Dipastikan sulit melupakan kemarin. Namun, Chindai berupaya keras tidak berpikir yang aneh-aneh meski memutuskan untuk memusuhi Salma, Chelsea, serta Marsha dalam jangka waktu tertentu. Di setiap langkah Chindai terasa berat, di mana kepalanya penuh oleh bayang-bayang Bagas.
Kejengkelan Chindai menumpuk karena bangun kesiangan, tak sempat sarapan, dan orang tuanya yang kebetulan di luar kota. Semua permasalahannya menyebabkan Chindai terpaksa ke kantin sendirian tanpa teman-temannya. Lebih baik bila tak ingin penyakit mag-nya menyerang.
Memiliki insting kuat, Chindai lantas menegang saat Bagas terlihat berjalan berlawanan arah dengannya. Ekspresi datar itu menambah rasa tak enak hati, Chindai ganar bersikap profesional di tengah-tengah gejolak semu.
“Kak.”
Bukan sapaan atau semata-mata ulasan senyum. Chindai melongo, bak dihempaskan dari langit ketujuh. Bagas tidak memedulikannya!
Chindai sepenuhnya waras. Dengan napas yang memberat, ia menendang kerikil cukup besar di dekat kakinya, dan tidak gagal mengenai punggung Bagas. Chindai tak menoleransi bila niat baiknya dicampakkan, apalagi oleh orang yang disayanginya.
“Lo!”
“Contoh omongan gue tempo hari,” ucap Chindai, dengan meninggikan satu oktaf suaranya. “Senior yang sombong ditegur junior.”
Bagas mendekat dan berpijak di jarak—amat mudah bagi Chindai menyalurkan hasrat menjambak. Yang pasti, helaan napas laki-laki itu memporak-porandakan Chindai.
“Oh, ternyata lo sadar.” Sepinya koridor mendukung beradu argumen, Bagas berdesis pelan. “Kita sebatas junior dan senior. Lo pikir lebih?”
Jantung Chindai ibarat dihantam jatuh ke dasar perut. Ia meredam pasokan oksigen melongok senyum samar Bagas, dan memancing tangis tertahan. Kesedihan Chindai berlanjut saat Bagas berbalik meninggalkannya.
Cindai merogoh alat komunikasi, menurunkan ego mengirim pesan pada Chelsea. Bukan tidak menerima kenyataan, Chindai memerlukan istirahat menyembuhkan luka yang tidak tampak.
Gloria Pandanayu Chindai
Gue enggak enak badan. |
Mau izin pulang. |
***
Musim penghujan melanda, dan kecerobohan membuat Bagas lupa membawa jaket. Udara yang dingin menembus kulit, memaksanya berdiam sementara di kafe langganan. Bagas menyesap kopi hitam pahit yang dipesan di luar kebiasaannya, sedikit membutuhkan ketenangan kendati tidak berpengaruh apa-apa.
Singkat cerita, Bagas pulang setelah menghadiri acara ulang tahun teman kecilnya—Bella Cendana—lalu berakhir kehujanan di perjalanan dan basah kuyup. Motor Bagas terparkir sembarang, sementara dirinya langsung menghangatkan badan.
Bagas meniup kedua telapak tangannya, menggigil hebat. Namun, ia tetap membalas pesan Bella yang mengkhawatirkannya.
Bella Cendana
| Belum sampai?
Nathaniel Bagas S.
Belum, Bell. |
Bella Cendana
| Hati-hati.
Nathaniel Bagas S.
Iya. |
Selanjutnya, Bagas meletakkan ponselnya bertepatan ....
“Chindai ... yuk, pacaran.”
“Ha?”
Pandangan Bagas berkeliaran mencari sumber suara, dan atmosfer sekeliling menimbulkan pening hebat. Bagas yakin tidak salah dengar.
“Inai ... Rio?”
Syok bukan kepalang. Bagar berpikir sangsi tentang belum satu minggu Chindai menyatakan cinta padanya, dan pertunjukan di depan mata sekarang Rio sedang melakukan yang sama ke gadis itu secara langsung. Sebuah cobaan besar.
Dramatis … kenapa pendengaran Bagas tajam sekali? Ya Tuhan!
“Gimana, Ndai?”
“Manis dikit, Kak. Ulang!”
Chindai, lo—.
“Chindai, lo mau enggak pacaran?”
Geraham Bagas beradu, mewakili gondok yang menggebu-gebu. Inai-nya … tunggu, Bagas mendesah panjang. Kalau boleh jujur, ia kenyir menggeret Chindai kabur supaya Rio tak menemukan. Ide buruk tersebut bahkan bagus baginya.
“Ganti kosa katanya, Kak.”
“Chindai, mau enggak jadi pacar gue? Gu-gue … sumpah, Ndai, kapan diterimanya?” Rio menghentakkan kaki. “Gue keburu gugup duluan!”
Apa-apaan?
