Mobil yang Lindu kendarai tiba di basement gedung yang di mana butik menjadi tujuan mereka. Buka seatbelt sebelum buka pintu mobil, Vanya sempatkan melirik Lindu yang langsung mengecek ponselnya.
Angkat bahu tak peduli, memang hal itu sudah biasa terjadi. Sebagai orang sibuk, Vanya memaklumi Lindu yang sebentar-sebentar melihat ponsel, pastinya ada banyak pekerjaan pria itu.
"Butiknya di lantai dua 'kan, Mas?" Pertanyaan Vanya tak lekas Lindu jawab, pria itu masih sibuk mengetik di ponselnya. "Mas?" Dan Lindu masih juga sibuk dengan ponselnya.
"Mas!" Baru lah pria itu tersadar akan panggilannya. Mendengkus kesal, lalu Vanya berucap, "Ayo. Kerjaannya lanjut nanti aja." Tak sungkan Vanya rautkan kesal. Biarpun Vanya memaklumi kesibukan pria itu, tapi tak jarang Vanya kesal. Hanya saja ia selalu menahannya.
Jika nanti mereka sudah menikah, Vanya tak segan akan memarahi pria itu jika kebiasaannya masih dijalankan.
"Enggak lama 'kan?" tanya Lindu begitu mereka tiba di lift.
"Emang kenapa kalo lama?" tanya Vanya sedikit nyolot. Sebagai perempuan, pasti lama jika disuruh memilih. Apalagi ini memilih gaun di hari sakralnya, yang mana hari itu akan terjadi satu kali seumur hidup, Vanya tidak ingin menyesal di kemudian hari.
"Saya ada kerjaan, Vanya. Tapi nanti kamu lanjut sendiri aja, ya? Saya pulang duluan." Sembunyikan kepalan tangan sebagai lampiasan emosi, pun senyum Vanya paksakan terukir.
"Iya," jawabnya, menahan amarah yang tidak bisa dikeluarkan.
Kapan kamu mau kayak gini terus, Mas? Ujian menjelang nikah pun muncul. Keraguan bertandang akan pernikahannya dengan Lindu, mengingat karakter Lindu yang selalu memedulikan dirinya sendiri.
Selama mereka menjalani hubungan, tidak pernah Lindu mengerti dirinya, pria itu selalu ingin dimengerti, jika Vanya protes, maka Lindu akan menghilang sampai Vanya sendiri mengemis akan cintanya.
Kalo dipikir-pikir aku bego banget. Tersenyum miris mengingat kebodohannya hanya karena Lindu adalah pilihan orang tuanya.
"Halo. Vanya sama Lindu. Bener 'kan?" Designer yang menangani kostum pernikahan meteka menyapa ramah.
"Halo, Mbak. Seneng ketemu, Mbak." Tangan mereka saling bertaut dengan senyum sebagai formalitas, buat Vanya lagi-lagi harus abaikan perasaannya.
"Ayo. Kita diskusiin dulu." Baik Vanya maupun Lindu mengikuti designer tersebut. "Oh, iya. Saya tau kalian pasti udah tau nama saya, tapi saya mau kenalan dulu, nih, ya. Gak afdol kalo gak kenalan dulu." Designer tersebut uraikan tawa di akhir ucapannya, pun dengan Vanya dan Lindu sebagai respons formalitas saja.
"Saya Vhea. Seperti yang kalian tau, nanti Mbak Vanya kita ukur dulu badannya, begitu juga Mas Lindu. Tapi sebelum itu, Mbak Vanya sama Mas Lindu mau pakaian bahan apa, nih? Sebelum nanti kita bicarain modelnya." Sampai di tempat yang biasa Vhea sediakan untuk kliennya, mereka duduk di masing-masing sofa kecil.
"Kalo saya terserah Vanya aja," sahut Lindu, terlihat oleh Vanya tidak ada antusias pada pria itu.
Kata orang kalo mau nikah itu seneng, deg-degan, tapi aku liat-liat, kayaknya Mas Lindu enggak, deh. Pikiran Vanya hanyut pada beberapa tingkah Lindu yang lebih menyerahkan semua keperluan pernikahannya pada Vanya. Sampai akhir diskusi dengan Vhea pun, Lindu selalu sibuk dengan ponselnya, ia hanya menanggapi secara singkat saja.
"Kalo aku pake model ini bagus enggak, Mas?" Vanya tunjukkan model ball gown pada katalog yang Vhea berikan untuk contoh.
Sambil mengetik pada layar ponsel, Lindu melirik sekilas sebelum kembali fokus pada ponselnya. "Bagus." Jawaban singkat darinya membuat Vanya malu pada Vhea yang langsung merespon terkejut.
Bagaimana tidak? Pengantin mana yang cuek-bebek disaat hari penting seperti ini? Hanya Lindu seorang. Dan mungkin Lindu satu-satunya klien yang tidak memperlihatkan antusiasnya sama sekali.
"Kalo menurut saya. Mbak Vanya lebih cocok pake yang ini, nih. Mbak Vanya ini keliatan tegas, kalo Mbak pake model mermaid dress, nanti Mbak keliatan anggun, kalem." Dan yang Vhea sarankan berbeda jauh dengan penilaian Lindu.
Sementara Vanya biarkan Lindu sibuk dengan dunianya, Vanya melanjutkan diskusinya dengan Vhea, bersikap seolah tidak apa-apa jika Lindu demikian.
"Vanya. Saya pulang duluan, ya. Ada urusan urgent." Pria itu beranjak tiba-tiba saat Vanya mau mengukur tubuhnya.
"Tapi kita mau ukur badan. Bisa nanti aja enggak?" Vanya harap Lindu menghargai waktu penting ini. Agar pernikahan mereka sempurna, tentu membutuhkan effort yang sempurna juga. Namun, sepertinya Lindu tidak demikian.
"Saya percayakan sama kamu." Ponsel yang sedari tadi dipegang pun Lindu simpan di sakunya. "Mbak saya pamit, ya. Urusan selanjutnya, saya percayakan ke Vanya. Permisi."
"Tapi, Mas—" Vanya ingin mencegah Lindu. Namun, saat melihat kehadiran Vhea, Vanya menguntungkannya.
"Kita lanjutin aja, yuk, Mbak." Syukurnya Vhea diam saja. Mereka kembali bertindak seolah kepergian Lindu bukan lah masalah.
***
"Vanya." Langkah Vanya terhenti kala namanya dipanggil dari arah belakang. "Lo hobi banget jalan kaki perasaan, dah."
Dia lagi. Selain diabaikan Lindu, Vanya juga benci takdir yang selalu mempertemukannya dengan Erza, apalagi kondisinya selalu memprihatinkan, seakan semesta ingin Erza mengejeknya.
"Pake heels lagi." Pria itu berdecak usai melihat kondisi tumit kaki Vanya. "Buka heels-nya. Gue liat kaki lo luka, tuh."
"Apa peduli lo?" Vanya bertanya ketus. Dia sedang kesal karena Lindu merusak momen yang harusnya indah, dan sekarang Erza datang menambah kekesalannya.
"Kan gue manusia. Sesama manusia 'kan harus peduli." Pria itu beralasan. Biarpun Erza sudah tidak lagi memiliki perasaan pada Vanya, ia akan tetap meminta gadis itu membuka sepatunya sebab luka di tumitnya sudah parah. "Buka. Ayo. Ganti pake sendal gue." Erza menunduk, paksa Vanya untuk membuka heels-nya.
"Gak perlu." Langkahkan kaki ke belakang, hindari kepedulian Erza yang berhasil runtuhkan egonya.
"Buka, Vanya ... nanti infeksi." Pria itu meminta dengan lembut, yang tidak bisa Vanya tolak karena kedua tumitnya tidak bisa ia paksa dalam menahan sakit.
"Ini pake sendal gue." Pria itu lepaskan sendalnya sebelum Vanya kenakan.
"Terus lo gimana?" Vanya selipkan rambut yang halangi pandangannya.
"Lo peduli sama gue?" Pertanyaan Erza direspons dengkusan.
"Sesama manusia 'kan harus peduli," jawab Vanya, meniru jawaban Erza.
Tawa Erza hadir, kemudian ia menjawab, "Gampang." Pria itu bawa heels Vanya tanpa rasa malu. "Mau pulang 'kan?"
"Iya," jawab Vanya tanpa ragu.
"Sama gue, ayo. Kebetulan gue juga mau pulang."
Seperempat siku terpatri di pelipis Vanya. "Emang lo abis dari mana?"
"Dari bengkel." Erza tidak memiliki niat untuk menanyakan asal Vanya. Dari yang ia lihat, sepertinya Vanya baru saja mengalami hal buruk. Keadaan akan buruk jika ia tanyakan asal Vanya karena kemungkinan wajah muram durja Vanya berasal dari tempat sebelumnya.
Dan dari luka yang Vanya derita juga sepertinya karena berjalan kaki dengan jarak yang jauh.
"Sorry, ya. Gue adanya motor." Pria itu dorong motornya sampai di hadapan Vanya. "Gak pa-pa?"
"Kenapa kalo pake motor emangnya?" Mau motor ataupun mobil, yang penting pulang sebab kini Vanya sudah benar-benar lelah.
"Panas. Nanti lo kepanasan. Banyak debu juga. Bisa jerawatan nanti lo."
Decakan lidah, pun Vanya menjawab, "Gue biasa pake gojek kali. Lebay lo."
"Berarti sekarang gue gojek lo, dong."
"Itu tau." Vanya segera naik ke jok, kemudian mundur sebab khawatir ada orang yang melihatnya bersama laki-laki lain berujung fitnah.
Ujian hendak menikah biasanya selalu ada, itu makanya Vanya memilih untuk mencegah.
"Sampe rumah lo, bayar seratus ribu." Pun kendaraan beroda dua itu Erza jalankan dengan pelan.
"Anjir! Bensin aja gak nyampe seratus ribu," ucap Vanya sembari gunakan helm.
"Kan upah buat guenya. Belom lagi harus nyalip. Mana macet banget lagi."
"Kalo gitu kenapa nawarin?"
"Biar dapet duit, lah. Dimana-mana yang namanya sopir pasti nawarin."
Bibir dengan balut lipstik nude Vanya maju setengah senti. "Harusnya gue tolak."
"Lagian lo bego."
Netra Vanya melebar, pun bahu Erza ia pukul dengan tenaga penuh. "Sakit, anjir!"
"Salah lo ngatain gue bego!"
"Faktanya begitu."
Vanya hendak memukul kembali. Namun, Erza segera menyela, "Iya-iya, gue yang bego. Lo pinter, cerdas, baik hati dan tidak sombong, cantiknya melebihi Inara Rusli."
Plak!
"Vanya monyet!" seru Erza begitu Vanya tidak terpengaruh akan pujiannya.