Sampai di rumah Kaira langsung membersihkan diri dan bersiap untuk tidur. Setelah keluar dari kamar mandi, Kaira terkejut melihat Melvin sudah tiduran di atas ranjang sambil memainkan ponselnya.
"Kapan kamu datang? Bukannya tadi masih di ruang kerja?"
"Suka-suka akulah. Ini kan kamarku," balas Melvin tanpa mengalihkan pandangannya.
"Oke. Aku cuma mau ingetin. Kalau malam ini adalah jatah kamu tidur di sofa. Jadi, cepat minggir! Karena aku mau tidur!"
Bukannya beranjak Melvin malah tersenyum mengejek.
"Aku juga capek. Males banget tidur di sofa yang space-nya cuma segitu doang. Bisa remuk badan aku," balasnya sambil memiringkan tubuhnya membelakangi Kaira. Tentu saja hal itu membuat Kaira murka.
"Apa? Kan kamu udah janji mau gantian tidur di sofa satu malam satu malam. Kamu mau melanggar janji itu."
"Bodo amat. Aku capek!"
"Melvin!" Kaira merasa sangat geram. Dia naik ke atas ranjang lalu menarik tubuh Melvin sekuat tenaga. "Turun nggak! Turun sekarang! Tempat tidur ini jatah ku malam ini!"
"Enggak mau. Aku udah nyaman. Kamu tidur aja di sofa sana. Kecuali...." Kaira seketika menghentikan tarikannya.
"Kecuali apa?" tanya wanita itu dengan wajah penuh tanda tanya. Melvin tak langsung menjawab. Dia justru membalikkan badannya dengan tangan yang menopang kepala.
"Kecuali kamu mau tidur sama aku," jawabnya dengan senyum m***m. Kaira meloncat ke belakang sambil menyilangkan kedua tangannya di depan d**a.
"Kamu udah gila ya?"
"Hahaha. Bibi. Bibi. Kamu tuh nggak usah sok pura-pura lagi di depan ku. Aku tau kok kamu masih suka kan sama aku. Buktinya tadi di gudang kamu niat banget caper sama aku."
Kaira tersenyum meremehkan.
"Nggak usah sok kepedean deh. Udah aku bilang berulang kali ya. Tadi ada orang yang sengaja mengatur rencana untuk melukaimu disana. Masak kamu masih nggak percaya juga sih. Harusnya kamu berterima kasih sama aku bukannya menyudutkan aku kayak gini."
"Oh, cuma mau menyelamatkan aku? Yakin nggak ada alasan lain?"
"Nggaklah. Ngapain juga aku harus punya alasan lain."
"Oh, begitu." Melvin tersenyum manis dengan tatapan teduh kepada Kaira. Tak hanya itu perlahan dia juga beranjak dan mendekati gadis itu.
"Kamu mau ngapain?"
"Menurut kamu? Apa yang dilakukan oleh sepasang suami istri di dalam kamar pada malam hari?" Kaira kembali menyilangkan kedua tangannya dengan wajah panik.
"Kita cuma pura-pura. Kamu nggak usah aneh-aneh deh."
"Aneh-aneh gimana? Bukannya ini kesempatan bagus untuk mendapatkan aku seutuhnya?" Melvin menggodanya sambil terus mendesak tubuh Kaira hingga gadis itu terpojok di dinding.
Debaran jantung Kaira semakin tak terkontrol saat Melvin terus memupus jarak diantara mereka. Seketika Kaira memejamkan mata saat Melvin merendahkan wajahnya ke wajah Kaira.
"Hahahaha. Tuh kan kamu berharap banget aku cium. Hahaha. Jelas banget kamu masih menyimpan rasa sama aku. Beneran pengen memiliki aku seutuhnya ya. Hahahaha," ejek Melvin tertawa puas.
"Najis!" Kaira yang sudah emosi hingga ke ubun-ubun. Mendorong lelaki itu dengan sepenuh tenaga sampai-sampai Melvin terjatuh ke lantai.
"Aduh," pekik Melvin.
"Rasain kamu!" umpat Kaira lalu segera pergi dari kamar itu.
"Dasar cewek kutu buku tenaga kuli! Kasar banget sih!" balas Melvin berteriak.
Namun, saat Kaira sudah hilang di balik pintu. Melvin menghembuskan nafas leganya. Dadanya juga berdetak sangat kencang, bahkan tadi dia sempat hampir kehilangan kontrol dirinya. Ketika berjarak sangat dekat dengan Kaira. Wangi tubuh dan bibir ranum gadis itu mengingatkan pada rasa yang tak bisa dia lupakan sampai sekarang. Seraya mengatur nafasnya agar kembali normal, Melvin merebahkan tubuhnya di lantai. Perlahan pandangan matanya melirik ke arah gambar besar di atas ranjang. Tak terasa bibir lelaki itu sedikit terangkat. Sayangnya, senyum itu hilang bersama ingatannya yang menayangkan memori ciuman Kaira dan Gallen tadi siang.
"s**t! Dasar gadis plin-plan!" umpat Melvin sambil beranjak.
****
Keesokan harinya, Kaira dan Melvin sampai di kantor bersamaan. Kaira menatap geram lelaki itu sebelum menutup pintu taksi yang telah mengantarkannya. Semalam Melvin tak mau mengalah tidur di sofa. Makanya mau tidak mau Kaira yang tidur di sofa daripada tidur satu ranjang dengan lelaki itu.
"Awas ya! Kamu akan menanggung akibatnya nanti!" gumam Kaira sambil mengepalkan tangannya. Melvin yang tak merasa bersalah hanya tersenyum sekilas, lalu melenggang begitu saja di depan Kaira.
"Kaira!" panggil Gallen yang juga baru saja datang. Seketika langkah Kaira pun terhenti, begitu pula dengan Melvin di depan sana. Melvin menoleh, lalu bersembunyi di balik tiang untuk mengintai.
'Baru juga sampai kantor, udah mau pacaran aja,' pikir Melvin. Sambil menajamkan pendengarannya untuk menguping.
"Hei! Kamu juga baru dateng? Tumben lebih pagi dari biasanya."
Gallen tersenyum manis kemudian menjawab, "Aku sengaja nggak sarapan dulu di rumah. Karena aku bawa bekal untuk sarapan sama kamu."
"Oh, sweet!" Mendengar ucapan Kaira yang lembut pada Gallen, nyaris membuat Melvin muntah.
"Dasar lebay!" gumam Melvin.
"Siapa yang lebay?" tanya Hanan yang diam-diam sudah berdiri di belakang Melvin, hingga membuat lelaki itu terlonjak kaget.
"Ish. Kamu bikin kaget aja? Kenapa datang nggak bilang-bilang!"
"Kamu yang nggak jawab aku sapa daritadi. Lagi liatin apa sih?"
"Tuh, mereka berdua! Makin dekat aja ya. Serasa kantor ini cuma ada mereka berdua." Melvin mengoceh tanpa melepaskan pandangannya dari Kaira dan Gallen yang sedang sibuk bercengkrama.
"Kamu cemburu?" Melvin menoleh dengan mata melototi sahabatnya itu.
"Udah aku bilang berkali-kali. Aku nggak ada rasa sama cewek itu. Lagipula kalau mereka bisa jadian. Aku akan semakin diuntungkan. Jadi, ayo kita bikin mereka semakin dekat!"
"Kamu yakin?" tanya Hanan ragu.
"Ish. Bawel kamu ya!" Melvin merangkul leher Hanan lalu menariknya masuk ke dalam kantor sambil diam-diam curi-curi pandang pada Kaira dan Gallen yang masih asyik mengobrol.
"Tapi, sayangnya aku juga baru sarapan tadi. Maaf ya?" ujar Kaira dengan wajah penuh penyesalan.
"Yah, gimana dong. Padahal aku udah sengaja bangun pagi untuk bikin makanan ini lho."
"Oh, gitu ya. Ya udah deh. Aku temani kamu makan. Nanti aku ikut mencicipinya, meskipun jangan banyak-banyak."
"Oke, siap. Sesuap pun aku udah seneng banget. Asal kamu mau makan."
"Ya, udah yuk! Ke kantin dulu aja." Gallen pun mengangguk setuju.
Kaira dan Gallen berjalan beriringan menuju kantin kantor. Namun, belum sampai di tempat itu mereka sudah dihadang oleh Melvin dan Hanan.
"Wah! Kalau dilihat-lihat kalian cocok juga deh. Udah pacaran?" kata Melvin. Kaira hanya memutar bola matanya dengan kesal, sedangkan Gallen diam-diam tersenyum senang.
"Jangan ngaco deh! Mau kamu apa sih pakai acara menghadang kita segala!" balas Kaira ketus.
"Nggak ada. Cuma ingin menyampaikan bahwa kalian berdua ada proyek baru yang harus dikerjakan. Dan itu mengharuskan kalian berdua melakukan perjalanan bisnis ke Bali."
Mata Gallen langsung berbinar senang.
"Oke. Nggak masalah. Justru ini akan menjadi proyek terbaik untuk aku. Ayo, Len!" Kaira berjalan melewati Melvin begitu saja diikuti oleh Gallen