Bab. 6 Tak Bisa Menghindar

1463 Kata
Kaira berlari menembus kegelapan malam menuju mobil taksi yang terparkir cukup jauh dari tempat itu. Sementara di belakang, tampak dua pria bertubuh kekar sedang mengejarnya. Kesunyian malam pun akhirnya terpecah dengan suara teriakan kedua orang itu yang membuat nyali Kaira semakin menipis. Telah jauh dari rumah tua yang menjadi markas preman-preman itu, Kaira sesekali menengok ke belakang. Memastikan mereka sudah tertinggal jauh. Nafasnya yang sudah tersendat-sendat membutuhkan sedikit saja ruang untuk menatanya kembali. Setelah mengambil jalan berbelok dengan aroma sampah yang sangat menyengat. Kaira memutuskan untuk beristirahat sejenak. Drrrt.... Drrrt.... Ponsel Kaira kembali bergetar. Kaira pun segera meraihnya dan menerima panggilan itu. Sambil tetap waspada ke belakang. "Halo?" ujar Kaira setengah berbisik. "Bagaimana? Lokasinya sesuai, kan?" "Iya. Sayangnya, aku belum menemukan petunjuk apa-apa. Tapi kamu jangan khawatir. Aku akan segera mentransfer uang yang sudah ku janjikan." Tut sambungan terputus. Tanpa Kaira sadari orang-orang itu sudah berada dekat dengannya. Dan saat dia hendak berlari lagi. Tiba-tiba seseorang menangkapnya dari belakang. Kaira reflek hendak berteriak. Namun, mulutnya langsung dibungkam. "Huuuust! Ini aku Melvin," bisik lelaki itu tepat di belakang telinga Kaira. Gadis itu pun berhenti memberontak. Lalu menepis tangan Melvin dari tubuhnya. "Kok kamu bisa ada disini?" "Hust diam! Mereka datang!" Belum sempat menerima maksud yang dikatakannya. Melvin memutar posisi tubuh mereka sambil menarik plastik hitam besar yang menutupi sampah di sebelahnya. Saat punggung Kaira membentur tembok dengan lirih, dia baru sadar jika jarak mereka sangatlah dekat. Bahkan tubuh bagian depan mereka nyaris bersentuhan. Kaira melirik wajah Melvin yang hanya berjarak beberapa inci. Wangi tubuhnya pun seakan menyamarkan aroma sampah yang sebelumnya menyiksa hidungnya. Menimbulkan getaran aneh di hati Kaira yang sudah lama tidak dia rasakan. "Jangan bergerak!" bisik Melvin lagi saat menyadari kehadiran kedua preman itu. Tepat saat orang-orang itu datang. Mereka tak menemukan keduanya, karena tak pernah menyangka Kaira sedang bersembunyi di balik plastik hitam penutup sampah. "Sialan! Cepat banget gadis itu pergi!" umpat salah satu preman. "Sudahlah! Kita kembali saja dan laporkan ini pada bos!" Kedua orang itu pun berbalik dan pergi. "Mereka sudah pergi," kata Melvin sambil menoleh. Untuk sepersekian detik kemudian. Melvin seakan membeku pada tatapan mata Kaira yang begitu hangat. Bahkan, saat pandangan matanya turun, dia mendapati bibir ranum yang kini berpoles warna merah itu tampak sangat menggoda. Melvin berusaha keras menelan saliva karena tenggorokannya terasa sangat kering. Namun, otaknya justru memutar memori saat dia menikmati bagian itu. Untung saja, Kaira lebih dulu sadar. Dia membuang muka dan sedikit mendorong tubuh lelaki itu. Keduanya pun langsung merasa canggung. "Mereka sudah pergi, kan? Lebih baik kita pulang," kata Kaira dengan canggung. "Ya," balas Melvin dengan perasaan yang sama. Mereka berjalan beriringan menuju mobil tanpa membuka pembicaraan sedikit pun. Berusaha menetralkan perasaan pada diri masing-masing. Baru saat Kaira hendak masuk ke dalam mobil taksi yang sudah menunggu. Melvin menahannya. "Bi, tunggu!" Kaira menghentikan gerakannya sesaat. "Sebenarnya apa