24. | Ungkapan dari Hati Berbalut Tantangan

1021 Kata
Bel istirahat berbunyi sekitar lima belas menit lalu, tetapi sekolah seakan tak berpenghuni, bahkan di area kantin sekalipun gerai-gerai banyak tutup. Hujan deras mengguyur kota Bandung sepanjang pagi, sebagian siswa-siswi memilih berleha-leha di bawah selimut ketimbang menuntut ilmu. Empat sekawan itu dengan kurang kerjaan cuci mata, berharap—siapa tahu ada cogans kendati kosong melompong. Chindai hanya mengikuti Chelsea, Marsha, dan Salma. Ia tak berniat sekolah, lalu Marsha telanjur menjemput dan memaksa sehingga dirinya ada di sini. “Guys, berarti enggak ada kumpul ekstrakurikuler, dong?” tanya Chelsea memecah kesunyian. “Dan gue serasa murid paling rajin.” Ocehan Chelsea langsung disetujui lainnya. Dari sekian warga di kelas—tiga puluh enam—tersisa mereka. “Gue harus abadikan sepinya SMA Rajawali.” “Cari oppa-oppa kelas sebelas, yuk!” Chindai acuh tak acuh, sejenak berkelana di media sosial yang telah lama tak dibuka. Seringainya terlihat puas, berhasil menyembuhkan telinga dengan cover Bagas menyanyikan lagu Sudah milik Afgan. Jujur saja, perasaan Chindai mendadak tak enak, apalagi sesaat puncak kepalanya ditepuk Salma. “Ndai, doi!” Chindai berupaya masa bodoh, melainkan memasukkan wish list novel dari online shop langganan. Kalau bisa, ia mengharapkan kasur empuk, bukan meja dan kursi. “Enggak mungkin Kak Bagas rajin banget ke sekolah.” “Bahkan doi lebih rajin daripada lo,” sanggah Salma, melengos jenuh. “Ayo, lo jangan diam aja!” “Ogah,” gumam Chindai masih malas-malasan tanpa mengerti bahwa mungkin saja musibah sudah menantinya di depan sana. “Makanya lihat dulu,” perintah Chelsea sama jengkelnya. “Ingat, lo punya utang, khususnya ke Marsha.” Chindai mendongak, tak berkedip menangkap sosok Bagas di ambang pintu. Sambil termenung lama, serta merta tak menyanggah kata ‘tampan’ yang disematkan orang-orang. Memang Bagas kelewat menawan. Lagi pula, sejak kapan kakinya menginjak gedung kelas sebelas? “Ndai, gue enggak ikhlas Kak Bagas sama cewek lain, kecuali lo. Gue tunggu kabar baiknya. Ganteng banget doi lo!” ujar Salma memuji habis-habisan. “Lebay.” Marsha mendorong Chindai maju tiga langkah, antusias menjebak sahabatnya ke lingkaran kekesalan, apalagi di ujung koridor Bagas belum menyadari kehebohan yang diperbuat keempatnya. “Remember your dare?” “Yes, My Queen. But—” “Now!” “Tuh, Guys, kalian lihat sendiri. Kak Bagas sudah masuk. Besok aja, ya? Please.” Chindai melihat Bagas meninggalkan posisi semula, masih tak sadar kedatangannya. Sebuah keberuntungan sementara. “Novel Pride and Prejudice karya Jane Austen, langsung dibeli Mama gue dari Los Angeles. Besok gue kasih, kalau lo berhasil melakukan tantangan Marsha,” tambah Chelsea licik. “Just do it!” Chindai melotot sempurna, tiba-tiba semangat berkoar akibat perkataan Chelsea merasuki telinganya. Baru membayangkannya saja, ia seperti diajak ke langit ke tujuh. “Kalian tahu kelemahan gue.” *** Nada karaoke Senyummu Hanya Untukku milik Trisouls mengalun di ponsel, sedangkan sang pemilik memejamkan mata di sela-sela lengan terlipat. Bagas sendirian, makhluk sekelasnya tidak satu pun bersekolah akibat hujan. Sesungguhnya ada Karel, tetapi biasanya telah di bawah AC ruangan kebesarannya. Dipimpin Karel pula, rapat OSIS sedang gencar-gencarnya. Bagas tak tertinggal selalu pulang larut malam dalam rangka mempersiapkan acara perpisahan kelas dua belas. Bagas yang sangat berdedikasi di organisasi. Sepertinya, perkataan Chindai tempo hari mempengaruhinya. “Sabar!” “Buruan, Ndai!” Gerabak-gerubuk, perdebatan, dan derap kaki ramai membuat Bagas membuka netranya walaupun berat. Ia membenarkan duduknya, lalu mengernyit keheranan tatkala segerombolan gadis berdiri di hadapannya. “Hai, Kak.” Bagas mengenal mereka semua, apalagi gadis ... tidak luput dirinya mengamati lekat-lekat sosok Chindai. Sesaat ia lebih memilih mengabaikan sapaan hangat Chelsea, Marsha, dan Salma. Meski agak bingung, Bagas bertanya lembut sambil membetulkan kacamatanya. “Inai, kenapa?” “Kak.” Chindai menjawab nyaris berbisik. “Iya, kenapa?” “Boleh ngomong sesuatu?” Bagas mengangguk pelan, mensyukuri ketidakhadiran Karel dan Randa. Rezeki yang sayang untuk dibagi dan Bagas sedikit pun tak mengizinkan jiwa playboy teman-temannya datang. “Of course.” “Tapi jangan marah, ya, Kak,” cicit Chindai seraya memilin helai rambut, gugup berkepanjangan. Lututnya gemetar, tak kuat sekadar berpijak. “Ada apa?” Pandangan Bagas beralih ke belakang Chindai, bertanya lewat lirikan mematikan. Ia butuh penjelasan lebih panjang lagi. Chelsea langsung salah tingkah, pantatnya ditepuk Marsha agar cepat buka suara. “A-anu, Kak. Hem, kita cuma temani Chindai,” tutur Chelsea akhirnya. “Kita nunggu doang, Kak.” Salma cengengesan sekaligus merasa bersalah. “Silakan, Ndai,” sambung Marsha deduktif. Ia menarik Chelsea serta Salma untuk sedikit mundur. Tak ayal ketiganya juga dilanda gugup, makanya memilih kabur meski tidak benar-benar meninggalkan Chindai seorang diri. Makin diselimuti curiga sebab tidak ada yang berani bersuara setelahnya, Bagas memandang kembali Chindai yang konstan tak bersuara. “Inai ....” “I-iya, Kak.” Ke sekian kali berkesempatan ke kelas Bagas, tetapi kini detak jantung Chindai berkali-kali mendebarkan. Bila memungkinkan, ia akan menetapkan pingsan daripada memikirkan sebuah ungkapan dan rangkaian kata yang sekiranya pas disampaikan setelah berpikir semalaman. “Ndai, are you okay?” Teguran Bagas menggetarkan Chindai, bernapas kuat-kuat sampai d**a sesak. “Kakak enggak bakal marah, kan?” “Lo belum makan?” Bagas menggeram frustrasi. Demi Tuhan, pertanyaan teraneh yang pernah diajukannya. Rasanya, Bagas pengin menyeret Chindai dan menodong titah jujur saat itu juga. “Sudah, Kak.” “Lo kenapa, Inai?” “Kak,” gumam Chindai lambat, benar-benar takut. “Benaran jangan ngamuk sama gue, ya. Please ….” “Iya, Chindai. Memang kapan gue berani ngamuk sama lo? “Benaran enggak apa-apa?” Bagas kembali mengangguk, memastikan—lebih tepatnya. “Apa, hem?” “Gue suka sama Kakak.” Satu detik. Dua detik. Tiga detik. “Maaf, Kak!” Ini lebih dari nalar siapa pun. Bagas terperangah dengan mulut melebar syok. Ia tidak berkedip ketika Chindai berbalik, menabrak bahu Chelsea dan Salma, lalu terbirit-b***t meninggalkan tempat. Bagas menelan salivanya susah payah, tidak tahu entah sudah di anak tangga berapa Chindai berlari. Kejadian tersebut begitu cepat hingga tak mampu diolah otaknya. “Dari hati, lho, Kak, Chindai ngomongnya. He-he.” Sahutan salah satu sahabat Chindai berhasil membuyarkan lamunan Bagas. Dengan sopan, ketiganya berpamitan, memberi Bagas waktu menelaah situasi perihal Chindai yang menyinggung pembicaraan sensitif berbau perasaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN