Kaira dan Melvin datang ke kantor seperti biasa. Mereka berpura-pura seakan tak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Bahkan, tampak semakin tak akur.
"Aku tak setuju!" ujar Melvin di tengah-tengah presentasi Kaira mengenai rancangan proyek terbarunya. Semua orang yang sebelumnya tampak kagum dengan kepandaian Kaira pun seketika menoleh ke arah Melvin dengan wajah penuh tanda tanya.
"Vin. Yang bener aja. Ide Kaira itu brilian banget lho. Aku yakin proyek ini pasti akan sukses," bisik Hanan yang duduk di sebelah Melvin.
"Hanan benar, Vin. Kamu ini kan pemimpin perusahaan. Tolong jangan campurkan urusan pribadi dengan kepentingan perusahaan. Kamu bukan anak kecil lagi. Bersikaplah dewasa."
Melvin menarik sebelah ujung bibirnya sambil menatap lurus ke arah Kaira yang berdiri di ujung meja rapat.
"Justru karena aku pemimpin. Aku tidak ingin proyek sebesar ini jatuh ke tangan orang yang salah."
"Maksud anda, saya tidak pantas untuk mengerjakan proyek ini?" tanya Kaira dengan nada menantang.
"Jelas. Saya lebih berpengalaman daripada kamu dalam hal ini. Ingat! Kamu memang pintar, tapi kamu hanya paham teori saja. Sebelumnya kamu belum pernah berkecimpung langsung di dunia konstruksi seperti saya."
Kaira tersenyum meremehkan.
"Baik. Kalau begitu saya tantang anda untuk membuat rencana yang lebih bagus daripada milik saya. Dan kita lihat proposal siapa yang akan dilirik oleh klien." Kaira balik badan dan hendak pergi. Namun, sebelum membuka pintu dia kembali berkata, "Ingat. Hasil kerja keras anda sendiri. Bukan memperdaya orang lain dengan wajah anda, hanya untuk menunjang kesombongan anda."
Gallen langsung tersenyum mendengar ucapan Kaira. Tentu saja dia tau apa yang dimaksud oleh gadis itu. Lelaki itu pun langsung beranjak dan menyusul kepergian Kaira. Sementara, Hanan hanya bisa menahan tawa gelinya. Karena di sampingnya Melvin sedang memelototinya.
"Kai," panggil Gallen yang membuat langkah Kaira langsung terhenti. "Selamat ya! Aku tau proposal kamu udah yang terbaik. Semua orang juga memujimu tadi," ujar Gallen setelah berhasil menjajari gadis itu.
"Semua orang kecuali si playboy teman dekatmu itu," balas Kaira dengan wajah kesal.
"Udahlah. Jangan terlalu dipikirkan. Kamu tau dia seperti apa, kan? Dia cuma banyak omong doang."
"Hahaha. Aku juga tau itu. Lagi pula aku tau apa yang ada di dalam otaknya. Hanya saja, jika dia ingin menyingkirkan ku dari sini. Itu nggak akan mudah lagi. Karena aku nggak akan biarin dia menghancurkan karirku."
Gallen tersenyum lalu mengacak rambut Kaira dengan gemas.
"Itu baru Kaira yang aku kenal. Ayo makan siang! Aku traktir."
"Ish. Kamu tuh dari dulu nggak pernah bisa ya lihat rambut ku rapi. Tapi, oke deh. Asal gratis aku pasti mau."
Kaira dan Gallen pun melenggang pergi bersama. Meninggalkan Melvin dan Hanan yang diam-diam memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Aku nggak pernah tau hubungan mereka bisa sedekat itu," gumam Melvin.
"Lah, kamu lupa? Kan mereka pernah satu Universitas di Tokyo," balas Hanan. Saat menatap wajah Melvin yang tidak secerah sebelumnya dia pun tersenyum curiga. "Kenapa? Cemburu?"
"Enak aja. Ngapain juga aku harus cemburu. Justru itu bagus. Kalau mereka bersama itu artinya nggak ada lagi pengganggu hubungan ku dengan Angelina."
"Lah, emang si Angel mau sama kamu?"
Melvin menjitak kepala Hanan dengan cukup keras.
"Sialan kamu! Nggak ingat tampang siapa yang paling tampan diantara kita bertiga. Sudah jelaslah Angelina mau. Cuma ya dia masih denial aja sama si wajah datar Gallen itu." Hanan tak membalas, tapi mimik wajahnya seakan tak begitu percaya. "Udah ah! Aku mau ngerjain tantangan dia dulu. Akan aku buktikan kalau aku lebih baik daripada gadis kutu buku itu. Dan aku juga harus menyiapkan kejutan untuk gadis itu. Ayo ke ruangan ku!"
Melvin merangkul pundak Hanan pergi sambil sesekali melirik arah kepergian Kaira dan Gallen secara diam-diam.
Sementara itu, di sisi dunia yang lain. Menu makanan sudah tersedia diatas meja saat Gallen dan Kaira tiba di sebuah restoran. Kaira sampai melongo menatap menu yang rata-rata adalah kesukaannya.
