Kaira terpaksa pulang malam karena harus menyelesaikan tugas-tugasnya. Untung ada Gallen yang membantu sampai selesai. Bahkan, Gallen menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Hanya saja, Kaira menolak dengan lembut. Tentu saja dia tak ingin Gallen tau dimana dia tinggal sekarang.
"Kaira. Kok kamu baru pulang jam segini?" tanya Riyanti cemas. Ketika melihat gadis itu baru datang. Melvin dan ayahnya yang sedang makan pun langsung menghentikan gerakannya dan menoleh bersamaan.
"Palingan dia pergi jalan-jalan dulu, Ma. Sama temen-temennya atau malah sama cowok lain?" Mendengar ucapan Melvin Kaira langsung membulatkan matanya. Kedua tangannya juga mengepal kuat seakan ingin menonjok lelaki itu.
'Sialan si Melvin! Bisa-bisanya dia bilang gitu, sedangkan aku pulang malam gara-gara tugas dia yang seabrek.' Kiara hanya bisa mengomel dalam hati.
"Melvin. Jangan bicara sembarangan! Kaira ini gadis baik-baik. Jangan samakan dengan kamu atau gadis pujaan mu yang suka keluyuran itu," balas Riyanti dengan nada semakin meninggi. Kaira hanya terdiam, tapi bibirnya menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
"Ish. Kenapa jadi bawa-bawa Angelina?" sungut Melvin sebal. "Mama belum tau aja dia seperti apa? Nanti kalau tau pasti kaget," tambahnya yang membuat Kaira semakin panas.
"Maaf, Ma. Aku baru bisa pulang karena harus kerja lembur. Tiba-tiba bosku yang bawel itu memberikan tugas yang banyak dan harus segera di selesaikan. Aku tak mungkin pulang sebelum pekerjaan ku selesai." Cepat-cepat Kaira menyela sebelum Melvin membuka rahasianya.
"Oh, Sayang. Kasihan sekali kamu. Sudahlah. Lebih baik kamu resign saja. Lalu masuk ke perusahaan Melvin. Orang jahat seperti itu untuk apa sih dipertahankan."
"Tidak, Ma. Meskipun dia arogan dan suka semaunya sendiri, tapi aku nyaman kok kerja disana."
"Kamu yakin?"
"Iya. Mama Riyanti tenang saja. Aku masih bisa kok menghadapinya. Kalau dia sampai berani macem-macem. Aku kerjain aja dia sama kecoa."
Melvin yang sedang mengunyah makanannya langsung tersedak saat mendengar ucapan Kaira.
"Dia takut kecoa juga? Kok sama kayak si Melvin," tanya Riyanti polos yang membuat Melvin langsung gelagapan.
"Ma. Jangan diajak ngobrol terus dong. Kaira pasti capek dan laper! Iya, kan?" Papa Melvin menyela.
"Astaga benar juga. Maaf ya, Sayang. Mama terlalu khawatir sama kamu. Makanya jadi lupa. Kamu pasti laper, kan? Ayo, kita makan bersama."
Kaira tersenyum lalu mengangguk setuju. Saat ia hendak duduk di samping Riyanti, tiba-tiba saja sang ibu mertua itu menahannya.
"Sayang. Duduklah di samping suamimu."
Kaira melirik Melvin sekilas dengan sebal, tapi tentu saja dia tak mungkin menolak perintah sang ibu mertua.
"Baik, Ma."
Dengan terpaksa Kaira pun pindah di samping Melvin duduk. Meskipun tak menoleh, ekor mata Melvin tetap melirik ke arah Kaira. Dia bisa menangkap aura kemarahan pada gadis itu. Namun, dia malah tersenyum kecil dan melanjutkan makan malamnya.
"Kalian sudah berkumpul. Sekarang Papa dan Mama ingin mengatakan sesuatu," ujar sang Papa yang sedari tadi hanya diam. Kaira dan Melvin saling melempar pandang. Kali ini mereka kompak merasakan ada hal yang tak menyenangkan yang akan orang tua Melvin katakan.
"Apa, Pa?" tanya Melvin penuh kecurigaan.
"Kalian kan menikah begitu singkat dan mendadak. Tanpa persiapan apapun. Tak ada yang sempat merekam momen indah itu. Jadi, Mama dan Papa setuju. Jika besok kalian akan melakukan foto Pernikahan."
Kaira dan Melvin langsung membulatkan matanya sambil saling melirik satu sama lain.
"Dan Mama sudah menyiapkan semuanya. Dari tempat yang bagus, gaun pengantin cantik untuk Kaira beserta fotografer professional juga." Riyanti tampak begitu excited. Dari tatapan matanya Kaira memberikan kode agar Melvin membuat alasan untuk menggagalkan rencana sang Mama itu.
"Tapi, Ma. Kita kan harus berangkat bekerja. Iya kan, Kai?" Melvin berkata dengan senyum yang dibuat-buat.
"Melvin benar, Ma. Kita sedang ada banyak pekerjaan di kantor. Lagipula aku tak mungkin mengambil cuti satu hari pun. Bosku yang bawel pasti akan memarahiku nantinya."
Mendengar Kaira masih berusaha mencelanya diam-diam, Melvin melempar tatapan tajam pada gadis itu. Sayangnya, Kaira tak takut lagi dengan intimidasinya. Dia justru menjulurkan lidahnya sesaat sebagai tanda ejekan. Melvin yang tak terima ingin membalasnya, hanya saja perhatian mereka teralihkan oleh ucapan Riyanti selanjutnya.
"Kalian lupa besok kan weekend. Kalian libur. Jadi, nggak ada alasan lagi untuk menolak rencana Mama dan Papa."
"Papa benar. Lagipula Mama sudah lama ingin pasang status pernikahan anak Mama. Pasti teman-teman Mama akan kaget semua," kata Riyanti sambil tersenyum-senyum sendiri membayangkannya. Sementara Kaira dan Melvin saling melempar pandang dengan wajah cemas.
Kali ini rencana Riyanti berhasil dilakukan. Meskipun Kaira dan Melvin sudah melakukan banyak cara untuk menggagalkannya, tapi Riyanti sudah menyiapkan berbagai macam cara untuk menyukseskan keinginannya.
Dengan wajah malas Melvin yang sudah rapi dengan balutan tuxedo mahal ala pangeran William, menunggu Kaira yang masih bersiap-siap di balik tirai. Seorang make up artist ternama pun dipesan Riyanti untuk mempercantik tampilan Kaira hari ini.
Riyanti yang tidak sabar, berjalan mondar-mandir di hadapan Melvin. Dia sudah ingin sekali melihat kecantikan Kaira yang sudah diprediksi akan membuatnya tercengang. Mengingatkan gadis itu memang tak suka menggunakan riasan di wajahnya.
Lima belas menit kemudian. Sang MUA pun keluar.
"Pengantin wanita sudah selesai di-make up," ujar sang MUA.
"Iya-iya. Cepat buka tirainya!" Riyanti berkata dengan penuh semangat. Sang MUA dan asistennya pun mengangguk. Lalu perlahan mereka membuka tirai itu dan menunjukkan sosok cantik di baliknya.
Mata Riyanti nyaris melompat keluar. Wajah sang suami pun langsung terpukau. Sedangkan Melvin, tak bergerak sama sekali. Matanya fokus menatap Kaira, bibirnya sedikit terbuka dan tanpa sadar dia menjatuhkan majalah di tangannya. Dia tersadar tepat saat bunyi buku itu menyentuh lantai. Melvin pun beranjak dengan gugup. Dia berusaha mengabaikan Kaira. Sayangnya, matanya berkata lain. Karena selalu melirik ke arah Kaira setiap ada kesempatan.
"Wow. Kamu cantik sekali, Sayang. Dengan gaun pengantin putih ini dan makeup yang sempurna. Mama yakin kamulah pengantin paling cantik di dunia ini."
"Ah, Mama terlalu berlebihan."
"Tidak, Sayang. Mama berkata yang sebenarnya. Iya kan, Melvin?" Melvin sedikit gelagapan, karena pada saat itu dia pun sedang memperhatikan Kaira.
"Ya... Ya semua pengantin pasti cantik dong, Ma. Angelina pun akan lebih cantik kalau memakai gaun itu."
Riyanti memukul kepala anaknya pelan.
"Ish. Bisa-bisanya kamu menyebutkan gadis lain sekarang. Ini adalah waktu untuk kalian berdua. Jangan pikirkan orang lain lagi. Sudah sana keluar. Fotografer Mama sudah menunggu kalian."
Melvin dan Kaira hendak berjalan beriringan, tapi Riyanti langsung menggandengkan kedua tangan mereka. Sehingga jarak mereka semakin dekat.
'Oh, s**t! Kenapa jantung ku tiba-tiba berdebar kencang?' batin Melvin.
'Semoga aja ini cepat selesai. Karena aku merasa sangat canggung berdekatan dengan Melvin seperti ini.' Kaira juga bersuara dalam hati.
Di luar hotel bintang lima itu ada spot yang sangat indah menghadap ke lautan lepas dengan ombak yang cukup tenang. Kaira dan Melvin berdiri berdampingan dengan rasa canggung luar biasa.
"Ayo, lebih mepet lagi!" ujar sang fotografer. Kaira dan Melvin pun menggeser tubuhnya sedikit sambil membuang wajah. Karena menahan debaran jantung yang semakin menggelora.
"Sebagai bos kamu yang bawel. Aku melarang mu terlalu dekat. Karena aku tak ingin kamu jatuh cinta lagi padaku," bisik Melvin dengan nada penuh penekanan. Kaira seketika merasa muak.
"Apa katamu? Lihatlah siapa yang terpesona dengan kecantikan ku tadi! Kupikir kamu yang seharusnya mulai jaga diri."
"Jangan pernah bermimpi Bibi. Aku memiliki gadis yang jauh lebih sempurna daripada kamu."
"Maksudmu gadis yang sudah berulang kali menolakmu itu. Kurasa dia sudah sadar jika bersamamu adalah kutukan yang paling besar." Kaira tak mau kalah.
"Kau–" Melvin sangat geram. Dia ingin membalas, tapi suara Riyanti yang berdiri tak jauh dari mereka langsung mengalihkan perhatian keduanya.
"Stop! Stop! Kalian berdua jangan bergerak diluar instruksi fotografernya dong. Agar hasilnya bagus. Nanti kalau jelek kan Mama yang malu."
"Dengerin tuh kata Mamamu," sindir Kaira berbisik.
"Cerewet!" balas Melvin dengan nada yang sama.
"Baik. Kita mulai fotonya ya. Tolong kalian lebih dekat lagi!"
Kaira dan Melvin kembali bergeser meskipun hanya satu senti.
"Bisa lebih dekat lagi?" Mereka kembali bergeser dengan jarak yang sama. Hingga akhirnya membuat geram sang fotografer.
Fotografer itu pun mendekat, kemudian memepetkan keduanya.
"Jangan terlalu canggung! Agar hasilnya bagus." Kaira dan Melvin hanya mengangguk.
Akhirnya mereka berdua pun melakukan semua yang diperintahkan oleh sang fotografer. Mulai dari foto formal berdua, dengan kedua orang tua Melvin, sampai pada saat mereka harus berpose mesra.
"Sekarang kedua tangan pengantin wanita dikalungkan ke leher pengantin pria. Sedangkan sang pengantin pria menahan pinggang sang istri," ujar Sang Fotografer sambil memposisikan keduanya seperti yang dia katakan. Pada saat itu Melvin dan Kaira tak banyak membantah. Selain karena ada Riyanti yang mengawasi, tapi mereka juga sedang sibuk dengan perasaan masing-masing.
"Tahan. One. Two. Nice," kata sang fotografer. Setelah melihat hasilnya dia pun kembali memberikan instruksi. "Sekarang foto yang lebih mesra. Adegannya kalian berciuman."
"Hah? Apa? Berciuman?" Melvin dan Kaira pun terkejut.
"Iya. Kenapa? Ada yang salah? Bukankah kalian sudah sah menjadi suami istri?"
"I... Iya, tapi...," ucap Kaira terbata sambil sesekali melirik ke arah Melvin. Lelaki itu pun diam-diam melakukan hal yang sama.
"Sayang. Nggak usah malu-malu ya! Papa dan Mama pura-pura nggak lihat deh." Riyanti dan suaminya pun balik badan sambil menahan tawa gelinya.
"I... Iya, Ma."
"Jadi, apa bisa kita mulai lagi?"
"Baik," timpal Kaira. Dia kembali memutar badannya. Berhadapan dengan Melvin. Tak lupa tangannya kembali dikalungkan di leher lelaki itu meskipun dengan ragu-ragu.
Melvin juga kembali meraih pinggang Kaira. Debaran di jantungnya semakin kencang. Apalagi saat wajah mereka bertemu. Rona merah di bibir ranum Kaira kembali membangkitkan sesuatu yang menggelora di dadanya. Belum sampai hitungan ketiga dari sang Fotografer. Melvin sudah tidak sabar mendaratkan bibirnya di bibir Kaira. Membuat gadis itu sedikit terkejut, tapi juga perlahan menikmatinya.