Tak butuh waktu lama mobil Melvin sampai di rumah sakit. Keadaan Nenek sudah sangat kritis. Kaira menangis meraung-raung melihat kondisi neneknya yang kini sangat lemah.
"Kenapa Nenek tidak pernah bilang kalau Nenek sakit? Hiks... Hiks...." Kaira terus menangis di atas tubuh Yunita yang sudah tidak berdaya. Melvin dan orang tuanya hanya bisa menatap dari kejauhan. Wajah mereka pun tampak tidak tega dengan keadaan itu.
"Nek. Tolong jangan takut-takuti Kaira. Nenek harus sembuh, Nek. Nenek harus kuat. Kaira tak punya siapa-siapa lagi kecuali Nenek di dunia ini."
Tiba-tiba tubuh Nenek mengejang. Kaira semakin panik dan Dokter segera datang setelah dipanggil oleh Melvin. Ternyata kondisi Nenek semakin drop. Matanya terbelalak ke arah Kaira sedangkan tangannya terangkat ke arah Melvin. Dengan dorongan sang Mama, Melvin pun akhirnya mendekat.
Dengan tertatih Nenek berkata jika dia ingin melihat pernikahan mereka berdua sebelum akhir hayatnya. Untung saja Irwan sudah peka dengan keadaan chaos yang sedang ada. Dia datang dengan seorang penghulu, wali hakim dan saksi.
"Saya terima nikah dan kawinnya Kaira Almaira Saptiaji binti Yoga Saptiaji dengan mas kawin uang sebesar dua ratus juta rupiah dibayar tunai," ujar Melvin dengan lancar.
"Sah?" tanya sang penghulu.
"Sah," balas para saksi mantap. Tepat saat itu mata Nenek tertutup dan tangannya yang kaku terkulai lemas di atas ranjang.
"Nenek!" teriak Kaira yang terdengar menyayat hati.
Kaira merasa sangat terpukul setelah kepergian sang Nenek. Setelah kedua orang tuanya tiada. Kini sang Nenek pun meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Untung saja ada orang tua Melvin yang begitu menyayanginya. Bahkan, mereka tak hanya membantu mengurus pemakaman nenek, tapi juga mendampingi Kaira menyiapkan pengajian sampai selesai.
Mama Melvin juga sempat terkejut saat mengetahui jika Melvin dan Kaira sebenarnya adalah teman satu SMA dulu. Ia terus menyalahkan Melvin karena sudah menutupi info sebesar itu. Padahal, Riyanti belum tau jika Melvin dan Kaira pernah menjalin hubungan dekat meskipun hanya untuk kepentingan Melvin saja. Bahkan keduanya masih merahasiakan jika sekarang Kaira bekerja di perusahaan keluarga Melvin.
'Andai, Mama Riyanti tau apa yang dulu dilakukan anaknya untuk bisa lulus sekolah dan mendapatkan nilai bagus. Sudah pasti lelaki playboy itu udah habis sekarang,' pikir Kaira sambil tersenyum jahat menatap Riyanti yang tak segan-segan menjewer telinga Melvin dengan wajah geram.
"Ampun, Ma. Ampun. Iya-iya. Melvin mengakui kesalahan Melvin. Karena tak menceritakannya sejak awal. Tapi, Melvin mohon, Ma. Mama jangan bilang siapa-siapa dulu tentang pernikahan Melvin dan Kaira kemarin."
"Memangnya kenapa?" Riyanti seketika menghentikan gerakannya.
"Ehms.... Melvin nggak mau aja temen-temen tau lebih cepet. Aku ingin kasih kejutan aja sama mereka."
"Oh, begitu." Akhirnya Riyanti melepaskan telinga anaknya yang sudah memerah. "Oke. Mama juga setuju. Sampai acara resepsi pernikahan kalian diselenggarakan. Rahasia ini akan tetap aman."
"Apa? Resepsi pernikahan?" gumam Melvin.
"Jangan, Ma! Jangan!" kata Kaira dan Melvin bersamaan. Seketika membuat Riyanti mengerutkan keningnya.
"Kenapa?"
"Ehm.... Karena...." Melvin berpikir keras sambil melirik ke arah Kaira yang langsung menjawab.
"Resepsi pernikahan adalah momen indah yang seharusnya dihadiri oleh orang-orang tersayang. Aku... masih belum bisa menerima jika sekarang aku hanya sebatang kara," kata Kaira dengan nada yang semakin merendah sambil menundukkan kepalanya. Riyanti pun merasa terharu, mengulurkan tangannya untuk mengelus pundak gadis itu.
"Sayang. Mama mengerti apa yang kamu rasakan sekarang. Tapi, kamu jangan pernah merasa sendiri lagi ya. Kamu masih memiliki kami sebagai keluarga dan sekarang kamu juga memiliki suami." Riyanti menepuk pundak Kaira beberapa kali, lalu melirik ke arah Melvin dengan senyum bangga. Berbeda dengan Kaira yang mencibir kesal.
'Justru karena dia. Aku yakin hidupku akan semakin menderita,' batin Kaira.
"Ya, sudah. Kalau begitu sekarang kalian beristirahatlah. Melvin, ajak Kaira ke kamarmu!"
"Apa? Nggak-nggak! Kamar di rumah ini kan banyak? Kenapa harus di kamarku?"
"Iya, Ma. Saya lebih baik di kamar lain saja."
"Tidak-tidak. Kalian lupa? Sekarang kalian sudah sah sebagai suami istri. Kalian harus tidur bersama. Apalagi sekarang malam pertama untuk kalian berdua yang sudah tertunda beberapa hari. Semua barang-barang Kaira juga sudah disiapkan Bibi disana."
"Tapi, Ma...."
"Eits! Jangan membantah! Mama dan Papa juga sedang menyiapkan Honeymoon terbaik untuk kalian berdua."
"Jangan!" Lagi-lagi Melvin dan Kaira berkata bersamaan.
"Kenapa lagi sekarang?"
"Aku sedang banyak kerjaan. Sebagai seorang CEO baru, bukankah banyak hal yang harus aku tangani."
"Benar. Lagipula aku juga baru bekerja. Tidak etis rasanya jika sudah mengambil cuti lama. Selain itu bos perusahaan ku cukup bawel. Pasti dia akan memecatku jika melakukan sedikit saja kesalahan," tambah Kaira sambil melirik ke arah Melvin yang hanya bisa memelototinya.
"Benarkah? Melvin. Cari tau siapa bos Kaira. Kasih tau dia agar tidak terlalu jahat dengan Kaira. Mama tidak ingin menantu Mama sampai kenapa-napa?" ujar Riyanti sambil mengelus rambut Kaira dengan penuh perhatian.
"Nggak ada orang yang seperti itu, Ma. Dia pasti nyari alasan saja."
Gantian Kaira memelototi Melvin.
"Sudah-sudah. Mama tau maksud kalian apa. Kalian ini memang sama saja. Sama-sama ila kerja. Baiklah. Mama akan membicarakan hal ini dengan Papa. Tapi, ingat! Urusan kamar kalian harus tetap bersama."
"Ayolah, Ma. Ini terlalu cepat," rengek Melvin.
"Mama tidak mau dibantah lagi. Kecuali kamu ingin Mama sita semua fasilitas yang kamu dapatkan sekarang!"
"Jangan!" Melvin berkata cepat. Tentu saja dia tidak mau itu terjadi karena akan menurunkan harga dirinya di depan Angelina. "Kita akan masuk kamar sekarang. Ayo!" Melvin meraih tangan Kaira lalu menariknya naik ke lantai dua. Tempat kamar Melvin berada.
Sampai di dalam kamar, Kaira langsung menepis genggaman tangan Melvin.
"Ish. Apaan sih kamu? Kenapa kamu malah setuju kita sekamar?"
"Sorry ya. Kalau bukan karena Mama ngancem mau tarik semua fasilitas aku. Males banget aku deket-deket sama kamu."
"Oh, ya udah. Baguslah. Kalau begitu kamu tidur di sofa dan aku tidur di ranjang." Kaira hendak merebahkan badannya tapi langsung ditahan oleh Melvin.
"Enak aja! Kamu yang di sofa. Ini kan kamarku."
"Eh, kamu tuh sebenernya laki-laki bukan sih? Dimana-mana laki-laki itu ngalah sama perempuan. Itu baru gentleman."
"Aku nggak peduli. Selama gadis itu kamu. Aku nggak akan pernah ngalah. Oh, tunggu sebentar...." Melvin menatap Kaira penuh selidik sambil berjalan mendekat, seakan ingin memojokkan gadis itu.
"Kenapa?" Kaira langsung terlihat was-was.
"Kamu sengaja mengatur pernikahan ini karena masih mencintai ku, kan? Kamu ingin menjebak ku dengan tidur bersama, kan?" Kaira melotot lalu menjitak kening Melvin. Hingga lelaki itu sedikit merintih.
"Heh. Jangan lupa ini hanya pernikahan yang terpaksa! Aku juga nggak pernah sudi menikahi lelaki playboy seperti mu. Apalagi aku tidur satu ranjang dengan mu."
"Bagus! Karena aku juga tidak akan pernah membagi ranjang ini dengan siapapun. Termasuk dirimu! Minggir sana!" Melvin menarik tangan Kaira dengan cukup kasar.
"Ish. Dasar nggak punya hati nurani! Seharusnya kamu memiliki sedikit saja rasa bersalah padaku. Paling tidak, akulah yang membuat mu lulus SMA, bukan? Tanpa diriku. Aku tak yakin sekarang kau sudah lulus!"
Melvin tersenyum sinis, "Jadi, kau ingin menggertak ku dengan kejadian itu. Tak ada yang bisa kau lakukan padaku. Semua itu telah berlalu seperti angin."
"Oh, ya? Tapi, aku penasaran dengan reaksi orang tua mu kalau tau akan hal itu?" Mata Melvin langsung terbelalak mendengar ucapan Kaira yang penuh ancaman.
"Beraninya kau melakukan itu. Aku akan balas dengan yang lebih buruk padamu!"
"Sayangnya aku tidak takut! Mama! Mama!"
Melvin pun segera menutup mulut Kaira. Namun, Kaira segera berontak. Mereka sempat saling beradu kekuatan. Sesekali Kaira hendak berteriak jika ada kesempatan. Sayangnya, Melvin selalu berhasil menggagalkan dengan membekapnya. Tiba-tiba tubuh mereka pun kehilangan keseimbangan. Hingga akhirnya mereka terjatuh ke atas ranjang bersama.
Deg!
Jantung keduanya seakan berhenti berdetak, ketika menyadari jarak mereka yang hanya beberapa inci. Otak mereka terasa kosong dan tubuh seperti membeku.
Mata Melvin terpaku pada tangannya yang memegang benda kenyal nan lembut. Sesuatu yang beberapa harinya yang lalu hampir membuatnya melewati batas. Tangan Melvin perlahan meloloskan bibir gadis itu. Seakan mengelusnya perlahan.
Gluk!
Tenggorokannya kembali terasa kering. Bahkan lebih kering dari sebelumnya. Detak jantung Melvin kembali meronta-ronta di dalam d**a. Sementara dorongan naluri laki-lakinya kembali berkobar. Seakan membangkitkan gairah dalam jiwanya.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pintu seketika menyadarkan keduanya. Cepat-cepat mereka pun saling melepaskan diri dengan canggung. Suasana pun menjadi awkward.
"Non! Non Keira!" panggil seorang wanita dari balik pintu.
"Aku.... aku memeriksanya dulu," ujar Kaira sambil beranjak. Melvin pun hanya mengangguk setuju. Sambil berusaha menetralkan perasaannya kembali.