yang kamu lakukan disini?" "Ini bukan urusanmu, tapi terima kasih sudah membantuku. Lain kali kamu tak perlu repot-repot lagi. Aku tau apa yang sedang aku lakukan," kata Kaira kemudian masuk ke dalam mobil itu dan pergi. Meninggalkan Melvin yang masih merasa bingung. Kaira menghembuskan nafas beratnya sambil berusaha melupakan apa yang barusan terjadi. Namun, saat ia melihat bayangan Melvin dari kaca spion masih berdiri sambil menatap kepergiannya. Memori otak Kaira kembali memutar bayangan wajah, tubuh dan aroma lelaki itu yang sangat dekat dan membuat dadanya berdegup kencang. Seketika Kaira menggeleng cepat. "Ish. Apaan sih? Ngapain aku mikirin lelaki itu lagi," gumam Kaira sebal, meskipun diam-diam ekor matanya melirik ke arah spion. Kaira sampai di belakang rumahnya. Diam-diam dia memanjat pagar samping untuk bisa naik ke balkon kamarnya. Kaira memang bukan atlet panjat tebing, tapi dengan tali yang sudah ia siapkan sebelumnya, dia berhasil naik dengan mudah. "Kai! Kaira! Apa kamu sudah tidur?" tanya Nenek dari balik pintu saat Kaira sedang membereskan talinya. "Nenek datang!" Kaira seketika panik. Dia pun langsung menyembunyikan talinya di balik tirai, lalu seketika merebahkan diri di atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut. 'Duh, lupa lagi pintu balkon belum ditutup,' batin Kaira, tapi dia tak memiliki waktu lagi. Sebab, Nenek datang tepat setelah itu. Wanita tua itu tersenyum melihat cucunya yang tampak sudah terlelap. Namun, senyumnya menghilang saat melihat pintu balkon terbuka. "Anak ini. Selalu saja teledor," gumam Nenek. Seraya berjalan menuju pintu dan berniat untuk menutupnya. Tetapi, gerakan nenek terhenti sesaat ketika melihat bayangan lelaki seperti bersembunyi di balik pohon yang berada di sebrang jalan. Buru-buru Nenek menutup pintu balkon itu dengan rapat. "Orang jahat itu? Apakah kini mengincar Kaira juga?" gumam Nenek dengan wajah cemas. Dia menoleh ke arah Kaira tanpa merubah ekspresi wajahnya. "Aku sudah tidak bisa menundanya lagi," gumam Nenek kemudian pergi. Setelah kejadian itu, baik Melvin ataupun Kaira tidak ada yang saling bertegur sapa. Bahkan, di kantor pun mereka lebih memilih untuk saling menghindar satu sama lain. Hingga dua hari kemudian Nenek dan orang tua Melvin mengatur rencana untuk makan malam di sebuah restoran bintang lima. Tak lupa mereka juga membawa Melvin dan Kaira. Sampai di tempat itu Melvin dan Kaira langsung bersikap manis. Tentu saja mereka tak ingin terlihat sebagai orang yang menolak perjodohan ini. "Kaira, Melvin. Sepertinya kalian sudah salah paham satu sama lain. Mungkin karena hanya mengandalkan pesan singkat dan media sosial. Akhirnya kalian tidak bisa mengenal dengan lebih baik. Tapi, kami tau jika sebenarnya kalian berdua menerima perjodohan ini, bukan?" Kaira dan Melvin saling melempar pandangan mendengar ucapan Mama Melvin. Raut wajah mereka ingin menolak, tapi bibirnya tak berani berkata-kata. "Iya, benar. Kalian lebih baik coba jalan-jalan sebentar di sekitar sini. Pasti banyak hal yang akan kalian ketahui satu sama lain," tambah Irwan. Lagi-lagi Melvin dan Kaira hanya memaksakan bibirnya tersenyum kecil. "Ayo, Melvin! Kamu laki-laki lho! Masak tidak berani mengajak Kaira jalan-jalan disekitar sini," ujar Riyanti. Melvin tak punya pilihan. "Ayo, Kaira!" ujar Melvin sambil mengulurkan tangannya. Kaira menoleh ke arah sang Nenek. Wajahnya memohon agar sang