"Ini yakin meja untuk kita? Kan kita baru sampai, kok udah dateng aja makanannya?" kata Kaira sambil memperhatikan satu per satu piring di atas meja di depannya.
"Haha. Aku sengaja pesen dulu tadi. Biar kamu nggak perlu nunggu lama. Lagian ini adalah hari spesial kamu. Jadi, kamu harus makan banyak untuk merayakannya."
Kening Kaira seketika berkerut.
"Tapi, aku nggak ulang tahun kok hari ini? Apanya yang spesial?"
"Ya, emang bukan. Tapi, ini adalah hari ke seratus kamu menjadi partner kerja ku. Dan itu bukan hal mudah, bukan? Apalagi kamu juga harus menghadapi tingkah bocah si Melvin."
"Hahaha. Gallen. Kok kamu sweet banget sih? Kamu tuh memperlakukan aku kayak princess di negeri dongeng, tau nggak? Beda banget sama sahabat mu yang satu itu. Cuma bisa bikin kesel tau nggak." Kaira berkata sebelum menyendok makanan dan memasukkannya ke dalam mulut. Di seberang meja, Gallen hanya bisa tersipu malu mendengar pujian itu sambil sesekali mencuri pandang ke arah Kaira.
"Kalau begitu makanlah yang banyak. Kamu harus memiliki cukup energi untuk menghadapi bocah itu." Gallen menyodorkan piring berisi sepotong ayam bakar yang langsung disambut dengan senang hati oleh Kaira. Lelaki itu tak berhenti tersenyum melihat Kaira begitu menikmati makanannya.
Waktu istirahat pun selesai Kaira dan Gallen sampai di kantor tepat waktu. Mereka tampak bahagia, berjalan beriringan sambil melempar candaan satu sama lain. Saking asyiknya mereka berjalan hingga tak memperhatikan sosok lelaki yang sudah menunggu lama di lobby.
Bruk!
Kaira tak sengaja menabraknya hingga mundur beberapa langkah. Saat mendongak moodnya seketika hancur melihat sosok lelaki itu.
"Ish. Kamu nggak lihat ya mau ada orang lewat? Kenapa nggak minggir sih?" Melvin tersenyum meremehkan.
"Darimana saja kalian jam segini baru balik?" balas Melvin dengan arogannya.
"Hei, tadi kan istirahat makan siang. Pantaslah kita cari makan. Daripada disini ketemu kamu cuma bisa makan hati saja," sahut Kaira tak mau kalah.
"Oh, begitu. Baguslah. Setelah makan berarti kamu memiliki banyak tenaga, bukan? Pergilah ke ruangan mu dan lihat apa yang bisa kamu kerjakan." Melvin tersenyum penuh kemenangan sebelum melangkah pergi. Kaira yang langsung merasa curiga segera memeriksa ruangannya.
"Kai, tunggu!" Gallen pun langsung mengejarnya.
Kaira melotot melihat tumpukan berkas di atas mejanya dengan tulisan yang sangat besar di atasnya.
"Kaji ulang berkas-berkas ini dan berikan padaku hari ini juga!" Gallen membaca tulisan itu. Lutut Kaira seketika merasa lemas hingga terjatuh di atas kursi kantornya.
"Sebanyak ini?" gumam Kaira lirih dengan tatapan kosong. "Melvin kamu keterlaluan!" teriaknya kemudian sambil menghentakkan kakinya. Gallen pun reflek menghibur Kaira.
"Kai. Jangan sedih ya! Aku tau Melvin memang sengaja melakukan ini padamu. Tapi, ada aku disini. Kita kerjakan bersama-sama. Pasti akan lebih cepat selesai."
Kaira melirik ke arah Gallen lalu tiba-tiba memeluk pinggangnya. Hingga wajah Gallen tampak terkejut. Tak menyangka.
"Makasih banyak ya, Len. Cuma kamu yang dari dulu mengerti aku." Gallen pun tersenyum, meskipun dia tak berani bergerak karena tak ingin membuat Kaira tersadar dan segera melepaskan pelukannya.
"Iya. Kamu jangan khawatir! Aku akan selalu ada untuk kamu."
Di balik pintu Melvin dan Hanan mengintip pemandangan itu diam-diam.
"Kamu yakin akan membiarkan mereka bersama?" tanya Hanan setengah berbisik. Saat Melvin sedang asyik mengambil gambar mereka berdua.
"Ya. Tentu saja," balas Melvin mantap.
'Kalau Mama dan Papa tau kelakuan kamu di belakang mereka. Pasti pernikahan gila ini akan segera selesai dan aku bebas mengejar cintaku pada Angelina lagi,' batin Melvin. Tetapi, senyumnya perlahan memudar saat menatap layar ponselnya yang merekam kedekatan Kaira dan Gallen. Entah mengapa ada perasaan yang tak nyaman menyusup di ulu hatinya.
"Ayo pergi!" Melvin pun seketika meninggalkan tempat itu.
"Hei, Vin. Tunggu!"