Kaira, Melvin dan Gallen pergi bertiga untuk mengecek lokasi yang akan dibangun proyek Pak Barata. Sebenarnya, hanya Melvin dan Kaira yang harus berangkat, tapi Melvin yang tak mau hanya berduaan dengan Kaira memutuskan untuk mengajak Gallen juga.
"Nggak usah sok kepedean! Aku juga nggak mau deket-deket sama kamu!" ujar Kaira ketus. "Ayo, Len! Kita di depan aja! Aku nggak yakin kalau dia yang nyetir," tambahnya lalu masuk ke dalam mobil Gallen dari pintu depan.
"Ish! Baguslah. Aku mau nyantai sendiri di belakang." Melvin masuk ke jok belakang dengan wajah kesal. Sementara, Gallen hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan lalu menyusul Kaira di jok depan dari sisi samping mobil yang lain.
Di dalam mobil Melvin langsung mengeluarkan iPhon-nya lalu memasang AirPods sebelum memutar musik kesukaan dengan cukup keras. Di depan Gallen yang baru saja memasang sabuk pengamannya, baru sadar jika sabuk pengaman Kaira tak terpasang dengan baik.
"Sorry, Kai. Seat belt-nya kayaknya kurang kencang deh!" Gallen mendekatkan tubuhnya ke arah Kaira. Kemudian memperbaiki posisi sabuk pengaman yang digunakan gadis itu. Melvin yang melihatnya dari belakang hanya mendengus sebal sambil membuang wajah keluar jendela.
"Makasih ya, Len," sahut Kaira dengan lembut. Ucapan Kaira pun ditirukan oleh Melvin yang merasa lebay karena ucapan Kaira terlalu lembut. Berbeda halnya saat berbicara dengannya yang selalu dengan nada ketus. Kaira dan Gallen sampai melirik ke belakang.
"Oh, masih sempat nguping ya? Aku kira suara musik dari AirPods itu sudah cukup keras," sindir Kaira.
"Mimik wajah mu, bisa mengungkapkan segalanya. Dasar lebay!" umpat Melvin yang seketika membuat mata Kaira membulat.
"Apa katamu?!" Emosi Kaira pun langsung meningkat.
"Sudah-sudah. Melvin, Kaira. Kalian berdua tolong kali ini saja. Fokus sama tujuan kita. Oke? Proyek ini besar. Kita nggak boleh mengecewakan Pak Barata," kata Gallen menengahi. Melvin dan Kaira pun kembali duduk dengan tenang di jok masing-masing.
"Kamu benar, Len. Untung saja ada kamu. Ayo, kita berangkat sekarang!"
Gallen mengangguk lalu menghidupkan mesin mobilnya.
Sepanjang perjalanan, Gallen dan Kaira terus mengobrol. Ada saja bahan perbincangan yang membuat mereka melupakan sosok lelaki tampan yang duduk di belakang dengan wajah ditekuk puluhan kali. Karena hanya bisa menjadi penonton saja.
'Dasar Gadis Muka Dua! Kalau sama Gallen ataupun Mama Papa aja sok pura-pura baik, tapi kalau sama aku baru keluar semua sosok aslinya,' pikir Melvin sengit. 'Tunggu! Tapi, ini bagus sih. Kalau mereka semakin dekat. Itu artinya rencana ku untuk membuat mereka saling jatuh cinta dan mencari alasan untuk menceraikan Kaira akan semakin berjalan lancar. Hubungan ku dengan Angelina pun nggak ada lagi penghalang. Jika Gallen udah sama si Kaira.' Melvin tersenyum licik sambil menyandarkan punggungnya.
"Vin. Kamu kok diem aja? Nggak tidur kan?" tanya Gallen sambil sesekali melirik ke arah spion yang tergantung di depannya.
"Nggaklah. Aku cuma nggak mau menganggu waktu kalian berdua aja."
"Maksud kamu apa?" tanya Kaira bingung. Melvin melepas AirPods-nya lalu mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Kalian serasi begini? Nggak kepikiran mau jadian?" ujar Melvin. Kaira melotot, sedang Gallen hanya menahan senyumannya.
"Kamu gila!" Kaira menjitak ujung kepala Melvin dengan cukup keras. "Jangan ngomong sembarang! Aku jadi nggak enak sama Gallen," ujar Kaira. Melvin hanya meringis kesakitan seraya kembali menyandarkan punggungnya. "Maaf ya, Len. Tuh anak emang suka ngelantur omongannya," kata Kaira merasa tidak enak.
"Nggak papa kok, Kai," timpal Gallen sambil tersenyum manis.