Nenek tetap menahannya disini. Sayangnya, Nenek malah setuju dengan keputusan sepasang suami istri itu. "Kaira. Tidak baik membiarkan orang lain menunggu. Sudah sana. Berkeliling lah sebentar sembari menunggu makanannya datang." Kaira juga tak bisa membantah lagi. "Baik, Nek. Kaira dan Melvin pergi dulu." Dengan berat hati Kaira pun pergi bersama Melvin meninggalkan tempat itu. Setelah berada cukup jauh. Akhirnya mereka berhenti. "Sebenarnya apa sih yang udah kamu katakan sama Nenek kamu? Kenapa jadi diam saja?" "Heh. Harusnya aku yang tanya gitu? Kenapa Mama dan Papa kamu malah yakin kalau kita sama-sama mau menerima perjodohan ini. Pasti kamu yang diam-diam setuju, kan?" "Enak aja. Asal kamu tau. Aku sudah punya gadis pilihan yang mau aku jadiin istri tau," kata Melvin. Entah mengapa hati Kaira masih merasakan sakit. Meskipun ia sudah berusaha untuk melupakan lelaki itu. "Siapa?" tanya Kaira dengan nada pelan. Melvin tak menjawab, dia malah tersenyum mengejek sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Kaira. "Ish. Apaan sih?" Kaira mendorong pundak Melvin menjauh. "Kamu nggak merasa cemburu kan sama gadis itu?" tanya Melvin dengan nada menuduh. "Oh, amit-amit. Kamu kan terkenal playboy sejak dulu. Aku cuma penasaran aja. Siapa gadis bernasib sial yang mau menikah dengan lelaki sepertimu?" "Enak saja. Aku udah banyak berubah tau." Ucapan Melvin berhenti sejenak. "Aku juga nggak ekspek kamu banyak berubah juga. Dari gadis cupu yang cuma tau baca buku. Sekarang, sudah tau tempat-tempat liar seperti markas preman," sindir Melvin. "Maksud kamu apa? Kamu nggak tau apa-apa tentang aku. Nggak usah sok menghakimi. Ok." Kaira membalikkan badan sambil melipat tangan di depan d**a. "Ok. Itu urusan mu. Tapi... apa kamu beneran nggak mau nikah sama aku?" tanya Melvin dengan nada serius. "Hah?" Kaira malah terlihat bingung. Melvin tertawa puas melihat wajah Kaira. "Real. Real sih kamu masih menyimpan perasaan sama aku." "Udah ya. Nggak usah usil lagi. Lebih baik cepat berpikir apa yang harus kita lakukan untuk membatalkan perjodohan ini?" Kaira berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Agar Melvin tidak mengindahkan wajahnya yang kini bersemu merah. "Bener juga." Melvin kembali merenung. Suasana pun mendadak sunyi. Drrrt.... Drrrt.... Drrrt.... Tiba-tiba ponsel Melvin bergetar hebat. Perhatian mereka pun pecah dan Melvin segera memeriksa ponselnya. "Mama. Ngapain dia telpon aku segala," gumamnya sambil menatap layar ponselnya. "Mungkin dia minta kita balik. Angkat aja!" Melvin pun langsung menggeser gambar dial yang bergetar-getar tanpa diminta dua kali. "Halo, Ma. Ada apa?" "Vin. Kalian dimana? Penyakit Nenek Yunita kambuh. Sekarang kita ada di perjalanan menuju rumah sakit. Kamu ajak Kaira kesini sekarang ya!" "Apa, Ma? Penyakit Nenek kambuh? Baik. Aku dan Kaira menyusul sekarang." Mendengar kata Nenek, Kaira langsung merasa cemas. "Ada apa?" "Nenek kamu masuk rumah sakit." "Kok bisa?" "Katanya penyakitnya kambuh." "Penyakit apa? Selama ini Nenek tidak pernah memiliki riwayat penyakit. Dia selalu sehat kok." "Aku juga tidak tau. Itu hanya kata Mama. Tapi, lebih baik kita cepat menyusul. Agar kita tau apa yang sebenarnya terjadi." Kaira mengangguk. Untuk pertama kalinya dalam sejarah. Mereka memiliki pikiran yang sama. Keduanya pun bergegas menuju parkiran dan melesat pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN