Bab. 17 Diam-Diam Cemburu

1119 Kata
"Gallen." Kaira beranjak dengan wajah sumringah. Dia cukup lega melihat panggilan dari lelaki itu. "Halo," ujar Kaira setelah menerima panggilan itu. "Hai, Kai. Udah sampai?" "Udah nih baru saja. Oh, ya. Kamu gimana sekarang? Melvin bilang kamu kecelakaan pas berangkat tadi?" Kaira cemas. "Ya, gitu deh. Tapi nggak parah kok. Cuma lecet sedikit saja di dahi." "Kok bisa sih. Aku khawatir banget lho denger kamu kecelakaan tadi." "Aku juga nggak tau kejadian awalnya seperti apa. Cuma tiba-tiba aja ada mobil menyalip dari arah berlawanan. Aku yang terkejut langsung banting stir ke kiri dan akhirnya menabrak trotoar. Untung aku hubungi Hanan cepet datang. Oh, ya. Si Melvin nggak ngejahilin kamu kan selama di perjalanan tadi." Kaira memanyunkan bibirnya. Moodnya mendadak berubah mengingat semua perdebatan tak jelasnya dengan Melvin tadi. Namun, dia tak ingin membuat Gallen khawatir. "Nggak kok. Aman." "Baguslah. Sebenarnya aku udah maksa Hanan agar tetep bisa ikut. Tapi, dia kekeh nggak membiarkan aku pergi." "Ish. Kamu gila ya? Urusi dulu lukamu. Tunggu sampai benar-benar sembuh dulu baru kembali kerja. Lagian aku yakin aku bisa menemui klien kita dengan baik kok." Gallen terdiam. 'Sayangnya bukan itu yang aku cemas kan, Kai,' pikir Gallen. "Oh, ya. Sesuai janji. Aku udah pesankan kamu sushi enak yang sedang viral itu lho. Sudah sampai belum." "Oh, itu dari kamu. Tadi yang terima si Melvin. Dia pikir Mamanya yang pesankan untuk kami." "Hah? Kok bisa Melvin yang terima sih? Kalian satu kamar? Dan kok bisa Melvin mikir itu dari Tante Riyanti?" Kaira baru tersadar jika dia keceplosan tadi. Kaira menepuk keningnya sendiri. Merasa bodoh. "Hah? Ehms.... Nggak. Nggak dong. Mana mungkin aku akan satu kamar sama si playboy itu. Ya, bisa saja kan Mamanya pesenin dari rumah juga. Kayak kamu ini." Kaira berusaha mengelak. "Bener iya sih. Ya, sudah. Buruan gih dimakan. Mumpung masih fresh. Setelah itu istirahat ya." "Bener juga kamu. Kamu juga istirahat ya. Jangan lupa makan dan minum obatnya. Biar cepet sembuh." "Siap, Princess." "Ish. Mulai ya kamu." "Hehehe. Iya deh, Kaira. Aku istirahat dulu ya." "Ok. Have a nice dream." "You too." Tut. Sambungan terputus. Kaira menghembuskan nafas beratnya sambil menatap layar ponselnya yang sudah gelap. Kemudian dia melirik ke arah kotak di atas nakas yang tadi diletakkan oleh Melvin. Kaira beranjak, kemudian meraih kotak itu. "Wow. Ini sih beneran keliatan enak banget," gumam sambil menatap isi kotak dengan air liur yang menetes. Tanpa basa-basi Kaira membawa kotak itu ke meja sudut ruangan untuk menikmatinya. Dulu Gallen memang pernah berjanji akan mengajak Kaira membeli Sushi viral itu sekaligus untuk bernostalgia saat kebersamaan mereka di Jepang. Hanya saja semua rencana mereka berantakan karena Gallen malah kecelakaan. "Hems.... Enak. Gallen memang paling tau apa yang aku suka," gumam Kaira dengan mulut penuh. Ketika Kaira sedang menikmati makanannya. Melvin keluar dari kamar mandi. "Eh, kok makanannya dimakan duluan. Kan aku juga mau," protes Melvin. "Enak aja. Ini semua punyaku tau. Gallen yang udah memesankannya untuk ku." Melvin terdiam sesaat. "Oh, jadi dia. Ya, udah makan aja semuanya. Aku bisa beli sendiri. Sushi gitu doang juga." "Ya, udah sana. Siapa juga yang mau bagi-bagi sama kamu. Weeek!" "Dasar gadis kutu buku!" Cepat-cepat Melvin memakai pakaiannya. Setelah mengorek isi kopernya hingga berantakan di atas ranjang. Setelah itu dia pun pergi. "Hei, beresi dulu pakaian mu! Setelah ini aku mau tidur!" teriak Kaira yang tidak lagi dipedulikannya. "Huh! Dasar!" umpat Kaira. Di luar kamar Melvin pun mengomel sambil menutup pintu. Hingga dua tak tahu jika kedua orang tuanya sudah berdiri di belakangnya. "Melvin," panggil Riyanti yang membuat Melvin sedikit terkejut. "Eh, Mama. Kamar kalian di lantai ini juga?" Keduanya mengangguk serempak. "Itu disana!" balas Papanya sambil menunjuk ke arah depan. "Kaira mana? Kok nggak ikutan keluar? Dia nggak mau ikutan makan malam?" "Dia udah kenyang, Ma. Abis dapat kiriman makanan dari seseorang." "Kiriman makanan? Baik banget? Siapa? Bosnya?" berondong Papa Melvin. "Hush. Mana mungkin. Bos Kaira kan jahat sama dia. Nggak peduli lagi. Mana mungkin dia mau kirim-kirim makanan. Pasti dari orang yang benar-benar perhatian sama dia," sahut Riyanti sambil menatap Melvin dengan penuh curiga. "Kenapa Mama liat aku kayak gitu? Udah ayo! Aku udah laper!" Melvin berjalan lebih dulu meninggalkan kedua orang tuanya. "Dasar anak jaman sekarang. Gengsinya Gedhe juga," kata Riyanti. "Nanti juga dia nggak tahan sendiri sama sikapnya. Yuk, pergi!" Riyanti mengangguk lalu mereka menyusul kepergian Melvin. Keesokan harinya, Kaira sudah bersiap-siap untuk meeting dengan klien. Sementara Melvin masih asyik tidur di sofa. Semalaman dia memang tak bisa tidur. Karena sofa itu tak cukup untuk menopang tubuhnya yang kelelahan setelah sekian lama menempuh perjalanan. Kaira berdiri di samping Melvi dengan berkacak pinggang sambil menggeleng pelan. "Bagus ya! Jam segini belum bangun! Melvin! Melvin bangun!" Kaira menggoyang-goyangkan tubuh Melvin berulang kali. Namun,. lelaki itu tetap bergeming. "Melvin! Melvin bangun ini sudah jam berapa?" Kaira terus berusaha untuk membangunkan lelaki itu. "Ish. Apaan sih? Lima menit lagi!" "Enak saja. Ini sudah jam berapa? Cepat bangun nanti klien kita sampai nungguin!" Kaira berusaha menarik tangan Melvin. Namun, tenaganya tak seimbang. "Bentar lagi! Aku baru bisa tidur nyenyak tau!" gumam lelaki itu. "Nggak peduli! Cepat bangun! Cepat!" Melvin mendadak menarik tangannya hingga Kaira terjatuh tepat di atas tubuhnya. Mata Melvin pun langsung terbuka. Merasa sebuah benda kenyal, pada dan berisi menjatuhi dadanya. Kaira segera bangkit dengan canggung. Sedangkan Melvin pun langsung beranjak. "Udah sana mandi!" "Iya. Tunggu aja di depan!" "Hem!" Kaira hanya bergumam, sambil membuang wajahnya yang memerah. Melvin buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Agar bisa segera membasuh wajahnya yang terasa panas. "Ish. Apa yang menimpaku tadi?" gumam Melvin sambil menatap bayangan tubuhnya di cermin. Dia pun mengangkat kedua tangannya lalu telapak tangan dan jari-jari membentuk mangkuk. Seakan ingin mengukur sesuatu. "Sadar Melvin! Sadar!" Cepat-cepat dia menggelengkan kepalanya untuk membuang pikirannya itu. Pertemuan dengan klien pun berjalan lancar. Kerja sama pun sudah disepakati. Lalu Melvin dan Kaira bergantian menjabat tangan. "Senang berbisnis dengan anda, Tuan." Melvin berkata. "Terima kasih. Saya harap, anda bisa memberikan hasil yang memuaskan seperti yang dulu Papa anda lakukan. Karena saya adalah pelanggan setia jasa konstruksi perusahaan anda." "Tentu, Tuan. Kami akan mengerjakannya sebaik mungkin. Agar anda bisa puas dengan pelayanan kami." Lelaki berjenggot tipis yang sudah berwarna putih itu hanya mengangguk kecil, tanpa melepas senyumannya. "Saya pergi dulu. Ada urusan lain yang harus saya datangi." "Baik. Kalau begitu mari saya antar, Tuan," kata Kaira ramah. Lelaki itu tersenyum lalu berjalan lebih dulu keluar dari VIP room itu. "Selamat jalan, Tuan. Semoga harinya menyenangkan," kata Kaira sambil membungkukkan badannya. Lelaki itu tersenyum lagi dan melenggang pergi. "Baguslah. Udah selesai dengan baik dan kamu nggak membuat kesalahan," kata Melvin yang baru keluar. "Enak aja. Kamu tuh yang suka membuat masalah. Dasar playboy nggak bermoral." "Eh, diam kamu. Jangan bawa-bawa masa lalu ya!" "Masa lalu apa?" ujar seseorang dengan suara yang cukup fenomenal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN