Di kantin yang berisik di jam pulang, Bagas membawa kabur Chindai dari kumpul ekstrakurikuler musik. Hampir satu minggu tidak bersua serta sibuk urusan masing-masing, Bagas meminta jatah hari ini. Chindai pun menyetujui. Lagi pula, siapa yang tidak rindu, sih? “Jadi, anggota resmi angkatan enam belas ada berapa?” tanya Bagas memulai hangat pembicaraan. “Lebih banyak dari angkatan kamu, ya?” “Hooh. Totalnya empat puluh, dan tujuh puluh persen laki-laki,” jawab Chindai. “Jarang-jarang, lho, cewek sedikit. Sejarah baru kalo kata Kak Rio. Tapi semuanya hebat main alat musik.” “Kelihatan ganjen cowok-cowoknya.” “Kayak kamu, ganjen dan gombal tiap hari.” Chindai memeletkan lidah, lalu Bagas mendelik. “Aku dengar, penggemar kamu banyak banget.” “Siapa?” “Tuh, si Dirga.” Nada bicara Bagas t