Bagas meremas kuat cangkir minumannya yang sudah tak berisi, mewanti-wanti tingkat pantasnya mengusik. Demi Dewa Zeus, Bagas tidak tahan!
“Ulang, Kak. Gue ogah terima kalau lo begitu.”
“Chindai, gue pengen kita lebih dari junior dan senior. Lo mau enggak jadi pacar gue?”
“I—”
“Rio, Chindai!”
Ekspresi bingung dua sosok yang diteriakinya mengundang berjuta teka-teki di otak Bagas. Ia bersikap santai sesaat berlari panjang dan dengan kurang ajar duduk mengisi bangku kosong di hadapan Rio. Sadar Chindai kaget sebabnya, Bagas tetap tidak peduli, justru mendelik ke arah Rio yang melongo.
“Apa lo, Yo?”
“Lo yang kenapa?” Rio berdecak heran.
“Gimana ceritanya anak gadis orang lo bawa larut malam begini?”
Wajar. Jam menunjukkan pukul delapan malam, alasan spontan yang disyukuri Bagas guna menginterogasi keakraban Rio dan Chindai.
“Usaha pendekatan, doakan,” tutur Rio bangsal. “Ada masalah, Gas?” sambungnya bertanya penuh makna.
“Diterima?” Mimik muka Bagas pucat pasi—takut jawaban yang diutarakan Rio tidak memuaskan ego. Namun, Bagas mendengus kala Rio terkekeh seolah bukan hal besar membahas hubungan yang bisa jadi backstreet.
“Belum.”
“Enggak usah, Ndai.”
Chindai mendongak sambil membasahi bibir bawahnya. Ia tidak mempunyai rencana bertemu Bagas selepas perdebatan beberapa hari lalu, bersyukur ekstrakurikuler musik belum ada pembicaraan mengarah ke kumpul dalam waktu dekat.
“Kenapa, Kak?”
“Lo Inai gue, paham?” ucap Bagas angkuh.
“Kak—”
“Gas, lo menghancurkan rencana gue!” Rio memotong sepatah kata Chindai, keki sekaligus senang. Cemburu yang ditunjukkan Bagas sayang dilewatkan.
“Lo nembak Chindai?”
“Menurut lo?”
“Gue enggak setuju,” tutur Bagas sebelum fokus bertanya alias mencari peluang memanipulasi pikiran Chindai. “Ya, kan, Inai?”
“Ha?”
“Pulang, yuk.”
“Sama Kak Rio,” ungkap Chindai jujur, yang ditanggapi langsung ole tilikan tak suka laki-laki di hadapannya.
“Ayo, Dek.” Rio mengerang berbarengan Bagas menepis tangannya yang terulur menjangkau Chindai. “Sumpah, lo ganggu banget. Pulang sana!”
“Kok lo marah ke gue?” pekik Bagas tak terima. “Ndai, lo pilih Rio?”
Chindai membelit jari-jarinya yang bertautan. “Gue pulang sendiri aja, Kak. Kalian juga hati-hati.”
“Jangan gila.” Bagas mencekal pergelangan Chindai, sementara Rio mengalah dan menunggu kelanjutan sembari duduk. “Gue antar, ya?”
Melihat Bagas memohon, Chindai hampir luluh. “Maaf, Kak.”
“Ndai—”
“Chindai pergi sama gue, juga pulangnya.” Rio berbicara dengan tenang, tak mengindahkan tatapan garang Bagas. “Gue bisa diamuk Pa—bokapnya kalau Chindai pulang sama lo.”
“Lo bawa cewek malam-malam begini aja sudah salah.”
“Bodoh amat, yang penting Chindai aman.”
“Lo pulang, Chindai bareng gue,” titah Bagas keras kepala.
“Gue!”
Chindai kelimpungan, bergegas membuka ponsel dan berharap bantuan cepat datang bila tidak Bagas dan Rio akan terus berdebat.
“Lo paksa Chindai, kan?”
“Mana ada, ya! Chindai aja lahir dan batin mau gue ajak jalan!” sahut Rio bangga. “Lo di sini yang enggak dianggap.”
“Bohong lo.”
Kak, silakan lanjut berantem. Gue pulang.” Chindai menyeringai sok polos, memungut tas selempang di atas meja. Namun, Bagas mencegah ke sekian kali. “Kak!”
“Sama siapa?”
“Dijemput Marsha dan Salma.”
“Tapi, Inai—”
“Malam ini gue nginap di rumah Chelsea, Kak,” tutur Chindai, bersiap kabur. Ia tersenyum melihat mobil Marsha terparkir di luar sana. “Sudah, ya, kakak-kakak jangan ribut melulu. Malu dilihat orang. Dah, sampai jumpa!”
Bagas berbalik setelah perginya Chindai tak terpantau lagi. Ia akan mengamuki Rio yang anteng menandaskan caramel macchiato andalannya. “Gara-gara lo, Rio!”
“Lo di sini ganggu doang.”
“Lo pikir gue ikhlas Chindai pacar lo? Enggak!”