Bab. 15 Kenapa Harus Dengan Mu

1003 Kata
"Bisnis trip? Beberapa hari?" Riyanti terlihat kaget saat Kaira meminta izin untuk pergi ke Bali. Kiara tak membalas hanya mengangguk kecil. "Kai. Bukannya Mama nggak ngizinin kamu. Cuma kamu dan Melvin kan pengantin baru. Masak udah mau pisah aja sih." "Udahlah, Ma. Dia kan pergi juga untuk kerja. Bukannya liburan," timpal Melvin. "Siapa tau setelah ini dia dapat promosi jabatan? Dia kan gila kerja banget," imbuhnya yang membuat mata Kaira langsung melirik kesal. "Kalau cuma mau jabatan tinggi. Kamu bisa kok masuk perusahaan Melvin. Kamu bisa pilih sendiri jabatan yang kamu inginkan. Nggak perlu susah-susah begini." "Ma. Bagiku ini bukan tentang jabatan, tapi dedikasi. Aku sudah menerima pekerjaan ini. Jadi, sebisa mungkin aku harus menjalankan tugas ku sesuai keinginan bosku. Meskipun, jelas banget dia ingin menyingkirkan aku dari hadapannya untuk sementara waktu." Kaira menyindir Melvin sambil meliriknya dengan tajam. "Bos kamu nggak suka sama kamu? Ya, udah pas banget kalau gitu. Resign aja kamu segera," saran Riyanti. "Orang itu sudah jahat, nggak punya perasaan, bawel, masih juga suka menindas menantu kesayanganku." Kiara hanya mengangguk dengan memasang ekspresi sedih saat Riyanti mengelus rambutnya penuh perhatian. Sedangkan di seberang Melvin hanya bisa melotot tanpa bisa melawan. "Iya, Ma. Tapi gimana ya? Aku nggak bisa resign begitu saja." "Bilang aja disana ada cowok yang sedang kamu deketin. Iya, kan?" sahut Melvin. Kiara menggeleng cepat sambil menatap wajah ibu mertuanya yang tampak terhasut. "Benar seperti itu?" "Enggak, Ma. Enggak. Aku berani sumpah. Nggak ada cowok yang aku taksir disana." Kiara cepat-cepat membela diri. "Iya, Mama percaya kok. Ya, udah. Kamu istirahat aja sana. Besok kan kamu harus berangkat pagi-pagi." "Iya, Ma. Aku ke atas dulu ya." Kaira tersenyum kecil, tapi saat menoleh ke arah Melvin dia merubah ekspresi wajahnya menjadi kesal. Melvin membalasnya hanya dengan senyuman. Dalam hati dia berkata,"Kamu boleh mengelak sekarang. Tapi, besok aku pastikan Mama akan tau apa yang kamu lakukan di belakangnya.' "Ma. Aku juga naik dulu ya! Udah capek." Riyanti hanya mengangguk setuju sambil tersenyum sekilas. Setelah keduanya naik ke lantai atas Riyanti semakin terlihat gusar. Ia pun meraih ponselnya. Lalu menghubungi seseorang. "Tolong atur jadwal ke Bali besok!" "Baik, Nyonya." Tut. Sambungan terputus, Riyanti menghembuskan nafas beratnya. Kemudian melirik ke lantai atas kembali. Sementara itu, Melvin yang baru saja masuk ke dalam kamar. Langsung ditarik oleh Kaira yang sudah menunggunya di samping pintu. "Apa maksud perkataanmu tadi?" tanya Kaira mengintrogasi. "Kata yang mana? Yang kamu menjelekkan aku di depan Mama?" "Nggak usah memutar balikkan fakta deh. Kamu kenapa memfitnah aku kalau punya cowok yang aku taksir di kantor?" "Lah. Bukannya benar ya. Emang ada jam cowok yang kamu taksir?" Melvin membalas dengan nada menantang. Kaira tersenyum meremehkan. 