawa buku presensi keliling hari ini. Doi—eng, maksud gue Rafli—absen. Eh, izin, deng.” Chelsea menyahut, hanya saja apa yang diucapkannya berhasil membingungkan semua orang. “Yang benar mana, Chels?” Salma memijat keningnya, pusing bukan kepalang. “Cendol sok jaim belum maafin kita, malah nambah satu korban laki-laki.” “Sha!” panggil Chelsea setelahnya, yang lantas ditanggapi dehaman oleh Marsha yang masih menunduk. “Sans aja. Maybe Rafli, tuh, enggak niat hilang selama-lamanya dari lo. Mungkin ada yang diselesaikan dia dulu, enggak mau lo kepikiran. Begitu, coba lo positive thinking.” “Nah. Tumben benar omongan bule nyasar.” Chelsea mengumpat kala Salma tertawa mengejek. Akan tetapi, tetap saja Marsha asyik bergeming, pikirannya melayang ke tempo hari. “No, tapi ... tapi apa kamu bisa menunggu, Sha? Nunggu aku, entah berapa pun lamanya yang aku sendiri enggak tahu?” “Iya, aku bakal nunggu kamu, kok.” Pertanyaannya, apa Marsha benar-benar siap?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN