"Ma. Aku nggak mau dijodohin sama gadis itu. Aku bisa mencari calon istriku sendiri," kata Melvin setelah Kaira dan Neneknya pulang.
"Melvin. Ini tidak hanya untuk masa depanmu, tapi juga masa depan Kaira. Dulu Mama dan Papa pernah berhutang budi pada orang tua Kaira. Sekarang saatnya kamu untuk membalasnya."
"Hutang budi apa sih, Ma? Kenapa jadi aku yang harus berkorban. Kenapa nggak kita bayar pakai uang aja."
"Jangan bodoh, Vin. Budi yang diberikan oleh orang tua Kaira jauh lebih besar dari apapun. Asal kamu tau saja. Andai Papa Kaira tidak mendonorkan jantungnya, Papa kamulah yang sudah mati sejak dulu."
"Apa?" Melvin tak bisa berkata-kata sambil menoleh ke arah Papanya yang sedari tadi hanya diam.
"Mama benar, Vin. Dulu Papa menderita lemah jantung. Papa Kaira diam-diam mengisi formulir pendonor jantung untuk diberikan pada Papa. Tiba-tiba saja mobilnya kecelakaan dan dia meninggal bersama istrinya. Dan saat itulah Papa baru tau jika dia sudah berniat mendonorkan jantungnya untuk Papa. Sejak saat itu Papa dan Mama berhutang budi padanya. Tapi, karena pekerjaan, Papa begitu sibuk sampai mengabaikan kehidupan Kaira yang entah seperti apa. Ini adalah saat yang tepat, Melvin. Kamu tak hanya membalas Budi, tapi juga menjadi permohonan maaf dari kami berdua karena sudah mengabaikan Kaira dan Neneknya sejak kematian orang tuanya."
"Tapi, ini nggak adil, Pa. Kenapa harus aku yang berkorban? Menikah itu urusan untuk masa depan. Aku tidak ingin gegabah dan salah menentukan pendamping hidup," ujar Melvin kemudian pergi.
"Melvin! Melvin tunggu!" teriak kedua orang tuanya yang tidak digubris sama sekali.
Melvin masuk ke dalam kamar. Lalu membanting pintunya dengan kasar.
"Sialan! Ini pasti rencana si Bibi. Dia pasti ingin balas dendam denganku. Nggak! Aku nggak mau menikah dengannya. Pokoknya aku harus mencari cara untuk bisa membatalkan perjodohan ini," kata Melvin bertekad.
Di sisi dunia yang lain. Kaira yang sedang berada di dalam perjalanan pulang pun protes pada Neneknya.
"Nenek apa-apaan sih? Kenapa Nenek harus jodoh-jodohin aku segala? Ini bukan lagi jaman Nenek dulu. Aku masih bisa kok cari calon suami sendiri."
"Kaira. Nenek tidak berniat buruk. Nenek hanya takut kamu akan sendirian jika Nenek sudah tiada. Bagaimana jika orang jahat itu datang lagi?"
"Memangnya Nenek mau kemana?" tanya Kaira yang langsung membuat sang Nenek gelagapan.
"Ya. Nenek kan sudah tua. Cepat atau lambat Nenek pasti akan mati, kan?" balasnya kemudian dengan lirih. Kaira memeluk Neneknya.
"Nek, please! Jangan membicarakan hal yang belum pasti. Aku yakin Nenek pasti akan baik-baik saja sampai aku benar-benar menemukan jodoh yang tepat. Tapi, tolong jangan sekarang ya, Nek! Aku belum siap. Aku masih ingin mengejar mimpiku," ujar Kaira lembut. Diam-diam sang Nenek meneteskan air matanya. Namun, ia segera mengusapnya dengan cepat sebelum Kaira melihatnya.
"Kai. Nenek kan tidak pernah meminta apapun sama kamu. Kali ini saja tolong penuhi keinginan Nenek ya," ujar Nenek dengan lembut. Kaira langsung melepaskan pelukannya.
"Baiklah. Aku akan memikirkannya terlebih dahulu," balas Kaira dengan kesal. Setelah itu ia membuang pandangannya keluar jendela taxi.
'Aku harus segera mencari cara untuk membatalkan perjodohan ini. Ish. Nggak mungkin banget aku menikah dengan Melvin si cowok playboy itu!' batin Kaira.
****
Keesokan harinya secara diam-diam Kaira dan Melvin bertemu di rooftop kantor. Tentu saja mereka tak mau ada orang yang melihat pertemuan ini. Karena akan menimbulkan kecurigaan dan gosip yang cepat beredar. Dengan mengendap-endap akhirnya mereka pun sampai di sana pada waktu yang bersamaan.
"Akhirnya kau datang juga," kata Melvin dengan nada mengejek.
"Hei. Aku juga liat kamu baru sampai disini," balas Kaira tak mau kalah.
"Jadi, bagaimana? Ku ingatkan padamu. Aku tidak akan pernah sudi menikah dengan wanita sepertimu."
"Aku lebih tak Sudi lagi mendapatkan keturunan dari lelaki playboy yang hanya bisa mengandalkan wajahnya untuk memanfaatkan seseorang." Kaira setengah menyindir.
"Kau–" Melvin ingin membalas, tapi segera dia urungkan.
"Kenapa? Benar bukan?"
"Aku tau sebenernya ini ide gila mu untuk balas dendam padaku, kan? Heh. Sebisa mungkin kau bersikap sok cuek padaku, tapi nyatanya kau tak bisa berpaling dari ketampananku."
"Hahaha." Kaira tertawa lepas beberapa saat. Kemudian ia terdiam dengan wajah datar. "Mengingat namamu saja sudah membuatku muak. Jadi, tolong hentikan mimpi konyol mu!" tambahnya.
"Baiklah. Kalau kau memang tak menginginkan perjodohan ini. Berarti kau harus mencari cara untuk membatalkannya."
"Hei. Kenapa aku saja? Kau juga harus ikut berpikir. Karena masalah ini menyangkut kita berdua."
"Oke." Keduanya pun terdiam sambil berpikir keras.
'Kalau Papa dan Mama tau aku yang ingin membatalkan perjodohan ini. Mereka pasti marah besar. Bagaimana kalau akhirnya mereka menarik jabatan dan semua fasilitas yang sudah mereka berikan? Bagaimana aku akan terlihat keren di depan Angelina jika aku kehilangan ini semua? Sudah pasti aku akan kalah telak dengan pesona Gallen. Tidak. Itu tidak boleh terjadi,' pikir Melvin. Saat ia melirik ke arah Kaira tiba-tiba sebuah ide pun muncul begitu saja. 'Aha! Tapi, semua akan berjalan lancar jika dia yang membatalkan perjodohan ini lebih dulu,' tambah Melvin.
Sementara itu di pikiran Kaira. Ia teringat dengan ucapan Nenek kemarin.
'Benar. Ini adalah permintaan Nenek. Dia bahkan terlihat begitu menginginkan perjodohan ini. Aku tidak mungkin menunjukkan sikap buruk yang akan membuatnya kecewa. Aku bahkan belum pernah membuatnya bahagia selama ini. Jadi, bagaimana cara untuk membatalkan perjodohan ini tanpa terlihat aku yang menginginkannya,' ujar Kaira dalam hati. Senyumannya pun merekah saat ia melirik ke arah Melvin.
"Aha! Kamu yang pertama membatalkan perjodohan ini!" ujar keduanya bersamaan. Mereka pun tercengang saat mengetahui isi pikiran mereka sama.
"Lha. Kenapa harus aku? Kan kamu yang dari dulu ngejar-ngejar aku. Sudah pasti kamu yang paling ingin perjodohan ini, kan?"
"Enak saja. Aku juga sangat terpaksa dengan keadaan ini. Tapi, aku punya alasan penting untuk tetap bertahan."
"Alah alasan. Bilang aja memang kamu ingin menikah denganku."
"Cih. Aku lebih baik menikahi kucing daripada sama kamu. Oh, ya. Kenapa tidak kamu saja yang membatalkan perjodohan ini lebih dulu? Kan kamu yang paling ingin kita berpisah."
"Kau pikir hanya kau yang memiliki alasan penting. Aku pun memiliki pertimbangan matang di depan kedua orang tuaku."
"Kalau begitu lakukan saja sendiri-sendiri. Aku tak mau lagi berunding denganmu. Jika akhirnya kau menyudutkan ku seperti itu." Kaira pun meninggalkan tempat itu dengan kesal.
"Ish. Silahkan lakukan saja! Aku juga tak Sudi berbicara denganmu jika tak terdesak seperti ini. Dasar Blibliophile!" balas Melvin tak mau kalah. Kaira menoleh dan menjulurkan lidahnya. Mengejek. Melvin merasa semakin kesal. Dia melepas sepatunya dan saat ingin dilempar ke arah Kaira. Gadis itu sudah berlari cepat lebih dulu. "Awas kau gadis kutu buku!"