'Ini cowok kepedean banget sih. Pasti dia mikir aku masih punya perasaan sama dia makanya bertahan di perusahaannya,' pikir Kaira. "Aku nggak tau harus berkata apa lagi sama kamu. Yang pasti apa yang kamu pikirkan ituu salah besar. Mengerti!" Kaira pun melepaskan cengkraman tangannya di lengan Melvin. Kemudian pergi meninggalkan lelaki itu masuk ke dalam kamar mandi. "Ish. Dasar munafik. Dia pikir aku buta dengan kedekatannya sama Gallen. Tapi, nggak papa. Kalau rencana ku semuanya lancar. Aku jadi punya alasan untuk menceraikan mu tanpa terlihat aku yang menginginkannya," gumam Melvin. Keesokan harinya sesuai jadwal. Kaira datang ke bandara untuk take off ke Bali. Namun, sudah beberapa saat ia menunggu kedatangan Gallen. Lelaki itu tak kunjung menunjukkan diri. Kiara pun mulai merasa khawatir, karena tak biasanya Gallen terlambat datang seperti ini. "Aduh, Gallen. Angkat dong telponnya? Kamu bikin aku khawatir deh," gumam Kaira sambil menempelkan ponselnya di telinga. Wajahnya pun tampak sedikit panik sambil sesekali melirik jam di pergelangan tangan kanannya. "Dia nggak akan datang. Nggak usah ditungguin!" ujar Melvin yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Kaira. Kaira balik badan dengan sedikit terkejut. "Ngapain kamu disini? Gallen mana?" "Gallen masuk rumah sakit. Dia kecelakaan saat mau kesini tadi," balas Melvin tak bersemangat. "Apa? Terus keadaannya sekarang gimana? Kita harus liat dia dulu!" Melvin menarik kerah bagian belakang Kaira saat wanita itu hendak melewatinya. "Jangan berlebihan! Udah ada Hanan yang mengurusnya. Kita harus segera pergi. Klien kita sudah menunggu di Bali sekarang. Ayo!" Melvin menarik kerah baju Kaira agar segera mengikutinya. Mau tidak mau Kaira pun menurutinya. Di sepanjang perjalanan Melvin dan Kaira tak berbincang sama sekali, meskipun mereka duduk bersebelahan. Kaira tak bisa berhenti memikirkan keadaan Gallen, sedangkan Melvin yang diam-diam memperhatikan ekspresi wajah gadis itu mulai merasa kesal. 'Si Bibi sepertinya beneran suka sama si Gallen. Liat aja wajahnya yang terlihat gelisah itu,' pikir Melvin. 'Duh. Kenapa jadi sama si Melvin sih. Kan jadi awkward perjalanan bisnis trip ini? Males banget kalau harus diskusi cuma berdua dengan si playboy ini. Oh, Tuhan. Selamatkanlah aku dari emosi yang sewaktu-waktu meledak karena menghadapi lelaki ini,' kata Kaira dalam hati. Kaira melirik sekilas. Tanpa terduga memergoki Melvin yang sedang memandanginya. Melvin yang grogi pun seketika berdehem sambil membenarkan posisi jasnya yang masih rapi. Salting. "Jangan berpikir macam-macam ya! Aku mau ikut bisnis trip ini karena terpaksa. Bukan karena dirimu." Kiara tersenyum mengejek. "Aku juga nggak mengharapkan kamu yang akan menggantikan Gallen disini. Andai sama dia, pasti perjalanan jadi nggak ngebosenin kayak gini." "Ish. Kamu bukannya terima kasih aku sudah mau mengantar mu ke Pulau itu. Malah ngebandingin aku sama si Gallen yang jelas-jelas nggak ada bandingannya sama aku." "Hahaha. Lelaki yang suka merendahkan orang lain itu, berarti lelaki yang sedang menutupi rasa insecure-nya sendiri." "Enak aja. Dari sisi manapun aku jauh lebih baik daripada Gallen." "Benarkah? Lalu kenapa gadis yang kamu sukai justru memilih Gallen?" "Kamu ingin mati ya? Kenapa jadi ngomongin hal seperti itu?!" Melvin bertanya dengan nada tinggi sambil berdiri dari tempat duduknya. Hingga membuat orang-orang di sekitar mereka langsung menatap ke arahnya dengan tatapan curiga. "Hehe. Kita suami istri. Cuma lagi ngobrol bercanda saja," ucap Melvin segera klarifikasi. Kaira pun mendesak kecil. 'Ish. Udah gitu aja baru mengakui aku sebagai istri. Dari kemarin kemana?' batin Kaira sebal. "Ish. Kenapa cuma diem aja? Aku diliatin semua orang kayak tersangka nih," omel Melvin. "Lah, emang aku peduli? Nggak tuh," timpal Kaira yang membuat Melvin semakin geram.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN