Bab. 16 Tak Terduga

1018 Kata
Kaira yang kesal meninggalkan Melvin begitu saja setelah sampai di bandara. Dia langsung menuju hotel yang sebelumnya sudah dipesan oleh kantor untuknya dan Gallen. Sementara di belakang, Melvin semakin marah diperlakukan seperti itu. Dia berulangkali memanggil nama Kaira agar bisa menunggunya, tapi Kaira benar-benar tidak peduli. "Dasar wanita kutu buku itu memang suka seenaknya sendiri! Huh!" umpat Melvin sambil menarik kopernya menyusul kepergian Kaira. "Taksi!" Kaira melambaikannya tangannya ke depan menghentikan laju mobil taksi yang baru datang. "Ke Hotel Arjuna, Pak!" "Siap, Non," balas sang supir. Sambil melirik Kaira yang duduk di jok belakang. Tetapi, saat gadis itu hendak menutup pintu. Mendadak Melvin menahannya dan langsung duduk di samping Kaira. "Kamu... Hosh.... Bisa-bisanya ninggalin aku... Aku ini kan bos kamu," protes Melvin sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah. Karena baru saja berlari. "Siapa suruh lelet banget! Bukannya kamu sendiri yang bilang kita tidak ada waktu?" "Ya, bukan berarti aku ditinggal juga kali. Ayo, Pak jalan!" perintah Melvin sebelum Kaira kembali menyahut. Sang sopir pun menurut. Dengan segera melajukan mobil kebanggaannya itu ke Arjuna Hotel tempat yah disebutkan Kaira tadi. Sampai di tempat itu, Melvin gantian yang buru-buru turun duluan. Kaira yang melihatnya sampai mengerutkan keningnya merasa bingung. "Kenapa lagi lelaki itu? Tadi ngomel-ngomel sepanjang jalan karena aku tinggal. Sekarang malah langsung pergi aja," gumam Kaira. "Kebelet kali, Non," sahut Pak Sopir yang mendengar gumaman Kaira barusan. Kaira hanya nyengir kuda, lalu ia segera membayar ongkos taxi dan keluar. "Ish. Pasti dia pergi karena nggak mau bayar ongkos taxi itu. Dasar pelit!" gerutu Kaira. Ia pun meraih tarikan kopernya menuju pintu masuk hotel. Baru saja melewati pintu kaca besar yang menghubungkan langsung dengan lobby hotel yang luas nan megah. Kaira tak sempat takjub, perhatiannya seketika tertuju pada Melvin yang sedang beradu argument dengan seorang resepsionis. "Saya bisa bayar berapapun yang kamu mau. Asalkan kamu berikan satu kamar lagi untuk karyawan saya." "Maaf, Pak. Tapi, kebetulan hotel kami sedang full booking untuk malam ini." "Kalau begitu saya mau refund. Saya lebih baik cari penginapan yang lain saja." "Sekali lagi maaf, Pak. Tapi, sesuai SOP hotel ini. Untuk pengembalian dana harus melewati beberapa prosedur dulu, Pak. Nanti uangnya akan ditransfer jika memang alasan anda Refund berasal dari kesalahan pihak Hotel." "Ish. Kenapa jadi rumit begini sih? Kan rencananya satu kamar itu untuk mendekatkan Kaira dan Gallen saja." "Oh, begitu ya." Kaira berkata tepat di belakang Melvin sehingga membuat lelaki itu terlonjak kaget. "Jadi, ini hanya akal-akalan kamu saja? Iya? Bagaimana bisa aku dan Gallen hanya mendapat satu kamar saja?" Melvin gelagapan. "Mana ku tau? Kau tak dengar tadi resepsionis berkata apa? Ngapain aku repot-repot melakukan itu." Melvin mengelak. "Alah. Nggak usah pura-pura deh. Aku tau isi otak mu kok." "Memang apa yang dipikirkan oleh Melvin, Kai?" ujar seorang wanita yang terdengar sangat fenomenal di telinga keduanya. Melvin dan Kaira pun menoleh serempak. "Mama! Papa!" ujar keduanya bersamaan. Seraya memandangi sepasang suami istri paruh baya itu dengan wajah kaget. "Ngapain kalian ada disini?" Bukannya menjawab keduanya pun hanya senyam-senyum berdua. "Sudahlah. Kami tau kamu diam-diam menyusul Kaira kesini. Karena takut dia jalan sama cowok lain, kan?" kata Riyanti yang langsung membuat Melvin dan Kaira saling melempar pandang. "Ma, sebenarnya–" "Benar sekali, Ma," ujar Melvin sambil merangkul pundak Kaira dan menariknya mendekat. "Tentu saja aku tidak ingin. Menantu kesayangan Mama ini sampai berbuat yang tidak-tidak di belakang kita," tambah Melvin sambil menahan senyum di bibirnya. Kaira melotot ke arah Melvin dengan wajah tidak terima, tapi Melvin justru pura-pura tidak melihat. "Alah. Kamu ini masih saja gengsi didepan Mama Papa. Kami tau kok sebenarnya kamu mulai suka sama Kaira. Makanya sekarang mulai over protective." "Enak aja. Enggak kok." Melvin tiba-tiba mendorong tubuh Kaira menjauh. Sehingga membuat gadis itu semakin dongkol padanya. "Sudahlah, Ma. Jangan diledekin terus. Jadi, malu kan mereka berdua," kata Papa Melvin yang sedari tadi hanya diam. "Enggak kok. Ngapain malu juga? Udah dibilangin kita nggak ada perasaan apa-apa. Ya, udah. Kita ke kamar dulu ya. Aku udah capek. Mau istirahat. Yuk!" Melvin mengajak Kaira untuk segera pergi. "Duluan, Ma, Pa!" Kaira pamitan lalu berjalan pergi bersama Melvin. Orang tua Melvin pun hanya mengangguk sambil menahan senyum gelinya. "Dasar anak muda," gumam Riyanti sambil menggelengkan kepalanya. "Kayak kamu dulu nggak gitu aja, Ma." "Emang iya?" Sampai di kamar Kaira dan Melvin kembali ribut. "Harusnya kamu bilang aja yang sejujurnya. Biar Mama Papa mu tidak berpikir yang tidak-tidak kayak gitu." "Kamu mau mereka tau kalau selama ini kamu kerja di perusahaan ku?" "Ya... enggak juga sih." "Makanya, nggak usah sok nyalahin aku." "Ish, emang kamu yang salah." Keduanya pun terdiam sesaat. "Aku mau mandi dulu. Awas ya! Jangan ngintip!" Melvin berkata dengan penuh penekanan. "Yeee! Nggak sudi aku lihat badanmu yang penuh lemak itu," ejek Kaira. "Enak aja! Badan ku berotot tau. Cewek-cewek aja tergila-gila sama badanku." "Mereka bukan tergila-gila, tapi emang udah gila!" "Apa kamu bilang?!" Melvin tidak terima. "Kenapa? Salah dengan ucapan ku?" Kaira menantang. "Dulu kamu memang paling tampan di sekolah, tapi spa artinya ketampanan tanpa otak yang cerdas." "Kamu–" Tok. Tok. Tok. Suara ketukan pintu langsung membuyarkan perdebatan mereka. "Awas ya! Urusan kita belum selesai!" Melvin berkata demikian sebelum melangkah mendekati pintu. "Selamat sore, Tuan. Kami hanya ingin mengirimkan pesanan atas nama Nona Kaira." "Tapi, kami kan belum pesan apa-apa?" "Saya kurang tau, tapi tadi ada seseorang yang memesan makanan ini untuk Nona Kaira dan diminta untuk dikirim kesini. Ini dia billnya." Melvin menerima kertas pembayaran itu. "Ini kan restoran sushi yang lagi viral. Ah, pasti Mama yang sudah memesankan untuk kami." Melvin bergumam. "Ya, sudah. Terima kasih saya terima pesanannya." Melvin pun mengambil boks kotak yang cukup berat itu. Kemudian membawanya ke dalam. "Apa itu?" tanya Kaira. "Sushi. Palingan Mama yang memesankan untuk kita. Jangan makan dulu ya! Aku mandi sebentar!" Melvin meletakkan benda itu fi atas nakas, sedangkan Kaira hanya mengangkat kedua pundaknya secara bersamaan. Tak begitu peduli. Dia justru merebahkan tubuhnya ke atas ranjang yang empuk itu. Menikmati punggungnya yang mulai rileks, setelah sekian lama menempuh perjalanan jauh. Tut.... Tut.... Sayangnya, kenikmatan itu tak berlangsung lama. Kaira menggapai-gapai ponselnya yang bergetar-getar. Lalu menatap layar datarnya yang menyala-nyala. "Gallen." Kaira beranjak dengan wajah sumringah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN