Bab. 3 Dijodohkan dengan Mantan

1567 Kata
"Selamat ya! Kamu diterima bekerja di kantor ini. Selamat bergabung dengan kami," ujar seorang HRD sambil mengulurkan tangannya. Kaira tersenyum puas lalu segera menjabat uluran tangan itu. "Sama-sama, Pak. Saya senang bisa bekerja disini. Kalau begitu saya permisi, Pak. Besok saya akan kembali di jam yang tepat." Lelaki paruh baya itu mengangguk. Kemudian Kaira pun lekas beranjak dan meninggalkan tempat itu. "Hai, Kai," sapa seseorang yang terdengar sangat familiar. Kaira memutar badannya. Seketika matanya terbelalak melihat sosok lelaki tampan di depannya. "Gallen! Kamu bekerja disini juga?" tanya Kaira dengan mata berbinar-binar. "Iya. Ayahku memiliki saham yang cukup besar disini. Jadi, aku bisa masuk lewat jalur orang dalam," jawab Gallen berbisik-bisik. "Aku tau kamu memang seberuntung itu." "Aku tak tau itu berarti sanjungan atau malah... sindiran. Hehehe." "Kau ini sejak dulu tak berubah. Mana mungkin aku menyindir orang sebaik dirimu." Gallen tersenyum manis sambil terus menatap Kaira. Dia memang sudah mengenal Kaira sejak masa SMA. Bahkan, sejak saat itu diam-diam ia memendam perasaan padanya. "Mau berkeliling denganku? Aku cukup hafal tempat ini lho?" "Meskipun kau masih anak baru?" Pertanyaan Kaira terdengar ragu. Kaira tertawa geli melihat ekspresi wajah Gallen. Akhirnya kepalanya pun mengangguk setuju. "Baiklah. Aku akan menerima tawaranmu dengan senang hati." "Yes," sorak Gallen girang. Kaira pun sampai heran melihatnya. "Hehehe. Silahkan jalan, Tuan Putri!" "Ish. Kau masih saja suka menggodaku," gumam Kaira sambil berjalan lebih dulu. Gallen hanya tersenyum, lalu segera menyusul langkah Kaira hingga berjalan di sampingnya. Dengan telaten Gallen mengenalkan setiap ruangan yang ada di gedung itu. Kaira tertawa geli melihat tingkah Gallen yang kadang dibuat lucu. Lelaki itu memang selalu berhasil menghibur hatinya selama ini. "Dan ini adalah ruang kerjaku." Kali ini ada nada bangga dalam kalimat Gallen. Kaira membaca tulisan di pintu ruangan itu. "Kamu adalah seorang Direktur Teknik?" Kaira sedikit tidak percaya dengan posisi Gallen yang cukup tinggi. "Hehehe. Tidak cocok ya?" balas Gallen sambil nyengir kuda dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hei, tebak siapa yang baru saja bergabung dengan perusahaan kita." Suara Hanan tiba-tiba memecah percakapan mereka berdua. "Hanan. Kau juga bekerja disini?" tanya Kaira dengan wajah tak percaya. "Senang kau masih mengingatku, Kai. Meskipun terakhir kali kita bertemu di momen yang tidak menyenangkan." Hanan mengulurkan tangannya. Tentu saja yang dia maksud tadi adalah hari kelulusan mereka. "Tunggu-tunggu. Kalau kalian berdua bekerja disini. Itu berarti Melvin juga ada disini?" "Oh, si playboy itu. Ruangannya ada di sebelahku. Itu!" Kaira mengikuti arah yang ditunjuk oleh Hanan. Matanya pun langsung membulat karena setelah Ruang kerja Direktur Operasional adalah Ruang kerja Direktur Utama Alias CEO di perusahaan itu. "Jangan bilang kalau Melvin adalah CEO perusahaan ini," tebak Kaira yang membuat kedua lelaki itu kebingungan. "Bingo! Tebakanmu benar," kata Hanan tak bisa mengelak. "Apa? Seharusnya aku riset ini terlebih dahulu." "Jangan salahkan dirimu, Kai. Kita memang baru saja melakukan pergantian kepemimpinan perusahaan. Jadi, mungkin laman web resmi pun belum sempat diganti," terang Gallen. "Apa? Oh, my God! Andai aku tau ini lebih dulu. Sudah pasti aku akan menolak pekerjaan ini." Gallen dan Hanan saling melempar pandangan satu sama lain. Tentu saja mereka tau apa yang sudah dilakukan oleh Melvin pada Kaira dulu di SMA. Meskipun mereka bersahabat, Hanan dan Gallen pun tak setuju