“Inai, tunggu!” “Apa?” Chindai mencak-mencak sembari berbalik karena Bagas berusaha menggapainya. “Katanya mau kenalan di dalam sana. Ya udah, silakan. Kenapa kabur?” “Kamu kenapa marah?” “Bukannya Kakak?” Bagas meredam emosi. “Aku gak marah, Inai,” ujarnya selembut mungkin. “Aku cuma gak suka kamu dipuji kayak gitu.” “Kayak anak kecil.” “Kamu juga kayak anak kecil ngambek begini,” ujar Bagas satiris, tetapi berhasil menghadirkan sirat kemurkaan gadis di hadapannya. “Aku serius, Ndai. Kamu kenapa marah-marah dan kabur?” “Aku gak marah!” ujar Chindai, menegakkan pendirian. “Kamu jangan cem—” “Aku gak cemburu!” “Siapa yang bilang kamu cemburu?” “Kamu!” Bagas menuntun Chindai ke kursi yang tersedia di sekitar. Untunglah Chindai belum menuruni tangga saat Bagas mengejar. Sepinya ko

