Hari ketiga. Masih tidak menunjukkan tanda-tanda Chindai, Bagas kian sengsara. Satu cara mujarab bisa dilakukan, yakni mengecek keberadaan Chindai di kelas saat pelajaran berlangsung, tetapi tidak memungkinkan sebab guru selalu tepat waktu. Bagas terlanjur tak berminat untuk mengoceh, bahkan pesan yang dikirimnya pun sama sekali tidak dibuka. Chindai akhir-akhir ini memang sering menjahili habis-habisan, tetapi sekarang nyaris berlebihan. Pulang sekolah, Bagas memanfaatkan waktu dengan bolak-balik memainkan game online di ponsel. Adel yang sejak tadi berteriak kencang, tidak Bagas tanggapi walaupun bisa saja menanyakan keberadaan Chindai—adiknya tersebut kenal dekat dengan sang pacar. “Kak Bagas, halo! Udah meninggal, ya, Kak?” “Diam, Del!” “Kak!” Bagas mendengus jengkel. Omong-omon