dengan tingkah arogansi Melvin yang keterlaluan. "Kai. Kamu jangan khawatir ya! Aku pasti akan jagain kamu selama bekerja disini," ujar Gallen dengan wajah serius dan kedua tangan yang memegangi kedua pundak Kaira. Kaira akhirnya tersenyum sambil mengangguk mantap. "Siapa yang mau melindungi siapa?" tanya suara yang terdengar ngebass itu dari belakang Gallen. Seketika Gallen dan Kaira menoleh ke sumber suara. Mata Kaira kembali melebar begitu juga dengan Melvin. "Bibi? Sedang apa kau ada disini?" tanya Melvin dengan nada tinggi. Gallen langsung pasang badan untuk melindungi Kaira. "Melvin. Jaga bicaramu! Kaira adalah pegawai baru di perusahaan kita. Dia memiliki kemampuan yang pantas untuk bisa menjadi Manager Konstruksi." Melvin tersenyum meremehkan. "Mungkin dia memang cukup pandai, tapi dia tak bisa berada sedekat ini denganku." "Kau tidak bisa memecatnya, Vin. Karena aku juga memiliki kendali di perusahaan ini. Ingat! Papaku dan Papa Hanan juga memiliki saham yang besar di perusahaan ini. Jadi, kau bukan satu-satunya orang yang bisa mengendalikan semuanya disini. Benar kan, Hanan?" Hanan tampak ragu, tapi akhirnya ia mengangguk juga. "Baiklah. Jika kalian menginginkan gadis itu. Silahkan!" Melvin akhirnya pergi dengan kesal. "Kai. Jangan dengerin ucapannya ya! Aku pasti akan melindungimu disini." Kaira tersenyum lalu mengangguk mantap. Tetapi, diam-diam ia melirik ke arah punggung Melvin yang semakin menjauh. **** Malam yang indah. Dengan diiringi lantunan musik jazz berjudul The Very Thought of You yang sangat romantis. Hiasan lilin-lilin kecil membentuk sebuah simbol cinta mengitari meja dan gadis cantik yang duduk di seberang meja membuat mata Melvin tak pernah bisa berhenti menatapnya. Angelina Hasibuan. Gadis cantik yang mengenakan gaun shoulder off berwarna sparkle dengan belahan samping yang cukup tinggi memotong daging steak di piringnya dengan sangat elegan. Melvin tersenyum, dia benar-benar sudah lama menantikan saat-saat ini. "Kenapa kamu terus menatapku seperti itu sih, Vin? Bikin aku merasa canggung saja." "Hahaha. Tidak ada. Kau hanya terlihat semakin cantik setiap harinya, Angel." Angelina tak membalas ia hanya tersenyum kecil. "Angelina." Tiba-tiba Melvin merasa gugup. "Ya," balasnya singkat. "Bagaimana makanannya? Kamu suka?" Melvin bertanya basa-basi. Otaknya terasa membeku seketika dan lidahnya mendadak kelu untuk mengucapkan isi hatinya yang sebenarnya. Angeline tersenyum. Kemudian menggerakkan kepalanya ke atas dan bawah dengan senyum anggunnya. "Iya. Kamu tau saja makanan yang aku suka." Senyum Melvin semakin lebar. "Tentu. Bahkan, aku tau kamu lebih baik daripada dirimu sendiri." Melvin tersenyum puas melihat pipi Angeline bersemu merah. Itu masih bisa dilihat dengan jelas meskipun Angelina sudah mencoba menutupinya. "Hahaha. Kamu ini, Vin? Pandai sekali merayu." "Ku anggap itu sebuah pujian." Melvin sangat senang melihat gadis itu semakin tersipu. "Kalau begitu kita lanjutkan ke menu selanjutnya ya!" Angelina hanya mengangguk mantap, tanpa mengeluarkan suara dari mulutnya yang sedang dibersihkan dengan tissue. 'Sungguh, wanita yang sangat pandai menjaga kebersihan. Pantas saja setiap inchi tubuhnya selalu mempesona,' pikir Melvin. Melvin bertepuk tangan pelan ke udara beberapa kali. Tak lama berselang seorang pelayan datang sambil membawa dessert yang sudah dia pesan saat reservasi tadi. "Selamat menikmati hidangan penutupnya, Tuan dan Nona," ujar si waitress sebelum pergi. "Terima kasih." Melvin terus menatapnya sebelum menyendok Mousse coklat yang tampak sangat menggiurkan itu. Dia menantikan sesuatu. Namun, saat sendok Angelina masuk ke dalam mulut. Mendadak ekspresi wajahnya berubah. Ia mengerutkan kening sambil meraih tissue dengan cepat. Angelina pun berusaha mengeluarkan benda itu di atas tissue. Dan seketika matanya terbelalak melihat sebuah cincin berlian yang sangat indah keluar dari mulutnya. "Cincin? Kenapa bisa ada cincin sebagus ini di dessertku?" ujarnya polos. Melvin hanya terdiam sambil menahan senyum manisnya. Dengan segera Melvin pun beranjak dari tempat duduk lalu bersimpuh di depan lutut Angeline yang tampak terkejut. "Will you marry me?" tanyanya sambil menengadahkan tangan. Melvin sangat berharap gadis itu akan segera menyambut rasa cintanya yang selama ini terus membara di dalam d**a. Angelina lagi-lagi tersenyum. Tetapi, senyumannya kali ini berbeda dengan sebelumnya. Tampak seperti dipaksakan. Gadis itu meletakkan tangannya di atas tangan Melvin. Melvin begitu bahagia, tapi sesaat kemudian senyumannya menghilang. Melvin menyadari sesuatu di antara tangan mereka. "Maafkan aku, Melvin. Aku tidak bisa menerima ini," kata Angeline. Bak tersambar petir disiang bolong. Melvin langsung membulatkan mata. Dengan cepat Melvin berdiri dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan. "Tapi kenapa, Angel? Bukankah selama ini hubungan kita begitu dekat bahkan lebih dari teman?" "Maaf, Melvin. Mungkin kamu sudah salah mengartikan kedekatan kita. Tapi, sungguh. Aku tak bisa menerima ini. Maafkan aku." Angelina berucap dengan penuh rasa bersalah. Kemudian ia berdiri. Berhadapan dengan Melvin yang belum bisa berpikir jernih. "Tapi, Angelina. Aku sangat mencintaimu." Melvin berusaha menahan gadis itu. "Maafkan aku, Vin. Tolong maafkan. Kamu akan mendapatkan gadis yang lebih baik dari aku. Aku.... Aku jadi melanjutkan studi ku di Paris," ujarnya. "Apa? Pasti ini karena Gallen, kan? Dia kembali dari Jepang yang membuat kamu menjadi seperti ini. Kenapa sih kamu nggak bisa buka hati untuk aku? Kenapa hatimu terus saja berpihak pada cowok kolot itu." "Melvin! Bagaimana pun dia adalah temanmu? Dan sikap dia itu jauh lebih dewasa. Kau tak pantas mengatakan itu." Melvin tersenyum sinis. "Dan itulah kamu. Selalu membelanya. Meskipun kau tau dia tak pernah mencintai mu." "Maaf, Melvin. Aku sudah mengambil keputusan. Dan aku harus pergi sekarang. Ku anggap dinner ini sebagai tanda perpisahan kita." Angelina berkata kemudian pergi. "Angelina!" Melvin ingin mengejarnya tapi mendadak ponselnya berdering. Melvin tak bisa mengabaikan itu. Segera ia keluarkan ponselnya dan menerima panggilan itu. "Halo, Ma. Ada apa?" "Melvin kau dimana? Cepat pulang sekarang juga!" "Tapi, Ma. Melvin masih ada urusan bisnis." Melvin sengaja tidak mengatakan yang sebenarnya. Karena Mamanya pasti akan marah jika tau Melvin masih mengejar cinta Angelina yang sudah ribuan kali menolaknya. "Sudahlah. Ini sudah malam. Jangan terlalu banyak memikirkan bisnis. Lagipula kau kan sudah menjadi CEO perusahaan. Lebih baik kau pulang sekarang, ada orang yang harus kau temui dirumah." Ucapan Mamanya terdengar tak ingin dibantah. Takut ini mengenai masalah bisnis keluarga. Akhirnya Melvin segera pulang. Lima belas menit kemudian mobil Melvin sampai di depan rumahnya. Ia segera turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah mewah dan besar itu. Saat ia datang ibunya langsung menyambutnya dengan senyuman. "Nah, ini dia. Anaknya datang." "Ada apa sih, Ma? Kenapa Mama minta aku pulang cepat." "Melvin. Kenalkan ini anak teman Mama," ujar Riyanti sambil menunjuk ke arah Kaira. Melvin dan Kaira pun langsung melebarkan matanya karena terkejut. "Mama dan Neneknya sepakat untuk menjodohkan kalian berdua." "Apa?" kata Melvin dan Kaira bersamaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN