Bab. 10 Kalian Harus Bersatu

1172 Kata
Di lobby kantor, Kaira berdiri dengan penuh percaya diri. Kedua tangannya dilipat di depan d**a, bibirnya tersenyum miring, sementara matanya memandang remeh Melvin yang ada di hadapannya. Tak lupa Gallen berdiri di belakang Kaira seperti bodyguard yang siap menjaga gadis itu. Melvin pun tak sendiri, ada Hanan yang berdiri di belakangnya seperti asisten. Raut wajah Melvin pun tak mau kalah dari Kaira. Meskipun jauh di lubuk hatinya tetap ada keraguan pada dirinya sendiri. Hanya saja dia tak ingin menunjukkannya. "Melvin. Tak usah memaksakan diri. Masih ada kesempatan untuk mundur. Setidaknya itu bisa membuat kamu tidak mempermalukan diri di depan klien!" Melvin tersenyum sekilas. "Kamu pikir proposal kamu sudah menjadi yang terbaik? Ingat! Kamu belum mengetahui isi proposal ku. Sementara aku sudah mengetahui kelemahan dari proposal jelek mu itu." "Melvin. Kau–" Kaira ingin tak terima, tapi Gallen segera menahannya. "Sudah-sudah. Kaira, kamu tak perlu ribut disini. Biarkan klien kita yang menilainya nanti. Dia bukan orang sembarangan. Dia pasti tau mana yang terbaik dari rencana kalian berdua dengan proyek ini." "Gallen benar. Sebaiknya kita langsung pergi sekarang!" tambah Hanan. "Baiklah. Ayo, kita berangkat! Dan untuk kamu! Siapkan tissue yang banyak untuk menampung air mata kekalahan mu nanti!" Melvin mengejek Kaira sebelum melangkah pergi. Kaira ingin sekali menjambak rambut lelaki arogan itu. Tetapi lagi-lagi Gallen menahannya. "Sudah, Kaira. Ayo! Kita juga tidak boleh terlambat dari mereka." Kaira mengangguk, kemudian dia dan Gallen pun segera menyusul keluar dan menuju mobil Gallen yang sudah disiapkan. Tak butuh waktu lama untuk sampai di ruang VIP Lounge, tempat mereka janjian dengan klien. Aura ketegangan diantara Melvin dan Kaira pun terasa begitu kuat, bak rival perusahaan yang ingin memenangkan tender. Sedangkan Gallen dan Hanan menunggu di luar ruangan itu. Pak Barata Aditama, salah satu Pengusaha terkaya di Indonesia dari Aditama Group, membaca dan memahami satu persatu proposal yang mereka berdua ajukan. Sesekali baik Melvin dan Kaira saling melempar tatapan sinis. Seolah ingin mengejek satu sama lain. Pak Barata meletakkan kedua berkas itu bersamaan. Membuat senyum Melvin dan Kaira mengembang penuh harapan. "Bagaimana, Pak? Proposal saya jauh lebih baik, bukan?" ujar Kaira penuh semangat. Melvin tersenyum meremehkan. "Mungkin rencana mu bagus, tapi kamu lupa satu hal. Kamu tidak tau seperti apa lokasi yang diinginkan Pak Barata dan cocok dengan keadaan di lapangan. Sementara pada proposal saya, saya sudah merekomendasikan tempat-tempat strategis yang sangat cocok dengan proyek yang hendak anda bangun." Kaira tak bisa membalas, meskipun dia sangat ingin melakukannya. Ucapan Melvin benar, dia terlalu lama tinggal di Jepang sehingga tak begitu tau dengan kondisi lapangan di Indonesia sekarang. "Ya-iya. Pak Melvin benar. Kelemahan rencana Bu Kaira memang pada info lokasi yang kurang matang. Saya tidak menyalahkan Ibu. Karena saya tau Bu Kaira menempuh pendidikan di Jepang beberapa tahun terakhir ini." Mendengar penuturan Pak Barata, Melvin langsung tersenyum penuh kemenangan kepada Kaira. Namun, tak lama Pak Barata melanjutkan, "Akan tetapi saya juga tidak bisa mengabaikan proposal milik Bu Kaira yang sangat bagus. Desain dan detail arsitektur yang Bu Kaira rencanakan sangat sempurna. Sangat mirip dengan ilmu konstruksi dari Profesor Hiroshi yang sudah terkenal itu." "Jadi, kesimpulannya proposal siapa yang Bapak pilih?" Kaira bertanya dengan hati-hati dan penuh rasa keingintahuan. Pak Barata tersenyum kembali. "Bukankah kalian satu perusahaan? Saya pikir akan menjadi sempurna jika ide brilian kalian berdua disatukan. Pak Melvin paling paham dengan kondisi lapangan, sedangkan Bu Kaira memiliki kemahiran merancang bangunan. Bahkan bisa persis seperti yang saya inginkan. Dan saya akan sangat senang. Jika proyek ini dipimpin oleh kalian berdua." "Apa?" Melvin dan Kaira terkejut. Lalu saling memandang satu sama lain. "Kenapa? Ada masalah?" Melvin seketika menggeleng. "Tidak. Tentu saja tidak, Pak. Kami hanya ingin memberikan dua referensi terbaik dari perusahaan kami. Jika anda menghendaki gabungan dari kedua ide tersebut. Sungguh itu hal yang sangat bisa kami lakukan. Bukan begitu, Bu Kaira?" Melvin melempar tatapan penuh intimidasinya pada Kaira. Tentu saja dia tak ingin proyek sebesar itu akan lepas begitu saja. Kaira pun akhirnya mengangguk, dia tau betul apa yang terjadi saat itu. Sedikit saja mereka melakukan kesalahan dan menunjukkan ketidakakuran di internal perusahaan. Tentu proyek itu akan segera melayang dan jatuh di tangan perusahaan lain. 'Ini proyek pertama ku. Aku tak boleh gagal,' batin Kaira. "Baik, Pak. Dengan senang hati." "Baiklah. Kalau begitu kita tandatangani kontraknya sekarang!" Melvin dan Pak Barata saling bertukar berkas untuk ditandatangani bersama. Setelah itu mereka pun saling berjabat tangan dengan senyum yang terus mengembang. "Terima kasih, Pak Barata. Senang bisa bekerja sama dengan anda." "Sama-sama." Pak Barata pun segera pergi bersama asisten pribadinya. Sedangkan Kaira dan Melvin saling melempar pandang dengan sinis. "Bagaimana? Proposal siapa yang akhirnya dipilih?" tanya Hanan penasaran sambil masuk ke dalam ruangan itu bersama Gallen. Melvin dan Kaira tak langsung menjawab, tapi wajah mereka masih terlihat kesal. "Aku tak ingin membahas ini sekarang. Ayo pergi!" balas Melvin kemudian berjalan lebih dulu. Hanan pun langsung menyusul kepergiannya meninggalkan Gallen dan Kaira yang masih berdiri disana. "Sebenarnya. Apa yang sudah terjadi, Kai?" Gallen terlihat sangat khawatir. Kaira mengambil nafas panjang lalu dikeluarkan secara perlahan. "Aku ceritain di jalan saja ya, Len." Gallen pun mengangguk setuju. Sementara itu di belahan dunia yang lain.... "Geser dikit lagi sebelah kiri, Mang! Itu masih sedikit miring!" ujar Riyanti pada tukang kebunnya yang sedang menempelkan pigura besar bergambar foto keluarga hasil jepretan fotografernya kemarin. "Ya. Bagus sekali! Perfect!" Riyanti menatap puas gambar dirinya, sang suami beserta Kaira dan Melvin yang menggunakan pakaian pengantin itu. "Apa masih ada lagi, Nyonya?" tanya Mang Arif. Riyanti menggeleng tanpa melepas senyumannya. "Tidak, Mang. Sudah cukup! Terima kasih ya!" "Baik, Nyonya! Saya permisi dulu." Riyanti hanya mengangguk seraya menatap kepergian lelaki paruh baya itu. Tak lama kemudian Papa Melvin datang. "Wah. Sudah jadi ya? Bagus juga hasilnya?" "Iya dong, Pa. Fotografer Mama kan memang yang terbaik." "Sayang ya. Sofia dan Setiaji udah nggak ada. Coba kalau mereka masih hidup. Pasti senang sekali kita sekarang jadi besan," ujar Papa Melvin sambil merangkul pundak istrinya dan bersama-sama menatap ke arah foto besar itu. "Iya, Pa. Mama juga memikirkan hal yang sama." "Malem, Pa, Ma. Ngapain berdiri disini?" tanya Melvin yang juga baru saja datang. Tak berselang lama Kaira pun datang. "Assalamualaikum." "Wa'alaikumsalam," balas Riyanti dan suaminya. "Baguslah kalian sudah pulang semua. Mama mau kalian lihat hasil foto kemarin. Bagus, kan?" Kaira dan Melvin baru sadar dengan foto besar di dinding ruang tamu. Seketika mereka pun melotot melihatnya. "Ma. Kok jadi sebesar ini? Bukannya hanya untuk album foto keluarga?" protes Melvin. "Untuk album ada. Tapi, Mama kan juga ingin memasangnya di dinding. Biar banyak yang tau kalau Mama sudah punya menantu secantik Kaira," puji Riyanti sambil mengelus dagu Kaira yang hanya bisa tersenyum kecil. "Tapi, Ma–" "Jangan banyak alasan! Mama juga sudah pasangkan satu di kamar kalian. Itu foto terbaik kalian lho," kata Riyanti sambil menahan senyum gelinya. Melvin dan Kaira saling melempar pandang. Lalu seketika mereka berlari ke arah kamar. Dengan tergesa-gesa Melvin membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Dan seketika matanya terbelalak melihat foto besar di dinding kamar. "Oh, my God!" pekik Kaira yang tak kalah terkejutnya. Lalu mereka pun saling membuang wajah yang sedikit memerah. Setelah memperhatikan foto saat mereka berciuman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN