Bab. 13 Perasaan yang Tak Tersampaikan

1082 Kata
"Melvin!" Kali ini tak hanya memanggil, Kaira juga menarik tangan Melvin dengan cukup kuat. Hingga akhirnya.... Bruk! Kaira dan Melvin terjatuh bersamaan. Dengan posisi Melvin berada di atas Kaira. Untuk beberapa saat dunia seakan terhenti bagi mereka. Mata mereka saling menatap, tubuh mereka terasa kaku dan hanya terdengar debaran jantung yang begitu menggebu-gebu. Namun, perhatian mereka teralihkan oleh kedatangan Gallen yang cukup syok dengan pemandangan di depannya. "Kaira! Melvin!" gumamnya. Mereka yang tersadar langsung menjauhkan diri segera. "Ngapain sih kamu? Datang-datang langsung narik tangan aku. Aku tau. Kamu pasti cari perhatian aku doang, kan?" ujar Melvin yang membuat mata Kaira membulat sempurna. "Nggak kok. Enak saja. Aku melakukan ini juga untuk keselamatan mu. Karena aku yakin ada orang yang sengaja mengatur rencana untuk melukaimu disini." "Maksudnya gimana?" balas Melvin dengan wajah menuntut penjelasan. "Ish. Lihat saja tempat ini!" Ucapan Kaira terhenti seketika menatap isi ruangan itu yang tampak baik-baik saja sejauh mata memandanginya. Meskipun ada sedikit kemiringan bangunan, tapi masih terlihat kokoh. "Kenapa dengan tempat ini?" "Tapi... tapi hasil pemeriksaan tadi–" Melvin tersenyum meremehkan sambil berjalan mendekati Kaira. "Sudahlah, Bi. Trik kamu itu terlalu receh. Mudah ditebak. Bilang jujur aja jika memang masih menginginkan aku." "Apa? Aku lebih baik mencintai kucing daripada kamu. Huh!" Kaira balik badan dengan kesal, lalu berjalan pergi. Gallen yang tak tau harus berkata apa pun kembali mengejar langkah gadis itu. Sementara Melvin hanya tersenyum penuh kemenangan. "Ngelak aja terus! Tapi, aku tau betul isi kepala mu apa, Kaira!" gumam Melvin. "Meskipun kamu pura-pura mesra sama Gallen tetep aja hatimu nggak berpaling dari aku." Melvin tersenyum penuh kemenangan. "Ayo, kita lanjutkan ke ruangan yang lain!" tambah Melvin pada orang yang mengantarnya berkeliling itu. Yang tak pernah ia ketahui, ucapan Kaira itu benar adanya. Karena ternyata di balik pintu gudang. Seseorang telah bersiap dengan tali yang terikat pada balik besar di atas plafon. Dan rencananya tali itu akan dilepaskan tepat saat Melvin berada di bawahnya. Hanya saja, karena kedatangan Kaira semua rencana lelaki misterius itu sia-sia. Lelaki bertopeng itu pun langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi anak buahnya. "Sial! Rencana kita gagal! Tarik semua anak buah kita dari tempat ini. Jangan sampai mereka curiga!" "Baik, Bos!" Tut sambungan terputus. Lelaki itu pun melirik ke arah pintu. "Sekarang mungkin kamu masih bisa selamat, Melvin. Tapi, ku pastikan tidak untuk lain kali." Sepanjang perjalanan pulang. Tak ada percakapan diantara ketiganya. Mereka semua terdiam dengan pikiran masing-masing. Kaira yang masih merasa kesal pada Melvin, Melvin merasa kepedean dengan sikap Kaira, sedang Gallen diam-diam memperhatikan ekspresi wajah keduanya dengan cemburu. 'Apa mungkin ucapan Melvin benar? Jika Kaira masih memendam perasaan padanya? Kai, sebenarnya apa sih yang kamu sukai dari cowok tengil dan kekanak-kanakan itu?' pikir Gallen sambil melirik Kaira sesekali di sela-sela menyetirnya. 