Jam delapan malam Kaira baru saja sampai di rumahnya. Ia merasa badannya pegal semua. Karena harus berdiri di sepanjang perjalanan di kereta. Kaira pun langsung merebahkan diri di atas sofa ruang tamu untuk kembali mengumpulkan tenaganya.
"Kai. Kamu sudah pulang?" tanya Nenek yang keluar dari dalam rumah. Kaira pun langsung mengangkat tubuhnya sambil tersenyum manis.
"Iya, Nek. Ini baru saja sampai."
"Capek ya naik kereta?"
"Lumayan sih, Nek. Gara-gara aku pulang terlambat sedikit saja. Udah banyak penumpang. Akhirnya aku nggak kebagian tempat duduk deh." Nenek malah tersenyum meremehkan.
"Makanya sekali-sekali kamu minta tolong sama Melvin buat jemput kamu."
"Ish. Ngapain, Nek. Justru gara-gara dia aku pulang terlambat," gumam Kaira keceplosan.
"Hah? Kok bisa?"
"Oh, enggak-enggak. Bukan begitu. Ehms.... Gara-gara dia ajak aku berantem di pesan singkat. Aku jadi nggak nggeh kereta datang dan udah penuh sama penumpang lain. Begitu."
"Jadi, Melvin sudah menghubungi kamu?" tanya Nenek pelan. Kaira kesal pada Nenek yang malah fokus ke bagian itu dari cerita khayalannya, hanya mengangguk kecil. "Bagus sekali. Apa yang dia katakan? Gimana first impression dia sama kamu?" Nenek terlihat begitu menggebu-gebu. Kaira berpikir sejenak.
'Mungkin inilah saat yang tepat,' pikirnya kemudian.
"Dia aneh, Nek."
"Apa?" Nenek tampak terkejut.
"Iya. Dan yang pasti dia nggak suka dengan perjodohan ini."
"Yang bener kamu? Jangan-jangan kamu yang membuatnya nggak betah duluan."
"Ish. Nenek kok jadi nuduh aku sih. Aku padahal udah bersikap baik banget lho sama dia. Tapi, memang dianya aja yang kayaknya nggak suka sama aku."
"Masak sih? Mungkin kalian butuh waktu untuk saling mengenal. Bagaimana kalau kalian sempetin bertemu langsung berdua. Untuk saling mengerti satu sama lain," bujuk Nenek dengan ide briliannya.
"Nggak ah. Pesan-pesannya aja udah menyudutkan aku, Nek. Gimana kalau ketemu? Dia pasti akan merasa sombong karena berpikir aku yang terlalu ngejar-ngejar dia."
"Masak sih dia seperti itu."
"Iya, Nek. Aku nggak bohong. Pokoknya, kalau cuma masalah jodoh. Nenek jangan khawatir. Aku bisa kok nyari sendiri yang lebih baik daripada dia."
"Tapi–"
"Udah. Nenek nggak perlu pikirin itu sekarang. Kaira mau mandi dulu lalu makan dan sholat isya. Goodnight, Nenek." Kaira mencium pipi Nenek sebelum pergi.
"Night, Sayang," balas Nenek hanya bergumam. Ia tampaknya memikirkan ucapan Kaira barusan. "Apa benar Melvin tidak mau melanjutkan perjodohan ini?" gumamnya.
Di tempat yang berbeda Melvin sedang makan malam bersama keluarganya. Dia terlihat antusias dengan makanan yang tersaji di atas meja. Sampai-sampai dia sudah mengisi piringnya untuk ketiga kalinya.
"Wah. Kamu keliatan lahap banget makannya, Vin. Enak ya masakan Mama?" gurau sang Mama sambil tersenyum manis.
"Iya, Ma. Enak banget aku nggak mau berhenti ngunyah rasanya," balas Melvin dengan mulut penuh.
"Bagus dong. Nanti juga kalau kamu dimasakin sama istrimu. Kamu harus menghargai masakannya. Kalaupun kamu tidak suka. Jangan langsung mencelanya, tapi cari kalimat kritikan yang enak didengar. Karena apapun yang dia hasilkan dia sudah berusaha untuk kamu. Mengerti?"
"Iya, Pa."
"Tuh dengerin omongan Papa. Itu juga yang membuat Mama jadi semangat belajar memasak dan akhirnya pandai seperti saat ini. Oh, ya. Bagaimana kabar Kaira? Kamu tidak lupa untuk berusaha mengenalnya, kan?"
"Hah? Dia...." Melvin berpikir sejenak.
'Wait! Ini adalah momen yang pas untuk melancarkan rencanaku,' ujar Melvin dalam hati. Mendadak wajahnya pun dibuat sedih.
"Sepertinya dia tak berniat untuk melanjutkan perjodohan ini, Ma."
"Kenapa? Kamu sudah membuatnya marah?"
"Tidak. Aku malah sudah melakukan yang terbaik, agar perjodohan ini berjalan lancar. Tapi, dia tidak merespon ku dengan baik. Dia malah marah-marah dan mengancamku jika tidak menghentikan perjodohan ini. Dia bilang dia ingin mencari pasangan hidup sendiri."
Papa dan mama Melvin saling memandang satu sama lain.
"Apa itu benar?" tanya mereka bersamaan. Seakan tak percaya dengan ucapan Melvin.
"Memangnya kalian berpikir aku berbohong?" Melvin melakukan playing victim. Kedua orang tuanya pun semakin bingung.
"Ya. Kami lihat itu yang selama ini kamu lakukan pada kami."
"Ish. Jadi, Mama benar-benar tidak percaya. Ya, sudah. Tanya saja langsung sama orangnya." Melvin pura-pura ngambek dan pergi dari tempat itu.
"Melvin! Melvin tunggu!" teriak Riyanti yang tidak digubris oleh Melvin sama sekali.
"Udah, Ma. Biarkan saja dulu. Nanti kita cari tau yang sebenarnya," kata Irwan yang membuat Riyanti kembali duduk di kursinya.
Sampai di kamarnya Melvin menutup pintu dengan cukup kencang.
"Ish. Aku harus segera membujuk si Bibi agar mau memutuskan perjodohan terlebih dahulu," gumamnya. "Ish. Tapi males banget ngajak ngomong dia duluan. Pasti dia akan kepedean nantinya." Melvin bergumam sambil berjalan mondar-mandir kesana-kemari. Sayangnya, dia tak punya rencana lain. Akhirnya, dengan terpaksa dia menghubungi Kaira.
Tut. Tut. Tut.
Untuk beberapa saat Kaira tak kunjung menjawab panggilan Melvin. Bahkan, yang tak terduga Kaira justru menolak panggilan Melvin. Sehingga membuat lelaki itu geram.
"Ish. Sok jual mahal banget sih nih cewek," ujar Melvin sambil menatap ponselnya. Tetapi sesaat kemudian dia teringat sesuatu. "Aku tau, dia pasti ingin mengunakan metode tarik ulur. Dia pikir aku akan tertarik dan menghubunginya lagi. Lihat saja! Pasti setelah ini dia yang menghubungi ku duluan."
Melvin tersenyum lebar sambil menatap layar gawai di tangannya. Dia bahkan meletakkannya di atas nakas dan pura-pura mengabaikan benda itu. Akan tetapi, sampai beberapa saat kemudian ia tak kunjung mendengar suara benda pipih itu bergetar. Karena kesal, akhirnya Melvin kembali menghubungi Kaira. Kali ini diangkat.
"Apa-apaan sih kamu nelponin aku mulu? Nggak tau apa aku dalam keadaan genting," omel Kaira dengan nada setengah berbisik sebelum Melvin mengomelinya karena hal tadi.
"Eh, kenapa jadi kamu yang marah? Harusnya aku dong yang marah karena kamu udah mengabaikan panggilan ku barusan. Kamu nggak inget sekarang aku ini bosmu!" Melvin tak mau kalah.
"Ish, ribet ya kamu sekarang. Udah deh, kalau nggak ada yang penting. Mending jangan ganggu aku saat ini! Ngerti!" kata Kaira lagi. Dibalas seperti itu Melvin semakin naik pitam, tapi perhatiannya tiba-tiba terpecah dengan suara pria yang terdengar dari sambungan telepon Kaira.
"Hei, siapa kamu? Kamu mau mati ya!"
"Sialan! Aku ketahuan," gumam Kaira. Kemudian terdengar orang berlarian sambil diselingi ancaman dari lelaki tadi.
"Bi! Apa yang sudah terjadi? Kamu dimana?" tanya Melvin.
"Haaa!" balas Kaira berteriak. Setelah itu panggilan mereka terputus. Membuat Melvin semakin panik.
"Bi! Bibi halo! Halo, Bi!" Tak ada sahutan lagi kecuali bunyi tut... tut....
Tanpa pikir panjang Melvin langsung mengambil jaketnya dan segera keluar.
"Melvin kamu mau kemana?" tanya Riyanti setengah berteriak saat melihat anaknya terburu-buru pergi. "Ish. Pasti dia mau ketemu Angelina lagi. Aku nggak bisa biarin," gumam Riyanti kesal. Lalu hendak menyusul. Sayangnya, tangannya langsung ditahan oleh sang suami.
"Udahlah, Ma. Itu urusan anak muda. Biarkan Melvin menyelesaikannya sendiri."
"Tapi, Pa. Gimana kalau gadis itu justru menggagalkan rencana perjodohan kita."
"Jangan khawatir! Melvin bukan anak kecil lagi. Ayo, duduk! Biarkan dia bertanggung jawab dengan tindakannya sekarang."
Riyanti tak bisa membantah lagi, dia pun akhirnya kembali duduk sambil sesekali melirik ke arah kepergian Melvin.