Kaira pun merebahkan punggungnya ke sandaran. Dia melempar pandangan keluar jendela di sebelahnya sambil berpikir, 'Melvin pasti berniat menyingkirkan ku agar bisa bersama gadis pujaannya lagi. Sekali playboy, tetap saja playboy.'
Entah apa yang terjadi pada dirinya, tapi baik Kaira maupun Melvin merasa ada yang tidak nyaman di dalam lubuk hati mereka yang paling dalam.
Lima belas menit kemudian mereka sampai di lokasi. Tempat ini adalah lahan bekas industri yang sudah lama terbengkalai. Sebab sang pemilik mengalami kebangkrutan sejak tiga tahun yang lalu.
Ketika mobil Gallen berhenti, tampak beberapa lelaki sudah berdiri menunggu kedatangan mereka di sana.
"Selamat datang, Pak Melvin. Selamat datang juga untuk Pak Gallen dan Bu Kaira," ujar seorang lelaki dengan penampilan paling menonjol, saat melihat Melvin dan yang lain turun dari mobil. Sebelum menjawab Melvin melepas kacamata hitamnya dengan wajah angkuh.
"Ya, terima kasih. Jadi, anda adalah penanggung jawab tempat ini?" balas Melvin sambil menjabat tangan lelaki itu.
"Benar, Pak."
"Baiklah. Kalau begitu kami akan memeriksanya terlebih dahulu," balas Melvin.
"Baik, Pak. Silahkan!" Lelaki itu mempersilahkan Melvin untuk jalan lebih dulu.
Mereka berbincang mengenai keadaan bangunan dan lahan seluas 2,2 hektar itu secara professional. Bahkan, tanpa Kaira sadari. Sembari berjalan mengikuti, dia merasa kagum dengan kepandaian Melvin saat berinteraksi dengan orang itu.
'Lumayan juga kemampuan Melvin sekarang,' pikir Kaira. Tak disangka Gallen yang berjalan beriringan dengannya memperhatikan ekspresi Kaira itu.
"Kenapa?" tanya Gallen yang langsung membuyarkan lamunan Kaira.
"Oh, nggak papa kok. Nggak nyangka aja Melvin sekarang bisa berpikir seperti itu."
Gallen tersenyum sekilas.
"Yah, sebenarnya dia nggak sebodoh dulu. Tapi, sikap kekanak-kanakannya nggak pernah berubah."
"Aku setuju banget. Dia memang nggak pernah bisa dewasa. Tidur aja masih pakai piyama gambar Doraemon," ujar Kaira keceplosan.
"Hah? Kok kamu bisa tau kebiasaan Melvin tidur sih?" tanya Gallen heran.
'Mati aku. Bodoh. Kenapa aku harus keceplosan?' rutuk Kaira dalam hatinya. Kaira pun berusaha tersenyum sambil mencari alasan.
"Ehms.... Sebenarnya kemarin malam dia melakukan panggilan video untuk menanyakan berkas kantor. Makanya aku bisa tau. Iya begitu," kata Kaira berbohong.
"Oh, begitu. Jadi, Melvin suka menghubungi kamu di luar jam kerja?"
"Nggak kok. Cuma sekali aja. Mungkin dia takut aku lupa sama tantangan itu. Atau lebih tepatnya dia mau menekan mentalku agar mundur."
Gallen tersenyum lega. Melihat Kaira memanyunkan bibirnya.
"Kamu jangan merasa sendiri ya. Aku akan selalu ada untuk melindungi mu. Aku janji kamu nggak akan lagi ditekan oleh Melvin selama ada aku di samping mu. Makanya kamu jangan sungkan menghubungi ku. Kalau anak kecil itu mulai membuat mu tak nyaman." Gallen berjanji dengan nada lembut. Kaira pun tersenyum melihat ketulusan lelaki itu, lalu mengangguk mantap. Saat mereka sedang asyik tersipu, Melvin membuyarkan semuanya.
"Udah selesai ngobrolnya?" tanya lelaki itu tepat diantara Kaira dan Gallen. Tentu saja langsung mengangetkan keduanya.
"Ish. Kamu apa-apaan sih? Muncul tiba-tiba udah kayak setan aja," kata Kaira kesal.
"Apa kamu bilang? Eh, inget ya! Ini masih jam kerja. Kalau kalian mau berduaan atau mau pacaran. Cari lain waktu dong. Ini saatnya kerja!"
"Ish. Ngomong apa sih nggak jelas!"
"Udah-udah. Ayo, kita lanjut memeriksa tempat ini! Aku panggil surveyor juga biar bisa memastikan kontur tanah dan lain-lain." Gallen kembali menenangkan kedua insan yang selalu bertengkar saat berhadapan itu.