'Ah, nggak mungkin. Ini pasti karena kesalahpahaman aja,' tambah Gallen masih dalam hati. "Oh, ya. Kalian mau turun dimana?" Akhirnya Gallen memecah keheningan. "Halte depan saja!" ujar Melvin dan Kaira bersamaan. Membuat keduanya langsung menatap dengan wajah curiga. "Eh, ngapain kamu ikut-ikutan turun disana? Mau pulang bareng aku? Udah nggak kuat jauh-jauh dari aku?" kata Melvin penuh percaya diri. "Enak aja! Kamu kali yang mencuri ide ku. Itu kan hobi kamu sekarang." "Eh, jaga bicaramu ya!" "Udah-udah. Aku anterin aja kalian gimana?" tanya Gallen untuk menenangkan pertengkaran mereka. "Jangan!" kata Melvin dan Kaira kembali kompak. Kali ini sampai membuat kening Gallen berkerut. "Kenapa?" "Ehms.... Aku udah nggak tahan dekat-dekat sama gadis kutu buku ini. Minggir! Minggirin mobilmu sekarang!" ujar Melvin cepat. "Yeee. Aku juga udah sepet seharian ini ngelihat wajahmu terus. Udah sana keluar!" Galle pun meminggirkan mobilnya. Melvin dengan wajah manyunnya keluar. "Kamu yakin mau turun disini? Kan disini nggak ada taksi lewat?" ujar Gallen heran. "Udah nggak usah bingung. Anterin aja tuh si gadis kutu buku itu. Aku bisa jaga diriku sendiri." "Lah, ya bagus. Ayo, Gallen kita pergi sekarang!" Kiara menutup kaca jendela di sampingnya lalu mobil Gallen pun kembali melaju meninggalkan Melvin sendirian. "Ish. Sialan! Bener juga kata si Gallen. Disini kan nggak ada taksi lewat. CK. Harus hubungi Hanan biar jemput aku disini," gumam Melvin sambil mengeluarkan ponselnya. Sementara itu, di dalam mobil Gallen merasa cukup lega. Karena sikap Kaira dan Melvin barusan menunjukkan bahwa apa yang sempat ia takutkan tidak akan terjadi. "Kamu jadi aku antarkan sampai halte depan aja? Gimana kalau sampai rumah aja!" "Hah! Jangan!" kata Kaira cepat. Kening Gallen kembali berkerut. "Kenapa? Kan udah lama juga aku tidak ketemu dengan nenek mu," balas Gallen. "Sebenarnya nenek aku udah meninggal, Len." Kaira berkata jujur. "Apa? Kapan? Kenapa kamu nggak cerita sama aku?" "Ceritanya panjang, Len. Intinya selama ini nenek menutupi penyakit kronisnya dari aku. Akupun syok saat dia tiba-tiba kambuh dan tiba-tiba meninggal." "Kamu yang sabar ya, Kai. Kamu jangan pernah merasa hidup sendiri. Karena aku akan bersedia dua puluh empat jam untuk kamu." "Terima kasih, Len. Tapi untuk saat ini aku tidak bisa ajak kamu sampai ke rumah. Karena aku tidak ingin tetanggaku berpikir macem-macem sama kita. Apalagi sekarang di rumah ku tidak ada siapa-siapa. Pasti akan sangat mudah kita terjebak fitnah." Gallen memaksakan senyumnya sambil mengangguk pelan. "Baiklah. Aku mengerti." "Thanks, Len. Nah, udah sampai halte. Aku turun sini ya!" Kaira membuka pintu di sampingnya, tapi sebelum keluar Gallen kembali menahannya. "Kaira." "Ya." "Ehms.... Boleh ya aku nungguin kamu sampai dapat taksi. Cuma buat mastiin aja kamu baik-baik saja." Kaira tersenyum lalu mengangguk setuju. Gallen pun ikut tersenyum dan mereka keluar bersama. Sambil menunggu taksi lewat, mereka mengobrol cukup banyak. Memang tak pernah ada yang membosankan jika sudah mengobrol dengan Gallen seperti ini. Ada saja perbincangan yang membuat mereka melupakan waktu yang sudah berlalu. Diam-diam Gallen memperhatikan kecantikan wajah Kaira yang membuat rasa cintanya semakin besar membara di dalam d**a. Hanya saja, saat dia ingin mengungkapkannya. Bibirnya mendadak terasa terkunci. "Kai. Sebenarnya ada yang ingin aku katakan sama kamu." "Apa? Kok tiba-tiba jadi serius wajah kamu sih?" "Sebenarnya aku...." "Itu ada taksi datang." Perhatian Kaira teralihkan seketika. Ia pun melambaikan tangannya ke depan untuk menghentikan laju taksi itu. "Maaf ya, Len. Lanjutin besok aja ngobrolnya. Aku udah capek banget. Pengen segera pulang." "Ia, Kai. Nggak usah dipikirin. Nggak penting kok." "Kok gitu? Kamu marah?" "Enggak dong. Cuma kamu memang sudah harus istirahat segera. Nanti kamu hubungi aku kalau sudah sampai." "Ok. Thanks ya, Len. Aku duluan. Bye!" "Bye, Kai," balas Gallen tak bersemangat sambil melambaikan tangannya. Sungguh, meskipun besok mereka akan bertemu lagi, tetapi Gallen selalu membenci perpisahan dengan Kaira. Lelaki itu pun terus memandangi taksi yang membawa Kaira pergi. Hingga benar-benar hilang bersama kendaraan lain yang berlalu lalang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN