Bab. 12 Melvin Dalam Bahaya

1008 Kata
Kaira sedang fokus dengan laptop di depannya saat Gallen datang membawakan makanan. Mereka memang masih berada di area bekas industri itu. Tepatnya di taman samping yang masih terlihat cukup terawat. "Kai! Ayo, makan dulu. Ini udah masuk jam istirahat lho!" kata Gallen sambil meletakkan dua wadah bento yang baru saja dipesan untuk semua orang yang datang. Namun, Kaira bergeming. "Aku sedang memeriksa laporan surveyor kita. Kenapa hasilnya yang sekarang dan kemarin banyak yang berbeda. Ya, nggak semuanya sih. Cuma beberapa tempat hasilnya cukup signifikan," balas Kaira tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop di depannya. "Oh, ya? Biasanya tim surveyor kita bisa diandalkan kok. Dan pendataan ulang kondisi lapangan memang selalu aku lakukan untuk memastikan tempat itu cocok dengan proyek kita." "Beneran, Len. Coba kamu lihat ini!" Kaira menggeser sedikit laptopnya ke arah Gallen yang duduk di sampingnya. Gallen yang tertarik pun langsung mencondongkan tubuhnya mendekat. "Pada laporan awal tertulis jika kondisi area gudang cukup aman, struktur bangunan juga masih kokoh dan tanah tidak ada kendala. Tapi, pada hasil pemeriksaan tim surveyor kita barusan. Kondisi gudang cukup memprihatinkan. Kontur tanah mengalami pergeseran, sehingga membuat bangunan sedikit miring dan bagian atas sudah mulai rapuh." "Oh, tadi memang ada yang sempat bilang. Jika saat pemeriksaan pertama mereka cukup tergesa-gesa. Karena dikejar deadline dan harus memeriksa beberapa tempat sekaligus. Mungkin saja mereka tertukar data untuk beberapa bagian." Gallen menatap Kaira yang masih tampak cemas. Ia pun tersenyum lalu berkata, "Jangan khawatir! Tim kita semuanya profesional kok. Udah, yuk makan dulu! Aku nggak mau kamu sakit hanya karena terlalu memikirkan proyek ini." "Ini proyek pertama ku. Aku hanya ingin meminimalisir kegagalan ku aja. Dan jujur aku mulai gugup." Lagi-lagi Gallen tersenyum kemudian meraih tangan Kaira. "Tenang, Kai. Aku akan selalu ada untuk kamu dan memastikan semuanya akan berjalan lancar. Jangan merasa gugup lagi ya!" ujar Gallen tulus. Kaira membalas tatapan Gallen. Kepalanya pun mengangguk dengan senyum yang terukir sempurna. Tanpa mereka berdua sadari Melvin sedang mengawasi dari jarak yang cukup jauh. Lelaki itu terlihat sebal karena sikap keduanya yang malah asik berduaan. "Dasar nggak tau tempat! Udah tau kita datang kesini untuk bekerja. Kenapa mereka sibuk pacaran," gumam Melvin. "Tapi, biarin aja deh. Mending aku ambil gambar mereka lagi buat dijadiin bukti ke Mama Papa dan Pengadilan Agama nanti. Kalau Kaira terbukti selingkuh. Pasti perceraian kita akan semakin mudah." Melvin mengambil ponsel yang tersimpan di dalam saku jas. Setelah itu memasang kamera untuk mengambil gambar Kaira dan Gallen di depan sana. Sayangnya, tiba-tiba tangan berhenti. Ketika kamera ponselnya mengambil gambar saat wajah Gallen menutupi wajah Kaira seakan sedang menciumnya. "s**t! Mulai berani mereka." Melvin hendak mendekat, tapi tiba-tiba seseorang memanggilnya dari belakang. "Pak Melvin!" Melvin pun berbalik. "Gudang susah siap, Pak. Silahkan untuk di cek kembali!" tambahnya. "Baik. Saya akan segera ke sana," balas Melvin sambil sesekali melirik ke arah Kaira dan Gallen. Akhirnya dengan perasaan tak tenang, Melvin meninggalkan tempat itu. Sementara itu, Gallen terus meniup mata Kaira yang kelilipan. Saat ada hembusan angin lewat tadi. "Udah-udah, Len. Udah mendingan kok," kata Kaira. Gallen yang sebenarnya masih menikmati kedekatan mereka yang hanya beberapa inchi saja pun terpaksa memundurkan tubuhnya perlahan dengan senyum yang sedikit dipaksakan. "Duh, makasih banget ya! Kalau nggak ada kamu pasti mataku udah iritasi." Gallen melebarkan senyumannya. "Your welcome, Kai. Kalau masih perih aku ambilin obat tetes mata ya! Aku selalu menyimpan obat P3K di mobil untuk jaga-jaga." "Iya, Len. Aku beneran udah nggak papa kok. Yuk, mending kita lanjut makan aja!" "Jangan dong, Kai! Aku pesen makanan baru aja ya! Kan yang ini udah kena debu tadi." "Hahaha. Apaan sih? Masih bisa dimakan. Mubazir kalau mau dibuang. Ingat ya! Masih banyak banget orang-orang di luar sana yang membutuhkan makanan. Jadi, selama masih layak kita nggak boleh menyia-nyiakan makanan." "Kai, kamu memang gadis yang sempurna," gumam Gallen terpesona. "Ish. Kamu ngomong apa sih? Semua orang juga gitu kali. Udah ayo makan!" Gallen hanya mengangguk kemudian mulai menikmati makanannya. Dia tak henti tersenyum melihat tingkah Kaira yang terlihat begitu suka dengan makanannya. Hingga beberapa waktu berlalu, Kaira teringat sesuatu. "Kita cuma makan berdua saja. Yang lain kemana?" "Kalau yang lain yang kamu maksud itu si Melvin? Dia sedang mengecek bagian belakang. Terutama gudang yang menurut beberapa orang tak seburuk hasil pemeriksaan tim surveyor kita." "Apa? Gudang?" gumam Kaira sambil tampak berpikir. Gallen mengangguk pelan sambil menatap ekspresi wajah Kaira yang tiba-tiba berubah. Kaira terdiam meskipun otaknya kembali mengingat kejadian beberapa saat sebelumnya. Ketika dia sedang mengambil beberapa gambar untuk dokumentasi sendirian mengelilingi tempat ini. Dia tak sengaja melihat beberapa orang mencurigakan di sana. Seakan telah merencanakan sesuatu. 'Tunggu. Kenapa hati ku merasa ada sesuatu yang tidak seharusnya terjadi? Hasil pemeriksaan tim surveyor pertama, seakan ingin menjebak kami datang kesini,' pikir Kaira. Memorinya pun menyayangkan kejadian di pesta pernikahan anak cucu Nenek saat dia dan Melvin pertama kali bertemu lagi. 'Aku yakin sih lelaki itu benar-benar ingin mencelakakan Melvin. Dan apa mungkin karena misi dia gagal di pesta saat itu. Dia kini merencanakan sesuatu disini.' "Kai. Kamu kenapa diam?" tanya Gallen yang seketika itu menyadarkan lamunan Kaira. "Len. Melvin dalam bahaya!" timpal Kaira. "Hah?" Gallen terlihat bingung. "Melvin dalam bahaya. Ayo, kita harus selamatkan dia!" Kaira bangkit dari tempat duduknya. Lalu dengan wajah panik dia berlari pergi meninggalkan Gallen yang masih bingung. "Kai! Kaira tunggu!" Gallen akhirnya bangun dan mengejar kepergian Kaira. Di depan Kaira terus berlari mencari Melvin. Sesekali ia bertanya pada orang-orang yang ada disana mengenai keberadaan Melvin, dan semua orang pun langsung menunjuk ke arah yang sama yaitu gudang. Kiara semakin yakin jika tempat itu sengaja dipersiapkan untuk mencelakai Melvin. "Kaira tunggu!" teriak Gallen sambil berlari di belakang Kaira yang tak menghiraukannya. "Melvin jangan!" ujar Kaira dengan lantang tepat saat melihat lelaki itu hendak membuka pintu gudang. Melvin yang sudah terlanjur membuka pintu pun dipersilahkan masuk oleh orang yang mengantarnya. Dia yang sempat ingin menoleh karena mendengar panggilan dari Kaira pun akhirnya mengabaikannya dan melangkah masuk. "Ish. Batu banget sih tuh cowok dibilangin!" Kiara kembali berlari menyusul masuk ke dalam gudang. "Melvin!" Kali ini tak hanya memanggil, Kaira juga menarik tangan Melvin dengan cukup kuat. Hingga akhirnya.... Bruk!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN